Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Malam merambat makin dingin. Angin gunung berhembus kencang menerpa dinding-dinding kayu ndalem barat, menimbulkan derit halus yang terdengar bagai bisikan duka. Di ruang tamu yang sepi, Reyhan duduk seorang diri di sudut sofa. Jubah kokonya yang biasanya rapi kini tampak kusut di bagian lengan. Wajahnya yang biasa tampan dan berwibawa tampak pucat, dengan lingkaran hitam pekat menyelimuti matanya.

Kecaman Rani dua hari lalu masih terus berngiang di kepalanya bagai dentang lonceng yang tak henti-henti.

Pernikahan siri ini tidak akan pernah ada kalau Gus tidak menjabat tangan bapak saya dan mengucapkan ijab kabul!

Kata-kata itu menghantam egonya hingga hancur berkeping-keping. Reyhan memejamkan mata rapat-rapat, meremas rambutnya sendiri. Ia sadar, kejatuhannya bukan semata-mata karena manipulasi Rani, melainkan karena kesombongan jiwanya sendiri yang menganggap perjodohan dengan Naya adalah sebuah kekangan, sementara penolakan Naya atas keputusannya adalah bentuk ketidakpatuhan.

Pintu depan ndalem barat terbuka pelan. Suara derak koper beroda yang diseret di atas lantai keramik memecah hening.

Reyhan mendongak. Di ambang pintu, berdiri Rani. Perempuan itu mengenakan gamis hitam sederhana dengan jilbab lebar yang menutupi dadanya. Wajahnya polos tanpa polesan, namun tidak ada lagi pendar kehangatan atau tatapan memuja saat matanya beradu dengan mata Reyhan. Di sampingnya, berdiri dua koper besar yang berisi seluruh barang-barangnya.

"Rani?" panggil Reyhan, suaranya serak dan parau. "Kamu mau ke mana?"

Rani menatap pria yang kini menjadi suaminya secara siri itu dengan tatapan datar—sebuah tatapan yang amat dingin, sangat mirip dengan tatapan Naya sewaktu meninggalkan tempat ini.

"Saya mau pulang ke rumah orang tua saya di Kediri, Gus," jawab Rani pendek.

Reyhan berdiri perlahan, langkah kakinya agak goyah. "Pulang? Tanpa izin dariku? Kita baru saja pindah ke ndalem barat ini, Rani. Apa kata orang-orang pondok kalau kamu pergi begitu saja?"

Rani menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan celaan. "Orang-orang pondok sudah tahu semuanya, Gus. Berita tentang keberadaan saya di ndalem barat dan perceraian Gus dengan Ning Naya sudah menyebar ke seluruh komplek. Untuk apa saya bertahan di sini kalau setiap pasang mata menatap saya seperti penjahat, sementara suami saya sendiri menatap saya seperti sebuah musibah?"

"Rani, aku tidak—"

"Gus tidak perlu berbohong lagi," pangkas Rani tegas. Suaranya tidak lagi menggunakan nada merajuk yang biasa dipakainya. "Gus membenci saya karena kehadiran saya membuat Ning Naya pergi. Tapi Gus lupa, Gus sendiri yang membukakan pintu itu untuk saya. Sekarang, setelah Ning Naya benar-benar hilang dari hidup Gus, Gus baru sadar kalau wanita yang Gus butuhkan itu Ning Naya, bukan saya."

Reyhan membisu. Lidahnya bagai terkelu oleh kebenaran ucapan perempuan di hadapannya.

"Saya lelah, Gus," lanjut Rani seraya menggenggam erat gagang kopernya. "Saya mencintai posisi dan perhatian yang Gus berikan dulu. Tapi kalau harga yang harus saya bayar adalah menjadi tempat pelampiasan rasa bersalah Gus Reyhan sepanjang hidup... saya tidak sanggup. Saya memilih mundur sebelum jiwa saya makin hancur di rumah ini."

Tanpa menunggu persetujuan dari Reyhan, Rani membalikkan badan, menyeret kopernya melintasi teras ndalem barat yang basah oleh tampias embun malam.

"Rani!" panggil Reyhan, mencoba melangkah mengejar ke teras.

Namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Di pelataran ndalem barat yang remang, berdiri sosok Kyai Ahmad dengan jubah putih tebal dan tongkat kayunya. Pria sepuh itu menatap putranya dari kejauhan, lalu mengibaskan tangan pelan ke arah Rani—memberikan isyarat dan izin bagi santriwati itu untuk pergi meninggalkan komplek pesantren.

