Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 Dia Memanggilku Sayang
"Kau sengaja masuk ke kamar ini."
Fabian tidak meninggikan suara. Ia berdiri di depan pintu dengan sikap tenang, seolah hanya mengingatkan tamu bahwa ruangan itu tidak boleh dimasuki tanpa izin.
Nathan meletakkan buku bersampul kulit ke tempat semula. "Keira yang mengantarku."
"Kau berpura-pura mabuk."
"Aku tidak pernah bilang aku mabuk. Aku cuma bilang sedikit pusing."
Mata Fabian jatuh pada buku itu, lalu kembali kepada Nathan. "Kau selalu bermain dengan kata-kata seperti ini?"
"Hanya kalau lawan bicaraku lebih suka mengatur kenyataan daripada menerimanya."
Udara di kamar lama itu terasa lebih sempit. Di luar jendela, daun mangga bergesekan karena angin. Di bawah, samar-samar terdengar Herman meminta staf membawa map ke ruang kerja.
Fabian melangkah mendekat. "Kau dan Kei tidak cocok."
Nathan menyandarkan pinggul pada sisi meja. "Alasannya?"
"Dunia kalian berbeda. Dia tidak suka pesta, tidak suka menjadi pusat perhatian, dan tidak pernah tertarik pada hidup keluarga konglomerat. Dia butuh ketenangan."
"Aku tahu."
"Kau baru mengenalnya beberapa minggu."
"Aku bertanya kalau tidak tahu. Dia menjawab kalau dia mau. Itu cukup."
Senyum Fabian menipis. "Aku mengenalnya dua belas tahun. Aku tahu apa yang dia makan saat gugup, bagaimana dia diam saat marah, dan kapan dia berbohong bahwa dirinya baik-baik saja."
"Benar." Nathan memandangnya tanpa berkedip. "Terima kasih sudah menjaganya di masa lalu. Mulai sekarang, aku yang melindunginya."
"Kau pikir pernikahan mendadak membuatmu berhak mengatakan itu?"
"Pernikahan membuatku bertanggung jawab. Hak untuk menentukan hidupnya tetap milik Keira."
Nama lengkap itu membuat rahang Fabian mengeras. "Dia menikah denganmu untuk lari dariku."
Nathan terdiam sesaat.
Kalimat itu mungkin memiliki sebagian kebenaran. Keira memang datang ke perjodohan karena ingin keluar dari lingkaran yang dibangun Fabian. Namun keputusan untuk tinggal bersama, makan larut malam, menyerahkan telinga di bawah cahaya redup, dan menyentuh tangannya di meja makan bukan bagian dari pelarian mana pun.
"Awalnya mungkin begitu," kata Nathan. "Tapi sekarang dia pulang bersamaku. Dia menungguku selesai kerja."
Fabian tertawa pendek tanpa kehangatan. "Kebiasaan bukan cinta."
"Dia memanggilku 'Sayang' saat cuma kami berdua."
Tidak ada suara selama dua detik.
Nathan melihat perubahan kecil itu dengan jelas. Tatapan Fabian membeku. Jarinya menekan gagang pintu terlalu kuat sampai buku jarinya memucat.
"Jangan gunakan hal pribadi untuk memancingku," ujarnya.
"Aku tidak memancing. Aku menjawab."
"Kau tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia menyesali semua ini."
"Kalau suatu hari dia menyesal, aku akan mendengarnya. Bukan mendengarmu menjelaskan perasaannya atas nama dia."
Fabian maju satu langkah lagi. "Dengar aku. Keira tidak akan bahagia di keluargamu."
Senyum tipis Nathan menghilang. Ketika berbicara lagi, suaranya lebih lambat.
"Dan kau tidak akan memakai rasa takutnya sebagai alasan untuk menahan dia di sini."
Fabian berhenti.
Nathan mengambil ponselnya dari meja. "Aku juga ingin bertanya. Apa kau pernah menyelidiki ibu kandungnya?"
Untuk pertama kalinya, kendali di wajah Fabian retak.
Hanya sepersekian detik. Cukup bagi Nathan.
"Kenapa kau bertanya?"
"Karena aku ingin tahu seberapa banyak rahasia yang kau simpan sambil mengaku paling mengenalnya."
"Itu urusan keluarga kami."
