Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab. 11

Bab 11

Pindah Kamar

Pagi yang seharusnya menjadi awal dari hari yang tenang justru berubah menjadi hari penuh kejutan bagi Clara.

Setelah meninggalkan kafe, Clara dan Fedro memilih makan siang di sebuah restoran yang jauh lebih sepi. Mereka duduk berhadapan di meja dekat jendela. Sesekali Clara melirik suaminya yang sejak tadi terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit sebelumnya.

Namun Clara tahu.

Di balik wajah tenang itu, Fedro sedang memikirkan sesuatu.

“Kenapa diam?” tanya Clara sambil memainkan ujung sendoknya.

Fedro mengangkat wajah.

“Aku sedang berpikir.”

“Memikirkan Devan?”

“Bukan hanya dia.”

Clara mengerutkan kening.

“Lalu?”

Fedro menyandarkan tubuhnya pada kursi.

“Pesan yang dia kirim kepadamu pagi tadi.”

Clara terdiam.

“Dia sengaja menyebut masa lalumu,” lanjut Fedro. “Artinya, seseorang mungkin sedang mencari kelemahanmu.”

Clara menghela napas.

“Aku memang punya masa lalu yang tidak biasa.”

“Aku tahu.”

“Kamu tidak takut?”

Fedro tersenyum tipis.

“Takut?”

Clara mengangguk.

“Takut aku kembali menjadi Clara yang dulu?”

Fedro menggeleng.

“Aku justru takut kamu terlalu sering menyembunyikan masalah dariku.”

Clara terdiam.

Kalimat itu terasa lebih dalam daripada yang ia kira.

“Aku tidak ingin kamu menghadapi semuanya sendirian,” lanjut Fedro. “Kita sudah menikah. Kalau ada masalah, kita hadapi bersama.”

Clara menatap mata pria itu.

Untuk beberapa saat, ia tidak mampu berkata apa-apa.

Sejak kecil, Clara terbiasa berdiri sendiri.

Ia terbiasa menghadapi masalah dengan kepalan tangan.

Terbiasa menolak bantuan.

Terbiasa mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja bahkan ketika hatinya sedang hancur.

Namun sekarang ada seseorang yang ingin berdiri di sampingnya.

Seseorang yang tidak memintanya menjadi lemah.

Seseorang yang hanya ingin ia percaya.

“Aku akan belajar,” ucap Clara akhirnya.

Fedro tersenyum.

“Belajar apa?”

“Belajar tidak menghadapi semuanya sendirian.”

Fedro mengulurkan tangannya di atas meja.

Clara memandang tangan itu sebentar sebelum akhirnya menyambutnya.

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin menjadi tempat pertama yang kamu datangi ketika ada masalah.”

Clara tersenyum.

“Kalau aku punya masalah?”

“Aku datang.”

“Kalau masalahnya besar?”

“Aku tetap datang.”

“Kalau seluruh dunia melawan aku?”

Fedro menggenggam tangannya lebih erat.

“Berarti aku berdiri di sisi lain dunia.”

Clara tertawa kecil.

“Jawabanmu terlalu dramatis.”

“Aku serius.”

Senyum Clara perlahan memudar.

“Aku tahu.”

---

Sore harinya, mereka tiba kembali di kediaman Alexsander.

Clara mengira semuanya akan kembali normal.

Namun begitu masuk ke rumah, ia langsung melihat beberapa pelayan sedang membawa barang-barang dari kamar utama.

Clara berhenti.

“Kenapa?”

Seorang pelayan tampak gugup.

“Nyonya…”

“Ada apa?”

Pelayan itu melirik ke arah Fedro.

“Tuan Fedro yang memerintahkan kami.”

Clara langsung menoleh.

“Fedro?”

Pria itu baru saja melepas jasnya.

Ia menatap Clara dengan wajah tenang.

“Aku memang memerintahkannya.”

“Memerintahkan apa?”

Fedro tidak menjawab.

Clara mengikuti para pelayan menuju lantai dua.

Begitu pintu kamar utama dibuka, mata Clara membesar.

Sebagian barang-barangnya sudah dipindahkan.

Pakaian.

Tas.

Sepatu.

Buku.

Bahkan koleksi jaket kulit kesayangannya.

