Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah Vs Talak
Bab 3
Pak Kades menatap bergantian Bara dan Ruby setelah mendengarkan penjelasan dari dua sudut pandang. Cerita dari beberapa orang yang menyergap, juga cerita versi Barata. Namun, motor pinjaman yang mogok sebagai penguat kesaksiannya malah berkhianat. Dicoba dihidupkan dan berhasil, padahal bahan bakarnya menipis.
“Bohong dia, pak Kades.”
“Mereka pasangan mesum.”
“Bukan, kami bukan pasangan. Saya datang ke sini untuk ….”
“Ruby,” tegur Bara. Tidak ingin identitas mereka terungkap ke depan publik dan menjadi pemberitaan apalagi sampai didengar oleh pihak kampus. Akan merugikan mereka berdua. Apalagi berita bisa menjadi bola salju, makin lama makin besar tanpa tahu cerita sesungguhnya.
“Sudah, kalian tenang,” titah Pak Kades. “Saya percaya cerita Pak Barata, beliau bukan orang me-sum seperti yang kalian tuduhkan. Tapi, saya tidak bisa mengabaikan laporan warga. Kalian berdua bersalah, menyalahi dan melanggar aturan adat.”
“Aturan adat mana pak?”
Bara menoleh, mulutnya kembali berdecak. Jelas-jelas nasib mereka diujung tanduk dan gadis ini masih saja menyela penjelasan pak kades, orang yang dihormati di wilayah itu.
“Adat desa dan suku kami. Pak Barata sedang riset tentang itu bukan?”
Bara mengangguk, belum menyampaikan komentarnya. Berharap keputusan pria paruh baya itu tidak memberatkan dan tidak menimbulkan fitnah serta kesulitan di masa depan.
“Pak Bara,” ucap Ruby dengan wajah bingung, Bara menggeleng agar Ruby diam dan menyimak.
“Ada jam malam untuk pasangan yang belum halal, kalian melanggar itu. Apalagi kedapatan di tempat tidak semestinya,” jelas pak Kades.
“Tapi kami mau pergi. Pak Bara justru mau antar saya ke kota. Kenapa dianggap melanggar adat.” Ruby masih mengoceh menolak dianggap bersalah. Sampai akhirnya Pak Kades menjelaskan sanksi yang harus mereka jalani.
“Melanggar jam malam untuk pasangan yang belum halal adalah dinikahkan.”
“Hah, Pak Kades bercanda ya.”
“Tidak nak, itu sudah menjadi aturan adat suku kami.”
“Pak Bara, ngomong dong. Emangnya kita kucing, mendadak kawin.”
Bara mengusap kasar wajahnya, berkali-kali menarik nafas. Mimpi apa kemarin, harus menghadapi masalah dengan mahasiswinya ini. Mendadak menghubungi, padahal sebelumnya Bara berkali-kali mengirim text untuk gadis ini dan tidak ada balasan. Perintahnya jelas, menitipkan dokumen dan file pada Ardi, nyatanya malah muncul dan berakhir begini.
Statusnya sebagai dosen dan pejabat di kampus, bisa tercoreng dengan kejadian ini. Bagaimana pun dia tidak ingin kejadian ini sampai terdengar oleh pihak kampus. Tapi, ia tidak yakin bisa melaksanakan sanksi untuk menikahi perempuan yang tidak dalam radarnya juga tanpa perasaan.
Umurnya hampir 37 tahun, dengan status duda ditinggal mati lebih dari 6 tahun yang lalu. Dorongan untuk menikah lagi dari keluarga dan orang terdekat bukan lagi sekedar ucapan. Bahkan orangtuanya sering mengenalkan putri dari kerabat atau kenalan mereka. Namun, menikah dengan jalur darurat ini sepertinya bukan solusi.
“Pak Bara kok diam aja sih? Lawan dong, kita nggak salah.”
Bara mendessah pelan, berada di ruang tengah rumah Pak Kades untuk membicarakan ijab kabul yang akan dilaksanakan segera.
“Kamu dengar penjelasan pak Kades ