Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ibu ke dapur dan menaruh tempe mendoan, brongkos, tempe bacem, dan sate pisang yang ia bawa dari Magelang ke atas meja makan.
Aroma masakan khas kampung halaman itu langsung menyeruak hangat, mengisi sudut-sudut rumah yang sempat terasa tegang sepanjang hari.
Setelah menata makanan di piring, Ibu membawa nampan berisi semangkuk brongkos hangat dan piring kecil berisi tempe mendoan naik kembali ke kamar atas.
Narendra dengan sigap mengambil mangkuk itu dari tangan Ibu.
Tanpa canggung sedikit pun, Naren duduk di tepi ranjang, lalu menyuapi Tiyas dengan penuh kehati-hatian, memastikan kuah brongkosnya tidak terlalu panas sebelum disuapkan ke mulut calon istrinya.
Tiyas menerima setiap suapan itu dengan rona merah di pipinya, merasa begitu dimanja dan dilindungi.
Melihat pemandangan manis di depan mata mereka, Ayah dan Ibu tersenyum bahagia. Rasa cemas yang tadinya membayang-bayangi benak sang Ibu kini menguap sepenuhnya. Mereka tahu, kali ini putri mereka berada di tangan pria yang tepat.
"Ya sudah, Tiyas, kamu makan yang banyak terus istirahat ya. Biar Naren yang jamin kamu kenyang," goda Ibu seraya terkekeh pelan.
"Bapak sama Ibu mau bersihkan badan dulu di kamar sebelah," tambah Ayah seraya menepuk bahu Naren pelan.
Kemudian mereka masuk ke kamar samping karena mereka akan menginap selama dua hari di Yogyakarta.
Begitu pintu kamar samping tertutup, keheningan yang nyaman kembali melingkupi kamar Tiyas. Naren kembali meniup pelan sendok berikutnya, menatap Tiyas dengan tatapan yang begitu hangat.
"Ayo, buka mulutnya lagi, Sayang. Masih ada tiga suapan lagi nih," bisik Naren lembut.
Tiyas tertawa kecil seraya menerima suapan itu, menikmati detik demi detik kebahagiaan baru yang kini membalut hidupnya.
"Aku, kenyang." bisik Tiyas sambil memalingkan wajahnya sedikit, memegang perutnya yang kini terasa jauh lebih terisi.
"Nggak, ini masih ada sedikit lagi. Dua suapan terakhir, habis itu selesai," ujar Naren pantang menyerah, menyodorkan sendok berisi kuah brongkos hangat ke depan bibir Tiyas dengan tatapan memohon yang menggemaskan.
Tiyas menghela napas pasrah namun tak sanggup menahan senyumnya.
Ia akhirnya membuka mulut, menerima dua suapan terakhir itu hingga mangkuk bersih tak tersisa.
"Nah, gitu dong. Calon istri pinter," puji Naren bangga seraya meletakkan mangkuk kosong ke atas nampan di meja samping ranjang.
Pria itu kemudian meraih gelas berisi air hangat beserta beberapa butir obat yang sudah disiapkan dari rumah sakit tadi.
"Setelah itu minum obat," lanjut Naren penuh perhatian.
Ia membantu menyangga punggung Tiyas agar duduk lebih tegak, lalu menyerahkan butiran obat dan gelas air putih ke tangan Tiyas.
Tiyas meminum obatnya satu per satu sampai habis.
Begitu selesai, Naren mengambil kembali gelas kosong itu, lalu mengusap lembut sudut bibir Tiyas dengan ibu jarinya.
"Pinter banget. Sekarang tugas kamu cuma satu: tiduran lagi, merem, dan istirahat," bisik Naren lembut seraya membenarkan posisi bantal dan menarik selimut tebal Tiyas sampai sebatas dada.
"Kamu nggak pulang?" tanya Tiyas lirih, matanya mulai terasa berat akibat efek samping obat penurun nyeri dan pusing.
Naren tersenyum manis, mengusap pelan puncak kepala Tiyas.
"Aku di sini, nungguin kamu sampai ketiduran. Ada Bapak sama Ibu juga di kamar sebelah, jadi kamu aman. Tidur ya, Sayang."
Tiyas mengangguk pelan. Dalam kehangatan usapan tangan Naren dan kehadiran kedua orang tuanya di rumah itu, Tiyas akhirnya memejamkan mata, menyusut masuk ke dalam tidur paling lelap dan damai yang pernah ia rasakan dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, di sebuah rumah kontrakan yang sempit dan pengap, Mia duduk di kursi meja makan kayu yang agak goyah.
Dengan gerakan kasar, ia menuangkan air panas ke dalam cangkir dan menyeduh segelas kopi hitam untuk dirinya sendiri.
Uap panas membumbung tinggi, membawa aroma pahit yang menusuk hidung.
Gio yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk tersangkut di lehernya menghampiri meja. Pandangannya tertuju pada cangkir di tangan Mia.
"Mana punyaku?" tanya Gio dengan nada menuntut.
Mia mendongak, menatap mantan suami Tiyas itu dengan tatapan dingin dan penuh penghinaan.
Ia menyunggingkan senyum sinis sebelum meneguk kopinya perlahan.
"Punyamu?" cemooh Mia, menaruh cangkirnya kembali ke tatakan dengan denting nyaring.
"Kamu saja tidak memberikan aku uang!"
"Uang?!" bentak Gio, matanya membelalak kaget mendengar protes Mia.
"Kamu pikir aku punya uang dari mana, Mia?! Perceraian ini bikin tabunganku ludes!"
