Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Malam kian melarut, namun hening di dalam kamar utama terasa semakin menghimpit. Keanu terus membolak-balikkan tubuhnya di atas sofa. Kaki panjangnya yang tertekuk membuat persendiannya terasa pegal, belum lagi pikirannya yang terus berputar liar. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan rambut hitam Bunga yang tergerai indah dan tatapan polos wanita itu selalu terbayang di benaknya.
"Ck, kenapa aku jadi seperti ini?" batin Keanu gusar.
Pria itu akhirnya menyerah, mendudukkan dirinya di tepi sofa sembari memijit pelipisnya yang mendadak pusing.
Pandangan Keanu bergulir ke arah ranjang king size di seberang ruangan. Di sana, di bawah remang lampu tidur, Bunga tampak tertidur gelisah. Selimut yang tadinya menutupi dadanya kini merosot hingga ke pinggang. Tubuh mungilnya tampak meringkuk, dan napasnya terdengar memburu pelan.
Keanu mengernyitkan keningnya. Mengabaikan gengsinya, ia beranjak berdiri dan melangkah pelan mendekati ranjang tempat tidur.
Saat jarak mereka semakin terkikis, Keanu menyadari keningnya Bunga dibasahi peluh dingin. Jemari mungil wanita itu meremas sprei dengan sangat kuat, dan bibirnya yang pucat tampak bergetar tanpa mengeluarkan suara.
Bunga sedang bermimpi buruk.
"Bunga..." panggil Keanu pelan, menundukkan tubuhnya di tepi ranjang.
Tak ada jawaban. Bunga justru semakin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah ketakutan yang amat sangat. Dalam lelapnya yang tersiksa, bayangan malam pembantaian orang tuanya kembali hadir, sosok pria bermuka luka yang menyeringai kejam di tengah kegelapan.
"Bunga, bangun!" tegas Keanu seraya menepuk pelan bahunya Bunga.
Gasp!
Bunga mendadak tersentak dan membelalakkan matanya. Napasnya memburu parau, dadanya naik turun dengan liar seolah baru saja lolos dari kejaran maut. Peluh dingin mengucur deras di pelipis dan lehernya. Sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya dari trauma yang mencengkeram, refleks ketakutan membuat Bunga langsung memajukan tubuhnya dan memeluk erat pinggang Keanu yang sedang membungkuk di sampingnya.
Deg!
Tubuh Keanu seketika membeku. Ia tertegun merasakan lingkar lengan mungil Bunga yang gemetar hebat melingkari tubuhnya, serta wajah wanita itu yang terbenam pasrah di dada bidangnya. Detak jantung Bunga yang berpacu kencang terasa nyata menempel pada dadanya.
Awalnya, Keanu hendak menepis tangannya Bunga dan menyuruhnya sadar. Namun, isakan tanpa suara yang menggetarkan punggungnya Bunga mematikan seluruh niat dinginnya. Keanu bisa merasakan betapa rapuh dan ketakutannya wanita ini.
Perlahan, tangan kanan Keanu terangkat ragu di udara. Setelah bergelut dengan egonya sendiri selama beberapa detik, ia akhirnya mengusap pelan rambut hitam tergerai milik Bunga, usapan canggung namun terasa begitu hangat.
"Sudah... itu cuma mimpi," bisik Keanu dengan suara berat yang tanpa sadar melunak. "Aku di sini."
Bunga yang mendengar bisikan itu perlahan mulai menyadari situasinya. Aroma maskulin khas Keanu menyapu inderanya, menyadarkan Bunga bahwa pria yang kini ia peluk erat adalah suami barunya, bukan sosok peneduh seperti Azka. Rona merah mendadak membakar pipinya, namun rasa hangat dan aman yang ditawarkan dada Keanu membuat Bunga enggan untuk melepas pelukan itu dengan cepat.
Selama beberapa saat, keheningan menyelimuti kamar remang itu. Hanya terdengar hembusan napas Bunga yang perlahan mulai teratur di dada Keanu. Namun, begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, Bunga tersentak. Ia menyadari betapa lancangnya ia merengkuh tubuh pria dingin yang kini menjadi suaminya.
Dengan tergesa-gesa, Bunga melepaskan pelukannya dan menarik diri ke belakang. Wajahnya menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata Keanu. Pipi dan telinganya terasa panas membara karena rasa malu yang luar biasa. Jemarinya yang masih sedikit gemetar segera meraih buku catatan dan pulpen di atas nakas.
Dengan tangan canggung, ia menorehkan tulisan:
'Maafkan aku, Kak Keanu... Aku tidak sengaja. Aku bermimpi buruk lagi. Maaf sudah membuat Kakak terganggu.'
Keanu yang masih berdiri di tepi ranjang berdehem pelan untuk menutupi rasa canggung yang mendadak menyerbunya. Sisa kehangatan tubuh Bunga yang sempat menempel di dadanya masih berbekas jelas, membuat jantungnya berdesir aneh.
Keanu berdehem keras, mencoba mengembalikan raut wajah dinginnya.
"Sudah ku katakan, jangan buat drama di tengah malam," ujarnya datar, meski nada suaranya tak setajam biasanya. "Hanya karena mimpi buruk, kau sampai histeris seperti itu."
Bunga semakin menundukkan kepalanya, meremas ujung selimut dengan raut merasa bersalah.
Melihat kepasrahan Bunga, Keanu menghela napas panjang. Tatapannya tertuju pada wajah pucat wanita itu yang dibasahi keringat dingin. Sikap keras kepalanya perlahan runtuh menghadapi kondisi Bunga yang begitu rapuh.
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Keanu memutar badan, berjalan menuju sofa, lalu mengambil bantal dan selimutnya. Ia kembali ke sisi ranjang dan melemparkan bantalnya di sebelah Bunga.