Rani menunduk takzim kepada Kyai Ahmad dari kejauhan, lalu melangkah cepat menembus kegelapan malam menuju gerbang luar Al-Anwar.

Sepeninggal Rani, komplek ndalem barat mendadak berasa bagai kuburan yang amat luas dan dingin.

Reyhan menatap punggung ayahnya yang berdiri kaku di pelataran. Dengan langkah terseret, pria muda itu mendekati sang ayah.

"Abi..."

Kyai Ahmad memutar tubuhnya perlahan. Wajah pria sepuh yang sangat dihormati para santri itu nampak amat tua dan lelah. Tatapan matanya pada sang putra tunggal tidak lagi memancarkan kemurkaan, melainkan kekecewaan yang sangat dalam—jenis kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan daripada makian.

"Rani sudah pergi, Reyhan," ujar Kyai Ahmad dengan suara rendah yang gemetar. "Wanita yang kamu bela di belakang kami, wanita yang kamu jadikan alasan untuk menyia-siakan menantu terbaik Abi... kini meninggalkanmu seorang diri di rumah kosong ini."

"Abi... Reyhan minta maaf, Abi..." bisik Reyhan, air mata penyesalan mulai merebak di pelupuk matanya.

Kyai Ahmad menggelengkan kepala perlahan. "Jangan minta maaf pada Abi. Minta maaflah pada dirimu sendiri, karena kamu sudah meruntuhkan kehormatanmu sebagai seorang Gus dan ulama. Dan minta maaflah pada Allah atas luka murni yang kamu goreskan di hati Naya."

Kyai Ahmad berbalik melangkah pergi meninggalkan ndalem barat, menuju ndalem utama tanpa memalingkan wajah lagi.

Reyhan ditinggalkan seorang diri di tengah kegelapan pelataran yang mendingin. Angin malam Pacet bertiup kencang, menampar wajahnya yang kaku. Pria karismatik yang dulu dipuja ratusan santri itu kini berlutut di atas kerikil basah, mencengkeram dadanya yang terasa diremuk oleh kehampaan mutlak.

Ia telah kehilangan segalanya. Naya telah pergi, Rani telah melangkah keluar, dan kehormatan keluarganya telah cacat. Dan yang paling mengerikan... ia baru menyadari bahwa hatinya telah tertambat sepenuhnya pada Adskhania Nayara Malik—tepat di saat wanita itu sudah terbang jauh di luar jangkauannya.

**

Satu bulan kemudian…

Di lorong gedung Pengadilan Agama Mojokerto yang lengang, langkah kaki Naya terdengar begitu teratur dan mantap. Gemeretak hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan ritme yang tenang—sebuah ketukan yang mencerminkan ketetapan hati tanpa keraguan sedikit pun.

Naya mengenakan tunik bernuansa navy dengan pashmina krem yang tersemat rapi. Wajahnya polos tanpa riasan berlebih, tetapi binar matanya amat jernih. Di sampingnya, Arsyaka melangkah tegap dengan setelan formal, pasang badan sebagai seorang kakak sekaligus perisai utama yang memastikan adiknya tak tersentuh oleh tekanan dari pihak mana pun.

Di tangannya, Naya menggenggam erat stopmap tebal. Di dalamnya tersimpan surat panggilan sidang serta salinan resmi putusan cerai yang baru saja disahkan oleh majelis hakim.

"Kamu benar-benar merasa lega, Nay?" tanya Arsyaka pelan, melirik adiknya saat mereka berjalan menuju pelataran luar.

Naya menghentikan langkahnya sebentar di ambang pintu kaca gedung pengadilan. Perempuan dua puluh lima tahun itu menghirup udara segar Mojokerto dalam-dalam, mengisinya ke seluruh rongga dada, lalu mengembuskannya perlahan. Sebuah senyuman tipis—sangat tulus dan tanpa beban—terbit di bibirnya.

"Sangat lega, Mas," sahut Naya halus. "Rasanya seperti beban seberat gunung yang setahun ini menghimpit dada Naya mendadak terangkat. Tidak ada rasa benci, tidak ada penyesalan. Cuma rasa syukur karena Allah menyelesaikannya dengan cara yang sebersih ini."

Arsyaka menepuk bahu adiknya penuh kebanggaan. "Satu tahap berat sudah selesai. Sekarang, statusmu resmi kembali menjadi Adskhania Nayara Malik, bukan lagi Ning dari Al-Anwar. Fokusmu cuma satu mulai hari ini: impianmu."

"Inggih, Mas. Terima kasih sudah selalu ada di samping Naya," bisik Naya lembut.

