"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OBROLAN DITENGAH BATAS YANG KABUR
Satu menit, dua menit berlalu tanpa pergerakan di layar ponsel Isma. Tanda centang dua abu-abu di sudut pesan singkatnya tetap tidak berubah warna menjadi biru, mengisyaratkan bahwa pesan perhatian itu bahkan belum sempat dibaca oleh Yoga.
Isma menatap layar ponselnya sejenak, lalu meletakkannya kembali ke atas meja kayu dengan gerakan pelan. Tidak ada rasa cemas berlebih, tidak ada pula kemarahan yang membakar. Isma sama sekali tidak mengambil pusing. Dalam pikirannya, ia berspekulasi wajar bahwa suaminya mungkin sedang tenggelam dalam tumpukan tugas kantor, berada di tengah rapat penting, atau sibuk mengurusi mobilnya yang sempat bermasalah. Bagi Isma, kewajibannya sebagai istri untuk mengingatkan dan memberikan perhatian sudah ditunaikan dengan tulus, apa pun respons atau kesibukan yang sedang menyita waktu suaminya saat ini.
Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk menyegarkan pikiran, lalu kembali mengarahkan fokus sepenuhnya ke layar laptop. Halaman draf novel barunya sudah melambai-lambai menagih kepiawaian jemarinya. Di saat emosi dan situasi rumah tangga sedang tidak menentu, dunia literasi yang ia ciptakan sendiri adalah tempat perlindungan paling aman sekaligus ladang kekuatan baginya.
Sementara itu di ruang istirahat kantor, Yoga sebenarnya sempat melirik ponselnya yang bergetar. Layar pop-up menampilkan potongan pesan dari Isma. Jemarinya sempat bergerak hendak membuka dan membalas pesan itu, namun panggilan suara Gladis yang mengajak kembali ke ruang kerja membuatnya mengurungkan niat. Yoga meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana tanpa sempat membalas, membiarkan pesan penuh perhatian dari istrinya menggantung begitu saja di alam maya.
Isma terus mengetik dengan tenang, tak sedikit pun menyadari bahwa centang dua abu-abu yang diabaikannya itu menyimpan benih-benih jarak yang perlahan mulai membentang di antara mereka.
Dunia perkantoran kerap menjadi ruang temaram yang penuh dengan dinamika rumit. Di antara kubikel-kubikel tinggi dan tumpukan berkas yang seolah tak pernah usai, permasalahan pekerjaan kerap kali berkelindan erat dengan urusan pribadi. Bukan rahasia lagi jika di lingkungan seperti ini, banyak orang memilih bersikap acuh tak acuh. Mereka cenderung bungkam dan saling diam saat menyaksikan rekan kerja atau pasangan orang lain menjalin hubungan terlarang di depan mata. Budaya tak mau ikut campur itu seolah memberi ruang aman bagi benih-benih perselingkuhan untuk tumbuh tanpa rasa takut akan penghakiman.
Atmosfer itulah yang membuat Yoga merasa semakin leluasa. Karena tidak ada teguran atau pandangan aneh dari rekan-rekan di sekitarnya, rasa canggung di antara dirinya dan Gladis perlahan-lahan menguap. Sepanjang sisa jam kerja sore itu, Yoga menjadi semakin asik menikmati obrolannya dengan Gladis. Dari yang semula hanya membahas urusan pekerjaan dan evakuasi mobil, percakapan mereka bergulir mulus menyentuh topik-topik pribadi yang lebih dalam.
"Mas Yoga itu tipe pria yang terlalu mengalah, tahu tidak?" ujar Gladis santai sambil menyenderkan tubuhnya di balik kubikel Yoga saat jam pulang kantor makin dekat. Matanya menatap Yoga dengan binar penuh simpati. " Kadang-kadang, pria juga butuh dimengerti dan diapresiasi, bukan cuma disuruh mengalah terus."
Kalimat Gladis rasanya bagaikan usapan lembut di atas luka batin Yoga yang sedang merintih. Di rumah, ia selalu merasa terjepit di antara tuntutan ibunya dan ketegasan Isma yang kini mulai menunjukkan perlawanan. Namun di dekat Gladis, Yoga merasa didengar, dihargai, dan dianggap sebagai pria dewasa yang karismatik.
Yoga terkekeh pelan, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya. "Yah, mau bagaimana lagi, Gladis. Nama juga hidup berumah tangga, pasti ada saja kerikilnya."
"Tapi kerikilnya tidak boleh bikin Mas sakit sendirian," balas Gladis cepat dengan suara memelan, memberikan tatapan yang begitu hangat. "Sore ini pulang naik apa, Mas? Mobil kan masih di bengkel. Sekalian aku antarkan pulang saja, ya?"
Yoga sempat teringat pada Isma dan pesan singkat yang belum sempat ia balas sejak siang tadi. Namun, mengingat kenyamanan yang ia dapatkan dari Gladis serta kepraktisan tawaran tersebut, Yoga menganggukkan kepala seraya tersenyum. "Terima kasih banyak ya, Gladis. Kamu benar-benar sangat membantu aku hari ini."
Tanpa sadar, Yoga telah melangkah lebih jauh ke dalam lingkaran yang berbahaya, membiarkan perhatian asing mengisi kekosongan hatinya di saat sang istri menunggu di rumah dalam ketenangan yang rapuh.