Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Makan Malam dan Retakan yang Melebar
Dunia korporat bergerak berdasarkan angka dan tenggat waktu, sementara dunia Valerie bergerak berdasarkan debaran jantung yang kian hari kian tidak beraturan. Seminggu setelah insiden labrakan di koridor kantor Dean, Valerie memilih untuk menarik diri. Dia menenggelamkan dirinya di antara tumpukan diktat kuliah di dalam unit apartemen studionya yang sunyi, mencoba menyembuhkan harga dirinya yang tercabik-cabik.
Namun, Dania tidak membiarkan Valerie menikmati ketenangan itu terlalu lama. Baginya, ketidakhadiran Valerie di sekitar Dean justru merupakan kesempatan emas untuk melancarkan serangan psikologis berikutnya dari jarak jauh.
Malam itu, jam digital di dinding apartemen Valerie menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Jakarta sedang dikepung mendung tebal yang membuat udara terasa gerah. Valerie baru saja menutup buku anatomi dunianya saat ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor asing yang tidak tersimpan di kontaknya.
Valerie mengernyitkan kening. Instingnya yang belakangan ini mendadak tajam dan defensif langsung memicu debar cemas di dadanya. Dia meraih ponsel itu, membuka kunci layar, dan detik itu juga, pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis.
Itu adalah sebuah foto.
Foto yang diambil dengan sudut pandang yang sangat baik di sebuah restoran bertema fine dining bernuansa redup dan mewah—restoran yang tipe dan atmosfernya sangat disukai oleh Dean. Di dalam foto itu, Dean sedang duduk berhadapan dengan Dania. Pria itu tampak meletakkan tablet kerjanya di atas meja, menatap lurus ke arah Dania dengan ekspresi wajah yang tidak sekaku biasanya. Sementara Dania, wanita itu sedang tersenyum begitu manis, memegang sebuah gelas berkilau dengan binar mata yang memancarkan kekaguman pekat. Mereka terlihat begitu serasi, begitu intim, layaknya pasangan eksekutif muda yang sedang menikmati malam romantis di tengah kesibukan kota.
Di bawah foto itu, sebuah teks pendek menyertai:
“Malam, Kak Valerie. Maaf mengganggu waktunya. Hanya ingin mengabari kalau malam ini Pak Dean mengajak saya makan malam bisnis bersama kolega asing di restoran kesukaannya. Pak Dean sempat tersenyum saat saya menceritakan lelucon kecil tentang laporan kantor tadi. Beliau ternyata tidak sedingin yang Kakak kira, ya? Mohon jangan salah paham lagi, ini murni karena tuntutan pekerjaan sebagai sekretarisnya.”
Tangan Valerie yang memegang ponsel gemetar hebat. Dadanya naik turun, memompa amarah dan rasa sakit yang berbaur menjadi satu ramuan yang meracuni seluruh akal sehatnya. Kalimat 'Beliau ternyata tidak sedingin yang Kakak kira, ya?' terasa seperti belati berkarat yang diputar-putar tepat di atas luka hatinya yang paling dalam.
Selama dua tahun bersama, termasuk satu tahun masa pacaran mereka, Valerie harus mengemis, menangis, dan melakukan seribu satu tindakan impulsif hanya untuk mendapatkan perhatian kecil dari Dean. Dia harus maklum saat makan malam hari jadi mereka dirusak oleh urusan audit. Dia harus menerima fakta bahwa Dean tidak pernah berinisiatif memberikan senyuman tulus atau pujian manis untuknya. Tapi sekarang? Di depan sekretaris barunya yang belum genap satu bulan bekerja, pria es itu bisa tersenyum lepas di sebuah restoran mewah pada jam sembilan malam.
Tanpa berpikir panjang, didorong oleh sifatnya yang blak-blakan dan tidak bisa menyembunyikan rasa sakit, Valerie langsung menekan tombol panggilan ke nomor Dean.
Panggilan pertama dialihkan. Panggilan kedua berdering lama sebelum akhirnya diangkat pada deringan terakhir. Suara latar belakang di seberang telepon terdengar sunyi, menandakan Dean mungkin sudah bergeser ke area yang lebih privat di restoran tersebut.
"Ya, Valerie? Ada apa menelepon malam-malam seperti ini?" suara Dean terdengar dari seberang sana. Tetap dengan intonasi baritonnya yang datar, tenang, dan tanpa riak bersalah sedikit pun.
"Kamu di mana, Dean?" tanya Valerie, suaranya bergetar hebat, menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia sengaja tidak memanggil pria itu dengan sebutan 'Kak' seperti biasanya.
Dean di seberang sana sempat terdiam sejenak, tampaknya menyadari perubahan panggilan dan nada bicara kekasihnya yang sarat akan konfrontasi. "Saya sedang ada makan malam bisnis dengan perwakilan investor dari Singapura di daerah Senayan. Ada apa?"
"Makan malam bisnis?" Valerie tertawa getir, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyedihkan di dalam kesunyian kamar apartemennya. "Makan malam bisnis dengan investor Singapura, atau makan malam romantis berdua dengan Dania?!"
Mendengar nama Dania kembali disebut dalam nada penuh tuduhan, helaan napas berat dan jengah langsung terdengar dari mulut Dean. "Valerie, jangan mulai lagi. Saya sedang bekerja. Kehadiran Dania di sini adalah sebagai notulen dan penerjemah pendamping karena sekretaris senior saya sedang mengambil cuti melahirkan. Semuanya murni urusan korporat yang logis."
"Logis menurut duniaku atau duniamu, Dean?!" teriak Valerie, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi. Dia berjalan mondar-mandir di balkon apartemennya dengan emosi yang membubung tinggi. "Dania mengirimkan foto kalian berdua sedang tersenyum manis di meja makan restoran itu ke ponselku! Dia sengaja memamerkan kedekatan kalian! Kalau itu murni karena pekerjaan, kenapa dia harus mengirim foto seperti itu padaku dengan kalimat yang merendahkan posisiku sebagai pacarmu?!"
"Foto?" Dean mengernyitkan keningnya di seberang sana. Dia melirik ke arah meja makan di dalam ruangan privat restoran, di mana Dania sedang duduk dengan patuh sambil memeriksa kembali berkas cetakan di tangannya. "Dania tidak pernah mengambil foto saya sejak tadi. Dia fokus mencatat poin-poin kesepakatan dengan investor. Kamu pasti hanya salah lihat atau sengaja mencari alasan untuk memicu pertengkaran baru karena kamu cemburu pada posisinya di kantor."
Kata-kata Dean malam itu menjadi konfirmasi paling menyakitkan bagi Valerie. Dean bahkan tidak mau meluangkan waktu satu detik saja untuk memikirkan kemungkinan bahwa sekretarisnya adalah seorang manipulator. Di mata Dean, logika dan penilaian profesionalnya jauh lebih tinggi daripada seluruh kejujuran dan air mata yang Valerie tumpahkan selama ini.
"Aku tidak salah lihat, Dean! Aku punya buktinya di ponselku!" seru Valerie dengan napas memburu.
"Cukup, Valerie," potong Dean dengan nada suara yang merosot drastis ke titik paling dingin, penuh dengan otoritas yang tidak boleh dibantah. "Saya tidak punya waktu untuk melayani kecurigaan buta dan delusi kekanak-kanakanmu malam ini. Investor sedang menunggu saya di dalam. Pulanglah ke tempat tidurmu, belajar untuk ujian semestermu, dan berhentilah bersikap seolah-olah seluruh dunia sedang bersekongkol untuk merebut saya darimu. Kita bicarakan ini besok kalau kamu sudah bisa berpikir menggunakan akal sehat, bukan emosi murni."
Klik. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Dean.
Valerie menurunkan ponsel dari telinganya. Layar ponselnya kembali menampilkan foto Dean dan Dania yang tampak begitu bahagia di bawah temaram lampu restoran. Detik itu juga, Valerie merasa seluruh tenaganya menguap lenyap. Dia merosot duduk di lantai balkon apartemen yang dingin, memeluk kedua lututnya erat-erat, dan membiarkan tangisnya pecah membelah keheningan malam Jakarta.
Rasa sepi dan terasing yang biasanya dia rasakan di rumah orang tuanya, kini terasa sepuluh kali lipat lebih menyiksa di dalam hubungan yang dia perjuangkan mati-matian ini. Dia menyadari sebuah kebenaran yang menampar kesadarannya: dalam skema berpikir seorang Dean, Valerie hanyalah sebuah variabel emosional yang merepotkan, sementara Dania adalah komponen kerja yang efisien dan fungsional.
Sementara itu, di dalam ruangan privat restoran mewah di daerah Senayan, Dania menurunkan ponsel pribadinya ke dalam saku roknya dengan gerakan yang sangat rapi. Dia sempat melihat bagaimana Dean memijat pelipisnya dengan ekspresi luar biasa frustrasi setelah memutus panggilan dari Valerie barusan.
Dania berdiri, melangkah mendekati meja Dean dengan membawakan selembar dokumen baru, lalu memasang wajah yang sangat cemas dan penuh rasa bersalah.
"Pak Dean... maaf, apakah tadi itu panggilan dari Kak Valerie?" tanya Dania dengan suara yang dibuat sangat pelan dan penuh kehati-hatian. "Apakah... apakah Kak Valerie marah lagi karena saya ikut dalam makan malam ini? Jika ya, saya benar-benar minta maaf. Saya bisa pulang sekarang naik taksi agar tidak mengganggu hubungan Anda berdua..."
Dean mendongak, menatap Dania yang berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, memperlihatkan kepatuhan dan dedikasi seorang bawahan yang tulus tanpa cela. Logika Dean kembali membandingkan ketenangan dan pengertian Dania dengan histeria Valerie di telepon tadi.
"Tidak perlu, Dania. Tetap di sini dan selesaikan tugasmu," jawab Dean datar, suaranya kembali ke mode profesional yang kaku. "Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Ini adalah urusan pekerjaan, dan hubungan saya tidak boleh diganggu oleh ketidakdewasaan orang lain yang menolak untuk berpikir rasional. Mari kita lanjutkan peninjauan draf kontrak ini."
"Baik, Pak Dean. Terima kasih atas pengertian Anda," ucap Dania lembut, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan kilatan kepuasan yang luar biasa di matanya.
Malam itu, di bawah kesaksian lampu kristal restoran mewah, Dania tahu bahwa dia telah berhasil memperlebar celah retakan di hati Valerie dan membuat Dean semakin jengah dengan kekasihnya sendiri. Langkah selanjutnya untuk menciptakan badai sabotase besar yang akan menendang Valerie keluar dari hidup Dean untuk selamanya, kini sudah berada tepat di depan matanya.