Bunga mendongak kaget, menatap Keanu dengan mata bulatnya yang penuh tanya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak," pangkas Keanu cepat sebelum Bunga meraih pulpennya lagi. "Sofa itu terlalu pendek dan membuat punggungku sakit. Lagi pula, kalau kau histeris lagi seperti tadi, aku tidak perlu repot-repot jalan menyeberangi kamar."
Keanu menyusun bantal guling tepat di tengah-tengah kasur king size tersebut sebagai pembatas yang tegas.
"Ini batasnya. Kau di sebelah sana, aku di sebelah sini. Jangan melewati guling ini," tegas Keanu seraya naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sisi kosong, membelakangi Bunga.
Bunga terpaku sejenak menatap punggung tegap Keanu di balik batas guling. Rasa haru dan hangat perlahan mengalir di relung hatinya. Meski kata-kata pria itu selalu terkesan tajam dan gengsi melangit, tindakan Keanu menunjukkan sisi kepedulian yang tak bisa disembunyikan.
Bunga mengulas senyum tipis yang tulus. Ia menarik selimutnya kembali, membaringkan tubuhnya melengkapi batas guling tersebut. Malam itu, di bawah temaram lampu tidur dan di balik dinding gengsi masing-masing, Bunga akhirnya bisa memejamkan mata dengan perasaan jauh lebih tenang dan aman.
*
*
Keesokan harinya, cahaya matahari pagi perlahan telah menyinari kamar utama yang megah. Bunga menjadi yang pertama membuka mata. Saat mengubah posisi tidurnya, pandangannya langsung tertuju pada batas guling di sampingnya. Keanu masih terlelap tenang, garis-garis tegas di wajahnya tampak jauh lebih lembut saat tertidur tanpa raut dingin yang biasa ia perlihatkan.
Bunga tersenyum tipis, sebisa mungkin beranjak dari tempat tidur tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Setelah merapikan diri dan mengenakan hijabnya dengan rapi, ia turun ke dapur untuk membantu Bik Ratih menyiapkan sarapan, sebuah rutinitas sederhana yang membuatnya merasa berguna di rumah sebesar ini.
Tak lama kemudian, Keanu terbangun. Pria itu menyisir rambut acak-acakan nya dengan jemari sembari menatap sisi tempat tidur yang sudah kosong dan tertata rapi. Sentuhan hangat dan ketenangan yang ia rasakan semalam masih membayangi pikirannya, membuat dadanya berdesir aneh.
Setelah mandi dan mengenakan setelan jas kemeja kerjanya, Keanu melangkah turun menuju ruang makan. Di sana, Tuan Alexander sudah duduk sembari membaca koran pagi, sementara Bunga sedang meletakkan cangkir kopi hangat di atas meja.
"Selamat pagi, Keanu," sapa Tuan Alexander hangat, melirik putra sulungnya yang baru bergabung. "Bagaimana tidurmu semalam?"
Keanu berdehem pelan, menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyergap.
"Nyenyak, Pah."
Tuan Alexander tersenyum penuh arti, lalu menatap Bunga yang kini berdiri di samping meja. "Bunga, terima kasih ya sarapannya. Kamu kelihatan jauh lebih segar hari ini."
Bunga mengangguk anggun, jemarinya bergerak membentuk isyarat sederhana.
"Sama-sama, Pah. Bunga senang kalau Papah suka."
Melihat keharmonisan kecil itu, Keanu meraih cangkir kopinya. Namun sebelum ia sempat menyeruput isi cangkir tersebut, suara Tuan Alexander kembali memecah keheningan.
"Keanu, mulai hari ini Bunga akan ikut bersamamu ke kantor."
Tak!
Cangkir kopi yang dipegang Keanu terhentak cukup keras ke tatakannya. Keanu mendongak tajam, menatap ayahnya tak percaya. "Apa maksud Papah? Ke kantor? Untuk apa Bunga ke sana?"
"Dia istrimu, Keanu. Dari pada dia kesepian dan melamun sendirian di rumah ini, lebih baik dia bersamamu," ujar Tuan Alexander dengan suara tenang namun tak terbantahkan. "Lagipula, Papah sudah menyiapkan posisi untuk Bunga di anak perusahaan. Dia bisa membantumu di bagian administrasi atau kearsipan dokumen."
"Pah! Ini tidak masuk akal!" protes Keanu dengan rahang mengeras. "Bunga tidak punya pengalaman kerja di perusahaan besar, dan kondisinya...."
"Kondisinya sudah membaik, Dokter Radit sendiri yang bilang kemarin," pangkas Tuan Alexander tegas. "Papah tidak menerima penolakan, Keanu. Ini juga keputusan Papah sebagai Direktur Utama Alexander Group."
Keanu mengepalkan tangannya di bawah meja, napasnya berhembus kasar. Ia menoleh ke arah Bunga yang tampak berdiri terpaku dengan mata membulat kaget. Bunga dengan cepat menggerakkan tangannya, mencoba menolak keputusan itu karena tak ingin membuat Keanu semakin murka padanya.
"Pah, tidak perlu... Bunga di rumah saja..."
Namun Tuan Alexander hanya tersenyum lembut dan menggeleng. "Tidak, Bunga. Ini kesempatan bagus untukmu belajar hal baru dan berada di dekat suamimu."
Keanu berdiri mendadak dari kursinya, merapikan jasnya dengan gerakan kasar. "Jam delapan tepat di mobil. Kalau kau terlambat satu detik saja, aku akan meninggalkanmu," ujarnya dingin tanpa memandang Bunga, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang makan dengan kekesalan yang membakar dada.
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander