Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 ~ Apa Yang Kamu Lakukan
DEG.
Napas Evan tertahan sejenak.
Belum sempat ia mengatur reaksi, dari belakang Damian, sebuah tangan melingkar erat di lengannya. Lembut, namun penuh kepemilikan yang tak bisa disangkal.
Itu Eliza. Super model yang selama ini diketahui semua orang begitu mengejar Damian. Evan menatap mereka sejenak, dan hatinya perlahan terasa sesak. Melihat cara wanita itu berdiri di sampingnya, begitu dekat dan intens... Evan tahu, mereka memiliki hubungan yang istimewa.
Terlebih ia pernah mengenal Damian dengan sangat baik. Pria itu tak pernah membiarkan sembarang orang menyentuhnya. Tak pernah membiarkan siapa pun berdiri sedekat itu.
Tatapan mereka masih terkunci satu sama lain. Damian tak berkedip sedikit pun. Namun Evan yang lebih dulu menunduk, memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyergap dadanya.
"Tuan Evan?"
Suara Reno terdengar pelan di sampingnya, seakan mengerti ketidaknyamanan itu. Asisten pribadi Arlos berdiri siap, memberi isyarat ke arah deretan kursi di sisi lain ruangan.
"Silakan. Tempat duduk Anda sudah disiapkan di sana."
Evan mengangguk pelan, menarik napas panjang agar suaranya tetap tenang.
"Ayo, Axel. Kita duduk."
Ia berjalan lebih dulu, Bi Lusi mengikuti di belakangnya sambil tetap menggendong bocah itu. Mereka menuju meja paling ujung, tempat yang sengaja dipilih, agak terpisah dari keramaian, dan cukup jauh dari jangkauan Damian.
Bagaimanapun, Evan harus memastikan satu hal. Pria itu tidak akan pernah melihat wajah Axel. Tidak akan pernah mendekatinya.
"Pakai topimu, sayang," ucapnya lembut sambil membantu Bi Lusi menyesuaikan topi lebar di kepala putranya. "Di sini cukup dingin."
Axel hanya diam, matanya berputar perlahan mengamati sekeliling. Banyak orang berjalan berpapasan, mengenakan pakaian yang berkilauan di bawah lampu kristal. Wanita-wanita cantik dengan gaun indah, pria-pria tegap dengan jas rapi. Tempat yang asing, besar, dan sedikit menakutkan bagi anak seusianya.
Bahkan saat topi itu meneduhkan wajahnya, Axel tetap diam, menatap ke arah kerumunan dengan pandangan yang tak lepas.
Evan menatapnya sebentar, lalu berbicara pelan pada Bi Lusi.
"Aku ke kamar mandi sebentar."
"Baik, Tuan."
Bi Lusi mengangguk paham. Di tempat seperti ini, satu kata yang salah, satu panggilan yang terlewat, bisa menghancurkan semuanya. Ia harus menjaga jarak, menjaga tutur kata, dan memastikan tidak ada yang curiga.
Evan mengusap puncak kepala putranya sekali lagi, lalu berjalan menjauh, menuju lorong yang sepi.
Belum lama Evan pergi, acara pun segera dimulai. Suara pembawa acara menggema di seluruh ruangan, menarik perhatian semua orang.
"Mommy?"
Panggilan itu terdengar pelan, hampir tak terdengar — namun begitu jelas di telinga siapa pun yang berada di dekatnya.
Bi Lusi segera mengerti. Anak kecil ini begitu takut ditinggalkan, meski hanya sebentar. Begitu sosok yang ia panggil "Mommy" tak terlihat di pandangannya, hatinya langsung gelisah, seakan ditinggalkan sendirian di tempat yang asing dan luas ini.
"Sayang... kita tunggu di sini sebentar, ya?" bisik Bi Lusi lembut, mengusap punggung kecil itu menenangkan.
Namun kata-kata polos Axel tadi memanggil "Mommy" terdengar jelas di telinga Reno yang berdiri tak jauh dari sana. Pria itu tertegun sejenak, cukup terkejut, namun tak menaruh curiga. Baginya, anak kecil yang tak memiliki sosok ibu, dibawa ke tempat penuh wanita cantik seperti ini... wajar jika ia berpikir salah satu dari mereka adalah ibunya.
Saat acara lelang resmi dimulai, semua mata beralih ke panggung. Suasana hening, tertuju pada benda-benda yang dipersembahkan.
Hanya Damian yang tak bisa tenang. Sejak tadi ia menahan diri, namun melihat Evan pergi ke arah lorong belakang sendirian, keinginan untuk menyusulnya tak bisa lagi dibendung. Ia berdiri perlahan.
"Damian! Mau ke mana?" tangan Eliza langsung mencengkeram lengannya erat. Wajahnya tampak cemas sekaligus kesal. "Acara sudah dimulai!"
"Aku ada urusan sebentar." Damian melepaskan tangannya pelan namun pasti.
"Tapi, Damian...!"
Ia tak menoleh. Langkahnya cepat, berjalan menjauhi keramaian, menuju lorong sepi tempat Evan menghilang.
Sampai di depan pintu kamar mandi, ia berhenti sejenak. Napasnya teratur, namun jantungnya berdegup tak menentu. Ia membuka pintu utama pelan-pelan, ruangan itu kosong. Tak ada siapa-siapa.
Damian menatap pintu-pintu bilik yang tertutup satu per satu. Mana? Mana di antara pintu-pintu ini yang menyembunyikan sosok yang ia cari?
Ia melangkah maju perlahan, mendekat, telinganya menegang mendengarkan suara apa pun dari balik pintu-pintu itu.
Pria itu bahkan sudah tak peduli lagi. Biarlah orang mengira ia gila, biarlah mereka berbisik macam-macam — biarkan saja. Damian tak peduli pada tatapan mereka, tak peduli pada apa pun yang dikatakan. Hanya satu hal yang ia inginkan: bertemu Evan. Mendengar penjelasan. Menjawab semua tanya yang selama ini menghantui pikirannya. Itu saja.
Cklek!
Pintu terbuka.
Tatapan Damian melebar seketika. Namun yang keluar bukan sosok yang ia cari. Hanya seorang pria asing yang menatapnya bingung. Pria itu menoleh sebentar ke arah bilik-bilik yang pintunya terbuka — kosong. Tak ada siapa-siapa di sana.
"Apakah Anda ingin menggunakan kamar mandi, Tuan?" tanyanya pelan.
Damian terdiam. Hatinya mencelos. Tempat itu kosong... lalu kenapa pria ini berdiri menunggu di depan pintu, bukan langsung masuk?
"Ah... iya. Aku mau pakai," jawabnya, suaranya terdengar asing bahkan bagi telinganya sendiri.
"Silakan."
Pria itu melangkah pergi, namun sesekali menoleh ke belakang, menatap Damian yang berdiri mematung, bingung dan gelisah.
"Sepertinya dia terlalu banyak minum..." gumamnya pelan sambil menjauh.
Damian mengusap wajahnya dengan kasar. Menutup matanya sejenak. Napasnya terasa berat, frustrasi mulai merayap di setiap sudut dadanya. Ia melangkah masuk, menatap sekeliling, benar-benar kosong. Evan tak ada di sini.
Lalu ke mana? Ke mana perginya sosok yang seharusnya ada di sini?
Setelah memastikan sekali lagi, menyusuri setiap sudut, menatap setiap pintu bilik yang terbuka, benar-benar tak ada siapa-siapa di sana. Damian berbalik keluar. Langkahnya tegas, namun setiap langkah terasa berat, penuh kekecewaan yang menghimpit dadanya. Evan tidak ada. Ke mana perginya?
Belum sempat pikirannya tenang, dari tak jauh dari sana terdengar suara yang memecah keheningan.
"Aaakhh!! Apa yang kau lakukan!!"
Damian menoleh seketika. Di depan meja jamuan yang penuh gelas dan piring berisi makanan, berdiri Eliza. Tangan wanita itu menutupi mulutnya, wajahnya pucat, menatap ke bawah dengan tatapan ngeri dan marah bercampur jadi satu.
•
•
❤️
AYO DI BACA, INI NOV YG PALING SERU DI NOVELTOON😀😀😀😀😀
gemess sama Axel