Mia bangkit dari duduknya. Tatapannya menajam tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Mia, ingat ya, kamu di sini cuma numpang! Jadi besok kamu cari kerja, atau aku tidak mau menikahimu!" ancam Gio seraya menunjuk wajah Mia dengan telunjuknya yang gemetar.
Mia tak menyangka pria yang dulu ia bangga-banggakan kini merendahkannya sedemikian rupa.
Ia sudah muak dengan hidup melarat dan beban yang terus-menerus dilemparkan Gio padanya.
"Oh, kalau begitu baik! Aku akan pergi dari sini!" tegas Mia tanpa ragu.
Tanpa membuang waktu lagi, Mia melangkah lebar menuju kamar, menyambar tas pakaiannya yang belum sempat dirapikan sepenuhnya, lalu mengemas barang-barangnya secara asal.
Ia berjalan cepat menuju pintu depan, meninggalkan Gio yang terpaku tak percaya.
"Mia! Awas kamu! Jangan kembali lagi ke sini!!" bentak Gio histeris, suaranya menggema memecah keheningan kontrakan saat ia melihat pintu depan didobrak kasar oleh Mia.
Pintu terbanting keras. Mia melangkah pergi menerobos kegelapan malam tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Hubungan yang dulu diawali dari pengkhianatan itu kini hancur berkeping-keping, meninggalkan Gio sendirian dalam kemiskinan dan penyesalan yang terlambat.
Keesokan paginya, Naren terbangun terlebih dahulu.
Sinar matahari pagi menyusup halus melalui celah tirai kamar, membiaskan cahaya hangat di atas tempat tidur.
Ia menoleh ke samping, melihat Tiyas yang masih memejamkan matanya dengan napas teratur dan raut wajah yang jauh lebih segar dari kemarin.
Sambil tersenyum tipis, Naren beranjak pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Narendra berdiri di depan wastafel dan melihat kumis dan brewok yang sudah tebal membalut rahang serta pipinya.
Mengingat Tiyas sering bercanda bahwa wajahnya terlihat galak kalau brewokan, Naren terkekeh pelan.
Ia mengambil pisau cukur di kotak, segera ia mencukurnya dengan rapi hingga kulit wajahnya bersih sempurna.
Setelah itu ia mandi dengan air hangat yang menyegarkan seluruh tubuhnya yang lelah.
Selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang rapi, ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Pada saat yang sama, Tiyas membuka matanya perlahan.
Pandangannya yang sempat kabur menyesuaikan cahaya pagi, lalu tertuju pada sosok lelaki yang berdiri di hadapannya. Tiyas terpaku sejenak, membelalak tak percaya.
"N-naren?" panggil Tiyas ragu, mengucek matanya pelan.
Naren terkekeh renyah, melangkah mendekati ranjang lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Iya, Sayang, ini aku. Masa calon suami sendiri lupa?"
Tiyas melihat calon suaminya yang semakin tampan dengan kumis dan brewok yang sudah hilang.
Wajah Naren kini terlihat sangat bersih, segar, dan jauh lebih muda.
Rahang tegasnya tampak makin menawan tanpa belukar halus yang biasanya menutupi.
"Pangling ya?" goda Naren seraya mencubit lembut pipi Tiyas yang merona.
"Bagaimana? Lebih ganteng begini atau yang brewokan kemarin?"
Tiyas menyunggingkan senyum cantiknya, menyentuh rahang mulus Naren dengan jemarinya yang hangat.
"Ganteng banget, Naren. Sampai aku, hampir nggak mengenali kamu, Naren."
"Baguslah kalau suka," balas Naren hangat, mencium telapak tangan Tiyas yang berada di pipinya.
"Bagaimana kondisi kamu pagi ini? Masih pusing atau lemas?"
"Masih lemas, tapi udah nggak pusing. Jadi, boleh kerja, kan?" tanya Tiyas polos, menatap Naren dengan mata berbinar berharap mendapat lampu hijau.
Naren langsung menggelengkan kepalanya tegas.
"No, Tiyas. Nggak ada kerja hari ini."
"Naren, cuma sebentar kok. Cuma mau mengecek dokumen penting yang—"
"Kalau kamu nekat kerja, aku kembali ke Bali!" ancam Naren tiba-tiba dengan raut wajah amat serius, melipat kedua tangannya di depan dada.
Mendengar ancaman sepihak yang sama sekali tak terduga itu, Tiyas seketika membeku.
Ia menatap calon suaminya yang bersikap begitu tegas dan tidak bisa ditawar lagi.
Tiyas mengerucutkan bibirnya kesal, merajuk karena kalah telak dari gertakan Naren.
"Kamu itu punya sekretaris, Bu CEO," lanjut Naren dengan nada suara yang berangsur melembut, menyentil pelan bibir Tiyas yang makin maju beberapa sentimeter.
"Manfaatkan fasilitas itu. Tugas kamu hari ini cuma diam di rumah, dimanjain aku sama Ibu, titik. Nggak ada bantahan lagi."
Tiyas akhirnya menghela napas panjang dan menarik selimutnya kembali sampai batas dada dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
"Iya, iya. Jahat banget sih mainnya ancam kembali ke Bali."
Naren terkekeh geli melihat tingkah manja calon istrinya.
Ia membungkuk, mendaratkan ciuman singkat namun hangat di dahi Tiyas.
"Bukan jahat, Sayang. Aku cuma nggak mau kamu pingsan lagi di kantor. Mending kamu istirahat, biar aku yang turun ke bawah minta Ibu buatkan sarapan buat kamu, ya?"
Tiyas menganggukkan kepalanya ke arah calon suaminya.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