Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Menguasai Keadaan dengan Berani dan Tenang
Kedua pelayan itu semakin gemetar gugup dan menegang. Sejurus saling melirik, tidak menyangka jika jawaban mereka berbeda. Lebih tidak menyangka lagi ternyata Ling Qingxue bisa mengajukan pertanyaan spesifik seperti itu.
"Mung... mungkin kami... salah ingat, Shao jie...," kilah salah seorang di antara keduanya mencoba beralasan.
"Oh, salah ingat katamu?" Ling Qingxue mengukir senyum sinis, lantas beralih menatap Ling Yaofei dengan sorotan tajam. "Bagaimana kamu mengatasi hal ini, Ling Yaofei? Kok bisa kedua pelayanmu berbeda pendapat?"
Ling Yaofei tetap berusaha mempertahankan topeng kepura-puraannya agar tidak lepas, namum rasa gugup dan cemas mulai sedikit mengubah ekspresi busuknya.
"A-aku... aku tidak tahu," sahutnya seperti asal dengan suara sedikit gemetar, tetap berusaha mempertahankan sandiwaranya. "Mung... mungkin mereka sedang gugup...."
Ling Qingxue tetap menatap wanita licik itu dengan tajam, lalu tertawa pelan, jelas merasa lucu dengan alasan yang dibuat-buat Ling Yaofei.
"Sungguh lucu, kedua pelayanmu memberikan keterangan yang bertentangan, tapi kamu malah percaya begitu saja dengan kesaksian mereka."
Ling Yaofei semakin menegang. Namun, dasar wanita ular yang licik, dia kembali berhasil memasang ekspresi polos pada wajahnya.
"Aku... aku sungguh-sungguh tidak tahu akan hal itu. Aku... aku hanya takut dan panik karena perhiasan pemberian die di telah hilang...."
Ling Yaofei makin memainkan sandiwaranya, ekspresi wajahnya yang polos dibuat sesedih mungkin, bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca seakan ingin menangis.
Membuat Ling Yujian maupun Ling Yuchen --dua kakak yang bodoh-- menjadi tersentuh dan tidak tega melihatnya.
"Tak perlu kamu menyudutkan Yao mei segitunya, Ling Qingxue!" dengus Ling Yujian menegur sambil menatap dingin pada adiknya itu seolah menatap musuh.
"Sifatmu memang tidak berubah sama sekali, Ling Qingxue," sambung Ling Yuchen bernada sinis. "Selalu saja membuat onar pada Yao mei. Kamu ini benar-benar keras kepala."
Ling Qingxue hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan kedua pemuda bodoh itu. Hati mereka memang tak bisa tergoyahkan, tetap saja membela wanita ular itu walau bagaimana pun keadaannya.
Padahal jelas-jelas kedua pelayan Ling Yaofei memberikan keterangan yang jika mereka berdua mau berpikir, kedua pelayan itu jelas memberi kesaksian secara asal.
Dasar memang Ling Yujian maupun Ling Yuchen ini sudah demikian akut membela Ling Yaofei.
Tapi meski hatinya sudah kesal akibat ulah orang-orang brengsek itu, Ling Qingxue tetap menjaga agar dirinya tetap tenang. Dan akhir berkata.
"Kalian menuduh aku mencuri perhiasan bukan? Tapi sayangnya aku memang benar-benar tidak mencuri. Benda yang kalian menuduhku mengambilnya itu tidak ada di sini...."
"Jie jie, bagaimana bisa kamu mencoba lari dari tanggung jawab," Ling Yaofei semakin berlagak sedih, suaranya terdengar setengah menangis.
"Cukup, Ling Qingxue!" bentak Ling Yujian amat marah. "Tidak usah menyangkal, jelas kamu yang mencurinya!"
"Jangan hanya karena kedua pelayan ini yang salah bicara, lantas kamu lepas dari kesalahan," sambung Ling Yuchen begitu emosi. "Kamu itu selalu merasa iri pada Yao mei...."
"Lebih baik kamu mengaku saja jika kamu yang mencurinya, terus cepat kembalikan!"
Ling Qingxue berusaha sekuat tenaga menahan agar tawanya tidak meledak, hatinya semakin merasa lucu atas pembelaan membabi buta kedua pemuda bodoh itu terhadap Ling Qingxue.
★☆★☆
"Baiklah jika kalian tidak percaya."
Kemudian dia berbalik terus melangkah menuju lemari kayunya yang kecil dan usang, mengeluarkan semua benda yang ada di situ yang cuma beberapa potong pakaian. Tidak ada benda lain selain itu.
Lalu melemparkan semua pakaian lusuh yang sederhana itu di lantai, di depan kaki Ling Yujian dan Ling Yuchen.
"Silahkan lihat semua pakaian ini!" tuturnya bernada santai dan tenang.
Ling Yujian dan Ling Yuchen saling melempar pandang sejenak, tampak ada sedikit keraguan dari sikap mereka.
"Kalian mengatakan aku mengenakan baju merah atau baju hijau daun," kata Ling Qingxue tetap kalem dan tenang. "Coba lihat, apakah ada di antara pakaian-pakaian bututku ini berwarna seperti yang kalian tuduhkan itu?"
Ling Yaofei dan kedua pelayannya tampak membeku diam. Sedangkan Ling Yujian maupun Ling Yuchen juga tidak bisa berkata-kata melihat beberapa potong pakaian lusuh itu.
Pakaian-pakaian itu cuma ada berwarna kuning gading, coklat muda, biru langit dan biru muda. Semuanya berwarna lembut. Tidak ada satu pun baju-baju itu berwarna merah ataupun hijau daun, seperti yang dikatakan oleh kedua pelayan Ling Yaofei.
Lebih daripada itu, yang membuat hati Ling Yujian maupun Ling Yuchen sedikit terusik, ternyata semua pakaian Ling Qingxue begitu lusuh, jauh dari kata mewah.
Ruangan yang tidak besar itu seketika dibungkam oleh kesunyian.
"Bagaimana bisa?" gumam Ling Yujian seakan masih tidak percaya sembari masih menatap benda-benda lusuh itu.
"Apa kalian semua masih tidak percaya dan tetap menuduhku mencuri?" kata Ling Qingxue tiba-tiba yang langsung membuyarkan kebisuan dan kesunyian. Kalian periksa sendiri semua pakaianku ini...."
"Jika kalian menemukan warna pakaian seperti yang kalian tuduhkan itu di antara pakaianku ini, aku pasti mengakui semua tuduhan kalian."
"Huh! Jangan-jangan kamu sudah membuangnya sebelum kamu kami pergoki," dengus Ling Yuchen bernada sinis, tetap ngotot.
"Oh, jadi menurutmu aku begitu mudahnya membuang pakaian, sedangkan aku amat membutuhkan pakaian yang banyak?!" balas Ling Qingxue menahan tawa.
Ling Yuchen kembali terdiam, tidak bisa membalas. Bahkan hatinya sedikit teriris mendengar ucapan adik kandungnya itu.
Ling Yujian tampaknya masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Dia lantas berjalan melewati Ling Qingxue, terus mulai menggeledah isi kamar ini.
Memeriksa setiap laci, menggeledah isi lemari yang hanya berisikan beberapa pakaian usang. Memeriksa bawah bantal dan selimut yang ada di atas tempat tidur yang lapuk itu.
Namun semakin dia menggeledah barang-barang milik Ling Qingxue, hatinya semakin merasa tidak nyaman.
Selama ini Jenderal Muda Kekaisaran itu tidak pernah mengunjungi tempat tinggal Ling Qingxue di belakang kediaman utama.
Dia selalu menganggap Ling Qingxue adalah seorang gadis bodoh, berperangai buruk, tukang buat onar, tidak pantas mendapat perhatian.
Namun sekarang, ketika matanya menyaksikan apa yang sudah dia lihat di sini.... Kamar ini, bahkan rumah ini begitu kecil, jauh... dari kata mewah, bahkan rumah ini nyaris tak ada bedanya dengan gubuk reot.
