Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Cahaya matahari siang ini masuk dengan lembut ke sela gorden jendela kamar, memantul di atas lantai ubin yang bersih.

Kamar Asri Devantara, kini di penuhi isak tangis dengan keputusasaan yang perlahan di gantikan dengan ketenangan.

Di dinding belakang, beberapa untaian lampu tumblr masih menggantung dengan di matikan seolah menjadi saksi bisu atas yang terjadi di kamar.

Di atas ranjang ukuran king size, Asri terduduk dengan menyila.

Siang ini tubuh Asri sedikit lebih sehat, setelah kondisinya membaik---kemarin dirinya pingsan karena banyak tekanan yang di pikirkannya.

Siang ini Asri mengenakan kaos rayon lengan pendek warna hijau tua dengan gambar mickey mouse, di padukan dengan celana pendek santai warna hitam pekat.

Rambutnya di biarkan tergerai panjang, perlahan air mata keluar lagi---bukan air mata kesedihan atau tertekan, namun air mata kelegaan sekaligus kebahagiaan.

Di hadapannya Putri dengan duduk yang selalu menemaninya.

Putri mengenakan kaos lengan pendek warna lavender, yang di padukan dengan celana santai motif abstrak warna hitam dan biru.

Tangan kanan Putri menggenggam erat jemari Asri, mencoba menyalurkan kekuatan pada sepupu tersayangnya itu.

Di atas meja nakas kayu ada sebuah jam beker warna hitam yang menunjukkan waktu terus berjalan, di samping jam terletak dua buah buku panduan bertuliskan Italy dan London.

Kedua buku itu seolah menjadi gerbang, untuk rencana Asri yang lain---Manusia bisa berencana namun tuhan sudah menggariskan takdir untuknya.

Di tangan Asri tengah tergenggam kertas putih berlogo lembaga akademis internasional, Air mata Asri kali ini menetes dengan bangga.

"As... lu nangis lagi? Ada apa? Surat itu dari siapa?" tanya Putri lembut, matanya menatap khawatir ke arah kertas yang di pegang erat oleh sepupunya.

Asri langsung menyeka air matanya lalu berusaha menetralkan suaranya yang serak akibat terlalu banyak menangis, matanya lalu menatap Putri dengan pandangan mata yang tak lagi kosong.

Melainkan pandangan mata di penuhi binar dan tekad yang sudah sejak lama tidak Putri lihat setelah malam menjijikan itu.

"Put... surat ini dari Profesor Willy Leington," bisik Asri lirih, suaranya bergetar hebat.

Putri mengerutkan keningnya, seolah ingin tahu siapa orang yang sepupunya maksud.

"Siapa dia?" tanya Putri dengan nada heran.

"Arkeolog senior yang menjadi mentor riset budaya nusantara waktu gua di Denmark dulu. Beliau... beliau mendengar kabar mengenai kondisi fisik gua dan riset candi yang sedang gua perjuangkan dari pihak kementerian," jawab Asri.

Putri mengerutkan keningnya, lalu kembali bertanya kepada sang sepupu.

"Lalu? Apa isi suratnya, As?" tanya Putri heran.

Asri menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya memberanikan menjawab pertanyaan Putri.

"Profesor Willy menyarankan gua untuk segera meninggalkan Jakarta. Beliau nawarin gua untuk ikut dalam proyek kolaborasi kebudayaan besar di Italia. Beliau pengen gua memimpin tim riset untuk memperkenalkan dan memamerkan seni adat serta cagar budaya Nusa Tenggara Timur (NTT) ke benua Eropa... dengan destinasi pameran utama di London, Inggris."

Mendengar penuturan Asri yang antusias, tiba-tiba tubuh Putri seketika menegang kaku.

Matanya melebar sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka, karena syok yang teramat sangat mendalam.

Putri menatap wajah Asri dengan tatapan tidak percaya, tangannya refleks meremas erat jemari sepupunya demi memastikan bahwa apa yang baru saja ia dengar bukanlah sebuah halusinasi di siang hari yang terik.

"Italia?! London?! As... lu serius?!" seru Putri tertahan, suaranya naik satu oktav karena terkejut.

"Lu... lu mau pergi sejauh itu? Di saat kondisi psikologis lu bahkan belum sepenuhnya pulih dari kejadian kemarin?" lanjutnya dengan nada khawatir.

Asri mengangguk lemah sebagai jawaban, "yakin kok," jawabnya.

"Gua harus pergi Put, karena setiap gua di sini selalu teringat sentuhan cowok biadab itu. Pikiran gua selalu tertuju ama malam kelam itu...mungkin dengan gua pindah negara gua bisa...ilangin trauma ini," tutur Asri dengan nada penuh keyakinan.

Wanita itu kembali meremas kertasnya, lalu menatap kembali isi kertasnya.

"Yaudah kalo lu yakin mah lanjut," jawabnya.

"Profesor Willy benar. Ini adalah jalan yang diberikan Tuhan untukku. Pergi ke Italia bukan sekadar untuk melarikan diri dari trauma, tapi untuk menyelamatkan mimpiku. Seni adat NTT yang selama ini aku teliti layak dikenal dunia, dan London adalah panggung terbaik untuk membuktikannya. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri... bahwa monster yang merusak kesucianku malam itu tidak akan pernah bisa merusak masa depanku," batin Asri mendekap kertas itu di dadanya.

Mendengar akan keyakinan sepupunya yang sudah mulai melangkah maju lagi, Putri hanya bisa menghela napas dan mendukung setiap keputusan Asri----selagi itu positif.

Sebenarnya rasa egonya mau menahan Asri agar selalu disisinya, namun semua egonya melebur menjadi rasa kagum.

"Gua selalu dukung apa pun keputusan terbaik buat hidup lu, As," bisik Putri lembut di dekat telinga Asri sambil memeluknya singkat.

Putri melepaskan pelukannya lalu menghela napas panjang, dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.

Matanya juga berkaca-kaca saat sepupunya kembali mendapatkan semangat hidupnya kembali, tiba-tiba Asri menyambar tubuhnya dan mengucapkan terimakasih.

"Berterimakasih buat apa?" tanya Putri dengan rasa heran.

Asri tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap sepupunya, lalu menatap wajah sepupunya ini.

"Ya karena lu selalu support gua, selalu ada buat gua. Di saat tersulit gua," ungkap Asri dengan bahagia.

Putri menghela napas panjang sekali lagi, dan tersenyum.

"Yah, gua nggak bisa halangin lu. Karena dengan lu pergi ke luar negeri...mungkin bisa menghilangkan rasa trauma lu," ucap Putri.

Asri dan Putri saling menatap seolah keduanya adalah saudara kandung, padahal keduanya hanya sepupu dekat---lalu Putri tersenyum singkat menatap Asri.

"Eh sebagai perayaan gimana kalo gua pesenin pizza," ucap Putri.

"Ihh lu bisa banget hibur gua, makasih sepupuku!" sahut Asri yang mulai terlihat ceria lagi.

"Yaudah ayo ke bawah," ajak Putri menarik lembut lengan sepupunya.

Kedua sepupu itu berjalan menuju lantai bawah, untuk memesan pizza.

Asri berencana keluar negeri untuk menghilangkan rasa traumanya, namun dirinya lupa jika manusia hanya bisa berencana.

Sementara tuhan sudah menentukan garis takdir hambanya, dan Tuhan memiliki rencana sendiri untuk Asri dan Putri.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!