"Keira adalah keluargaku."
Ketukan terdengar di pintu sebelum Fabian membalas. Suara Keira menyusul dari luar.
"Nathan? Mama menunggumu."
Nathan membuka pintu. Keira memeriksa wajahnya, lalu Fabian yang berdiri di belakang. Pandangannya berhenti pada jarak di antara kedua laki-laki itu.
"Sudah tidak pusing?"
"Sudah sembuh begitu mendengar suaramu."
"Jangan berlebihan."
Ia meraih tangan Nathan dan membawanya turun. Fabian mengikuti beberapa langkah di belakang, diam seperti bayangan yang kehilangan tempat.
Di ruang kerja, Mariana sudah menyiapkan sebuah map tebal di atas meja. Herman duduk di sebelahnya sambil memutar cangkir teh yang belum diminum.
"Baca dulu sebelum tanda tangan," kata Mariana.
Keira membuka map itu. Judulnya akta hibah. Di bawahnya terdapat daftar saham, properti, dan instrumen investasi dengan nilai gabungan yang membuatnya harus membaca ulang angka terakhir.
"Mama, ini sekitar sembilan puluh miliar rupiah."
"Perkiraan konservatif."
"Aku tidak bisa menerima sebanyak ini."
"Bisa." Mariana menyilangkan tangan. "Ini milikku, bukan aset perusahaan yang bisa diperdebatkan dewan. Aku memberikannya kepada putriku sebelum pesta pernikahan."
"Aku sudah punya penghasilan sendiri."
"Bagus. Berarti kau tidak akan menghabiskannya sembarangan."
Nathan duduk di samping Keira, tetapi tidak menyentuh dokumen itu. "Keputusan tetap di tangan Keira, Mama."
Mariana menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. "Tentu. Karena itu aku tidak meminta suamimu menandatangani apa pun. Ada klausul bahwa aset ini tetap atas namamu."
Keira memandang Herman. "Papa tahu?"
Herman mengangguk. "Mama sudah menyiapkannya lama. Papa cuma minta satu hal. Jangan merasa harus membayar kasih sayang siapa pun dengan uang itu."
Tenggorokan Keira terasa sempit.
Ia tidak menangis. Ia hanya membaca setiap halaman dengan hati-hati, menanyakan dua klausul kepada notaris melalui panggilan video, lalu menandatangani setelah yakin tidak ada kewajiban tersembunyi.
Mariana menutup map dan menepuk tangannya sekali. "Selesai. Sekarang kita minum teh seperti keluarga normal."
"Keluarga normal tidak memberikan sembilan puluh miliar sebelum teh," kata Keira.
"Keluarga normal juga tidak menikah dulu baru memberi tahu detailnya. Kita impas."
Herman tertawa pelan. Nathan menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Fabian berdiri di dekat rak buku. Tatapannya berpindah dari tanda tangan Keira ke tangan Nathan yang berada di sandaran kursinya, dekat tetapi tidak menekan.
Beberapa saat kemudian, Keira dan Nathan meninggalkan ruang kerja untuk melihat kembali kotak seserahan. Fabian menerima telepon dan berjalan ke teras belakang.
Herman tetap duduk. Senyum di wajahnya perlahan hilang.
"Dia bertanya soal ibunya," katanya.
Mariana tahu siapa yang dimaksud tanpa perlu nama. "Nathan?"
"Fabian juga mendengar."
Mariana menutup pintu ruang kerja. "Aku sudah menduga hari ini akan datang."
Sepuluh tahun lalu, restoran kecil Herman baru buka selama tiga minggu ketika seorang perempuan turun dari sedan hitam bersama gadis remaja. Perempuan itu memakai nama Fenny Gunawan. Namun Herman mengenali wajah yang pernah ia panggil Fani, perempuan yang meninggalkannya dan putri mereka bertahun-tahun sebelumnya.
Gadis yang berjalan di sisinya berusia sekitar tiga belas tahun. Cantik, berpakaian mahal, dan memanggilnya Mama.
Herman berdiri membeku di balik kasir. Fenny pun melihatnya.
Malam itu, Fenny datang kembali tanpa putrinya. Mariana ikut duduk di meja paling ujung. Tidak ada adegan saling peluk, tidak ada pengampunan. Hanya fakta-fakta yang diletakkan seperti pisau.
