**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Malam Itu
Jarak terakhir itu dihapus oleh Keira.
Ia mengangkat wajah dan menyambut bibir Reynard sebelum laki-laki itu sempat bertanya lagi. Berbeda dari ciuman pertama yang hanya berlangsung satu detik, kali ini Keira tidak mundur.
Reynard membeku sebentar. Lalu telapak tangannya menyentuh sisi wajah Keira dengan hati-hati, seolah perempuan di depannya bisa pecah jika ia terlalu cepat. Ciumannya tetap lembut meski napasnya berantakan.
Suara musik dari balik pintu KTV terdengar jauh. Koridor, lampu biru, dan semua orang yang mungkin lewat kehilangan arti.
Ketika mereka berpisah, dahi Reynard masih menempel pada dahi Keira.
"Apakah ini jawabanmu?" tanyanya serak.
"Kamu masih perlu penjelasan?"
"Aku sudah menunggu bertahun-tahun. Aku ingin mendengarnya dengan jelas."
Keira hendak menjawab, tetapi pintu ruang karaoke terbuka di ujung lorong. Dua mahasiswa keluar sambil tertawa. Ia cepat mendorong bahu Reynard.
"Kita pulang dulu."
"Ci Kei."
"Di mobil," janjinya.
Mereka kembali ke ruangan hanya untuk mengambil barang. Nana menatap bibir Keira, lalu wajah Reynard, dan senyum lebarnya membuat Keira ingin bersembunyi di balik tas.
"Pulang cepat?" tanya Nana.
"Aku pusing."
"Tentu. Udara koridor pasti memabukkan."
"Nana."
"Baik, baik. Kabari kalau sudah sampai."
Fely menyodorkan tas Keira sambil berbisik, "Aku nggak tahu apa yang terjadi di luar, tapi wajahmu sudah menjelaskan setengahnya."
"Nggak ada yang perlu dijelaskan."
"Kalau begitu, kenapa tanganmu masih dipegang?"
Keira menunduk. Reynard memang belum melepaskan jemarinya sejak mereka masuk. Ia hendak menarik tangan, tetapi laki-laki itu justru mengaitkan jari mereka lebih rapat di depan semua orang.
"Rey," tegurnya.
"Takut kamu hilang."
Beberapa teman yang mendengar langsung bersiul. Keira menutupi wajah dengan tas, sedangkan Reynard untuk pertama kalinya malam itu tersenyum lebar. Status mereka belum diumumkan, tetapi tingkah Reynard sudah memberi terlalu banyak jawaban.
Sebelum pergi, ia benar-benar menghampiri Jonathan. "Maaf aku memotong ucapanmu dan membawa Keira keluar."
Jonathan menatap tangan mereka yang masih bertaut. "Ternyata orangnya memang kamu."
"Itu bagian yang harus Keira jawab sendiri," kata Reynard. "Kesalahanku tadi tetap kesalahanku."
Jonathan mengangguk tipis. "Jaga dia."
"Aku akan melakukannya."
Keira mendengar percakapan itu dari dekat pintu. Rasa hormat kecil tumbuh di antara sisa rasa malu, sebab Reynard tidak membiarkan kecemburuan menjadi alasan untuk lari dari tanggung jawab.
Jonathan duduk jauh dari pintu. Keira menatapnya sambil meminta maaf tanpa suara. Ia mengangguk kecil, belum tersenyum, tetapi setidaknya tidak memalingkan wajah.
Reynard memesan taksi online. Di kursi belakang, ia memegang tangan Keira sejak mobil bergerak. Jemarinya yang biasanya hangat terasa dingin.
"Kamu gugup?" tanya Keira.
"Sangat."
"Kamu kelihatan seperti mau memukul orang tadi."
"Itu juga karena gugup."
"Alasan buruk."
"Aku sudah minta maaf. Besok aku juga akan minta maaf kepada Jonathan."
Keira menoleh. "Serius?"
"Aku nggak suka dia, tapi dia benar. Seharusnya kamu yang menjawab."
Kemauan Reynard mengakui kesalahan membuat sisa kesalnya menghilang. Keira membalik telapak tangan dan menggenggam jemarinya.
