Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Malam Ketika Ia Tinggal
Ekaterina
Aku menghabiskan makananku terlalu cepat.
Nyaris tanpa merasakan rasanya.
Karena tetap duduk di meja itu, dengan Viktor menatapku seperti tadi, mengguncang perasaanku lebih dari yang mau kuakui.
Aku bangkit sebelum hatiku melakukan sesuatu yang bodoh.
Kuambil piringku dan langsung menuju dapur.
Aku butuh kesibukan.
Aku butuh jarak.
Aku butuh bernapas.
Kubuka keran dan mulai mencuci piring dalam diam, berusaha mengabaikan perasaan aneh yang membara di dadaku sejak kata-katanya tadi.
"Kau sudah membawa sepotong diriku di dalam tubuhmu."
Kelancangan lelaki itu sungguh keterlaluan.
Ia merasa memiliki dunia.
Memiliki setiap keadaan.
Memiliki aku.
Dan yang paling buruk...
ada bagian pengkhianat di dalam diriku yang bergetar saat ia mengucapkan itu.
Aku mengeratkan cengkeraman pada piring, jengkel pada diri sendiri.
Lalu aku merasakan kehadirannya di belakangku bahkan sebelum mendengar suaranya.
"Kau boleh istirahat."
Suaranya keluar rendah.
Terlalu dekat.
Seluruh tubuhku waspada.
"Sisa piringnya biar aku yang cuci."
Aku hanya memutar wajah, meliriknya dari balik bahu.
Viktor bersandar di meja dapur, kembali mengamatiku dengan cara intens yang seolah menembus kulitku.
Seakan ia selalu memikirkan hal-hal yang tak diucapkannya.
Dan itu membuatku kesal.
Karena aku tak tahu harus bagaimana menghadapinya seperti ini.
Tidak setelah semua yang terjadi.
Tidak setelah luka itu.
Aku mengeringkan tangan perlahan tanpa menjawab apa pun lalu keluar dari dapur.
Tapi aku bisa merasakan pandangannya mengikutiku sampai ke ruang tamu.
Aku duduk di sofa dan memeluk sebuah bantal ke dada.
Aku akan menunggu Lis selesai makan untuk memandikannya lalu menidurkannya.
Hanya itu.
Tidak lebih.
Tanpa berpikir.
Tanpa merasakan apa pun.
Tanpa memandang Viktor.
Tapi mustahil untuk tak memikirkannya.
Cara ia memegang wajahku.
Kelembutannya saat membersihkan lukaku.
Pelukan itu.
Cara ia berbicara tentang bayi ini.
Hatiku terasa sesak, dan itu membuatku semakin kesal.
Karena aku marah.
Sangat marah.
Pada kesombongannya.
Pada rasa percaya dirinya yang berlebihan.
Pada caranya masuk ke dalam hidupku, mengacaukan segalanya tanpa permisi.
Dan terutama karena, meski begitu...
saat ia memelukku...
aku merasa aman.
Itulah bagian terburuknya.
Aku mendengar suara-suara pelan dari dapur.
Bisik-bisik.
Lis mengatakan sesuatu dan Viktor menyahut dengan nada jenaka.
Aku berpura-pura tak memperhatikan.
Tapi aku memperhatikan.
Tentu saja aku memperhatikan.
"Om Viti..."
Aku mendengar suara kecilnya.
Lalu disusul kikikan tawa.
Pelan.
Bahagia.
Aku memejamkan mata sesaat.
Karena menyenangkan sekali melihat Lis setenang itu setelah neraka yang kami lalui tadi sore.
Menyenangkan menyadari bahwa Viktor, dalam beberapa jam saja, berhasil membawa ketenangan yang dibutuhkan adikku.
Akhirnya mereka berdua muncul dari dapur.
Lis datang sambil tersenyum.
Sungguhan.
Senyum lebar, ringan, kekanakan itu... yang tak pernah kulihat lagi sejak sebelum semua ini terjadi.
Dan dadaku langsung sesak.
Karena aku sudah lupa bagaimana wajahnya ketika ia merasa aman.
Aku balas tersenyum tanpa sadar, berusaha menyimpan gambaran itu di dalam diriku.
"Sudah, cukup bermainnya."
Suaraku keluar lebih lembut dari yang kuduga.
"Kau harus mandi. Sudah lewat waktunya tidur."
Lis mengerucutkan bibir tak puas, tapi tak protes.
