Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kaca
Aiden baru diizinkan meninggalkan kamar menjelang malam. Seorang petugas klinik menjemputnya dan membawa ia serta Robin melewati dua koridor tanpa menjelaskan apa pun mengenai keadaan Marcus.
Klinik Empire menempati beberapa ruangan yang saling terhubung pada lantai enam. Bau alkohol, kain rebus, obat, dan keringat orang sakit memenuhi udaranya sampai terasa pahit di dalam hidung.
Beberapa ranjang berdiri di ruang utama dengan tirai kusam sebagai pemisah. Erangan rendah terdengar dari salah satunya, sedangkan suara alat logam yang diletakkan pada nampan datang dari balik tirai lain.
Aiden mencari wajah ayahnya di antara seluruh ranjang tersebut. Petugas klinik justru membawanya melewati ruang utama menuju koridor sempit di bagian belakang.
“Kau hanya boleh melihat dari luar.”
Pria itu menunjuk sebuah ruangan dengan dinding kaca pada satu sisinya. Setelah memastikan Aiden tidak mencoba membuka pintunya, ia kembali ke ruang utama dan meninggalkan kedua anak tersebut.
Aiden berhenti beberapa langkah dari kaca. Ia telah menunggu berjam-jam untuk melihat Marcus, tetapi tubuhnya mendadak terasa terlalu berat untuk bergerak lebih dekat.
Robin berjalan bersamanya tanpa mendesak. Gadis itu menempel di sisi kanan Aiden, cukup dekat hingga lengan mereka terus bersentuhan.
Marcus terbaring di dalam ruangan. Ia tidak bergerak ketika Aiden dan Robin mendekati kaca.
Tubuh besarnya membuat ranjang klinik terlihat terlalu sempit. Kedua kakinya hampir mencapai ujung kasur, sementara lengannya yang terluka diletakkan lurus pada alas terpisah di samping tubuh.
Perban tebal membungkus lengan kiri dari pergelangan sampai mendekati siku. Balutan lain menutup bahu dan bagian dekat leher tempat Dire Mole pertama menggigitnya.
Kemejanya telah dilepas dan digantikan kain tipis yang hanya menutupi dada sampai pinggang. Kulit yang biasanya memerah oleh matahari kini terlihat pucat, hampir menyerupai warna kain di bawah kepalanya.
Keringat membanjiri wajah, leher, dan dadanya. Rambut cokelat pendeknya menempel pada dahi, sedangkan tetesan air terus muncul pada pelipis sebelum mengalir menuju telinga.
Sehelai kain basah diletakkan di atas keningnya. Di samping ranjang, sebuah botol kaca tergantung pada tiang dengan selang bening yang berakhir pada tangan kanan Marcus.
Aiden tidak mengetahui cairan apa yang berada di dalam botol tersebut. Ia hanya melihat tetesannya turun perlahan, satu demi satu, tanpa membuat warna kulit ayahnya membaik.
“Dad...”
Kaca menahan suara Aiden. Marcus tetap tidur dengan mulut sedikit terbuka dan napas yang membuat kain tipis pada dadanya naik turun secara tidak teratur.
Aiden akhirnya mendekat sampai ujung sepatunya menyentuh bagian bawah dinding. Telapak tangannya terangkat dan menempel pada kaca tepat di depan posisi ranjang Marcus.
Permukaannya dingin dan terlalu keras. Ia tidak dapat merasakan panas kulit ayahnya atau mengetahui apakah napas tersebut masih sekuat beberapa menit sebelumnya.
Ruangan Marcus lebih sunyi daripada ruang utama klinik. Hanya ada bunyi tetesan cairan, desis kipas kecil pada sudut langit-langit, dan gesekan seprai setiap kali tubuhnya menggigil.
Sebuah nampan berisi gunting, penjepit, serta gulungan perban berada dekat pintu. Noda merah kecokelatan masih terlihat pada bagian dasar mangkuk logam di sampingnya meskipun seseorang telah membilasnya dengan air.
Robin berdiri di sampingnya tanpa berbicara. Setelah beberapa saat, jemarinya menyelip ke tangan Aiden yang menggantung di sisi tubuh dan menggenggamnya erat.
Aiden membiarkan tangannya digenggam. Matanya tidak pernah beralih dari wajah Marcus, bahkan ketika pandangannya mulai buram oleh air yang memenuhi kelopak.
