Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGILAAN ALETA
"Kau benar-benar istri yang berbahaya, Marchiones," puji Liam, cukup penasaran dengan rencana istri nya.
"Baru tahu sekarang, Jendral?" jawab Aleta menyeringai puas.
"Ah aku tidak tidak sabar ingin bermain-main dengan pria bau tanah itu, kira-kira nanti aku mulai dari mana ya? Congkel mata nya seperti nya menarik, anggap saja itu salam perkenalan dari ku," batin Aleta, jiwa psikopat Ariana keluar.
Liam menatap Aleta yang kini tersenyum penuh rahasia, tatapan dingin dan berbahaya itu sempat membuat bulu kuduk Liam merinding sesaat, meski dia tetap berusaha mempertahankan wibawanya sebagai seorang jendral perang.
"Jangan bertindak gegabah, Aleta, istana bukan tempat main-main, pertahanannya ketat dengan ribuan prajurit elit," ucap Liam memperingatkan.
Aleta mendengus pelan, menyesap kembali sisa teh hangat di cangkirnya lalu meletakkannya dengan santai.
"Prajurit elit? Penjagaan ketat? Sembilan puluh persen dari mereka itu cuma kumpulan pengecut, Liam," jawab Aleta enteng, menyandarkan dagunya di punggung tangan dengan mata menyipit tajam.
Liam terdiam sejenak, menghela napas panjang, mengahadapi sifat keras kepala istrinya itu.
"Kamu tidak paham, Aleta, Raja Salova punya jimat pelindung kuno di ruang tahtanya, dan-"
"Jimat? Halah, paling cuma batu biasa yang digunakan untuk menakut-nakuti rakyatnya," potong Aleta cepat sambil memutar bola matanya bosan.
Liam tertegun, hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar cara Aleta meremehkan benda pusaka sakral kerajaan yang selama ini ditakuti satu benua.
"Kamu ini benar-benar tidak ada takutnya sama sekali," desis Liam, mengepalkan kedua tangannya.
Aleta menyeringai lebar, menatap Liam dengan tatapan penuh percaya diri yang membuat suaminya itu semakin penasaran setengah mati.
"Buat apa takut sama kakek-kakek bau tanah yang kerjanya cuma merampas hak orang lain, mending aku yang datangi dia duluan sebelum dia sempat nyuruh pasukannya bergerak lagi," bisik Aleta pelan, namun suaranya terdengar sangat mematikan.
Di balik ekspresi santainya itu, jiwa Ariana dari dunia modern, seorang pembunuh berdarah dingin yang terbiasa keluar-masuk markas musuh tanpa suara, sudah mulai merencanakan strategi pembunuhan di dalam kepalanya.
"Maksudmu, kamu benar-benar mau menyusup ke istana?" tanya Liam terkejut, langsung menegakkan punggungnya dan menatap Aleta dengan mata melotot.
Aleta mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum misterius, tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya itu.
Liam mendengus keras, menatap wanita di depannya dengan campuran antara rasa tidak percaya dan kekaguman yang mendalam.
"Kamu benar-benar wanita paling gila yang pernah aku temui seumur hidupku, Aleta," ucap Liam, menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aleta tertawa kecil, suara tawa yang terdengar manis di telinga Liam, namun menyimpan aura kematian bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Panggil saja itu sebagai hobi baru ku semenjak pindah ke tubuh ini, Jendral," batin Aleta menyeringai penuh kemenangan.
Aleta berdiri dan merapikan gaun nya, menatap Liam sekilas, sebelum berbalik pergi menuju kamar nya.
"Jangan terlalu perduli Liam, karena itu sangat berbahaya," ucap Aleta, sebelum benar-benar pergi dari sana.
Liam terdiam menatap punggung istrinya yang mulai menjauh.
"Aku perduli?" batin Liam pada dirinya sendiri.
Entah sejak kapan pria yang biasanya tidak pernah perduli dengan orang lain itu, kini mulai terusik dengan sifat baru istri nya, bahkan wanita itu berhasil membuat semua Jendral Liam Volis merasa gelisah dan khawatir untuk pertama kalinya.
