perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah perubahan
Pak Gunawan kemudian membuka laci mejanya dan mengambil sebuah map berwarna merah. Map tersebut di letakkannya di atas meja, kemudian didorong perlahan ke arahku.
" Sekarang saya hanya membutuhkan tanda tangan dari Bu Jasmine di beberapa lembar pernyataan untuk proses awal. Tapi, sebelum menandatanganinya, silahkan Ibu baca terlebih dahulu dengan teliti." Ucap Pak Gunawan.
" Baik, Pak." Jawabku.
Aku membuka map tersebut. Mataku membaca setiap kalimat dengan hati-hati.
" Kalau boleh tau, kira-kira akan membutuhkan waktu berapa lama, Pak?" Tanya ku setelah selesai membaca beberapa lembar dokumen.
" Saya tidak bisa memastikan secara mutlak, Bu. Ada beberapa proses yang bergantung pada pihak lain. Tapi saya akan usahakan secepat mungkin. Kalau seluruh dokumen yang diperlukan sudah lengkap, mudah-mudahan dalam waktu kurang dari satu minggu sudah ada perkembangan yang bisa Ibu terima." Jawab Pak Gunawan.
" Baiklah, Pak Gunawan. Saya pasrahkan semuanya kepada Bapak. Mohon bantuannya. Dan untuk biayanya, kapan bisa saya lunasi?" Tanyaku kepada Pak Gunawan.
" Untuk masalah biaya nanti saja, Bu. Setelah semua sudah selesai." Jawab Pak Gunawan dengan tenang.
" Baik, Pak. Kalau begitu, terimakasih banyak."
Aku pun bangkit dari kursi. Rasa nya sedikit lega setelah menyerahkan urusan tersebut kepada orang yang lebih memahami masalah hukum dan aset. Setidaknya, hari ini aku sudah mengambil satu langkah untuk melindungi masa depan anak-anakku.
" Sama-sama, Bu Jasmine. Hati-hati dijalan." Ucap pak Gunawan.
Kami pun berjabat tangan. Kemudian aku melangkah pergi meninggalkan ruangan Pak Gunawan.
Setelah selesai bertemu dengan Pak Gunawan, aku berencana untuk pergi ke salon terlebih dahulu sebelum pulang kerumah. Entah kenapa, tiba-tiba ingin sekali rasanya memanjakan diri.
Selama bertahun-tahun. Aku hampir tidak pernah memikirkan diriku sendiri. Uang yang ada selalu kupikirkan untuk kebutuhan rumah, anak-anak, dan suami.
Tapi hari ini aku ingin melakukan sesuatu untuk diriku sendiri. Aku ingin berubah. Aku berencana memangkas rambut panjang ku hingga sebatas bahu. Melakukan facial, creambath, serta luluran.
Kulajukan motorku menuju sebuah salon yang letaknya tidak jauh dari kantor Pak Gunawan. Sesampainya di salon, seorang pegawai menyambutku dengan ramah.
" Selamat siang, Mbak. Mau perawatan apa?" Tanya pegawai tersebut.
" Saya mau potong rambut, Mbak. Sampai sebahu saja. Setelah itu saya mau facial, creambath, sama luluran." Jawab ku.
" Baik,Mbak. Silahkan duduk di sebelah sini." Ucap pegawai itu mengarahkan ku untuk duduk.
Ketika rambut panjangku mulai dipotong, entah kenapa ada perasaan aneh yang muncul di dalam hati. Setiap helai rambut yang jatuh seolah membawa pergi sedikit demi sedikit kesedihan yang selama ini kurasakan.
Setelah menjalani seluruh perawatan. Aku berdiri di depan cermin besar yang ada disalon tersebut. Aku memperhatikan pantulan diriku sendiri. Tanpa sadar, sebuah senyuman muncul di bibirku. Rambutku kini sebahu. Wajahku terlihat lebih bersih dan segar.
" Wahhh..... Dengan penampilan baru, Mbak terlihat lebih segar. Pasti nanti suami Mbak langsung klepek-klepek." Ujar pegawai salon sambil tersenyum.
" Terimakasih, Mbak. Sudah merubah penampilan saya." Ucapku.
Setelah melakukan transaksi pembayaran. Aku kemudian meninggalkan salon. Sebelum aku pulang, aku berniat mampir di toko baju. Aku ingin membeli beberapa pakaian muslim dengan model yang terbaru dan kekinian.
Setelah puas perawatan dan berbelanja, aku pun segera pulang karena hari sudah sore. Sebelum pulang aku akan membelikan kue untuk kedua anak ku dan juga untuk Mbak Rima. Bagaimanapun aku tidak akan pernah melupakan orang yang sudah berdiri di sampingku ketika hidupku sedang berantakan.
Setelah semuanya selesai, aku memasukkan barang-barang ke dalam tas dan kembali mengendarai motor. Di sepanjang perjalanan, pikiranku terasa lebih ringan. Rasanya puas dengan apa yang aku lakukan hari ini. Meskipun semuanya berawal dari kekecewaan, tapi mungkin memang beginilah caranya hidup mengajarkan seseorang untuk menjadi lebih kuat. Kekecewaan inilah yang menjadi awal dari kebangkitan hidupku.
Sekitar pukul 5 sore, motor yang kukendarai akhirnya memasuki pekarangan rumah. Aku mematikan mesin, lalu turun dan membawa masuk semua barang belanjaan yang tadi kubeli.
Setelah itu, tanpa berganti pakaian aku langsung melangkah menuju rumah Mbak Rima. Aku ingin segera bertemu kedua anak ku. Seharian meninggalkan mereka membuat hatiku terasa rindu. Aku kemudian mengambil sekotak kue yang sengaja kubeli untuk Mbak Rima dan segera berjalan kerumahnya.
Begitu sampai di halaman rumah Mbak Rima, Aldi yang sedang bermain di halaman bersama sang Adik mengetahui kedatanganku.
" Mama.....!!" Seru Aldi sambil berlari menghampiriku diikuti oleh Adiknya.
Aku langsung berjongkok dan membuka kedua tanganku. Kupeluk mereka erat-erat. Ada rasa bersalah karena sudah meninggalkan mereka seharian. Namun, semua yang kulakukan hari ini demi masa depan mereka. Aku ingin mereka mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Mbak Rima yang juga tahu kedatanganku, langsung berjalan menghampiriku.
" Sudah selesai, Mbak?" Tanya Mbak Rima.
" Alhamdulillah sudah, Mbak. Berkat Mbak Rima hari ini aku bisa bertemu dengan Pak Gunawan. Tapi untuk pembekuan gaji, ternyata tidak bisa dilakukan." Jawabku dengan nada sedih.
" Iya, itu sudah pasti akan sulit, Mbak. Apalagi kalau bukan pihak yang bersangkutan langsung yang mengajukan. Kadang setiap perusahaan memiliki peraturan yang berbeda-beda. Tapi setidaknya, Mbak Jasmine sudah melakukan sesuatu dengan sudah menemui Pak Gunawan hari ini."
" Benar juga, ya Mbak. Setidaknya hari ini aku tidak hanya duduk diam di rumah sambil menangisi nasib. Aku sudah mulai bergerak. Aku sudah mencari jalan. Makasih, ya Mbak karena sudah membantuku. O,iya,, ini ada sedikit kue yang aku beli waktu perjalanan pulang." Ujarku sambil menyodorkan sekotak kue kepada Mbak Rima.
" Kenapa harus repot-repot, Mbak. Lebih baik buat Aldi sama Aira saja."
" Aldi sama Aira sudah aku belikan sendiri kok, Mbak. Yang ini khusus aku belikan untuk Mbak Rima."
" Ya sudah kalau gitu aku terima, ya Mbak. Terimakasih banyak." Ucap Mbak Rima.
" Iya, Sama-sama. Kalau gitu aku sama anak-anak pulang dulu ya ,Mbak. Sekali lagi terimakasih sudah menjaga Aldi dan Aira seharian."
" Iya Mbak Jasmine, sama-sama. O,iya besok pagi aku akan antar Mbak Jasmine melihat ruko. Tadi temanku bilang, Besok kita disuruh datang kesana."
" Baik, Mbak. Besok setelah mengantar Aldi kesekolah kita pergi kesana."
" Oke. Sekarang istirahatlah dulu, Mbak bersama anak-anak." Ucap Mba Rima.
" Iya , Mbak. Assalamualaikum."
" Walaikumsallam."
Aku pun berjalan pulang bersama kedua anak ku. Mengistirahatkan badan dan pikiranku sejenak. Dan besok aku siap menghadapi apapun. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh dalam diriku yaitu, keberanian. Aku siap menghadapi apapun yang akan datang.
...****************...
Terimakasih sudah membaca..
Next ke episode selanjutnya yang makin seru 🥰