Ia teringat telapak tangan ayahnya yang selalu terasa kasar ketika menyentuh kepalanya. Tangan yang sama kini terbaring diam di atas seprai, tertusuk jarum dan dipenuhi noda kekuningan dari obat.
Aiden ingin masuk dan duduk di sampingnya. Ia ingin memastikan Marcus mendengar bahwa dirinya telah memanggil bantuan seperti yang diperintahkan dan tidak meninggalkannya lebih lama daripada yang diperlukan.
Namun, gagang pintu menuju ruangan dibungkus kain merah sebagai tanda larangan. Aiden bahkan tidak berani menyentuhnya setelah mendengar darah Dire Mole masih mungkin tertinggal di dalam luka Marcus.
Suara orang berbicara terdengar dari ujung koridor. Percakapan tersebut begitu pelan hingga awalnya hanya menyerupai gumaman yang bercampur dengan bunyi aktivitas di ruang utama.
Aiden mengenali suara Dmitri terlebih dahulu. Ia menoleh dari kaca dan melihat pamannya berdiri bersama seorang perempuan tua tidak jauh dari pintu klinik.
Perempuan itu adalah Dokter Ivana. Ia tampak telah berusia sekitar enam puluh tahun dan tubuhnya kecil, hanya sedikit lebih tinggi daripada setengah tubuh Dmitri ketika mereka berdiri berhadapan.
Rambut putih bercampur abu-abunya berantakan ke segala arah seperti baru bangun tidur. Sebagian terselip di belakang telinga, sedangkan beberapa helai lain menutupi salah satu lensa kacamatanya.
Kacamata tersebut terlalu besar untuk wajahnya. Sudut lensa sebelah kiri telah retak dan membentuk garis tipis yang melewati bagian depan matanya setiap kali ia mengangkat kepala.
Dmitri harus menunduk agar dapat melihat wajahnya. Ivana tidak tampak terganggu oleh perbedaan ukuran mereka dan justru berdiri dengan dagu terangkat, satu tangan masih memegang kain bernoda obat.
Robin menarik tangan Aiden sedikit. Ia mungkin mengajaknya kembali melihat Marcus, tetapi beberapa kata dari arah Dmitri terdengar cukup jelas untuk membuat Aiden tetap memperhatikan.
“Radiasi yang masuk ke tubuhnya sangat besar.”
Ivana berbicara hampir dalam bisikan. Koridor yang sempit membawa suaranya sepanjang dinding hingga mencapai tempat Aiden dan Robin berdiri.
Dmitri mengusap janggut tipisnya. Tatapannya sempat beralih menuju ruangan Marcus, tetapi ia belum melihat kedua anak di depan kaca.
“Tidak bisakah kau mengatasinya?”
Ivana menggeleng pelan. Kain di tangannya diremas menjadi gumpalan kecil.
“Darah mereka sudah bercampur. Aku membersihkan lukanya, membuang bagian yang dapat dibuang, dan mengeluarkan sebanyak mungkin darah di sekitarnya, tetapi sebagian telah masuk terlalu jauh.”
Aiden menatap perban pada lengan Marcus. Ia membayangkan darah berkilau hijau bergerak di bawah kulit ayahnya, mengikuti urat menuju dada dan kepalanya.
Dmitri merendahkan suaranya lebih jauh. Aiden harus menahan napas agar dapat menangkap pertanyaan berikutnya.
“Apakah dia akan mati?”
Jemari Robin menegang di antara jari Aiden. Aiden sendiri tidak bergerak, meskipun lututnya mendadak kehilangan sebagian tenaga.
“Tidak dalam waktu dekat.”
Jawaban itu seharusnya membuat Aiden lega. Namun, Dmitri tetap menunduk kepada Ivana dan garis pada dahinya justru semakin dalam.
“Jadi dia tetap akan mati karena ini?”
Ivana mengembuskan napas panjang. Ia membuka kain yang diremasnya, memeriksa noda di permukaan, kemudian melipatnya kembali.
“Tidak sesederhana itu.”
Dmitri melangkah lebih dekat. Bayangannya menutupi hampir seluruh tubuh kecil Ivana pada lantai koridor.
“Apa maksudmu, perempuan? Berhenti berbelit-belit dan katakan apa yang akan terjadi kepadanya.”
