Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Mimpi Buruk di Malam Pertama
Sebuah firasat buruk baru saja menemukan orang yang harus diselamatkannya.
"Laras?"
Ratih menyentuh lengannya. Laras tersentak, nyaris menjatuhkan gelas.
"Kamu pucat, Nak. Duduk dulu."
"Saya cuma lelah." Laras memaksa jemarinya melepaskan tepi meja. "Biar saya selesaikan supnya."
Ia kembali ke panci. Tulang domba lokal sudah direbus sejak sebelum mereka pergi ke gedung, kuahnya bening dengan aroma serai, daun jeruk, dan lada. Laras menambahkan sayuran, lalu mengulek sambal terpisah karena Ratih tidak kuat terlalu pedas.
Gerakan memasak yang teratur membantu menenangkan pikirannya. Bayangan tadi sangat singkat, belum cukup jelas untuk memastikan waktu dan tempat. Ia membutuhkan lebih banyak petunjuk.
Bram masuk setelah mandi dan berganti kaus gelap. "Saya bisa pesan makanan. Kamu tidak perlu memasak setelah seharian berdiri."
"Bahannya sudah siap. Sayang kalau terbuang."
"Kalau capek, saya lanjutkan."
Ratih langsung menyodorkan pisau dan tomat kepada putranya. "Bagus. Potong ini."
Bram menerima tanpa protes. Hasil potongannya terlalu besar dan tidak seragam. Laras memandang talenan, lalu kepadanya.
"Apa?" tanya Bram.
"Tidak ada. Saya baru tahu kemampuan pisau anggota TNI tidak berlaku untuk tomat."
Ratih tertawa. "Bunda sudah bilang, dia memilih daging domba bagus tapi tidak tahu mengolahnya. Untung sekarang pilih istrinya juga bagus."
Telinga Bram memerah. Ia menunduk dan memotong tomat berikutnya lebih hati-hati.
Makan malam sederhana itu terasa lebih hangat daripada resepsi. Ratih memuji sup sampai menambah dua kali. Bram diam-diam memindahkan sambal menjauh dari ibunya setelah perempuan itu batuk karena mencoba satu sendok.
Laras melihat gerakan kecil tersebut dan memahami bahwa perhatian Bram memang jarang keluar lewat kata-kata.
Di sela makan, Ratih mengeluarkan tiket dari tas. "Besok Bunda berangkat pukul sembilan. Bus ini sampai kota transit sore, lalu lusa pagi Bunda terbang ke Jakarta."
Tiket itu berwarna putih dengan garis biru tua. Nomor trayeknya melewati jalur pegunungan yang menghubungkan kota perbatasan dengan kota transit.
Jantung Laras berdetak lebih keras.
"Kenapa tidak naik travel lebih pagi?"
"Bunda sudah pesan bus ini sejak minggu lalu. Lebih nyaman dan bisa membawa banyak barang."
"Jalurnya aman?"
"Sopirnya biasa lewat sana. Memang ada beberapa tikungan, tapi musim ini jarang hujan besar."
Bram menatap Laras. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Saya cuma belum terbiasa dengan jalan di sini."
Ratih memasukkan tiket kembali ke dompet. Benda yang dalam mimpi berada di tangan berlumur darah itu kini hanya beberapa langkah dari Laras. Ia harus menahan diri agar tidak langsung merobeknya dan membuat semua orang curiga.
Setelah meja dibersihkan, Ratih membuka lemari kamar utama dan mengeluarkan dua selimut.
"Satu untuk kalian, satu lagi cadangan," katanya.
Bram mengambil bantal dari ranjang. "Saya tidur di ruang tengah."
"Sofa itu pendek. Kakimu akan menggantung."
"Tidak masalah."
"Bagi Bunda masalah. Pengantin baru tidur terpisah pada malam pertama, besok seluruh asrama akan membuat cerita sendiri."
Laras tahu Ratih sengaja mencari alasan, tetapi udara malam di kota perbatasan memang lebih dingin daripada siang. Kamar kedua juga belum memiliki ranjang.
"Kita bisa tidur di ranjang yang sama dengan selimut terpisah," katanya. "Saya percaya Mas Bram tidak akan macam-macam."
Bram menatapnya. "Kamu yakin?"
"Yakin."
Ratih tampak puas. Ketika Bram keluar mengambil air, ia menahan tangan Laras.
"Ada sesuatu yang harus kamu tahu lebih jelas sebagai istrinya."
"Tentang luka Mas Bram?"
Ratih mengangguk. Dalam operasi beberapa tahun lalu, pecahan logam bersarang di sekitar pinggang bawah Bram. Operasi pertama menyelamatkan nyawanya, tetapi dokter menduga ada kerusakan atau tekanan yang memengaruhi fungsi reproduksi. Hasil pemeriksaan setelah itu membuat keluarga percaya Bram tidak akan punya anak.
"Detail lukanya hanya diketahui beberapa atasan, dokter, dan keluarga," kata Ratih. "Bukan karena memalukan, tetapi riwayat operasi anggota masih berkaitan dengan tugas. Tolong jangan dibicarakan di luar rumah."
"Saya mengerti."
"Bunda tidak meminta kamu menyembuhkannya atau membuktikan apa pun. Bunda cuma ingin kalian sejalan. Anak bukan syarat untuk menjadi keluarga."
Laras menggenggam tangan Ratih. "Itu juga yang Mas Bram katakan."
"Dia belajar dari ibunya."
"Atau Bunda mengaku-ngaku."
Ratih tertawa pelan dan mencium keningnya sebelum menuju kamar kedua yang sudah diberi kasur lipat.
Di kamar utama, Bram meletakkan dua selimut dengan garis pembatas selebar satu lengan di tengah ranjang.
"Kalau kamu berubah tidak nyaman, saya pindah ke sofa."
"Baik."
Bram menunjukkan bahwa pintu kamar tidak dikunci dari dalam. "Kalau kamu ingin keluar atau memanggil Bunda, tidak ada yang menghalangi. Saya juga tidak akan menyentuhmu tanpa izin. Akad bukan izin tanpa batas."
Laras menatapnya cukup lama. "Mas Bram selalu menjelaskan hal yang mestinya sudah jelas."
"Bagi sebagian orang, hal itu rupanya tidak jelas."
Ia tidak menyebut Rendra atau jamu. Tidak perlu. Laras memahami maksudnya.
"Terima kasih," katanya.
Bram mematikan lampu utama lalu berbaring di sisi paling tepi, memberi Laras ruang lebih luas daripada yang ia gunakan sendiri.
Mereka berbaring masih dengan pakaian tertutup. Lampu dimatikan, menyisakan cahaya dari teras yang masuk melalui celah tirai.
Laras menghadap dinding. Bram menghadap langit-langit.
Ranjang yang cukup luas tiba-tiba terasa sempit karena setiap tarikan napas terdengar jelas. Laras bisa mencium sabun pada kulit Bram. Di sisi lain, Bram menangkap aroma sampo dan rempah yang masih melekat di rambut istrinya.
"Mas Bram belum tidur?" tanya Laras.
"Belum."
"Saya juga."
"Kalau saya keluar, mungkin kamu lebih mudah tidur."
"Tidak perlu. Kita sudah sepakat."
Beberapa menit kemudian, kelelahan akhirnya menarik Laras ke dalam tidur.
Jalan pegunungan muncul lagi.
Kali ini jauh lebih jelas.
Sebuah bus antarkota melaju di tikungan sempit. Hujan yang turun di dataran tinggi membuat tanah pada sisi tebing retak. Pengemudi menginjak rem ketika permukaan jalan ambles, tetapi roda belakang kehilangan pijakan.
Suara logam beradu memenuhi kepala Laras.
Bus terguling melewati pembatas. Kaca pecah beterbangan. Tas dan tubuh terlempar. Laras berdiri di antara orang-orang yang berteriak, tetapi tak seorang pun bisa melihat atau mendengarnya.
Ia berlari menuju jendela yang hancur.
Ratih terjepit di antara kursi, wajahnya berlumur darah, jemarinya masih menggenggam tiket perjalanan.
"Bunda!"
Laras terbangun sambil menjerit.
Tubuhnya basah oleh keringat. Tanpa sadar ia sudah bergeser melewati batas selimut dan mencengkeram lengan Bram.
"Laras, lihat saya."
Bram duduk dan menyalakan lampu. Tangannya menahan bahu Laras, tidak mengguncang terlalu keras.
"Kamu di rumah. Tidak ada bus."
Laras menarik napas, tetapi udara seperti tertahan di tenggorokan. "Bunda. Busnya jatuh. Ada longsor dan Bunda ada di dalam."
Bram menuangkan air hangat dari termos. "Minum dulu. Mimpi sering jadi kebalikan dari kenyataan. Bunda ada di kamar sebelah."
Laras minum dua teguk. Tangannya masih gemetar.
Mimpi itu bukan sekadar mimpi.
Sejak ingatan kehidupan lamanya kembali, Laras memahami pola kemampuan aneh yang ikut bangkit. Ia hanya melihat bencana yang akan menimpa dirinya atau orang yang sudah sangat dekat dengannya. Petunjuk selalu muncul satu sampai tiga hari sebelum kejadian. Tidak pernah lebih lama.
Kini Ratih telah menjadi ibunya secara hukum dan perasaan. Dengan tidur di sisi Bram, ikatan itu terasa semakin dekat, cukup dekat untuk menarik nasib Ratih ke dalam mimpinya.
"Bunda bilang mau pulang kapan?" tanyanya.
"Besok pagi naik bus menuju kota transit, lalu lanjut penerbangan ke Jakarta. Kenapa?"
"Saya punya firasat buruk."
"Karena mimpi tadi?"
"Iya. Saya melihat tiketnya, warna bus, dan bagian jalan yang ambles. Terlalu jelas."
Bram memandang wajahnya, kali ini tidak langsung menyebutnya sekadar bunga tidur. "Kamu pernah mengalami mimpi seperti ini sebelumnya?"
Pertanyaan itu berbahaya. Laras memilih jawaban yang tetap benar tanpa membuka seluruh rahasia.
"Pernah merasa sesuatu buruk akan terjadi. Biasanya saya tidak tenang sampai memastikan orangnya aman."
"Kalau begitu kita cek kondisi jalur dan operator bus besok pagi. Saya bisa meminta Wahyu mencari informasi terbuka, bukan memakai wewenang untuk menghentikan kendaraan tanpa dasar."
Laras mengangguk. Bram mungkin belum percaya mimpinya sebagai ramalan, tetapi ia bersedia memeriksa risiko nyata. Itu lebih dari yang ia harapkan.
Bram menyentuh dahi Laras, memeriksa suhu. "Kamu mungkin kelelahan setelah dua hari tanpa istirahat."
"Mungkin." Laras tidak bisa mengungkapkan seluruh kebenaran. "Tapi saya ingin Bunda mengubah jadwal."
"Kita bicara besok pagi."
Bram menunggu sampai napasnya lebih teratur. Ia tidak menertawakan ketakutannya, hanya meminta Laras berbaring dan membiarkan lampu kecil tetap menyala.
Laras tidak tidur lagi.
Ia mengingat tiket di tangan Ratih, tikungan gunung, hujan, dan bus berwarna biru tua. Ratih pernah berkata harus singgah di Jakarta untuk rapat redaksi, sehingga tidak mungkin dibujuk membatalkan seluruh perjalanan tanpa alasan kuat.
Menjelang fajar, Laras akhirnya menemukan satu alasan yang mungkin diterima.
Ia membutuhkan buku referensi veteriner dan berkas Puskeswan yang hanya bisa dibantu Ratih melalui kenalannya di Jakarta. Jika dibuat mendesak, Ratih mungkin bersedia berangkat lebih awal dengan travel berbeda dan menghindari bus dalam mimpinya.
Namun menyelamatkan Ratih saja belum cukup. Dalam mimpi, bus itu penuh penumpang. Jika ia hanya mengubah tiket mertuanya, puluhan orang lain tetap menuju jalan yang ambles.
Laras menyusun dua langkah. Pertama, pindahkan Ratih ke travel pagi yang melewati jalur sebelum waktu rawan atau menggunakan rute alternatif. Kedua, laporkan kerusakan jalan kepada polisi dan Dinas PU dengan petunjuk yang cukup konkret agar mereka mau memeriksa tanpa harus mendengar cerita tentang ramalan.
Risikonya besar. Laporan palsu bisa membuatnya dimintai pertanggungjawaban. Tetapi diam dan menunggu kecelakaan jauh lebih buruk.
Laras menggenggam tepi selimut sambil memandang jendela yang mulai memucat.
Waktunya tidak sampai tiga hari.
Ia harus mendahului bus itu.