Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Lelaki yang Melamar
Sekar
Seminggu setelah hampir dipecat, aku mendapat satu hari libur dan memilih pergi ke rumah Bu Tumi.
Rumah kecil yang disewanya berada di ujung gang padat. Cat temboknya mulai mengelupas, tetapi teras selalu bersih dan pot cabainya tumbuh subur. Di tempat inilah dulu aku duduk dengan tas kain di pangkuan, meminta bantuan mencari pekerjaan setelah lari dari rumah.
Bu Tumi memelukku sebelum aku sempat mengucapkan salam lengkap.
"Kurus," katanya. "Di rumah orang kaya kau tidak dikasih makan?"
Aku tertawa kecil. "Dikasih, Bu."
Jawabanku membuatku teringat satu aturan rahasia: aku hanya boleh makan sampai kenyang di depan Den Nara. Wajahku menghangat. Aku segera menyerahkan buah tangan agar Bu Tumi tidak memperhatikan.
Di dalam, aku menceritakan sebagian kejadian beberapa minggu terakhir. Aku tidak menyebut ramuan atau aroma. Aku hanya mengatakan ada gosip, salah paham tentang perjodohan, dan seorang anggota keluarga yang berulang kali mencariku kesalahan.
Bu Tumi mendecakkan lidah.
"Sudah kuduga kerja di rumah besar tidak selalu bikin hati besar." Dia menuang teh manis. "Kau bisa pindah kalau tidak nyaman."
"Saya butuh tempat yang aman. Bapak sudah tahu saya di Surabaya."
Wajahnya langsung serius. "Sukir datang?"
"Belum ke rumah. Tapi saya takut dia mencari."
"Kita cari kos yang alamatnya tidak mudah diketahui."
"Tabungan saya belum cukup."
Bu Tumi menepuk pahanya, lalu menatapku seperti baru mengingat sesuatu.
"Kalau begitu, sekalian cari suami yang benar."
Aku hampir tersedak teh. "Bu!"
"Bukan menjualmu. Aku kenal anak baik. Kerja tetap, tidak mabuk, salatnya juga dijaga. Rumah orang tuanya punya dua kamar kosong."
"Saya belum ingin menikah."
"Kau belum ingin, atau hatimu sudah sibuk memikirkan orang yang terlalu tinggi untuk dijangkau?"
Pertanyaan itu tepat mengenai luka. Aku menunduk pada gelas.
Bu Tumi menghela napas. "Aku bukan merendahkanmu. Aku takut kau menunggu sesuatu yang tidak pernah berani dijanjikan lelaki itu."
"Den Nara tidak pernah meminta saya menunggu."
"Nah. Itu masalahnya."
Aku tidak bisa membantah.
Sebelum pulang, Bu Tumi mengajakku membeli gorengan di warung kopi dekat ujung gang. Baru setelah kami duduk, seorang lelaki berkemeja kotak-kotak datang sambil tersenyum. Usianya mungkin awal tiga puluhan, rambutnya rapi, dan sepatu kerjanya masih berdebu.
"Ini Fajar," kata Bu Tumi terlalu ceria. "Fajar, ini Sekar yang sering kuceritakan."
Aku menatapnya tajam. Dia pura-pura sibuk memanggil penjual.
Fajar mengulurkan tangan, lalu cepat menariknya kembali ketika melihatku hanya menangkupkan tangan di depan dada.
"Maaf," katanya. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dia duduk dengan jarak sopan. Bu Tumi mengambil tempat di antara kami selama beberapa menit, lalu tiba-tiba mengaku harus membeli gas dari toko sebelah.
"Bu Tumi," panggilku.
"Sebentar saja!"
Dia menghilang dengan langkah terlalu cepat untuk seseorang yang sering mengeluh sakit lutut.
Aku dan Fajar saling memandang canggung.
"Saya tidak tahu Bu Tumi mengatur pertemuan," kataku lebih dulu.
"Saya tahu sedikit," jawabnya jujur. "Beliau bilang jangan datang seperti mau melamar. Cuma ngobrol."