Ivana mengangkat wajah sampai garis retak pada kacamatanya menangkap cahaya lampu. Ia tidak mundur sedikit pun ketika dada Dmitri berada hanya satu lengan di hadapannya.
“Jaga mulutmu, Nak. Kau memang tetua di tempat ini, tetapi aku sudah menjadi dokter sebelum kau mampu mengucapkan kata pertamamu.”
Dmitri mengatupkan rahang. Kedua tangannya menegang di sisi tubuh, tetapi ia tidak lagi mendesak dengan suara keras.
Ivana membiarkan kesunyian bertahan beberapa saat. Ia baru melanjutkan setelah Dmitri mundur setengah langkah dan memberinya ruang.
“Kulit di sekitar lukanya sudah mulai melepuh. Belum terlihat parah karena perubahan itu baru dimulai.”
Aiden memandang bahu Marcus yang tertutup perban. Dari tempatnya berdiri, ia tidak dapat melihat kulit melepuh yang sedang dibicarakan Ivana.
“Apa pun yang ada di dalam darah Dire Mole itu tidak bekerja dengan cepat. Perubahannya dapat memerlukan waktu bertahun-tahun.”
Dmitri memicingkan mata. Suaranya turun kembali ketika ia bertanya.
“Perubahan seperti apa?”
Ivana tidak segera menjawab. Tatapannya bergerak menuju pintu ruangan Marcus, lalu berhenti pada botol yang tergantung di samping ranjang.
“Kulitnya akan semakin rusak. Tubuhnya mungkin bertahan, bahkan ketika seharusnya tidak lagi mampu bertahan, tetapi pikirannya dapat berubah sedikit demi sedikit.”
Aiden tidak memahami bagaimana tubuh dapat terus hidup ketika seharusnya sudah mati. Ia juga tidak ingin mengetahui bagian berikutnya, tetapi kakinya tidak mampu membawanya menjauh.
“Ingatan yang baru biasanya hilang lebih dahulu. Setelah itu, kenangan lama ikut pecah sampai yang tersisa hanya kebutuhan untuk makan, bergerak, dan tetap hidup.”
Robin merapat kepada Aiden. Bahunya menekan lengan Aiden, sementara genggamannya menjadi semakin kuat.
Aiden kembali memandang Marcus melalui kaca. Ayahnya masih bernapas, tetapi wajah yang dikenalnya terlihat begitu pucat hingga ucapan Ivana mulai terasa mungkin.
Ia mencoba membayangkan Marcus bangun pada suatu pagi dan tidak mengingat nama putranya. Bayangan itu terasa lebih menakutkan daripada melihat luka, darah, atau gigi Dire Mole.
Marcus yang mengajarinya membaca selalu menepuk halaman menggunakan satu jari ketika Aiden salah mengeja. Ia juga mengetahui makanan apa yang tidak disukai Aiden, cara menenangkan putranya saat demam, serta tempat Aiden biasa menyembunyikan barang yang tidak ingin disita.
Jika seluruh ingatan itu hilang, tubuh di balik kaca mungkin tetap memiliki wajah dan suara ayahnya tanpa mengenali satu pun kehidupan yang mereka lalui bersama. Aiden menekan telapak tangannya lebih kuat sampai kulitnya memutih pada permukaan kaca.
“Dia akan menjadi Remnant?”
Suara Dmitri terdengar berbeda ketika menyebut nama tersebut. Tidak ada lagi kemarahan di dalamnya, hanya kehati-hatian yang membuat Aiden merasakan dingin pada punggungnya.
Ivana mengangguk satu kali. Gerakannya pendek dan tidak memberikan ruang bagi Dmitri untuk salah memahami.
“Tanda-tandanya mengarah ke sana. Aku pernah menangani orang dengan paparan serupa sebelum datang ke Empire.”
Dmitri menoleh penuh kepada ruangan Marcus. Untuk pertama kalinya, Aiden melihat pamannya memandang kakak iparnya tanpa kemarahan yang tersisa dari pertemuan mereka di gerbang.
“Berapa lama sampai dia kehilangan dirinya?”
“Aku tidak dapat memberimu angka. Bisa bertahun-tahun, bisa lebih lama, dan mungkin tidak terjadi dengan cara yang sama seperti kasus sebelumnya.”
Ivana memperbaiki posisi kacamatanya menggunakan satu jari. Retakan pada lensa membuat mata kirinya terlihat terbagi dua dari tempat Aiden berdiri.