Fani sudah mengganti nama menjadi Fenny. Ia menikah dengan Hendra Gunawan setelah meninggalkan Herman. Pada tahun yang sama, Yovita lahir.
Artinya, Keira dan Yovita memiliki ibu yang sama.
"Jangan ganggu hidup Kei," kata Herman waktu itu. Tangannya gemetar di bawah meja. "Kau memilih pergi."
Fenny menatap Mariana, bukan Herman. "Aku juga tidak mau Yovita tahu. Keluarga Gunawan tidak tahu seluruh cerita masa lalu itu."
Mariana membuat kesepakatan sederhana. Selama sepuluh tahun, kedua pihak tidak saling mendekat dan tidak memberi tahu kedua gadis itu. Saat masa itu habis, Keira berhak mengetahui jika ia bertanya. Fenny juga tidak boleh menggunakan hubungan darah untuk menuntut apa pun.
Kesepakatan itu tidak pernah menjadi hubungan hukum. Keira sudah menjadi putri keluarga Sutanto. Nama Gunawan tidak memiliki hak atas dirinya.
Kini sepuluh tahun sudah lewat.
"Kita tidak bisa menyimpannya selamanya," kata Herman di ruang kerja.
"Aku tahu."
"Kei akan menikah secara gereja dua minggu lagi."
"Aku tahu."
Mariana menatap taman melalui jendela. Keira sedang berdiri di dekat mobil bersama Nathan, membenarkan kerah kemeja suaminya. Nathan menunduk agar tangannya mudah menjangkau. Gerakan kecil, alami, tidak dibuat untuk dilihat siapa pun.
"Aku ingin dia mendengarnya dari kita," lanjut Herman.
"Bukan hari ini." Mariana menghela napas. "Hari ini terlalu banyak hal. Tapi sebelum pernikahan, kita bicara."
Di koridor, langkah Fabian berhenti sebelum ambang pintu. Ia sudah mengetahui rahasia itu bertahun-tahun lalu dari dokumen lama keluarga. Ia tidak masuk. Ia berbalik dan pergi tanpa suara.
Di luar rumah, Nathan membukakan pintu mobil untuk Keira.
Ia sudah mengetahui nama Fenny Gunawan dari jejak digital yang ditelusurinya sebelum pernikahan. Ia juga sudah melihat tahun lahir Yovita dan foto lama yang tidak meninggalkan banyak ruang untuk kebetulan.
Kini reaksi Fabian memastikan satu hal: keluarga Sutanto pun tahu.
Keira memasang sabuk pengaman. "Tadi kalian bicara apa?"
Nathan berdiri di samping pintu yang terbuka, memandang wajah istrinya.
Satu kalimat darinya bisa memecahkan dua puluh lima tahun kesunyian.
Ia belum tahu apakah berhak menjadi orang pertama yang mengucapkannya.
Keira menunggu tanpa mendesak. Cahaya siang jatuh di pipinya melalui pintu mobil, menampakkan ketenangan yang selama ini ia bangun sendiri, lapis demi lapis. Nathan bisa saja menyebut penyelidikannya sebagai perlindungan. Namun perlindungan yang merampas waktu dan pilihan tetap dapat berubah menjadi kendali, hal yang baru saja ia tuduhkan kepada Fabian.
"Tentang aku," jawabnya akhirnya. "Dia ingin tahu apakah aku memahami hidupmu."
"Dan jawabanmu?"
"Belum semuanya. Makanya aku akan terus bertanya kepadamu."
Keira mengamati wajahnya, seolah menangkap ruang kosong di antara kalimat-kalimat itu. Namun ia hanya mengangguk dan menarik ujung lengan kemeja Nathan.
"Masuk. Kita masih harus ke bank setelah ini."
Nathan duduk di sampingnya. Sebelum pintu tertutup, ia melihat Fabian berdiri di balik jendela lantai dua. Tatapan mereka bertemu dari kejauhan.
Satu orang percaya rahasia dapat dipakai untuk mempertahankan Keira. Yang lain belum yakin apakah kejujuran tanpa izin akan menyakitinya.
Untuk pertama kalinya, Nathan menyadari bahwa mengetahui segala sesuatu tidak otomatis membuatnya benar.