Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin Berlian dan Sumpah di Atas Panggung

Hari yang paling dihindari oleh Reina Lunox akhirnya tiba juga. Tepat sebulan setelah sidang skripsinya dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan berkat bantuan kerangka analisis data dari Jino—sebuah fakta menyebalkan yang enggan diakui Reina secara terang-terangan—kediaman megah keluarga Lunox disulap menjadi lautan bunga segar dan lampu crystal chandelier yang berkilauan mewah.

Undangan eksklusif telah disebar ke berbagai relasi bisnis papan atas, kerabat dekat, serta para rekan sosialita kedua belah pihak. Di dalam ruang ganti khusus wanita lantai dua, Reina berdiri terpaku di depan cermin besar berbingkai ukiran emas. Ia mengenakan gaun malam off-shoulder berwarna champagne lembut yang menjuntai anggun hingga menyentuh lantai. Riasan wajahnya tampak sempurna, menonjolkan kecantikan alaminya, sementara rambut panjangnya disanggul modern dengan beberapa helaian ikal yang membingkai wajah tirusnya.

Namun, pantulan bayangan di cermin sama sekali tidak memperlihatkan sosok seorang pengantin wanita yang berbahagia. Sebaliknya, sorot mata cokelat Reina menyiratkan ketegangan luar biasa, bercampur dengan gejolak pemberontakan yang masih membara di dalam dadanya.

Ini benar-benar terjadi, batin Reina merutuk getir, menggigit bibir bawahnya pelan hingga lipstik merah mudanya sedikit ternoda. Hari ini aku resmi mengikatkan diri seumur hidup dengan pria paling arogan, dingin, dan menyebalkan di muka bumi ini. Sialan, hidupku tamat.

Pintu kamar ganti diketuk pelan, lalu muncullah Tuan Demian Lunox dengan balutan setelan jas formal hitam yang tampak sangat elegan. Wajah paruh baya itu terlihat begitu sumringah, memancarkan kebahagiaan yang tulus tatkala melihat putrinya berdiri anggun di hadapannya. Demian melangkah mendekat, lalu merentangkan kedua tangannya dengan senyuman hangat.

"Putri Ayah sungguh terlihat sangat cantik malam ini," puji Demian lembut, memeluk Reina penuh kasih sayang. "Ayah sangat bangga padamu, Reina. Terima kasih karena sudah menuruti permintaan terakhir Ayah dan mendiang sahabat Ayah."

Mendengar nada suara ayahnya yang menyiratkan ketulusan mendalam, segala protes yang sedari tadi bergemuruh di tenggorokan Reina seketika tertelan kembali. Ia tidak tega merusak kebahagiaan di hari tua ayahnya. Dengan senyuman yang dipaksakan sekuat tenaga, Reina membalas pelukan Demian erat-erat.

"Terima kasih juga, Ayah... untuk semuanya," bisik Reina tulus, meski ada rasa perih yang menyelip di sudut hatinya.

Di lantai bawah, suasana ruang utama perjamuan sudah dipadati oleh para tamu undangan berjas rapi dan gaun malam berkilauan. Musik klasik mengalun lembut dari sudut ruangan, berpadu dengan bisikan kekaguman para tamu yang menantikan prosesi inti acara pertunangan tersebut.

Di sudut ruangan dekat panggung utama, Jino West berdiri tegak dengan balutan tuksedo hitam tailored-fit rancangan desainer internasional. Penampilannya terlihat begitu sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat siapa pun tidak berani menatapnya terlalu lama. Wajah tampannya tampak datar, minim ekspresi, seolah acara megah di sekitarnya bukanlah hal yang istimewa. Namun, di balik ketenangan palsu itu, manik mata kelam Jino sesekali melirik ke arah tangga utama, menanti kemunculan sang calon tunangan.

Hingga pada detik berikutnya, alunan musik string mendadak berubah menjadi melodi romantis yang megah. Lampu sorot utama perlahan meredup, berpindah menyoroti ujung tangga lantai dua.

Semua pasang mata tamu undangan langsung menoleh ke arah sumber cahaya. Di sana, Demian Lunox muncul dengan menggandeng lengan Reina. Penampilan Reina yang begitu memukau membuat seisi ruangan bergeming dalam kekaguman. Bahkan para pewaris muda dari keluarga terpandang yang hadir malam itu tampak terpana menyaksikan pesona sang gadis Lunox.

Jino sendiri sempat tertegun selama beberapa detik. Untuk kesekian kalinya, gadis itu berhasil meruntuhkan pertahanannya lewat visual yang terlampau memukau. Ada kilat kepemilikan yang mendalam melintas di manik mata kelam Jino—sebuah sinyal bahwa gadis di hadapannya itu kini mutlak menjadi miliknya seorang.

