Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Helm dan Rahasia
"Makin pendek saja, Bang."
Bang Ucok menghentikan mesin cukurnya. "Kalau makin pendek, besok tinggal licin."
"Bagus. Hemat sampo."
Dari bangku tunggu, dua ibu yang sedang mengobrol memandangi Laras melalui cermin.
"Cewek kok rambutnya kayak anak laki-laki," bisik salah satunya, cukup keras untuk didengar.
Laras mengangkat dagu. "Sampingnya tipisin lagi, Bang. Biar omongannya sekalian lengkap."
Bang Ucok tertawa dan menjalankan mesin. Rambut hitam berjatuhan ke kain penutup. "Kepala orang, pilihan orang. Yang bayar juga Laras. Ibu-ibu jangan ikut pusing."
Seusai potong rambut, Laras kembali ke bengkel. Pak Darto sedang keluar membeli onderdil. Sebuah motor bebek tua yang baru selesai diperbaiki terparkir dengan helm penuh tergantung di setang.
Ponsel Laras bergetar. Pesan Nadia hanya berisi tiga kata.
Ras, tolong gue.
Lokasi yang dikirim menunjukkan gang belakang dekat sekolah. Laras menelepon, tetapi tidak diangkat. Ia mengambil kunci motor, memasang helm, lalu melaju.
Di gang sempit itu, Nadia terjepit antara tembok dan empat anak sekolah. Bima berdiri paling depan, memegang tali tas Nadia yang putus.
"Balikin," kata Nadia, suaranya gemetar.
"Tadi berani banget lawan gue pas ujian. Sekarang kenapa pelan?"
"Gue cuma mau pulang."
Suara mesin motor memotong tawa mereka. Laras masuk tanpa mengurangi kecepatan sampai detik terakhir, lalu mengerem melintang di depan Nadia. Helm hitam menutupi seluruh wajahnya.
"Naik," katanya dengan suara direndahkan.
Bima menepuk jok. "Siapa lo?"
Laras tidak menjawab. Ia menarik Nadia ke belakangnya, menyerahkan helm cadangan kecil yang tersimpan di cantolan depan, lalu menyalakan gas.
Salah satu anak mencoba menghalangi. Laras membunyikan klakson panjang tepat di depannya sampai ia menyingkir.
"Kalau berani, buka helm!" teriak Bima.
Laras mengangkat satu tangan dan menunjukkan jari telunjuk ke depan, menyuruh mereka minggir. Motor melesat keluar sebelum siapa pun sempat menarik Nadia kembali.
Nadia memeluk pinggang pengendara itu kuat-kuat. Napasnya tersengal di balik helm.
"Makasih. Makasih banget."
Laras membawa motor memutar dua gang, lalu berhenti dekat lapangan kosong.
"Udah aman. Turun."
"Kamu siapa?"
"Orang lewat."
"Orang lewat mana yang langsung tahu nama aku?"
Laras baru sadar tadi hampir memanggilnya Nad. Ia memalingkan helm. "Teman lo yang ngasih tahu."
"Teman siapa?"
"Banyak nanya. Pulang sana."
Nadia tidak bergerak. Ia menatap motor tua itu, lalu sepatu hitam yang pernah dilihatnya dipakai Laras saat lari pagi.
"Laras?"
"Bukan gue."
"Aku belum bilang gue."
Laras mengumpat pelan. Nadia mencoba mengintip dari bawah helm, tetapi Laras menyalakan motor lagi.
"Jangan bilang siapa-siapa. Bima makin ribut kalau tahu gue yang nyelak."
"Kenapa kamu selalu nolongin aku?"
Pertanyaan itu membuat tangan Laras berhenti di gas.
"Karena lo kalau takut mukanya nyebelin."
"Jawaban apaan itu?"
"Jawaban gratis. Mau yang bagus bayar."
Nadia tertawa kecil meski matanya masih basah. Sebelum pergi, Laras mengikat tali tasnya yang putus dengan kabel ties dari kotak perkakas motor.
"Aku antar sampai rumah," kata Laras.
"Nggak usah, dekat."
"Tadi juga dekat. Tetap aja lo dicegat."
Kali ini Laras membawa motor pelan melalui jalan kampung. Ia berhenti satu gang sebelum rumah Nadia agar tetangga tidak membuat cerita baru. Nadia turun, lalu memegang ujung helm Laras.