Kasur tipis yang sudah lapuk dan usang, lemari kayu yang sudah butut, meja yang sudah usang dan lapuk. Di kamar ini tak ada penerangan selain lilin yang tinggal separuh. Seolah digunakan memang benar-benar perlu.
★☆★☆
Lin Yujian menoleh pada Ling Qingxue yang masih berdiri santai dan tenang di tempatnya. Menatap gadis bercadar itu dengan intens. Untuk pertama kalinya pemuda itu merasa jika ada yang tidak wajar.
Merasa diperhatikan oleh sang kakak, tidak lantas membuat Ling Qingxue senang, malah semakin benci sebenarnya. Tapi dia tetap tenang, bersikap acuh tak acuh.
Sedangkan Ling Yuchen yang juga melihat kondisi begitu memprihatinkan di kamar adik kandungnya ini, semakin merasakan kejanggalan di dalam hatinya.
Kenapa kamar ini begitu buruk? Bahkan kamar pelayan jauh lebih bagus dari tempat ini..., batinnya menyuarakan rintihan hatinya.
Namun, sebelum Ling Yujian maupun Ling Yuchen sempat berpikir terlalu jauh, sudah terdengar suara Ling Yaofei yang berlagak sedih.
"Xue jie, mungkin... ada kesalahpahaman, mungkin aku salah paham karena terlalu panik. Aku hanya tidak ingin Jie jie bertengkar dengan kedua gege...."
"Kesalahpahaman katamu?" sengit Ling Qingxue seraya menatap sini penuh kebencian pada Ling Yaofei.
Dengan cepat dia melangkah ke hadapan Ling Yaofei, membuat gadis licik itu refleks mundur selangkah.
"Kamu baru mengatakan itu sekarang, setelah tuduhanmu tidak terbukti," dengus Ling Qingxue seakan ingin menelan Ling Yaofei. "Kenapa tidak sejak tadi hah?"
"Aku... hanya tidak ingin hubungan kekeluargaan kita menjadi rusak cuma kesalahpahaman ini...," Ling Yaofei tertunduk sedih.
"Hahaha! Lucu sekali!" Ling Qingxue tertawa dingin. "Bukankah sejak awal kamu dan kedua kakakmu ini datang ke rumahku ini hanya untuk menuduhku mencuri?"
"Sekarang, setelah tuduhanmu tidak terbukti, kamu malah mengungkit soal keluarga segala...," lanjut Ling Qingxue makin dingin nada suaranya.
Ling Yaofei semakin menundukkan kepalanya. Berusaha tetap memasang wajah menyedihkan sambil mencoba melirik pada Ling Yujian dan Ling Yuchen, seolah meminta bantuan.
Tapi kedua pemuda itu, alih-alih tampil membelanya, malah keduanya masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing
"Sekarang kalian sudah menyaksikan sendiri siapa yang berbuat kotor bukan?" ucap Ling Qingxue begitu dingin seraya menatap tajam pada kedua kakaknya.
"Bisa jadi," Ling Qingxue kembali beralih pada Ling Yaofei, "kedua pelayanmu itu yang mencuri barangmu."
Hening, tak ada tanggapan atau jawaban dari orang-orang itu. Sedangkan kedua pelayan itu tetap bungkam, tidak berani banyak tingkah.
Sejenak Ling Qingxue menghela napasnya yang sempat sesak, lalu berkata bernada dingin.
"Jika kalian tidak punya bukti untuk menuduh orang, jangan main tuduh sembarangan."
Kemudian, dengan gerakan yang cepat, Ling Qingxue memungut semua pakaiannya yang tadi teronggok di lantai.
Sementara itu, Ling Yujian dan Ling Yuchen masih berdiri diam di tempat masing-masing. Hati dan pikiran mereka seolah baru sadar bahwa mungkin saja mereka telah salah menilai Ling Qingxue selama ini.
Sedangkan Liu Xui yang kini hanya diam di tempat berdirinya, menyaksikan betapa Shao jie-nya dapat mendominasi keadaan, hatinya amat senang bukan main, setelah sebelumnya dia amat cemas.
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,