Di dalam kamarnya, Aleta berdiri di depan cermin besar, mengenakan pakaian serba hitam, dengan dua belati di balik pahanya.
Tidak lupa, dia juga menyiapkan racun racikan tangannya sendiri di dalam kantung kecil yang disembunyikan di balik sabuk pinggangnya.
"Satu tetes aja cukup untuk membuat satu batalion istana tidur selamanya," lanjut Aleta tersenyum lebar, matanya memancarkan binar kejam seorang psikopat sejati.
Sementara itu, Liam yang masih berada di ruang tamu tampak mondar-mandir gelisah, memikirkan keselamatan istrinya yang nekat ingin bermain-main ke kandang macan.
"Sialan, aku malah jadi suami yang cemas begini," gerutu Liam pelan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan, membuat Liam langsung menoleh cepat ke arah sumber suara dengan napas tertahan.
Aleta melangkah keluar dengan penampilan serba hitam yang membuatnya terlihat seperti bayangan maut di tengah kegelapan malam.
"Mau ke mana kau dengan pakaian seperti itu, Aleta?" tanya Liam dengan suara tertahan, menatap tajam ke arah istrinya.
Aleta menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke arah Liam dan tersenyum miring.
"Cuma mau jalan-jalan malam cari angin segar ke istana Raja Salova, Jendral, tunggu aku di sini, nanti aku bawakan oleh-oleh kepala raja tua itu buat hiasan meja makan kita," jawab Aleta santai, lalu melompat keluar jendela kamar dengan gerakan secepat kilat tanpa suara sedikit pun.
"APA! ALETA JANGAN GILA KAMU!"
Teriak Liam frustasi.
Angin malam berhembus kencang, menerpa wajah Liam, dengan napas memburu dan tatapan kosong ke arah jalanan gelap.
"Sialan! Wanita itu benar-benar nekat melakukan semuanya sendirian!" maki Liam frustasi, mengacak rambutnya kasar.
Tanpa membuang waktu lagi, Liam langsung berlari ke untuk mengambil kuda milik nya, melompat ke atas punggung kuda hitam miliknya, menyusul sang istri.
"Tunggu aku, Aleta! Jangan mati konyol di tangan raja tua bangka itu!" teriak Liam di tengah keheningan malam, memacu kudanya dengan cepat membelah kegelapan hutan.
Sementara itu, Aleta tampak menikmati angin malam yang menerpa wajahnya di atas punggung kuda yang berlari kencang, senyuman tipis menghiasi bibirnya, sama sekali tidak ada rasa takut di dalam diri mantan pembunuh berdarah dingin itu.
"Istana Raja Salova, ya? Mari kita lihat seberapa tangguh penjagaan raja serakah itu," gumam Aleta pelan sambil menarik tali kekang kudanya perlahan saat bangunan megah berpagar tinggi mulai terlihat di ujung jalan.
Aleta menghentikan kudanya di balik semak-semak lebat tidak jauh dari gerbang belakang istana.
Dengan gerakan lincah, Aleta melompati dinding batu setinggi empat meter tanpa bersuara sedikit pun, mendarat sempurna di atas rumput halaman istana yang sepi.
"Terlalu mudah," cibir Aleta pelan, menyeringai lebar saat melihat dua orang prajurit jaga sedang mengantuk.
Aleta bergerak menyusuri bayangan dinding istana, memanfaatkan kegelapan malam untuk menyusup masuk ke area utama.
"Hei! Siapa di sana?!" seru tiba-tiba suara seorang prajurit yang kebetulan lewat di dekat lorong tempat Aleta berdiri.
Aleta sama sekali tidak panik, alih-alih bersembunyi, dia justru melangkah keluar dari balik pilar dengan tangan terlipat di dada sambil tersenyum manis.
"Wah, kebetulan sekali ada yang menyapa di tengah malam begini," ucap Aleta ramah dengan nada mengejek.
Prajurit itu mengerutkan keningnya curiga, mengangkat pedang nya tinggi-tinggi ke arah Aleta.
SRING