Ia menatap amplop cokelat di tangannya sekali lagi sebelum memasukkannya ke dalam tas kulit. Salinan hukum itu adalah bukti kebebasannya dari belenggu pernikahan satu tahun yang hampa. Tanpa pernah disentuh, tanpa pernah dihargai sebagai seorang istri, Naya melangkah keluar dari gerbang pengadilan tanpa setetes pun air mata tersisa.

Sementara itu, di sudut pelataran parkir pengadilan yang agak tersembunyi di bawah rindangnya pohon sonokeling, sebuah sedan hitam terparkir dengan mesin menyala pelan.

Di balik kemudi, Reyhan duduk membisu. Jubah kokonya yang biasa bersih tanpa cela kini tampak sedikit kusut di bagian lengan. Wajah tampannya tirus, lingkaran hitam tebal menggantung di bawah matanya, memancarkan rasa lelah yang luar biasa—lelah jiwa yang tak tertahankan.

Melalui kaca mobil yang redup, matanya tak berkedip menatap sosok Naya yang berdiri anggun di kejauhan bersama Arsyaka. Reyhan melihat jelas senyuman yang terukir di wajah mantan istrinya itu. Senyuman yang tidak pernah lagi ia lihat selama tiga ratus enam puluh lima hari mereka berbagi atap di Al-Anwar.

Dulu, Reyhan mengira senyum Naya meredup karena kepribadian perempuan itu yang dingin. Namun hari ini, di depan gedung pengadilan agama, ia baru menyadari kebenaran yang menampar egonya: senyum Naya mati karena dirinya. Dialah racun yang meredupkan pendar cahaya wanita berhati mulia itu.

***

1
Tining Revi
tidak akan ada kebahagiaan yg di awali dari menyakiti orang lain.
Lala lala
iya raihan yg salah dr awal..
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
Lala lala
kebanyakan novel gitu ya..disuruh jaga malah dikawini .. heran deh ahh.
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
Lala lala
gus betingkah tu emg bnyk sih
Lala lala
makanya saat mau jodohin anak tuh ditanya mau gak dijodohin sama dia..ada calon sendiri gak..anaknya diem berarti ga enakan..dlm klg jg hrs keterbukaan. demokrasi..drpd anak org disakiti kyk cerita2 yg sdh bnyk
falea sezi
enak ya si pelakor
Agnezz
ah itu karena diminta Kyai untuk menjemput Rani, awalnya bukan kemauan Gus Rayhan.
Mundri Astuti
yah resikonya mang begitu kan Rani...jangan pura" polos dah...

sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah
Nurminah
miris emang banyak wanita zaman now dengan kepolosan dan kelembutan tapi sanggup merusak rumah tangga orang lain terkadang banyak kepingin hidup enak akhirnya membuang harga diri marwah sebagai wanita mulia jadi pelakor bergaya syar'i yg hubungan katanya karena Allah rapi diawali dengan zina dan perselingkuhan
Nurminah: setuju pelakor mana ada malu miris memang itulah ketika iman mereka semakin tinggi setan menyenggol ego kesombongan untuk menjerumuskan nya nauzubillah
total 2 replies
Mamah'e Andhika Rizky
💝💝💝lanjut kak semangat 💪💪💪💪
Uyen Uyen
nikah siri tanpa izin dari istri sah itu termasuk dalam perzinahan lho, katanya lulusan Mesir kok tak tahu hukum sih
sunaryati jarum
Sungguh lapang dada dan bijaksana Pak Kyai , sesuai dirinya yang sebagian panutan yang harus bisa memberikan contoh yang benar dan salah.Sekarang Gus khianat Reyhan belajarlah jadi orang yang bertanggung jawab seperti yang kau ucapkan pada Naya.
Tini Uje
mamposss..nikmati tuh wanita polosss 😄
Agnezz
mungkin jangan Rayhan jangan terlalu didikte Kyai. Berikan dia pilihan dan konsekwensi tanggung jawabnya. Kalo gak gitu gak dewasa2 dia.
Anonim
Heeeeremmm
Mundri Astuti
nurun siapa tu si Rayhan, Abi n uminya mah bijak, anaknya...
Nurminah
bijaksana pak kyai walaupun nyatanya wanita itu bukan harapan nya tapi dia tetap berusaha menerima perbuatan anak nya selamat menikmati penyesalan mu gus 🤭🤭🤭
Agnezz: si Gus biar belajar menjadi dewasa
total 3 replies
dyah EkaPratiwi
selamat menikmati kebodohanmu Reyhan
Mukeseh
rasakan🤣🤣🤣🤣
Sri Murtini
Ingat Reyhan keputusan bodohmu harus dipertaggung jawabkan🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!