Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Kamu Nyawaku, Bara Mengumumkan Calon Istrinya
Pagi setelah keributan, Bara berdiri di depan pintu Blok C-3 dengan kaki kanan dibalut penyangga ringan.
Arum membuka pintu sambil membawa semangkuk bubur. "Kata dokter harus istirahat. Mengapa sudah berdiri?"
"Aku perlu berangkat ke markas."
"Laporan bisa menunggu satu jam. Buburnya tidak."
Bara menerima mangkuk itu. Di halaman, Bu Yanti yang sedang menyapu tersenyum melihat Mayor paling ditakuti satu batalyon menurut tanpa perlawanan.
"Bagus, Nduk," katanya. "Biasakan dari sekarang."
Arum tersipu. "Belum apa-apa, Bu."
Bara memakan dua suap, lalu berkata, "Tadi malam kamu sudah menjawab. Jangan mundur hanya karena pagi datang."
"Saya tidak mundur."
"Masih memanggil saya dengan suara kecil."
Arum melihat Bu Yanti yang sengaja memasang telinga. "Mas Bara, habiskan buburnya."
Bu Yanti terkekeh. Bara justru tampak puas.
Beberapa warga mulai keluar rumah. Kabar tentang kejadian semalam sudah menyebar, tetapi laporan petugas membuat versi fakta lebih kuat daripada gosip. Reyhan menarik Arum lebih dulu, Bara berhenti setelah memisahkan, dan kedua pihak diperiksa.
Bara menyerahkan mangkuk kosong. "Ada satu hal yang belum kukatakan dengan benar."
"Apa?"
Ia menunduk, mengecup dahi Arum singkat di ambang pintu. Kerumunan kecil di halaman langsung terdiam.
"Kamu nyawaku," katanya. "Aku tidak akan menyembunyikan niatku menikahimu."
Arum memegang keningnya yang terasa panas. "Mas Bara, banyak orang."
"Bagus. Supaya mereka mendengar dari kita, bukan dari cerita orang."
Bu Yanti menepuk tangan sekali. Beberapa istri prajurit ikut tersenyum, sementara Bu Lastri yang melintas mempercepat langkah.
"Tapi niat bukan izin," lanjut Bara. "Hari ini aku lapor kepada Letkol Yusuf dan mulai surat izin kawin."
Kegembiraan Arum tertahan. "Apa yang harus saya siapkan?"
"Dokumen identitas, akta, keterangan status, dan pemeriksaan latar belakang. Kita urus satu per satu."
Arum menoleh ke peti kecil yang ditemukan di rumah Prasetyo. Akta kelahirannya pudar, riwayat keluarganya penuh bagian kosong, dan alamat terakhir orang tuanya sudah lama tidak ada.
"Kalau asal-usul saya tidak cukup jelas?"
Bara menyentuh bahunya. "Maka kita cari sampai jelas. Bukan membatalkanmu."
Di markas, Letkol Yusuf menerima laporan pernikahan dengan ekspresi yang nyaris geli.
"Akhirnya," katanya.
"Apa maksudnya akhirnya?"
"Seluruh asrama tahu lebih dulu daripada kamu mengisi satu formulir."
Bara duduk dan menggeser surat permohonan. "Saya minta diproses sesuai aturan. Tidak ada jalan pintas."
Yusuf membaca nama calon istri. "Arum Wijaya. Status belum pernah menikah, usia delapan belas, alamat sementara Blok C-3. Akta asli?"
"Salinan pudar ditemukan kemarin. Nomor registrasi masih ada."
"Hubungan dengan keluarga Prasetyo?"
"Tidak ada darah. Perjodohan tanpa persetujuan sudah ditolak terbuka. Pengaduan gangguan Reyhan tercatat."
Yusuf mengangguk. "Bagian itu jelas. Yang perlu diperiksa adalah identitas orang tua dan riwayat dokumennya, terutama karena Hartono pernah menjadi pendamping ahli waris."
"Lakukan semuanya."
"Kamu paham pemeriksaan bisa memakan waktu?"
"Saya menunggu tiga puluh enam tahun. Beberapa minggu tidak mengubah keputusan."
Yusuf tersenyum. "Kalau begitu, isi bagian tanda tangan."
Bara menulis tanpa ragu. Ketika pena menyentuh kolom pemohon, ia teringat Arum bertanya apakah pagi bisa mengubah jawaban malam. Tanda tangannya menjadi jawaban lain: tidak.
Kapten Iwan masuk membawa hasil tambahan pemeriksaan arsip. Ia melihat formulir di meja dan mengangkat alis.
"Surat izin kawin?"
"Ya."
