Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Blokir, lalu Sampai ke Pulau

Keesokan pagi, berita Eyang sudah membaik muncul sebelum sarapan.

Pada saat bersamaan, sebagian besar video dari acara mulai hilang. Grup Adiwangsa mengirim klaim hak cipta, laporan privasi, dan surat hukum kepada akun-akun besar. Tagar masih tersisa, tetapi rekaman asli semakin sulit ditemukan.

Bu Widuri menaruh ponsel di meja. "Kamu mengatur video itu?"

Laras mengangkat wajah dengan ekspresi terluka. "Ibu sungguh mengira saya akan menayangkan calon suami saya sendiri bersama selingkuhannya?"

"Saya sudah bilang Laras tidak mungkin melakukannya," Pak Broto menyela. Untuk pertama kalinya, ayahnya membela, mungkin karena bukti publik membuat pilihan lain terlalu memalukan.

Siang harinya, Radit datang. Rakai menghadangnya di luar ruang musik.

"Saya hanya ingin bicara," kata Radit.

"Bicara dari sana."

Melalui pintu tertutup, Radit meminta maaf. Ia menyalahkan tekanan hubungan jarak jauh, jadwal Laras, dan kelemahan sesaat. Ia bersikeras hatinya hanya untuk Laras serta meminta satu kesempatan.

Rakai membuka pintu dan memukulnya sebelum penjelasan selesai.

"Datang lagi, saya hajar lagi," katanya.

Pak Broto menarik putranya dan memarahi tindakan kasar itu. Laras tetap di dalam, memainkan satu nada berulang sampai Radit pergi.

Setelah tidur siang, ia membaca puluhan pesan Radit.

Kalaupun kamu mati, saya tidak akan menikah denganmu.

Ia mengirim kalimat itu, lalu memblokir nomor Radit.

Di bawahnya ada pesan Bram.

Kangen.

Nggak ada orang lain.

Laras menatap layar lama. Hubungan mereka lahir di dalam rahasia dan terus hidup dengan cara yang tidak bisa dibawa ke cahaya. Setelah berhasil keluar dari satu pertunangan kotor, ia tidak mau langsung terikat pada lelaki yang masih menyembunyikan setengah hidupnya.

Aku bosan. Nggak mau tidur sama kamu lagi. Jangan cari aku.

Ia memblokir Bram juga.

Tiga hari berikutnya, Laras menjalankan peran perempuan patah hati. Ia menolak makan di meja keluarga, tidak menerima tamu, dan membiarkan media memotret tirai kamarnya tertutup. Diam-diam, ia memesan penerbangan melalui Singapura menuju sebuah pulau resor di Maldives.

Semua hadiah dari keluarga Adiwangsa selama setahun dikemas dan dikirim kembali, termasuk tiara warisan berlian dan safir dari Bu Ratna. Laras menyertakan daftar barang, tanda terima kurir, dan satu kalimat: milik keluarga harus kembali kepada keluarga.

Bu Ratna menelepon setelah paket tiba, tetapi Laras tidak mengangkat. Pesan suaranya berisi tangis, permintaan agar Laras tidak menghukum seluruh keluarga karena kesalahan Radit, dan janji bahwa tiara itu tetap dianggap miliknya. Laras menyimpan pesan tanpa membalas. Menerima kembali pusaka itu akan membuat pertunangan seolah masih punya pintu.

Pada hari kelima, Rakai mengantarnya ke terminal VIP. Kirana yang semula berjanji datang mendadak mengaku sakit perut setelah tahu Rakai ikut.

"Dia aneh," kata Laras.

"Mungkin benar-benar sakit," jawab Rakai terlalu cepat.

Di rumah sakit, Bram melihat tanda pesan ditolak dan mendatangi Eyang dengan wajah gelap.

"Diblokir?" tebak Eyang.

"Nggak. Sinyalnya jelek."

"Kamu sendiri yang memasang jaringan gedung ini."

Eyang memindahkan batu go. "Laras bermain tenang. Dia tahu kapan harus meninggalkan papan. Perempuan seperti itu tidak tenggelam karena cinta. Kalian memang tidak ada harapan."

Bram berdiri dan pergi tanpa pamit.

Ia mencari Laras ke studio Kirana. Studio kosong. Dari teras kafe lantai atas, ia justru mendengar suara Rakai di bawah.

"Kamu tidur sama aku, lalu nggak mau tanggung jawab?"

Kirana menarik kerah Rakai dan menciumnya agar diam.

Bram berhenti. Potongan teka-teki hotel ski akhirnya tersusun.

Ketika Kirana kembali, Bram menunggunya di kursi kerja. "Laras di mana?"

"Singapura."

"Kalau bohong, aku bilang ke Laras kamu tidur sama adiknya."

Kirana tetap bersikeras. Bram terbang ke Singapura dan menghabiskan dua hari memeriksa hotel serta tempat yang sengaja disebut Kirana. Setelah ia mengirim foto depan studio dengan ancaman menemui Laras sendiri begitu pulang, Kirana akhirnya menyerah dan memberikan nama pulau sebenarnya.

Laras tiba di Maldives setelah bermalam transit di Singapura. Selama tiga hari, ia tidur, membaca, dan duduk di pasir. Ia tidak bisa berenang, sehingga laut sebening kaca itu hanya dinikmati dari jarak aman.

Ia menyewa rumah pasir, bukan vila air, agar tidak perlu melewati jembatan panjang setiap malam. Pengelola menawarkan pelajaran berenang dan snorkeling dangkal, tetapi Laras menolak. Kebebasan yang ia inginkan sementara ini sangat sederhana: bangun tanpa jadwal fitting, makan tanpa ditanya soal pewaris, dan mematikan ponsel kapan pun ia mau.

Ironisnya, setelah memblokir dua lelaki dalam satu hari, ia tetap beberapa kali membuka daftar kontak. Nomor Radit tidak menimbulkan apa pun. Ruang kosong tempat V pernah berada justru membuat jarinya berhenti terlalu lama.

Kirana mengirim pesan terlalu sering.

Hari ini ketemu orang?

Tidak.

Yakin?

Kenapa kamu seperti petugas imigrasi?

Malam ketiga, Laras pergi ke bar resor. Bartender menawarkan koktail bernama Meet Unexpectedly.

"Terlalu manis?" tanya Laras.

"Sedikit mengejutkan di akhir," jawabnya.

Laras baru menyesap dua kali ketika seorang pria asing mengajaknya berkenalan. Ia menolak sopan, menaruh uang di meja, dan berdiri.

Dari sisi lain bar terdengar suara lelaki berbicara dalam bahasa Inggris kepada bartender.

"Saya datang mengejar pacar. Dia marah dan pergi tanpa bilang."

Bartender tertawa. "Pacar Anda ada di pulau ini?"

"Iya. Dia sebenarnya istri yang nggak mau mengaku."

Laras membeku dengan satu kaki terangkat.

Lelaki asing tadi menoleh ke arah suara. "Sepertinya dia mau lari."

Bram menjawab santai, kali ini dalam bahasa Indonesia.

"Nggak buru-buru. Dia larinya lambat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!