Semuanya sedang dipindahkan menuju kamar lain di ujung lorong.

Clara langsung berbalik.

“Fedro!”

“Apa?”

“Kamu sedang melakukan apa?”

Fedro berjalan mendekat.

“Aku memindahkan barang-barangmu.”

“Aku bisa melihatnya!”

“Bagus.”

“Kenapa?”

Fedro terdiam.

Kemudian berkata dengan santai,

“Kita pindah kamar.”

Clara menatapnya tidak percaya.

“Pindah kamar?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Fedro mengangkat bahu.

“Karena aku ingin.”

Clara langsung menyilangkan tangan.

“Tidak.”

Fedro mengangkat alis.

“Tidak?”

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Karena kamar kita baik-baik saja.”

Fedro mendekat.

“Tidak.”

Clara mengerutkan kening.

“Tidak apa?”

“Tidak baik-baik saja.”

“Kenapa?”

Fedro menatap pintu kamar utama.

“Karena terlalu banyak kenangan buruk di sana.”

Clara terdiam.

Ia mulai memahami.

Kamar itu memang tempat mereka melewati banyak hal.

Pertengkaran.

Kesalahpahaman.

Kecemburuan.

Malam ketika Clara menangis sendirian.

Dan berbagai peristiwa yang membuat hubungan mereka sempat berada di ujung kehancuran.

Fedro melanjutkan,

“Aku ingin kita memulai sesuatu yang baru.”

Clara menatapnya.

“Jadi kamu memindahkan aku?”

“Aku memindahkan kita.”

Jawaban itu membuat Clara tidak mampu membalas.

Fedro menggenggam tangannya.

“Aku sudah menyiapkan kamar baru.”

“Sejak kapan?”

“Beberapa minggu.”

Clara membelalak.

“Kamu sudah merencanakannya?”

“Iya.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Aku ingin memberimu kejutan.”

Clara mendengus.

“Ini bukan kejutan.”

“Lalu?”

“Ini penculikan barang-barangku.”

Fedro tertawa.

Beberapa pelayan yang berada di dekat mereka menundukkan wajah agar tidak terlihat ikut tersenyum.

Clara memelototi suaminya.

“Kamu malah tertawa?”

“Karena wajahmu lucu.”

“Fedro!”

Pria itu semakin tertawa.

Namun Clara tidak bisa benar-benar marah.

Entah kenapa, melihat Fedro tertawa seperti itu membuat hatinya terasa hangat.

---

Kamar baru mereka berada di sisi lain lantai dua.

Begitu pintunya dibuka, Clara langsung terdiam.

Ruangan itu jauh lebih luas.

Jendelanya menghadap taman belakang.

Dindingnya berwarna putih gading dengan sentuhan kayu hangat.

Di tengah ruangan terdapat tempat tidur besar dengan seprai baru.

Di salah satu sudut terdapat sofa panjang.

Sementara di sisi lain terdapat sebuah rak yang penuh buku.

Clara berjalan perlahan.

“Ini…”

Fedro berdiri di belakangnya.

“Kamu suka?”

Clara tidak langsung menjawab.

Matanya justru tertuju pada sebuah meja kecil dekat jendela.

Di atasnya terdapat foto dirinya dan Fedro.

Foto ketika mereka pertama kali menikah.

Clara mengambilnya.

“Kamu memasang foto ini?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin setiap pagi melihat alasan kenapa aku harus pulang.”

Clara terdiam.

Dadanya terasa sesak oleh emosi.

Ia mencoba tersenyum.

Namun matanya justru berkaca-kaca.

Fedro melihatnya.

“Clara?”

“Jangan lihat aku.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mau menangis.”

Fedro mendekat.

“Menangis saja.”

“Aku tidak cengeng.”

“Aku tidak pernah bilang kamu cengeng.”

Clara mengusap sudut matanya.

“Aku hanya…”

Ia menarik napas.

“Tidak terbiasa diperlakukan seperti ini.”

Fedro memandangnya dengan lembut.

“Biasakan.”

Clara menatapnya.

“Karena aku tidak berencana berhenti.”

Air mata Clara akhirnya jatuh.

Fedro menghapusnya dengan ibu jarinya.

