Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Pertemuan yang Tak Sengaja
Keesokan harinya, kesibukan Cynara sedikit berkurang.
Tidak ada pertemuan bisnis yang harus dihadiri hari ini. Tapi, besok ia akan ke kantor JM Corporation. Ia telah menyiapkan sedikit kejutan buat seseorang yang bekerja di sana.
Tapi hari ini, ia memutuskan menghabiskan waktu bersama Naren.
“Main ke taman, yuk.”
Naren yang sedang menyusun balok langsung mengangkat kepala. “Benelan, Mah?”
“Iya, Sayang."
“Yeay! Aaaciiik ...” Naren segera berlari mengambil sepatu.
Cynara hanya tertawa kecil melihat tingkah putranya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di taman bermain yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Naren langsung berlari menuju area permainan. “Mamah cini!”
“Iya. Jangan terlalu jauh.”
“Iyah!”
Cynara duduk di bangku taman sambil memperhatikan putranya. Naren memang anak yang cukup mandiri. Ia tidak selalu meminta bantuan untuk hal-hal kecil.
Bahkan ketika bermain dengan anak-anak lain, ia cenderung mudah berbagi. Namun, hari itu berbeda. Sebuah bola kecil menjadi penyebab keributan.
“Ini punya aku!” Seorang anak laki-laki berusia empat tahun menarik bola dari tangan Naren.
Naren ikut menariknya. “Aku yang bawa!” jeritnya.
“Aku yang punya!”
“Bukan!”
“Punya aku!”
Keduanya saling menarik bola. Cynara segera bangkit.
“Naren!” Cynara berjalan cepat mendekati dua bocah yang berebut bola itu.
“Nak, jangan rebutan!”
Namun, sebelum Cynara sempat melerai, seorang pria datang dari arah belakang anak laki-laki yang satu lagi.
Tangannya langsung meraih lengan sang anak. “Ayo,” ucapnya gusar.
“Tidak mau!” Anak itu memberontak. “Aku mau main!” teriaknya.
“Keanu!” Terdengar suara dingin dan otoriter dari pria itu. “Ayo pulang.”
“Tidak!” Anak itu semakin memberontak. “Aku masih mau main!” Suaranya tak kalah keras.
Cynara menelengkan kepala. Entah mengapa, sikap anak itu membuatnya sedikit terkejut. Ia lalu mengangkat wajah. Dan ia mematung saat menyadari ayah anak itu.
Pria tinggi dengan ekspresi dingin itu... Wajahnya masih begitu ia ingat.
“Mas Alvin?”
Pria itu menoleh. Tatapan dinginnya jatuh kepada Cynara. Tidak ada tanda ia mengenal perempuan yang dipanggilnya itu.
Cynara mengerutkan kening. Lima tahun lalu, pria ini bersama istrinya pernah membantu dirinya. Saat ia hampir pingsan di pinggir jalan setelah mendapatkan akta cerai.
Saat itu, Kania yang menghampirinya. Dan Alvin yang membawa mereka ke rumah sakit. Namun, Alvin hanya menatapnya sebentar.
“Siapa kau?”
Cynara tertegun. “Mas tidak ingat?”
Alvin tetap diam. Tangannya masih menggenggam tangan putranya yang terus berusaha melepaskan diri.
“Lepaskan aku!” Sang anak terus meronta.
“Aku mau main!”
“Cukup.”
“Tidak mau!”
Cynara kembali memperhatikan anak itu. Putranya terlihat sangat keras kepala.
Berbeda dengan Naren yang lebih mudah diajak berbicara. Cynara kemudian menatap Alvin.
“Mbak Kania-nya mana, Mas?”
Tangan Alvin berhenti bergerak. Raut wajahnya langsung berubah.
Namun, Cynara menyadari perubahan pada raut wajah itu.
Alvin menatap perempuan di hadapannya dengan sorot mata yang semakin dingin.
“Siapa kau?”
Nada suaranya membuat Cynara sedikit bergidik.
“Kenapa kau mengenal istriku?”
Cynara segera menggeleng. “Bu-bukan begitu.”
Ia mencoba tersenyum. “Mas Alvin lupa, ya?”
Alvin tidak menjawab.
“Sekitar lima tahun yang lalu, Mbak Kania dan Mas membantu aku di pinggir jalan.”
Cynara menunjuk dirinya sendiri. “Saat itu aku baru saja resmi bercerai. Aku pusing dan hampir pingsan.”