Viktor melirik jam di pergelangan tangannya lalu mengedarkan pandangan cepat di antara kami berdua sebelum berkata:
"Aku pamit dulu, biar kalian bebas."
Ia mengambil ponsel di atas meja dapur dan kunci mobil.
Gerakannya sederhana.
Wajar.
Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang seketika gelisah.
Karena baru saat itu aku menyadari satu hal yang mengerikan:
aku tak mau ditinggal sendirian.
Lis mendekat padaku perlahan, tapi senyumnya memudar sedikit demi sedikit.
Dan aku langsung mengenali tatapan itu.
Takut.
Rasa takut yang sama yang masih ada di dalam diriku juga.
Ia menggenggam lengan jaketku dan bertanya lirih:
"Apa Papa akan kembali?"
Pertanyaan itu memotong seluruh udara di ruangan.
Viktor menghentikan gerakannya seketika.
Aku melihatnya dari sudut mata.
Tapi aku tetap menatap Lis.
Aku berjongkok di hadapannya dan memegang wajah kecilnya dengan lembut.
"Tidak, sayang."
Suaraku keluar tegas meski jantungku berpacu.
"Alfredo tak tahu kita ada di mana."
Ia mengangguk pelan.
Tapi masih menatapku ragu.
Dan jauh di dalam...
aku pun begitu.
Karena apartemen ini terlalu besar.
Terlalu sunyi.
Dan ingatan tentang tangan Alfredo mencekik leherku masih hidup di dalam tubuhku.
Aku merasa takut.
Jauh lebih takut dari yang mau kuakui.
Dan mungkin Viktor menyadarinya.
Karena saat aku mengangkat pandangan, kudapati ia mengamatiku dalam diam.
Terlalu jeli.
Seolah ia melihat persis apa yang sedang kucoba sembunyikan.
Lalu ia melangkah ke arah kami sekali lagi.
Perlahan.
Tenang.
"Om Viti tinggal di sini bersama kalian..."
Keheningan yang menyusul terasa terlalu panjang.
Jantungku berdebar aneh di dalam dada.
Karena sebagian diriku ingin mendengarnya berkata tidak.
Ingin menjaga jarak.
Ingin mengingat semua luka yang ia timbulkan padaku.
Tapi bagian yang lain...
bagian yang lain terlalu lelah untuk terus kuat sepanjang waktu.
Viktor tersenyum tipis.
Senyum kecil.
Nyaris lelah.
Tapi tulus.
Dan aku menyadari ia menatapku lebih dulu sebelum menjawab, seolah keputusannya ada di tanganku.
"Aku tinggal."
Suaranya keluar rendah.
Yakin.
"Selama kalian mau."
Ada sesuatu yang mencengkeram dadaku saat itu.
Kuat.
Perih.
Karena tak pernah ada yang tinggal.
Orang-orang selalu pergi.
Selalu lelah.
Selalu melukai.
Tapi ia ada di sana.
Setelah semuanya.
Meski aku telah mengusirnya berkali-kali.
Aku cepat-cepat menunduk sebelum ia menangkap apa pun di wajahku.
"Terima kasih."
Kata itu keluar pelan.
Nyaris tersekat.
Tapi aku tak kembali menatapnya.
Karena menatap terlalu berbahaya sekarang.
Lalu kugenggam tangan Lis dan berkata, berusaha menjaga suaraku tetap tegas:
"Ayo mandi lalu tidur, sayang."
Ia mengangguk bersemangat dan mulai menarikku menyusuri lorong.
Sebelum masuk ke kamar, aku berhenti sejenak dan akhirnya kembali berbicara pada Viktor:
"Aku akan tidur di kamar bersama Lis."
Ia hanya mengangguk pelan.
Tanpa memaksa.
Tanpa mengusik ruang pribadiku.
Tapi aku merasakan pandangannya kembali menempel padaku.
Hangat.
Berat.
Seolah ia ingin mengatakan sesuatu tapi menahan diri.
Aku masuk ke kamar dan menutup pintu perlahan.
Lalu kusandarkan punggung ke pintu itu beberapa detik.
Mendengarkan keheningan apartemen.
Mendengarkan suara pelan Viktor di ruang tamu, berbicara dengan seseorang lewat telepon.
Mendengarkan napas tenang Lis yang sudah memilih satu sisi ranjang seakan tempat itu aman.
Dan mungkin itulah yang paling membuatku takut.
Karena untuk pertama kalinya sejak sekian lama...
aku pun mulai merasa bahwa kami aman.