"Aku sudah berpikir," katanya pelan. "Tentang usiamu, Vanessa, kuliah, dan semua hal yang mungkin jadi masalah."
Reynard menunggu tanpa menyela.
"Aku belum punya jawaban untuk semuanya. Tapi aku tahu aku terus mencarimu ketika kamu menjauh. Apartemen terasa salah kalau kamu nggak mengetuk pintuku. Dan waktu Jonathan bicara tadi, orang yang kupikirkan tetap kamu."
"Bagaimana kalau nanti kamu takut lagi?" tanya Reynard.
"Mungkin aku akan takut berkali-kali."
"Bagaimana kalau Vanessa marah?"
"Kita hadapi setelah dia pulang."
"Bagaimana kalau orang bilang aku terlalu muda?"
Keira menatap jemari mereka. "Buktikan mereka salah. Jangan hanya bicara."
"Aku sudah berlatih untuk itu setengah hidupku."
"Jangan sombong."
"Aku sedang meyakinkan calon pacarku."
Kata calon membuat Keira menahan senyum. "Belum resmi."
"Makanya aku masih menunggu kalimat lengkap."
Keira membiarkan diam menggantung beberapa detik hanya untuk membalas sikap percaya dirinya. Ketika Reynard mulai gelisah, barulah ia berkata, "Aku ingin mencoba menjadi pacarmu."
Napas Reynard terlepas seperti seseorang yang baru diizinkan hidup kembali.
Genggaman Reynard mengencang.
Keira menarik napas. "Aku juga punya perasaan kepadamu. Sejak kapan, aku sendiri nggak tahu. Mungkin sebelum hujan itu. Mungkin jauh sebelum aku berani mengakuinya."
Reynard menatapnya selama beberapa detik, seolah perlu memastikan ia tidak berhalusinasi. Lalu tanpa peringatan, ia menarik Keira masuk ke pelukan.
Wajah Keira tenggelam di dadanya. Bahu laki-laki itu bergetar satu kali.
"Kamu nggak tahu berapa lama aku menunggu kalimat itu," bisiknya.
Ada serak seperti tangis dalam suaranya. Keira melingkarkan tangan ke pinggangnya, merasa seluruh keraguan yang berisik di kepalanya mendadak sunyi.
Pengemudi di depan menaikkan volume radio dengan sopan. Keira menahan senyum dan tetap berada dalam pelukan sampai mobil memasuki kompleks apartemen.
Di lantai delapan, mereka berdiri di antara pintu 8A dan 8B. Reynard belum melepaskan tangannya.
"Mau masuk ke unitmu?" tanyanya.
Keira seharusnya mengangguk dan mengucapkan selamat malam. Sebaliknya, ia bertanya, "Kamu belum mau bicara lagi?"
Tatapan Reynard berubah lebih dalam. "Aku mau. Tapi kalau kita masuk bersama, aku nggak yakin cuma akan bicara."
Kejujuran itu membuat pipi Keira panas. Ia bisa menarik tangan kapan saja. Reynard bahkan melonggarkan genggaman, memberinya kesempatan.
Keira justru melangkah ke pintu 8A.
"Kalau begitu, jangan cuma bicara."
Kartu akses hampir jatuh dari tangan Reynard.
Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimuti mereka. Reynard tidak langsung mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari Keira, menatapnya dengan keraguan yang kontras dengan sikap beraninya selama ini.
"Keira," katanya, tidak lagi memakai panggilan Cici. "Aku perlu memastikan. Kamu sadar dan yakin?"
"Aku cuma minum minuman buah. Kepalaku jelas."
"Bukan hanya tentang malam ini. Tentang aku."
Keira berjalan mendekat. "Aku takut, tapi aku yakin ingin mencoba bersamamu."
"Kalau kamu berubah pikiran, katakan. Kapan pun."
"Baik."
"Dan kalau aku terlalu cepat..."
Keira meraih kerah kemejanya dan mencium bibirnya untuk menghentikan kalimat itu.
Kali ini Reynard membalas tanpa ragu. Tangannya melingkari pinggang Keira, menariknya dekat, tetapi masih menyisakan ruang agar ia bisa mundur. Keira tidak melakukannya. Ia memeluk leher Reynard dan membiarkan dirinya merasakan kehangatan yang selama ini selalu ia hindari.