"Tapi Mas tetap datang."
"Karena beliau bilang Mbak Sekar orang baik. Saya ingin menilai sendiri, dan Mbak juga berhak menilai saya. Kalau tidak cocok, kita minum kopi lalu pulang."
Jawaban itu membuat bahuku sedikit rileks. Tidak ada map profil, tidak ada keluarga yang membicarakan bibit di depanku, dan tidak ada orang yang menyembunyikan tujuan dengan istilah silaturahmi.
Fajar bekerja sebagai tenaga penjualan di toko bahan bangunan. Gajinya tidak besar, tetapi dia mendapat komisi dan sedang mencicil sepeda motor. Dia bercerita tanpa membesar-besarkan diri. Ketika bertanya tentang pekerjaanku, dia tidak mengubah wajah saat mendengar kata ART.
"Menjaga bayi itu berat," katanya. "Keponakan saya satu saja bikin semua orang di rumah kurang tidur."
"Arka anaknya tenang."
"Karena pengasuhnya sabar mungkin."
Aku menatap teh. Pujian sederhana terasa asing setelah berminggu-minggu namaku diperlakukan seperti sumber masalah.
"Bu Tumi bilang Mbak ingin usaha sendiri," lanjutnya.
"Baru keinginan. Saya dan teman sedang berpikir jualan kecil."
"Jual apa?"
"Belum tahu. Mungkin pakaian atau makanan."
"Kalau butuh cari pemasok rak, etalase, atau bahan renovasi, saya bisa bantu kenalkan. Soal modal juga ada koperasi resmi di tempat kerja saya. Jangan pinjam ke rentenir."
"Saya belum berani berutang lagi," kataku. "Utang orang lain saja masih mengejar hidup saya."
Fajar tidak langsung bertanya. Dia menggeser piring gorengan ke tengah meja, memberi waktu sampai aku sendiri memilih melanjutkan.
"Bapak saya punya masalah utang," jelasku. "Saya tidak ikut meminjam, tapi orang tetap menganggap anak harus menanggung semuanya."
"Secara hukum, utang pribadi tidak otomatis jadi utang anak kalau Mbak tidak ikut menandatangani," katanya. "Di toko, saya sering melihat keluarga dibohongi penagih."
Aku menatapnya. "Mas tahu soal begitu?"
"Sedikit. Tempat kerja kami punya bagian kredit. Kalau nanti ada orang menekan, jangan serahkan KTP atau tanda tangan apa pun."
Nasihat itu praktis, tidak disertai rasa ingin tahu yang rakus. Dia bahkan tidak menanyakan nama Bapak atau jumlah utangnya.
"Maaf kalau saya terlalu banyak bicara," tambahnya. "Saya cuma tidak ingin Mbak mengira jalan keluar satu-satunya adalah menikah."
Aku nyaris tersenyum mendengar ironi itu. Kami dipertemukan untuk kemungkinan menikah, tetapi lelaki di depanku justru mengingatkan bahwa aku tidak wajib memilihnya untuk selamat.
"Lalu kenapa Mas mau dikenalkan?"
"Karena ingin punya keluarga, bukan mencari orang untuk bergantung kepada saya." Dia mengusap tengkuk, tampak malu setelah berkata terus terang. "Saya suka perempuan yang punya rencana sendiri. Ibu mungkin lebih tradisional, tapi nanti bisa dibicarakan."
Kata mungkin lewat begitu saja. Aku tidak menaruh curiga saat itu. Aku hanya melihat seorang lelaki yang berusaha jujur dan cukup baik untuk tidak memanfaatkan keadaan sulitku.
Kami lalu membicarakan jenis usaha. Fajar mengatakan pakaian rumahan punya pasar besar bila ukurannya jelas dan fotonya jujur. Aku bercerita bahwa Yuni pandai memilih bahan, sementara aku ingin belajar pembukuan. Untuk pertama kalinya, gagasan kecil kami terdengar seperti rencana yang bisa disentuh, bukan lamunan dua pekerja lelah di kamar kos.