“Aku mencintaimu.”

Clara menutup mata.

Kalimat sederhana itu terasa begitu besar.

“Aku juga mencintaimu.”

Fedro tersenyum.

Kemudian memeluknya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, pelukan itu tidak terasa seperti sesuatu yang dipaksakan oleh keadaan.

Pelukan itu terasa seperti rumah.

---

Namun malam datang membawa masalah baru.

Setelah semua barang selesai dipindahkan, Clara mandi dan mengenakan pakaian tidur sederhana.

Ia keluar dari kamar mandi.

Fedro sudah berada di tempat tidur sambil membaca dokumen.

Clara menatapnya.

“Fedro.”

“Hm?”

“Kenapa kamu masih bekerja?”

“Aku harus menyelesaikan beberapa hal.”

“Besok saja.”

“Aku ingin selesai malam ini.”

Clara naik ke tempat tidur.

Kemudian merebut dokumen dari tangan Fedro.

“Tidur.”

Fedro menatapnya.

“Kamu menyuruhku?”

“Iya.”

“Kamu tahu aku bosnya di rumah ini?”

Clara tersenyum.

“Tidak.”

“Lalu siapa?”

Clara menunjuk dirinya sendiri.

“Aku.”

Fedro tertawa.

“Baiklah.”

Ia akhirnya meletakkan dokumen.

Namun ketika Clara mematikan lampu, terdengar suara ponsel Fedro berdering.

Fedro melihat layar.

Ekspresinya berubah.

Clara langsung menyadarinya.

“Ada apa?”

“Tidak ada.”

“Jangan bohong.”

Fedro membaca pesan tersebut.

Pesannya singkat.

Jangan terlalu percaya pada istrimu.

Fedro menghapus pesan itu.

Clara melihat gerakannya.

“Siapa?”

“Nomor tidak dikenal.”

“Apa isinya?”

Fedro menatap Clara.

Ia ragu.

Namun akhirnya menyerahkan ponselnya.

Clara membaca pesan itu.

Wajahnya langsung berubah.

“Kenapa ada orang yang terus mencoba membuatmu meragukanku?”

Fedro mengambil ponselnya.

“Karena mereka tahu aku tidak mudah dipengaruhi.”

Clara menatapnya.

“Tapi bagaimana kalau suatu hari kamu percaya?”

“Aku tidak akan.”

“Bagaimana kamu bisa yakin?”

“Karena aku mengenalmu.”

Clara terdiam.

Fedro meraih tangannya.

“Aku tidak mengenal masa lalumu dari cerita orang lain.”

Ia menatap matanya.

“Aku mengenalmu dari cara kamu memperlakukanku sekarang.”

Clara tersenyum.

Namun jauh di dalam hatinya, muncul rasa tidak nyaman.

Siapa sebenarnya orang yang terus mengirim pesan?

Dan apa yang sebenarnya mereka inginkan?

---

Keesokan paginya, Clara bangun lebih dulu.

Ia memandang Fedro yang masih tertidur.

Kemudian tersenyum kecil.

Ia turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.

Namun saat keluar, ia menemukan sebuah kotak kecil di atas meja.

Clara mengerutkan kening.

Tidak ada nama.

Tidak ada pengirim.

Ia membukanya.

Di dalam terdapat sebuah foto lama.

Foto Clara ketika masih menjadi anggota geng motor.

Clara membeku.

Di belakang foto tertulis:

Kamu pikir kamu sudah meninggalkan kehidupan itu?

Tangannya bergetar.

Tiba-tiba suara Fedro terdengar.

“Clara?”

Clara langsung menyembunyikan foto itu.

“Aku di sini.”

Fedro bangun dan berjalan mendekat.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Fedro menatapnya.

“Kamu berbohong.”

Clara menggeleng.

“Aku hanya sedikit pusing.”

Fedro menyentuh dahinya.

“Kamu tidak demam.”

“Aku baik-baik saja.”

Fedro tidak percaya.

Namun ia tidak memaksa.

“Kalau begitu sarapan.”

Clara mengangguk.

Mereka turun ke ruang makan.

Namun sepanjang perjalanan, Clara menggenggam foto tersebut di dalam saku pakaiannya.

Ia belum siap memberitahu Fedro.