“Tidak semua Remnant kehilangan ingatan mereka. Beberapa masih mengingat nama, keluarga, dan kehidupan mereka sebaik saat masih manusia.”
Dmitri kembali memandang Ivana. Alisnya turun dan bibirnya tertarik membentuk garis keras.
“Mereka dapat berbicara, berpikir, dan hidup bersama orang lain. Tubuhnya berubah, tetapi orang yang berada di dalamnya tetap ada.”
Ivana berhenti untuk menarik napas. Jarinya mengetuk bingkai kacamata sebelum melanjutkan.
“Mereka juga dapat hidup sangat lama. Aku pernah bertemu seorang pria yang terkena paparan puluhan tahun sebelumnya dan masih mengingat setiap anggota keluarganya.”
Secercah harapan muncul dalam dada Aiden, begitu kecil hingga ia takut bergerak dan memadamkannya. Jika Marcus masih dapat mengingat, mungkin perubahan pada kulit atau usia panjang tidak akan menghilangkan ayah yang dikenalnya.
Dmitri tidak terlihat menerima kemungkinan itu dengan cara yang sama. Bahunya kembali menegang dan suaranya menjadi dingin.
“Aku tidak mau ada Remnant di komunitas ini.”
Harapan yang baru muncul langsung mengecil. Aiden memandang pamannya melalui koridor dan merasa kaca di hadapannya bukan lagi satu-satunya pemisah antara dirinya dan Marcus.
Robin mengusap punggung tangan Aiden menggunakan ibu jarinya. Aiden tidak berani membalas genggamannya karena seluruh jemarinya telah kaku dan dingin.
Empire baru terasa seperti tempat aman karena Marcus berada di sana bersamanya. Jika Dmitri mengusir ayahnya saat perubahan itu datang, Aiden sudah mengetahui siapa yang akan diikutinya meninggalkan gedung tersebut.
Ivana menurunkan kain dari tangannya. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan terhadap keputusan yang mungkin dibuat Dmitri.
“Itu urusanmu nanti. Seperti kataku, perubahan tersebut memerlukan waktu bertahun-tahun dan kita belum mengetahui apakah pikirannya akan ikut rusak.”
“Warga akan panik kalau mereka mengetahuinya.”
“Kalau begitu jangan berdiri di koridor klinikku dan membicarakannya dengan suara yang dapat didengar separuh lantai.”
Dmitri menutup mulut. Kepalanya bergerak mengikuti arah pandangan Ivana menuju dinding kaca.
Mata Ivana menemukan Aiden terlebih dahulu. Meskipun jarak memisahkan mereka, Aiden dapat melihat kedua matanya berhenti tepat pada wajahnya di balik lensa yang retak.
Dmitri ikut berbalik. Tatapan pamannya bertemu dengan tatapan Aiden, lalu turun kepada tangan Robin yang masih menggenggamnya.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat. Kekerasan pada wajah Dmitri perlahan mengendur, sedangkan tatapannya bergerak dari Aiden menuju koridor kosong di antara mereka.
Aiden ingin bertanya apakah Dmitri akan mengusir Marcus ketika tubuhnya mulai berubah. Pertanyaan itu berhenti di tenggorokan karena lidahnya terasa tebal dan napasnya tidak mau keluar dengan benar.
Ivana menyentuh lengan Dmitri dan menggerakkan kepala menuju ruang utama klinik. Perempuan tua itu kemudian berjalan lebih dahulu tanpa mencoba menghampiri Aiden.
Dmitri tetap berdiri sesaat. Ia memandang Marcus melalui kaca, lalu kembali kepada Aiden sebelum akhirnya mengikuti Ivana.
Langkah mereka menjauh di sepanjang koridor. Sosok Dmitri dan tubuh kecil Ivana menghilang melewati pintu ruang utama, meninggalkan Aiden serta Robin di depan ruangan Marcus.
Aiden kembali menempelkan telapak tangannya pada kaca. Ayahnya tetap tertidur di balik permukaan dingin tersebut, pucat dan basah oleh keringat, tanpa mengetahui bahwa orang-orang di luar telah mulai membicarakan seperti apa dirinya bertahun-tahun mendatang.
Robin tidak melepaskan tangan Aiden. Ia berdiri di sana bersamanya, sementara tetesan cairan dari botol kaca terus turun dan dada Marcus terus bergerak pelan di bawah kain tipis.