Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papan di Jendela
Aiden belum tidur ketika pintu gubuk bergerak. Bunyi logam menggesek dari luar, disusul derit engsel dan langkah berat yang segera dikenalnya.
Ia menarik selimut sampai ke dada dan memejamkan mata. Setelah itu, Aiden mengatur napasnya agar terdengar panjang serta teratur seperti ketika benar-benar tertidur.
Cahaya lentera masuk bersama Marcus. Sinar jingganya menyentuh lantai, kaki meja, dan sisi kasur sebelum pintu kembali ditutup.
Aiden membuka mata sedikit. Melalui celah bulu matanya, ia melihat ayahnya berdiri dengan satu tangan masih menahan pintu dan tangan lain menggenggam lentera.
Perban di kepala Marcus tampak lebih kotor daripada saat ia berangkat. Bagian dekat pelipis kembali ditembus darah, sedangkan debu melekat pada sisi wajah, leher, dan rambut cokelat pendeknya.
Marcus menaruh lentera di lantai. Ia memasang pengunci pintu, menariknya sekali, lalu mendorong daun pintu menggunakan bahu sampai seluruh rangkanya bergetar.
Pintu tidak terbuka. Marcus belum berhenti dan kembali memeriksa sambungan kayu di dekat engsel, meraba celah di antara papan, kemudian menekan bagian bawah yang selama ini sedikit terangkat dari lantai.
Aiden tidak pernah melihat ayahnya memeriksa pintu seperti itu. Biasanya Marcus hanya memasang pengunci, menarik satu kali, lalu meninggalkannya tanpa menoleh lagi.
Malam ini ia berjongkok cukup lama di sana. Jari-jarinya bergerak pada setiap kait dan kepala paku seakan sesuatu dari luar dapat menemukan bagian yang terlewat.
Setelah puas dengan pintu, Marcus mengambil lentera dan beralih menuju jendela dekat meja. Penutup kayunya ditarik rapat, lalu palang kecil yang menahannya ditekan sampai masuk ke lubang pada dinding.
Ia menguji penutup tersebut menggunakan kedua tangan. Kayu mengerang, tetapi tidak bergeser.
Marcus berjalan menuju jendela di dekat kasur Aiden. Jendela sempit tempat kepala Robin muncul beberapa waktu sebelumnya tidak mempunyai daun penutup, hanya bingkai kayu dan sepotong kain yang dapat diturunkan untuk menghalangi cahaya.
Marcus menyibakkan kain itu dan memandang keluar. Wajahnya diam beberapa saat di dalam lubang gelap sebelum ia menurunkan kain kembali.
Aiden segera menutup mata sepenuhnya. Ia khawatir ayahnya akan melihat bekas tangan Robin pada bingkai atau jejak tanah di bawah jendela, meskipun dari dalam kasur ia tidak tahu apakah salah satu dari benda itu masih terlihat.
Langkah Marcus menjauh. Tutup sebuah peti dibuka dan beberapa potong kayu digeser hingga menghasilkan bunyi kasar pada lantai.
Ketika Aiden kembali mengintip, Marcus membawa dua papan ke jendela. Salah satunya berasal dari sisa perbaikan dinding, masih mempunyai bekas cat biru yang hampir seluruhnya mengelupas.
Marcus menempatkan papan pertama melintang pada bingkai. Ia menahannya menggunakan bahu, mengambil palu dari ikat pinggang, lalu menancapkan paku dengan tiga hantaman keras.
Setiap pukulan membuat dinding seng berdenting. Suaranya memenuhi gubuk dan terasa sampai ke jerami di bawah punggung Aiden.
Marcus berhenti sejenak setelah paku pertama masuk. Ia menoleh ke arah kasur, tetapi Aiden tetap diam dengan mulut sedikit terbuka dan kedua tangan terkulai di atas selimut.
Tidak ada perubahan pada langkah ayahnya. Marcus kembali bekerja dan menanamkan paku kedua pada ujung papan.
Papan berikutnya dipasang di bawahnya. Setelah selesai, jendela itu tertutup seluruhnya kecuali beberapa celah tipis yang masih membiarkan garis cahaya lentera memantul pada sisi bingkai.
Marcus mengguncang kedua papan. Tidak satu pun terlepas, tetapi ia tetap menambahkan satu paku lagi pada bagian tengah.
Ia melakukan hal yang sama pada lubang udara kecil dekat dinding belakang. Potongan kayu yang lebih pendek dipasang melintang, lalu dipaku dari dalam sampai tidak ada tangan yang dapat masuk melewatinya.
Gubuk menjadi semakin pengap. Bau keringat Marcus, minyak lentera, dan sesuatu yang busuk pada pakaiannya tertahan di antara dinding seng.
