Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDANGAN
Keesokan pagi nya, seperti biasa, setelah Julian pergi ke akademi, dan Liam sibuk di ruang kerja nya bersama Seno, Aleta berada di kebun belakang, melihat tanaman buah-buahan nya, yang berbuah lebat, hasil bibit berkualitas yang dia ambil dari ruang dimensi nya.
Aleta melangkah pelan di antara jajaran tanaman stroberi dan tomat merah ranum yang tumbuh subur di sudut halaman belakang Kediaman Volis.
Berkat bibit unggul berkualitas tinggi yang diam-diam dia ambil dari ruang dimensi pribadinya, tanaman-tanaman itu tumbuh subur tanpa kenal musim, menghasilkan buah-buah segar yang tampak begitu menggugah selera.
"Wah, kelihatannya hari ini panennya cukup banyak," gumam Aleta pelan sambil tersenyum puas, memetik beberapa buah stroberi segar dan langsung memasukkannya ke dalam keranjang kecil di tangannya.
Meski kehidupannya di dunia ini penuh dengan intrik politik, intaian musuh, dan ancaman dari para bangsawan busuk, Aleta sama sekali tidak pernah kehabisan cara untuk menikmati hari-harinya dengan santai.
Bagi jiwa modern sepertinya, hidup di dunia fantasi dengan kekuatan sihir dan pedang justru memberikan sensasi tersendiri yang jauh lebih menantang ketimbang terjebak rutinitas kantor di dunia asalnya dulu.
"Nyonya..."
Sebuah suara lembut tiba-tiba memecah ketenangan pagi di kebun belakang.
Aleta menoleh dan mendapati kepala pelayan wanita paruh baya berdiri agak jauh di dekat teras, membungkuk hormat dengan ekspresi ragu-ragu di wajahnya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat tegang begitu?" tanya Aleta santai, berjalan mendekat sambil menenteng keranjang buahnya.
Glek
Pelayan itu menelan ludah pelan, lalu merapikan lipatan apronnya sebelum berbicara.
"Anu, Nyonya... di depan gerbang utama, ada utusan khusus dari keluarga Duke Daniel yang datang membawa surat undangan resmi," lapor pelayan itu dengan nada hati-hati.
Aleta menghentikan langkahnya, sebelah alisnya terangkat tinggi mendengar nama tersebut.
Keluarga Duke Daniel, yang tidak lain adalah ayah dari Lady Serra, wanita sombong dan menyebalkan yang kemarin baru saja diapermalukan di depan akademi.
"Surat undangan? Dari siapa?" tanya Aleta malas.
"Dari Lady Serra, Nyonya, undangan jamuan minum teh khusus untuk para nyonya bangsawan yang diadakan oleh Lady Serra di kediaman nya lusa nanti," jelas pelayan itu cepat.
Aleta terdiam sejenak, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman miring yang begitu khas.
Dia tahu persis apa tujuan di balik undangan mendadak itu, hal seperti ini sudah terbiasa bagi nya.
Tentu saja ini adalah bagian dari rencana licik Serra untuk membalas kekalahannya kemarin, mencoba menjatuhkan harga diri Aleta di hadapan para bangsawan lain dengan memanfaatkan pesta teh sosialita.
"Wah, rupanya anak singa itu masih belum jera juga setelah kemarin hampir kena mental," gumam Aleta pelan, terdengar sangat santai tanpa ada secercah pun rasa takut.
"Lalu, apa perlu saya tolak saja undangannya, Nyonya? Mengingat hubungan keluarga kita dengan mereka tidak begitu baik," tanya pelayan itu cemas.
Aleta tersenyum tipis, melambaikan tangannya ringan menolak usul sang pelayan.
"Kenapa harus ditolak? Sayang sekali kalau acara hiburan gratis seperti itu dilewatkan begitu saja," jawab Aleta riang.
"Terima undangannya, bilang aku pasti akan datang memenuhi undangan terhormat itu."
Pelayan itu tampak sedikit terkejut, namun dia hanya bisa mengangguk patuh.
"Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan pada utusan tersebut."
Setelah pelayan itu pergi, Aleta kembali melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa keranjang buah segarnya.