Langkah kaki Reina terasa begitu berat menapaki satu per satu anak tangga, seolah setiap pijakannya membawanya semakin dekat ke dalam sangkar emas yang tidak bertepi. Ketika ia tiba di ujung tangga, Demian menyerahkan tangan Reina secara simbolis kepada Jino yang sudah menunggu dengan postur tegak dan tangan terulur.

Jino menyambut jemari Reina yang terbalut sarung tangan sutra tipis. Sentuhan tangan hangat pemuda itu terasa kontras dengan dinginnya udara malam. Reina melirik sekilas ke arah wajah Jino, mendapati pria itu tengah menatapnya dengan sudut bibir terangkat membentuk senyuman miring yang begitu khas—senyuman yang selalu berhasil memancing emosinya.

"Jangan pasang wajah seperti itu, gadis desa," bisik Jino rendah tepat di dekat telinga Reina saat mereka berjalan berdampingan menaiki panggung utama. "Kau terlihat seperti tahanan perang yang sedang digiring menuju tiang gantung."

Reina mendengus pelan di balik senyuman indahnya yang terpampang di depan para tamu. Ia balas berbisik dengan gigi terkatup rapat, "Memang benar! Perbedaan satu-satunya adalah di sini aku tidak bisa memilih algojoku sendiri!"

Jino tertawa kecil—suara berat yang sangat rendah dan seksi, nyaris tak terdengar oleh mikrofon di atas panggung. "Pilihanmu sudah jatuh padaku, Reina. Dan kau tidak akan pernah bisa menariknya kembali."

Acara inti pun dimulai. Pemandu acara memandu jalannya prosesi dengan suara riuh rendah tepuk tangan dari para tamu undangan yang memenuhi ruangan. Tibalah di puncak acara: penyematan cincin pertunangan.

Seorang pelayan membawa nampan berbalrukan kain beludru merah yang berisi sepasang cincin mewah pesanan khusus. Jino mengambil cincin pertama—sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian hitam dan putih yang berkilauan indah di bawah pantulan cahaya lampu chandelier. Dengan gerakan tenang namun pasti, Jino meraih tangan kiri Reina yang bergetar tipis, lalu menyematkan cincin tersebut secara pas di jari manis gadis itu.

Detik ketika logam dingin itu melingkar di jarinya, Reina merasakan sensasi sengatan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Cincin itu bukan sekadar perhiasan biasa; itu adalah rantai tak kasat mata yang mengikat masa depannya pada pria arogan di hadapannya.

Giliran Reina. Dengan napas yang sedikit tertahan, ia mengambil cincin kedua dari nampan. Manik mata cokelatnya beradu pandang langsung dengan manik mata kelam Jino yang menatapnya lekat-lekat. Dengan tangan yang sengaja sedikit ditekan, Reina memasukkan cincin tersebut ke jari manis kiri Jino, sedikit lebih kencang dari yang seharusnya.

Jino hanya menaikkan sebelah alisnya, tidak protes atas tekanan kecil tersebut. Ia justru meraih pinggang ramping Reina mendekat ke arah tubuhnya, merengkuh gadis itu dalam jarak yang sangat tipis di hadapan ratusan pasang mata yang bersorak riuh memberikan tepuk tangan meriah.

"Selamat kepada Tuan Muda Jino West dan Nona Reina Lunox atas resmi bertautnya ikatan pertunangan kalian!" seru pemandu acara bersemangat.

Para fotografer profesional mulai membidikkan kamera tanpa henti, mengabadikan momen di mana sang Ice Prince dunia bisnis mencium lembut kening calon tunangannya di atas panggung megah.

Bibir Jino mendarat sekilas di dahi Reina. Aroma mint dan woody yang sangat khas langsung memenuhi indra penciuman gadis itu. Dalam jarak sedekat itu, tepat di balik bisikan para tamu yang bertepuk tangan, Jino kembali berbisik dengan suara rendah yang berhasil mengirimkan getaran aneh ke seluruh saraf pertahanan Reina:

"Selamat datang di duniamu yang baru, calon istriku. Permainan baru saja dimulai, dan aku tidak akan membiarkanmu menang."

Reina membalas tatapan tajam itu dengan dagu terangkat penuh perlawanan. Di dalam batinnya yang bergemuruh, ia bersumpah—meski cincin ini kini melingkar di jarinya, ia tidak akan pernah menyerahkan hatinya begitu saja pada sang Tuan Muda Angkuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!