Mereka tertawa gugup ketika langkah Reynard menabrak sisi sofa. Ketegangan sempurna yang Keira bayangkan pecah oleh hal kecil itu.
"Sakit?" tanyanya.
"Harga diriku saja."
"Bagus. Tadi kamu terlalu keren di koridor."
"Aku bisa mencoba lagi."
"Jangan."
Namun Keira yang kembali mendekat lebih dulu.
Di kamar, Reynard menyalakan lampu kecil, bukan lampu utama. Ia menyentuh pipi Keira, menunggu sampai perempuan itu mengangguk sebelum menciumnya lagi. Setiap gerakan diselingi pertanyaan pelan.
"Masih yakin?"
Keira menjawab dengan sebuah ciuman.
"Kalau nggak nyaman, bilang."
"Rey, kalau kamu bertanya setiap lima detik, aku bisa berubah pikiran karena kesal."
Reynard tertawa kecil, tetapi matanya terlihat basah. "Aku cuma nggak ingin merusak sesuatu yang sudah kutunggu lama."
"Kita sama-sama belum tahu caranya," kata Keira jujur.
Pengakuan itu membuat mereka saling menatap, lalu tertawa karena ternyata keduanya sama gugup. Tidak ada masa lalu yang perlu dibandingkan. Tidak ada pengalaman yang membuat salah satu lebih berkuasa. Mereka sama-sama belajar membaca batas, berhenti ketika perlu, dan kembali mendekat ketika sudah yakin.
Malam berlangsung dalam bisikan, sentuhan yang dipilih, dan pelukan yang semakin erat. Ketika pakaian terlipat di tepi ranjang dan lampu kecil dipadamkan, cerita mereka berpindah ke keheningan pribadi yang hanya menjadi milik berdua.
Di dalam gelap, tidak semuanya berjalan anggun. Keira sempat gugup dan Reynard berhenti total, memeluknya tanpa bergerak sampai napasnya tenang. Mereka berbisik tentang ketakutan masing-masing, tentang bagaimana ini adalah pertama kali bagi keduanya, dan tentang hak untuk berkata cukup kapan saja.
"Aku di sini bukan karena sindromku," kata Keira agar tidak ada keraguan tersisa. "Aku memilihmu."
Reynard menempelkan keningnya ke kening Keira. "Dan aku akan terus memastikan kamu memilih dengan bebas."
Jawaban itu mengubah kegugupan menjadi rasa aman. Keira yang menariknya kembali mendekat, dan setelah itu tidak ada lagi pertanyaan yang perlu dijawab dengan kata-kata.
Jauh setelah tengah malam, Keira berbaring dengan kepala di dada Reynard. Detak jantung di bawah telinganya akhirnya melambat.
"Menyesal?" tanya Reynard.
Keira mencubit pinggangnya. "Kalau bertanya lagi, aku pindah ke sebelah."
"Berarti nggak."
"Tidur."
Reynard menarik selimut dan mengecup dahinya. "Selamat malam, pacarku."
Kata itu membuat Keira membuka mata, tetapi ia tidak membantah. Dalam gelap, senyumnya muncul tanpa izin.
Pagi datang melalui celah tirai. Keira terbangun lebih dulu, masih berada dalam pelukan Reynard. Laki-laki itu tidur pulas dengan rambut berantakan dan satu tangan melingkar di pinggangnya.
Keira menatap wajahnya lama. Kebahagiaan hangat memenuhi dada, lalu disusul pikiran yang datang seperti siraman air dingin.
Ia tidur dengan adik sahabatnya.
Mereka sekarang benar-benar pasangan.
Tidak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura semuanya hanya kebiasaan.
Keira perlahan mengangkat lengan Reynard dan turun dari ranjang. Ia memungut pakaiannya, mengenakannya dengan gerakan setenang mungkin, lalu berjalan menuju pintu kamar.
Ia hanya perlu kembali ke unit sendiri, mandi, dan memikirkan semuanya dengan kepala jernih.
Tangannya baru menyentuh gagang pintu ketika suara rendah yang masih berat oleh tidur terdengar dari belakang.
"Mau ke mana?"
Keira membeku, tidak berani menoleh.