"Saya turut senang. Tapi ada kemungkinan arsip calon istri perlu penelusuran khusus. Nomor akta Arum terkait catatan keluarga anggota yang gugur. Sebagian berkas dipindahkan setelah operasi lama dan belum terindeks ulang."
Bara menatapnya. "Berapa lama?"
"Kalau registrasinya cocok, beberapa hari untuk temukan map asal. Kalau tidak, lebih lama."
"Cari dengan prosedur resmi."
"Tentu."
Iwan lalu meletakkan formulir pernyataan tambahan. "Karena perkara Hartono masih berjalan, perlu dijelaskan bahwa pernikahan ini tidak dibuat untuk memengaruhi kesaksian Arum."
"Tulis bahwa keterangannya diberikan sebelum permohonan," kata Bara. "Dan semua pemeriksaan terhadap Hartono tetap ditangani petugas yang tidak berada di bawah perintah langsung saya."
Yusuf mengangguk. "Kita lindungi bukan hanya izin kawin, tetapi juga kebebasan Arum sebagai saksi."
Bara menandatangani pernyataan kepentingan itu. Ia tahu Hartono akan mencoba menyebut pernikahan sebagai upaya menguasai saksi. Karena itu, setiap batas harus terlihat jelas sejak awal.
"Arum juga diwawancarai terpisah," ujar Yusuf. "Bukan untuk menguji cintanya. Untuk memastikan tidak ada paksaan. Kamu tidak masuk ruangan."
"Baik."
Tidak ada keberatan. Jika pernikahan dibangun atas pilihan Arum, Bara tidak perlu takut pada ruang tempat dirinya tak boleh ikut bicara.
Sore hari, Bara pulang membawa salinan tanda terima permohonan. Arum sudah menunggu di teras dengan jahitan di pangkuan.
"Sudah diserahkan?"
"Sudah."
Ia memberikan salinan tersebut. Arum membaca namanya berdampingan dengan nama Bara. Hanya dua baris pada kertas dinas, tetapi baginya itu lebih nyata daripada seluruh janji keluarga Prasetyo.
"Jadi sekarang saya calon istri Mayor?"
"Calon istri yang akan kunikahi setelah izin keluar."
Bara berhenti sendiri, lalu mengoreksi sebelum kata itu menjadi panggilan yang terlalu dini. "Calon istri yang kupilih."
Arum tersenyum. "Mas Bara ingat aturan sendiri."
"Aku tidak ingin mengambil namamu sebelum akad."
Mereka duduk berdampingan. Dari halaman, beberapa anak prajurit berlarian sambil memanggil Arum calon Bu Mayor. Ia tertawa malu, tetapi tidak lagi menyangkal.
"Besok kamu diwawancarai terpisah," kata Bara. "Bu Yanti boleh menemani sampai pintu. Aku tidak masuk."
Arum tampak tegang. "Mereka akan bertanya apa?"
"Apakah kamu menikah atas kemauan sendiri, apakah pernah menikah, dan apakah ada yang mengancam. Jawab jujur. Kalau kamu berubah pikiran, katakan di sana."
"Mas Bara selalu memberi jalan untuk saya berubah pikiran."
"Pintu yang bisa kamu buka sendiri adalah satu-satunya pintu yang layak kita lewati bersama."
Keesokan paginya, Arum duduk tanpa Bara di ruang pemeriksaan. Seorang petugas perempuan menanyakan pilihannya, keadaan tempat tinggal, dan riwayat perjodohan. Bu Yanti menunggu di luar.
"Apakah Saudari merasa berutang kepada Mayor Bara sehingga harus menerima pernikahan?"
Arum mengingat hujan, bubur, dan aturan yang selalu memberinya ruang untuk berkata tidak.
"Tidak. Justru beliau mengajarkan bahwa perhatian bukan utang. Saya memilih menikah karena saya mencintainya."
Keterangan itu ditulis, dibaca ulang, lalu ditandatangani Arum sendiri.
Ketika keluar, Bara menunggu di ujung koridor. Ia tidak mendekat sebelum petugas menyatakan sesi selesai.
"Masih memilihku?" tanyanya.
"Masih."
"Bagus."
Arum menyenggol lengannya. "Harusnya bilang lega."
"Aku sangat lega."
Nada datarnya membuat Arum tertawa, tetapi tangan Bara yang menutup jemarinya mengatakan bagian yang tidak bisa diucapkan wajahnya.
Di tangannya, tanda terima permohonan terasa hangat.
Namun, pada meja pemeriksaan markas, kolom latar belakang Arum masih kosong. Di sampingnya terdapat catatan merah: perlu verifikasi asal-usul dan arsip ahli waris.
Pintu menuju pernikahan telah dibuka.
Dan rintangan pertama berdiri tepat pada bagian hidup Arum yang selama ini dibuat tidak jelas.