Alvin mengerutkan dahi. Sepertinya ia sedang berusaha mengingat.
Cynara melanjutkan, “Mbak Kania yang menghampiriku. Kemudian Mas membawa kami ke rumah sakit.”
Alvin mengusap dahinya. Beberapa detik kemudian, tatapannya berubah.
“Oh.”
Ia mengangguk pelan. “Ternyata itu kau?”
Cynara tersenyum lega. “Iya.”
Alvin memperhatikannya dari kepala hingga kaki. Perempuan di hadapannya memang sudah sangat berbeda.
Lima tahun lalu, Cynara terlihat pucat dan rapuh. Sekarang, ia berdiri dengan sikap percaya diri. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi terlihat rapi.
Wajahnya pun jauh lebih tenang. Alvin kembali menatapnya.
Cynara justru kembali bertanya. “Mbak Kania-nya mana, Mas?”
Alvin langsung bungkam.
“Tidak ikut menemani anak bermain?”
Tetapi tidak ada jawaban.
Cynara menunggu. Senyumnya perlahan menghilang. “Mas?”
Alvin hanya menarik tangan putranya. “Ayo.”
Keanu kembali meronta. “Aku mau main!”
“Kita pulang.”
“Aku tidak mau!”
“Keanu!” Suara Alvin semakin dingin.
Keanu akhirnya diam. Namun, wajahnya terlihat kesal. Alvin membawa putranya pergi.
Cynara hanya bisa menatap mereka. Ada sesuatu yang aneh. Sangat aneh.
Kenapa Alvin tidak menjawab pertanyaannya Dan kenapa ia sama sekali tidak menyebut nama Kania?
“Mamah.”
Cynara menoleh.
Naren berdiri di sampingnya. “Om itu jahat, Mah.”
Cynara segera berjongkok. “Bukan jahat.”
“Tapi dia marah-marah.” Mata Naren masih mengikuti mereka.
“Mungkin papanya lagi sibuk dan buru-buru.”
Cynara mengusap rambut Naren. “Jadi dia harus segera pulang.”
Naren mengangguk. Kemudian matanya jatuh kepada bola yang tadi mereka perebutkan. Bola itu tertinggal di dekat kakinya.
Naren mengambilnya. Kemudian berlari kecil mengejar Alvin dan anak kecil itu.
“Naren!” Cynara ikut berdiri. “Nak, jangan jauh-jauh!”
Namun, Naren sudah sampai di dekat Keanu. Keanu berhenti. Menatapnya dengan bingung.
Naren mengulurkan bola itu. “Ini buatmu ajah.”
Keanu terdiam. Matanya berpindah dari bola ke wajah Naren. Sepertinya ia tidak menyangka anak yang tadi berebut dengannya justru memberikan bola itu.
Naren tersenyum. “Bial kamu bica main.”
Keanu tidak mengambilnya. Ia hanya menatap Naren.
Alvin juga terdiam, tatapan dinginnya sedikit melunak. Lalu ia menerima bola yang diberikan Naren untuk putranya.
Naren melambaikan tangan. “Dadah.”
Kemudian ia berlari kembali kepada Cynara. “Mamah!”
Cynara menangkap tangan putranya. “Iya.”
“Nalen kacih bolanya,” ucap bocah itu bangga.
Cynara tersenyum. “Kenapa?”
“Karena tadi dia mau main.”
Cynara mengusap rambut Naren. “Anak Mama memang hebat.”
Sementara beberapa meter di belakang mereka, Keanu masih berdiri diam.
Bola itu akhirnya diambil dari tangan sang ayah. Ia memeluknya dengan erat.
Alvin memperhatikan putranya. Keanu yang biasanya tidak mau menerima pemberian dari orang lain... kali ini justru memeluk bola tersebut.
“Keanu.”
Anak itu menoleh. “Ya, Pa?”
“Pulang.”
Keanu mengangguk. Keanu menatap mereka cukup lama.
Lalu tanpa sadar bertanya, “Papa…”
“Hm?”
“Anak itu baik.”
Alvin terdiam. Kemudian menatap putranya. “Iya.”
Keanu memeluk bola pemberian Naren.
“Besok boleh main sama dia lagi?”
Alvin tidak langsung menjawab.
Tatapannya kembali tertuju kepada Cynara yang semakin jauh.
Entah mengapa, pertemuan hari ini membuat dadanya terasa berat.
Terutama setelah mendengar satu nama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi ia dengar dari siapa pun.
Kania.
*bersambung*