Bukan karena tidak percaya.

Tetapi karena ia takut.

Takut bahwa masalah masa lalunya akan kembali menyeret suaminya.

---

Setelah sarapan, Clara pergi ke halaman belakang.

Ia duduk di bangku taman sambil memandangi foto tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara mesin motor.

Clara menoleh.

Sebuah motor sport hitam berhenti di depan pagar.

Pengendaranya turun.

Pria itu mengenakan jaket hitam dan helm gelap.

Clara langsung berdiri.

“Siapa kamu?”

Pria itu tidak menjawab.

Ia hanya melempar sebuah amplop ke tanah.

Kemudian kembali naik motor.

Clara berlari mengambilnya.

Namun sebelum sempat membuka, suara Fedro terdengar dari belakang.

“Clara!”

Clara terkejut.

Fedro berlari mendekat.

“Apa yang terjadi?”

Clara menyerahkan amplop itu.

Fedro membukanya.

Di dalam terdapat beberapa lembar foto.

Foto Clara bersama kelompok geng motornya.

Foto yang lebih lama.

Foto yang tidak pernah diketahui Fedro.

Namun ada satu foto yang membuat wajah Fedro berubah.

Foto Clara sedang berdiri bersama seorang pria muda.

Pria yang belum pernah dilihatnya.

Di bawah foto tertulis:

Pria ini adalah alasan Clara meninggalkan dunia geng motor.

Fedro menatap Clara.

“Siapa dia?”

Clara terdiam.

“Clara.”

“Aku…”

“Siapa?”

Clara menundukkan wajah.

“Namanya Raka.”

“Raka?”

“Dia teman lama.”

“Teman?”

Clara mengangguk.

Fedro melihat foto itu lagi.

“Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya?”

Clara menatapnya.

“Karena aku ingin melupakan semuanya.”

“Apakah dia pernah menjadi seseorang yang penting?”

Clara tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Fedro menarik napas.

“Apakah kamu pernah mencintainya?”

Clara langsung menatap suaminya.

“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Aku hanya bertanya.”

“Fedro, aku tidak pernah mencintai dia.”

“Lalu kenapa foto ini dibuat seolah-olah ada sesuatu di antara kalian?”

Clara menggigit bibir.

“Karena dia pernah menyelamatkan hidupku.”

Fedro terdiam.

Clara melanjutkan,

“Bertahun-tahun lalu, aku pernah terjebak dalam masalah besar. Raka membantu aku keluar. Setelah itu kami berpisah.”

“Di mana dia sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

Fedro menatap foto itu lama.

Kemudian bertanya,

“Kenapa seseorang ingin aku mengetahui tentang dia?”

Clara menggeleng.

“Aku juga tidak tahu.”

Fedro memasukkan foto ke dalam amplop.

“Mulai sekarang, aku ingin kamu menceritakan semuanya.”

“Fedro…”

“Bukan karena aku tidak percaya.”

Ia menatap Clara.

“Karena aku ingin melindungimu.”

Clara memeluk suaminya.

“Maaf.”

Fedro membalas pelukan itu.

“Jangan minta maaf karena masa lalumu.”

Clara menutup mata.

Namun di balik pelukan tersebut, keduanya tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.

---

Malamnya, Clara duduk di kamar baru.

Fedro sedang mandi.

Clara membuka lemari.

Ia mencari sebuah kotak lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah disentuh.

Setelah menemukannya, Clara duduk di lantai.

Kotak itu berisi benda-benda dari masa lalunya.

Foto.

Gelang.

Kunci motor lama.

Dan sebuah surat.

Surat dari Raka.

Clara menatap surat tersebut.

Ia tidak pernah membukanya.

Bukan karena tidak ingin tahu.

Tetapi karena takut.

Perlahan, ia membuka amplop.

Tulisan tangan Raka masih sama.

Clara, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti aku gagal membuatmu melupakan semua yang terjadi.

Clara menahan napas.

Aku pergi bukan karena membencimu. Aku pergi karena aku ingin kamu hidup tanpa terus melihat ke belakang.

Air mata Clara jatuh.

Kemudian ia membaca bagian berikutnya.