Di dalam ruang kerja utama, Liam tampak sedang serius memeriksa beberapa dokumen laporan bersama Seno.
Pria berbadan tegap itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang dengan bagian atas yang sedikit terbuka, memancarkan aura maskulin dan ketegasan yang luar biasa.
"Bagaimana laporan keamanan perbatasan, Seno?" tanya Liam dengan suara beratnya, tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.
Seno berdiri tegak di sisi meja, merapikan map kulit di tangannya.
"Semua aman, Jendral. Pasukan kita sudah memperketat penjagaan di seluruh titik rawan, tidak ada pergerakan mencurigakan dari sisa prajurit kerajaan," jawab Seno tegas.
Liam mengangguk pelan, lalu meletakkan penanya di atas meja.
"Bagus. Jangan sampai ada celah sedikit pun, terutama setelah insiden lumpuhnya raja di istana kemarin, para bangsawan pasti mulai mencari-cari kambing hitam."
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka tanpa diketuk, menampilkan sosok Aleta yang berjalan santai masuk sambil membawa mangkuk berisi buah stroberi segar yang baru saja dipetiknya.
"Selamat pagi, Marchiones," ucap Seno langsung menunduk hormat begitu melihat kehadiran Aleta.
"Pagi, Seno," jawab Aleta ramah, lalu berjalan langsung menghampiri meja kerja suaminya.
Aleta meletakkan mangkuk stroberi itu tepat di atas tumpukan dokumen laporan militer Liam, membuat pria itu mendongak dengan sebelah alis terangkat.
"Ehem... Jendral, kalau tidak ada arahan lain lagi, saya izin pamit keluar untuk memeriksa kuda di kandang."
Liam melirik Seno sekilas, lalu mengangguk singkat. "Ya, pergi sana."
Seno buru-buru membungkuk hormat dan melangkah keluar ruang kerja, menutup pintu rapat-rapat dan meninggalkan Liam berdua saja dengan Aleta.
Begitu pintu tertutup, Aleta langsung menarik kursi kecil di sebelah meja Liam, duduk bersila dengan santai sambil menatap suaminya lekat-lekat.
"Tadi ada utusan datang ke sini," ucap Aleta, suaranya terdengar ringan.
Liam kembali meraih dokumennya, meski telinganya tetap mendengarkan perkataan sang istri.
"Utusan siapa? Dari istana lagi?" tanya Liam datar.
"Bukan, dari keluarga Duke Daniel," jawab Aleta sambil tersenyum misterius.
"Putri kesayangan mereka yang kemarin nyaris menangis di depan akademi mengirimiku surat undangan jamuan teh khusus para nyonya bangsawan lusa nanti'" jawab Aleta santai.
Mendengar nama keluarga Duke Daniel disebut, gerakan tangan Liam yang memegang pena langsung berhenti seketika.
Pria itu mendongak, menatap Aleta dengan tatapan tajam dan kening berkerut dalam.
"Serra?" tanya Liam memastikan, suaranya berubah sedikit lebih dingin.
"Jangan datangi acara tidak jelas itu, Aleta. Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk mempermalukanmu di hadapan para bangsawan sombong lainnya."
Aleta terkekeh pelan, mencibir ringan mendengar reaksi protektif suaminya yang berusaha disembunyikan di balik nada bicara dinginnya.
"Wah, Jendral perang kita mendadak jadi pengamat sosial rupanya," goda Aleta, menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja.
"Kenapa memangnya kalau dia mau merencanakannya? Justru aku penasaran, seberapa bodoh rencana yang akan dia buat untuk menjatuhkanku."
Liam menghembuskan napas kasar, meletakkan penanya dengan agak keras ke atas meja.
"Ini bukan soal main-main, Aleta, keluarga bangsawan ibu kota terkenal licik, mereka punya seribu cara untuk menjatuhkan mental orang lain lewat gosip dan hinaan halus di pesta seperti itu."
Aleta tersenyum miring, kilatan tajam dan penuh percaya diri terpancar jelas dari kedua matanya.
"Tenang saja, Jendral, kalau soal adu mulut dan mematahkan mental orang, jiwa modern ku tidak akan kalah sama anak manja seperti Serra," ucap Aleta tenang.