"Ras, mereka sering minta uang jajan. Kadang tas aku dibuang ke tong sampah. Aku nggak cerita ke rumah karena ibu pasti bilang aku terlalu lemah."
Laras membuka kaca helm. Hanya matanya yang terlihat.
"Besok kita ngomong ke wali kelas. Kalau mereka ganggu lagi, simpan bukti chat. Jangan ketemu sendirian."
"Nanti dibilang pengadu."
"Lebih bagus pengadu daripada jadi sasaran terus."
Nadia mengangguk kecil. Saat Laras kembali ke bengkel, Pak Darto sudah berdiri di depan pintu dengan tangan berlipat.
"Kunci motor."
Laras menyerahkannya tanpa protes.
"Kamu belum punya SIM. Bapak izinkan pindah motor di sekitar bengkel, bukan ngebut ke sekolah."
"Nadia lagi bahaya."
"Bapak tahu. Nolong orang benar, caramu tetap harus benar. Kalau kamu jatuh atau ditilang, siapa yang nolong kalian berdua?"
Pak Darto menyimpan kunci di saku. Selama seminggu, Laras dilarang mengendarai motor keluar gang. Sebagai gantinya, Pak Darto mengantar Laras dan Nadia menemui wali kelas keesokan pagi. Pengaduan itu dicatat, orang tua kelompok Bima dipanggil, meski tidak semua langsung mengakui perbuatannya.
Setidaknya Nadia tidak lagi harus menanggungnya sendirian.
Dan Laras mulai mengerti bahwa keberanian tidak selalu berbentuk kunci inggris atau tarikan gas. Kadang keberanian berarti bersedia bicara di depan orang dewasa.
Sore itu, Bima datang ke Bengkel Pak Darto. Ia bersandar pada tiang sambil memperhatikan Laras mengencangkan baut roda.
"Tadi ada orang sok pahlawan pakai motor mirip punya sini."
"Motor bebek biru se-Bekasi banyak."
"Helmnya juga mirip."
"Helm hitam se-Indonesia lebih banyak."
Bima menyipit. "Rambut orangnya nggak kelihatan. Tapi mulutnya kayak lo."
Laras mengangkat kunci pas. "Mau gue kencengin mulut lo sekalian?"
Bima tertawa. "Nah, itu dia."
Ia tidak membongkar rahasia. Sebaliknya, sebelum pergi ia menaruh tali tas baru di meja bengkel.
"Kasih ke Nadia. Bilang nemu."
"Kenapa nggak kasih sendiri?"
"Nanti dia kira gue minta maaf."
"Emang seharusnya minta maaf."
Bima sudah berjalan menjauh. "Belum siap jadi orang baik."
Malamnya, Rayhan datang membawa buku matematika. Ia berhenti di belakang Laras yang sedang menyapu rambut-rambut kecil dari tengkuknya.
"Rambut kamu dipotong lagi?"
"Iya. Keren, kan?"
"Kayak sikat botol."
Laras mengejarnya sampai ke warung. Rayhan menghindar sambil tertawa, lalu mendadak menatap motor yang terparkir.
"Tadi kamu ke sekolah Nadia?"
"Nggak."
"Ada lumpur merah di ban. Gang belakang sekolah tanahnya merah."
Laras berhenti. "Lo ngapain hafal tanah?"
"Terus kabel ties di kotak motor berkurang."
"Pak Darto yang pakai."
"Pak Darto beli onderdil dari siang."
Laras menatap bocah sebelas tahun itu dengan curiga. "Lo cocok jadi polisi, bukan anak sekolah."
Rayhan mendekat dan berbisik, "Aku nggak bakal bilang."
"Nggak ada yang perlu dibilang."
"Iya. Bang Laras bukan pahlawan pakai helm."
Nada suaranya terlalu patuh. Laras menjitak helm yang masih dipakainya, membuat suara tok menggema.
Rayhan memegangi kepala sambil tertawa. Dari warung, Mbah Surti meneriaki mereka agar tidak merusak barang.
Keesokan harinya, Nadia menemukan tali tas baru di mejanya. Tidak ada catatan. Ia memasangnya sambil memandangi Laras yang pura-pura sibuk membaca.
"Pahlawan helm ternyata punya kaki tangan," katanya.
Laras tidak mengangkat kepala. "Nggak ngerti."
Nadia menyimpan senyum. Ia tidak tahu Bima yang membeli tali itu. Yang ia tahu, di Gang Mawar ada seseorang yang akan datang ketika ia mengirim tiga kata minta tolong.