Tetapi kalau suatu hari seseorang menggunakan masa lalumu untuk mengancammu, jangan percaya siapa pun. Bahkan orang yang mengaku berada di pihakmu.

Clara membeku.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.

Fedro keluar.

Clara buru-buru menutup surat.

Namun Fedro sudah melihatnya.

“Kamu membaca surat?”

Clara mengangguk.

“Dari Raka?”

“Iya.”

Fedro berjalan mendekat.

“Boleh aku membacanya?”

Clara menyerahkan surat tersebut.

Fedro membacanya.

Semakin jauh ia membaca, ekspresinya semakin serius.

“Dia tahu sesuatu.”

Clara mengangguk.

“Sepertinya.”

“Dan seseorang sedang mencari benda yang berhubungan dengan masa lalu kalian.”

Clara menatapnya.

“Aku takut.”

Fedro langsung duduk di sampingnya.

“Takut apa?”

“Takut masa laluku menghancurkan hidup kita.”

Fedro menggeleng.

“Tidak akan.”

“Bagaimana kalau semua ini membuatmu lelah?”

“Aku akan tetap di sini.”

“Bagaimana kalau orang-orang terus datang?”

“Aku tetap di sini.”

“Bagaimana kalau suatu hari kamu menyesal menikah denganku?”

Fedro terdiam.

Kemudian memegang wajah Clara.

“Jangan pernah bertanya seperti itu lagi.”

“Kenapa?”

“Karena jawabannya tidak akan berubah.”

Fedro mencium keningnya dengan lembut.

“Aku memilihmu.”

Clara menangis.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.”

Mereka berpelukan lama.

Namun malam itu, sesuatu terjadi.

Sekitar pukul dua dini hari, alarm keamanan rumah berbunyi.

Clara langsung terbangun.

Fedro juga bangkit.

“Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu.”

Mereka keluar kamar.

Beberapa penjaga berlari menuju lantai bawah.

Fedro membawa Clara ke belakang tubuhnya.

“Jangan jauh dariku.”

Mereka turun.

Seorang penjaga datang.

“Tuan, ada seseorang mencoba masuk dari gerbang belakang.”

“Sudah ditangkap?”

“Tidak. Dia berhasil melarikan diri.”

Fedro mengerutkan kening.

“Apakah ada yang hilang?”

Penjaga itu tampak ragu.

“Kamar lama Tuan dan Nyonya…”

“Apa?”

“Pintunya terbuka.”

Clara langsung menatap Fedro.

Mereka berlari menuju kamar lama.

Pintu memang terbuka.

Tidak ada barang yang tampak hilang.

Namun di atas tempat tidur terdapat sebuah benda.

Sebuah helm motor hitam.

Clara langsung mengenalinya.

Ia berjalan mendekat dengan wajah pucat.

“Ini…”

Fedro menatapnya.

“Punya siapa?”

Clara menyentuh helm tersebut.

“Raka.”

Fedro terdiam.

Di bawah helm terdapat secarik kertas.

Fedro mengambilnya.

Tulisan di atasnya hanya satu kalimat.

Aku tidak pernah pergi, Clara.

Clara membeku.

Fedro langsung menggenggam tangannya.

“Mulai sekarang, kamu tidak boleh sendirian.”

Clara menatapnya.

“Dia kembali.”

Fedro mengangguk.

“Dan kali ini dia tidak datang untuk sekadar mengingat masa lalu.”

---

Hari-hari berikutnya menjadi semakin menegangkan.

Fedro memperketat keamanan rumah.

Clara tidak lagi diperbolehkan pergi tanpa pengawalan.

Namun Clara mulai merasa tertekan.

Ia merasa seperti tahanan.

Suatu sore, ia berdiri di halaman belakang sambil menatap motor kesayangannya yang sudah lama tidak dikendarai.

Fedro datang.

“Kamu ingin naik motor?”

Clara mengangguk.

“Aku ingin merasakan angin.”

Fedro tersenyum.

“Baik.”

Clara menatapnya terkejut.

“Kamu mengizinkan?”

“Aku ikut.”

“Kamu bisa naik motor?”

“Bisa.”

Clara tertawa.

“Kamu?”

Fedro mengambil jaket.

“Jangan meremehkanku.”

Akhirnya mereka pergi bersama.