Dia tidak menawarkan uang dari sakunya, tidak meminta imbalan, dan tidak membuatku merasa berutang. Dia hanya memberi informasi seperti bicara kepada seseorang yang rencananya layak dianggap nyata.
Untuk sesaat aku terharu. Bukan karena menyukainya. Aku bahkan belum mengenalnya. Aku hanya baru menyadari betapa jarang orang memandangku sejajar tanpa perlu lebih dulu disuruh.
"Terima kasih, Mas."
"Kalau saya boleh jujur, saya tertarik mengenal Mbak lebih jauh. Tapi kalau tidak, katakan saja. Saya tidak mau bikin tidak nyaman."
Aku menarik napas. Wajah Den Nara muncul tanpa diminta: matanya ketika mengambil baki dari tanganku, tangan yang menyimpan sapu tangan, dan kalimat bahwa dia akan datang sebagai lelaki yang belum pernah kudengar tetapi seperti sudah hidup di antara kami.
"Saya belum punya rencana menikah," kataku. "Hidup saya masih berantakan."
"Saya tidak minta jawaban hari ini."
"Mas Fajar baik. Karena itu saya tidak ingin memberi harapan yang salah."
Dia terdiam, lalu mengangguk. "Ada orang lain?"
"Tidak ada hubungan apa pun."
Itu jawaban paling jujur sekaligus paling menyakitkan.
Bu Tumi kembali membawa tabung gas kecil yang ternyata benar-benar dibelinya. Dia membaca suasana dan tidak memaksa percakapan. Kami menghabiskan kopi sambil membahas harga kebutuhan pokok.
Ketika waktu pulang tiba, Fajar berjalan bersama kami sampai ujung gang. Bu Tumi masuk lebih dulu untuk menyimpan gas, sengaja memberi ruang sekali lagi.
"Saya paham Mbak belum siap," kata Fajar. "Tapi niat saya baik. Kalau diizinkan, lain kali saya ingin datang bersama orang tua. Biar semuanya jelas."
"Mas, saya sudah bilang..."
"Saya tidak akan memaksa. Anggap saja saya meminta kesempatan menyampaikan niat secara pantas. Setelah itu keputusan tetap milik Mbak."
Sebelum aku sempat menjawab, sebuah mobil hitam melambat di jalan besar depan gang.
Kaca jendelanya turun sedikit. Aku melihat Den Nara di kursi belakang.
Tatapan kami bertemu.
Dia pasti sedang melewati jalan menuju proyek karena mengenakan kemeja kerja dan membawa map. Namun matanya tidak melihat Bu Tumi atau warung. Tatapannya jatuh pada Fajar yang berdiri di hadapanku, lalu pada jarak di antara kami.
Fajar mengikuti arah pandangku. "Kenal?"
"Majikan saya."
Kata itu terasa salah di lidah, meski secara fakta benar.
Den Nara tidak turun. Dia tidak memanggilku atau bertanya apa pun. Wajahnya menjadi datar, terlalu datar. Kaca mobil kembali naik, lalu kendaraan itu melaju.
Aku melihatnya sampai hilang di tikungan.
Ada dorongan untuk mengirim pesan dan menjelaskan bahwa pertemuan ini bukan pilihanku. Aku bahkan sudah membuka layar ponsel. Namun kami tidak punya hubungan yang memberiku kewajiban menjelaskan, dan kesadaran itu terasa lebih dingin daripada angin sore di gang.
"Mbak Sekar?" panggil Fajar.
"Ya."
"Tentang orang tua saya..."
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa."
"Tidak perlu. Saya tetap akan minta izin Bu Tumi lebih dulu."
Dia pamit dengan sopan. Aku berdiri di luar warung sambil meremas tali tas.
Debu jalan masih menggantung lama.
Di ujung jalan, mobil Den Nara sudah tidak terlihat. Namun langkahnya yang tidak pernah turun dari mobil dan tatapan yang ditarik pergi terlalu cepat meninggalkan sesuatu yang berat di dadaku.