Aiden mengenali bau terakhir itu. Rasa busuk kembali memenuhi bagian belakang lidahnya, dan gambaran Remnant di atas tandu muncul begitu jelas hingga ia harus menahan perut agar tidak bergerak.
Marcus menaruh palu di meja. Bunyi kayu menyentuh permukaan meja terdengar kecil setelah semua hantaman yang baru memenuhi rumah.
Ia berdiri diam sambil melihat sekeliling. Pandangannya bergerak dari pintu menuju setiap jendela yang telah ditutup, kemudian berhenti pada kasur Aiden.
Aiden tidak berani membuka mata lagi. Ia mendengar gesekan kain, sabuk yang dilepas, dan benda logam yang diletakkan perlahan agar tidak membangunkannya.
Kancing kemeja Marcus dibuka satu demi satu. Kain yang lembap oleh keringat terlepas dari tubuhnya dengan suara lengket, lalu dijatuhkan dekat wadah pakaian kotor.
Ketika Aiden kembali melihat, Marcus telah melepas pakaian atasnya. Otot punggungnya bergerak di bawah kulit saat ia membungkuk mengambil kain lap, sedangkan memar gelap akibat perkelahian dengan Ewan terlihat pada sisi rusuk dan bahunya.
Ada bercak darah pada lengan bawah Marcus yang tidak berasal dari buku jarinya. Aiden tidak tahu apakah darah itu milik Renar, anggota patroli, atau sesuatu yang mereka bawa pulang pada tandu ketiga.
Marcus mengangkat pengunci pintu dan keluar lagi. Sebelum menutupnya, ia memandang ke arah kasur satu kali, lalu menghilang menuju bagian belakang rumah tempat ember air disimpan.
Daun pintu dibiarkan hampir rapat. Angin malam masuk melalui celah sempit dan membawa sedikit kesejukan, tetapi bau busuk pada kemeja Marcus masih tertinggal.
Aiden mendengar tutup ember diangkat. Air berguncang satu kali, kemudian kain dicelupkan dan diperas dengan bunyi yang sangat pelan.
Marcus membersihkan dirinya menggunakan air sesedikit mungkin. Tidak terdengar air dituang ke tanah, hanya kain basah yang berulang kali dicelup, diperas, lalu digesekkan pada kulit.
Sesekali napas Marcus keluar lebih berat. Bunyi itu terdengar ketika kain menyentuh memar pada rusuk atau bagian tubuh yang lecet selama pencarian.
Aiden tetap terbaring. Ia menatap garis gelap pada langit-langit sambil mendengar ayahnya berusaha menghilangkan darah dan bau kematian menggunakan isi sebuah ember kecil.
Tidak lama kemudian, langkah Marcus kembali mendekati pintu. Ia masuk membawa kain lap basah dan mengunci pintu sekali lagi sebelum mengambil pakaian bersih dari peti.
Kemeja yang dikenakannya telah beberapa kali ditambal pada siku serta sisi tubuh. Marcus memasukkan kedua lengan, mengancingkannya sampai atas, lalu mengganti kain perban di pelipis menggunakan salah satu kain bersih yang tadi dibawa saat pencarian.
Perban lama diletakkan bersama kemeja kotor. Marcus mengikat kain baru cukup erat hingga alis kanannya terangkat sedikit oleh tarikan.
Setelah itu, ia memeriksa pintu dan papan pada jendela sekali lagi. Gerakannya lebih lambat karena kelelahan, tetapi tidak ada satu pun pengunci yang dilewatinya.
Marcus akhirnya berjalan menuju kasur Aiden. Lantai berderit pelan ketika ia duduk pada tepinya.
Kasur turun di bawah berat tubuhnya. Aiden merasakan tubuhnya sedikit bergeser menuju sisi tempat ayahnya duduk, tetapi ia mempertahankan napas yang sama dan tidak membuka mata.
Telapak tangan Marcus menyentuh rambutnya. Jari-jari kasar itu bergerak dari dahi menuju belakang kepala, merapikan rambut yang menempel pada kulit.
Marcus mengulanginya beberapa kali. Sentuhannya ringan, jauh berbeda dengan kekuatan tangan yang dipakai untuk memaku papan atau memukul Ewan sore tadi.
Aiden ingin membuka mata. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya sudah melihat Remnant, Renar, dan bagian tubuh para penjaga di bawah kain, tetapi jika berbicara ia juga harus menjelaskan bagaimana ia dapat berada dekat pondok Joseph.
Ia tetap diam. Tangan Marcus berhenti pada bagian belakang kepalanya beberapa saat sebelum akhirnya terangkat.
Marcus berdiri dan berjalan menuju kasurnya sendiri. Kayu penyangga mengerang ketika ia berbaring, lalu terdengar suara selimut ditarik menutupi tubuh.
Keheningan kembali memenuhi gubuk. Marcus mencoba tidur, tetapi napasnya tidak pernah menjadi panjang dan berat seperti biasanya.
Ia beberapa kali membalik tubuh. Setiap gerakan membuat kasurnya berdesir, kemudian rumah kembali sunyi sampai suara berikutnya datang.
Aiden masih mencium sedikit bau busuk pada udara meskipun Marcus telah membersihkan diri. Setelah beberapa lama, kelelahan menekan kelopak matanya dan suara napas ayahnya semakin jauh.
Ia tidak mengetahui kapan dirinya benar-benar tertidur. Gambaran terakhir yang bertahan adalah papan baru pada jendela dan paku yang masih berkilat terkena cahaya lentera.
Ketika Aiden membuka mata, cahaya pagi hanya masuk melalui celah dinding. Jendela dekat kasurnya tetap tertutup dua papan, membuat bagian dalam gubuk jauh lebih gelap daripada pagi sebelumnya.
Marcus sudah berpakaian untuk bekerja. Perban bersih masih melingkari kepalanya, dan tas kerja serta keranjang kecil telah disiapkan dekat pintu.
Ia berdiri membelakangi Aiden sambil mengikat tali sepatu. Gerakannya lambat ketika harus membungkuk, tetapi selain itu Marcus bertingkah seperti pagi biasa setelah tidak terjadi apa pun pada malam sebelumnya.
Semangkuk sarapan telah diletakkan di atas meja. Uap tipis masih naik dari bubur jagung, sedangkan sebuah sendok kayu bersandar pada sisinya.
Aiden bangkit dan mengusap mata. Ia membiarkan suaranya terdengar berat agar ayahnya mengira ia baru sadar Marcus berada di rumah.
“Kau sudah pulang?”
Marcus menoleh dari dekat pintu. Ia menarik simpul sepatunya sampai rapat sebelum berdiri.
“Aku pulang saat kau sudah tidur.”
Aiden mengangguk sambil menurunkan kaki dari kasur. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin, dan ia menahan diri agar tidak melihat terlalu lama pada papan yang dipasang Marcus malam tadi.
“Cepat habiskan sarapanmu dan ikut aku ke ladang. Hukumanmu masih tersisa dua hari.”
Aiden segera berjalan menuju meja. Ia duduk, menarik mangkuk mendekat, lalu mengambil satu suap meskipun perutnya belum benar-benar menginginkan makanan.
Bubur hangat menempel pada lidah. Bau jagung seharusnya membuatnya lapar, tetapi setiap kali menelan ia kembali teringat bau yang keluar dari tandu Remnant.
Marcus merapikan beberapa perkakas di dekat pintu. Ia memasukkan seutas tali ke keranjang, memeriksa gagang alat kerja, kemudian memasang belati baru pada ikat pinggangnya.
“Bagaimana dengan pencarian semalam?”
Gerakan Marcus berhenti. Tangannya masih berada pada sarung belati ketika ia menoleh perlahan.
Aiden menunduk kepada mangkuk. Ia mengaduk bubur menggunakan ujung sendok dan berusaha membuat pertanyaannya terdengar seperti rasa ingin tahu biasa.
Marcus memandangnya cukup lama. Mulutnya sempat terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar.
“Kami sudah mengurusnya.”
Itu saja yang dikatakannya. Marcus kembali membenarkan posisi belati dan memindahkan keranjang mendekati pintu.
Aiden mengangguk. Ia memasukkan suapan lain dan mengunyah perlahan meskipun bubur itu tidak perlu dikunyah.
Ia tidak mengatakan bahwa dirinya mengetahui apa yang dimaksud Marcus. Ia juga tidak menyebut Renar, potongan tubuh di tandu kedua, atau mata keruh Remnant yang tetap terbuka di bawah cahaya obor.
Sendoknya menggesek dasar mangkuk. Suara kecil itu membuat Marcus kembali melihat kepadanya.
“Dad, apa kita akan baik-baik saja?”
Marcus tidak menjawab secepat sebelumnya. Tatapannya bergerak melewati Aiden menuju papan pada jendela, lalu kembali kepada wajah putranya.
“Tentu. Tentu saja.”
Ia meninggalkan perkakas dekat pintu dan mendekati meja. Tangannya berhenti pada bahu Aiden, berat dan hangat melalui kain kemeja.
“Aku akan memastikan kau baik-baik saja. Sekarang cepat habiskan sarapanmu.”
Aiden mengangkat sendok kembali. Di belakang Marcus, garis-garis cahaya pagi masuk melalui celah di antara papan jendela, sementara kepala paku yang baru masih berkilat pada kayu.