Clara mengendarai motor, sementara Fedro berada di belakangnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Clara merasa bebas.

Angin menerpa wajahnya.

Fedro memeluk pinggangnya erat.

“Jangan terlalu cepat!”

Clara tertawa.

“Takut?”

“Takut kamu jatuh.”

“Aku tidak akan jatuh.”

“Aku tetap tidak percaya.”

Clara mempercepat motor sedikit.

“Clara!”

Tawanya terdengar di jalan.

Namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa menit.

Sebuah motor hitam muncul dari kejauhan.

Clara melihatnya melalui kaca spion.

Ia langsung mengenali gaya berkendaranya.

“Fedro.”

“Apa?”

“Motor di belakang.”

Fedro menoleh.

“Kenapa?”

Clara memperlambat kendaraan.

Motor hitam itu juga memperlambat.

Clara berhenti.

Motor tersebut berhenti beberapa meter di depan mereka.

Pengendaranya turun.

Melepas helm.

Clara membeku.

“Raka…”

Pria itu tersenyum tipis.

“Lama tidak bertemu.”

Fedro turun dari motor.

Ia berdiri di samping Clara.

“Jadi kamu Raka.”

Raka menatap Fedro.

“Dan kamu suaminya.”

Fedro menatapnya dingin.

“Jangan mendekati istriku.”

Raka tertawa kecil.

“Aku tidak datang untuk merebutnya.”

“Lalu?”

“Aku datang untuk menyelamatkannya.”

Clara mengerutkan kening.

“Dari siapa?”

Raka menatap Clara serius.

“Dari orang yang sekarang tinggal serumah denganmu.”

Clara membeku.

Fedro langsung maju.

“Apa maksudmu?”

Raka tidak menjawab.

Ia hanya menatap Clara.

“Kamu masih menyimpan kalung itu?”

Clara memegang lehernya.

Kalung kecil peninggalan masa lalu.

Raka tersenyum.

“Kalau kamu masih menyimpannya, berarti kamu masih menyimpan kunci menuju kebenaran.”

Kemudian Raka memakai helmnya kembali.

“Tunggu!”

Clara berusaha menghentikannya.

Namun Raka sudah menyalakan motor.

Sebelum pergi, ia berteriak,

“Cari ruangan yang tidak pernah dibuka Fedro!”

Motor itu melaju dan menghilang.

Clara berdiri terpaku.

Fedro menatapnya.

“Clara.”

“Hm?”

“Apa maksudnya?”

“Aku tidak tahu.”

Fedro memandang ke arah jalan.

Namun untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Sebuah rahasia.

Sebuah ruangan.

Dan seseorang yang tampaknya tahu lebih banyak tentang kehidupan Clara daripada yang seharusnya.

---

Malam itu Clara tidak bisa tidur.

Ia berbaring di kamar baru sambil menatap langit-langit.

Fedro tidur di sebelahnya.

Namun Clara merasa ada sesuatu yang belum selesai.

Ia bangun perlahan.

Kemudian keluar kamar.

Ia berjalan menuju ujung lorong.

Ada satu ruangan yang selama ini selalu terkunci.

Ruangan yang jarang dilewati.

Clara berhenti di depannya.

Pintu itu memiliki kunci elektronik.

Clara mencoba memegang gagangnya.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Kamu sedang mencari apa?”

Clara terkejut.

Fedro berdiri di ujung lorong.

Clara menelan ludah.

“Aku…”

Fedro berjalan mendekat.

“Raka menyuruhmu mencari ruangan ini?”

Clara terdiam.

Fedro menatapnya.

“Kenapa kamu tidak bertanya kepadaku?”

“Aku takut kamu tidak mau menjawab.”

Fedro terdiam.

Kemudian mengambil kartu akses dari sakunya.

Ia menempelkannya pada panel.

Pintu terbuka.

Clara membelalakkan mata.

Ruangan itu gelap.

Fedro menyalakan lampu.

Clara masuk perlahan.

Di dalam terdapat banyak dokumen lama.

Foto.

Kotak-kotak.

Dan sebuah meja.

Clara mendekati meja tersebut.

Di atasnya terdapat foto dirinya.

Namun bukan foto masa lalunya.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!