Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Malam pertama
Tanpa memutuskan kehangatan kontak fisik mereka, Fadil menyusupkan tangan kirinya ke bawah lipatan lutut Aura dan tangan kanannya hingga menopang punggung wanita itu dengan kokoh.
Dengan satu gerakan bertenaga penuh, Fadil memangku tubuh Aura ke dalam pelukannya.
Aura kini melingkarkan kedua kakinya di pinggang Fadil dan menyembunyikan wajahnya yang panas di ceruk leher suaminya, sambil meremas rambut belakang Fadil saat pria itu membawanya melangkah keluar dari area dapur.
Dengan langkah kaki yang mantap dan napas yang memburu, Fadil membawa pangkuan tubuh Aura menuju kamar kerjanya, sebuah ruangan tertutup dengan sofa kulit tebal dan tempat tidur yang nyaman tempat ia biasa beristirahat.
Fadil mendorong pintu kayu kamar kerja dengan punggungnya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang oleh lampu meja.
Pria itu membawa Aura menuju sofa kulit yang empuk di sudut ruangan, kemudian menurunkan tubuh Aura dengan sangat perlahan ke atas sofa, lalu menyusul menindihnya dengan lembut, dan menyapukan kembali ciuman hangat yang membara di bibir, pipi, hingga leher istrinya.
Cup! Cup!
Kecupan-kecupan panas bertubi-tubi mendarat tanpa jeda di permukaan kulit halus Aura. Mulai dari garis rahang, ceruk leher, hingga meluncur turun menelusuri tulang selan*kanya.
Sentuhan bibir dan desakan hembusan napas hangat Fadil menyebarkan gelombang sengatan hebat yang melumpuhkan seluruh persendian wanita itu.
"Akhh... Mas, hentikan...."
Aura mendesah parau, sambil berusaha menahan dada bidang Fadil dengan kedua telapak tangannya yang gemetar.
Namun, bisikan penolakan itu sama sekali tidak berpengaruh. Fadil yang sudah dikuasai oleh gairah dan rasa kepemilikan yang membumbung tinggi tak sedikit pun berniat menyudahi gerakannya.
Pria itu malah menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Aura, dan menguncinya erat di atas permukaan sofa kulit yang empuk, kemudian meremasnya lembut seolah menegaskan bahwa malam ini tidak ada lagi batas di antara mereka.
Di dalam kamar kerja yang remang dan temaram oleh pendar lampu meja, mereka melakukan penyatuan malam pertama dengan hasrat yang menggelora, dilandasi oleh rasa mau sama mau, saling membutuhkan, serta kepasrahan yang dinikmati oleh keduanya hingga larut malam.
(Ekhem!! Maaf kalau bikin panas dingin, bacanya sambil minum jus aja yuk 😁🙏)
_____
Ketika semburat fajar perlahan menembus celah gorden jendela dan waktu subuh tiba, Aura terbangun dari lelapnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan luar biasa yang melingkupi tubuhnya.
Ia mendapati dirinya terkunci rapat dalam pelukan erat Fadil yang masih terlelap dengan sangat nyenyak. Lengan kokoh pria itu melingkar di pinggangnya, sementara hembusan napas berbariton rendah suaminya berhembus teratur menyapu puncak kepalanya.
Aura mematung beberapa saat. Pandangannya terpaku menatap paras tampan Fadil dari jarak beberapa sentimeter. Garis rahang yang biasanya selalu tertekuk tegas kini tampak begitu rileks dan damai.
Ada perasaan membuncah yang rumit di dalam hati Aura, sebuah campuran antara rasa bahagia, kehangatan, namun juga sekelibat keraguan yang mendadak kembali merayap di sudut benaknya.
"Apa yang sudah kita lakukan, Mas?" bisik hati Aura penuh kebimbangan.
Tak ingin tenggelam lebih jauh dalam kekacauan emosinya, Aura perlahan menggeser lengan Fadil dari pinggangnya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan pria itu.
Setelah berhasil meloloskan diri, ia beranjak berdiri dengan tubuh yang terasa agak sengal. Dengan cepat, Aura mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di atas karpet.
Ia mengenakan bajunya kembali, namun gerakannya mendadak tertegun saat mencari salah satu pakaian dalam bagian atasnya yang tak kunjung ketemu di lantai.
Aura menyapu pandangannya ke setiap sudut karpet, bawah sofa, hingga tepi meja kerja, namun benda itu tetap tidak terlihat.
"Di mana ya? Apa mungkin...?" gumam Aura sambil menelan salivanya. Matanya perlahan melirik ke arah Fadil yang masih tertidur di atas tempat tidur yang tertutup selimut tebal hingga sebatas dada.
Seketika bayangan ingatan semalam berputar di benaknya, saat Fadil dengan ketidaksabarannya melepas pakaian itu dan melemparkannya ke arah tempat tidur.
"Tidak!" Aura menggelengkan kepalanya cepat seraya menepuk pipinya sendiri yang mendadak terasa panas dan memerah. "Kalaupun iya berada di bawah selimut itu, aku tidak mungkin mengambilnya sekarang!"
Tepat saat Aura sedang dirayapi rasa canggung yang membakar, tubuh Fadil di bawah selimut tampak sedikit bergerak dan bergeser.
Panik bahwa suaminya akan terbangun dan mendapati dirinya dalam situasi memalukan ini, Aura langsung mengurungkan niat untuk mencari barangnya yang hilang.
Tanpa menunggu Fadil membuka mata, Aura bergegas melangkah jinjit menuju pintu, memutar pintu dengan pelan, lalu menyelinap keluar dari kamar kerja itu dengan jantung yang berdebar kencang.
Beberapa menit setelah gemeresik pintu ditutup, mata Fadil perlahan terbuka lebar. Rasa hangat di sisinya yang mendadak hilang membuat kesadarannya pulih sepenuhnya.
Fadil kemudian mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, dan membiarkan selimut tebalnya meluncur turun. Pria itu menyapu pandangan ke sekeliling kamar kerja yang sunyi, dan menyadari bahwa Aura sudah tidak ada lagi di sana.
Bukannya kecewa, sebuah senyuman lebar yang sangat menawan dan penuh kepuasan justru terukir sempurna di wajah tampan Fadil.
Pria itu mengusap wajahnya, lalu membayangkan kembali setiap detik momen manis dan hangat yang mereka lewati bersama semalam. Keraguan yang selama ini membayangi hubungannya dengan Aura seolah sirna tak berbekas.
Saat hendak berdiri, pandangan mata Fadil terhenti pada permukaan sprei putih di sampingnya.
Di sana, nampak jelas sebuah noda merah muda yang mengering, sebuah bukti kesucian utuh dari wanita yang kini sah menjadi miliknya lahir dan batin.
Fadil menyentuh bercak tersebut dengan ujung jemarinya, lalu terkekeh pelan dengan binar kebahagiaan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Tak sengaja, jemarinya juga menyentuh selembar kain renda halus yang terselip di balik lipatan selimutnya.
Fadil lantas mengambil pakaian dalam milik Aura yang tertinggal itu, dan mengangkatnya seraya menggelengkan kepala dengan gemas.
"Pantas saja dia melarikan diri sepagi ini..." gumam Fadil dengan nada jahil yang hangat, dan membayangkan betapa menggemaskannya wajah merona istrinya saat ini.
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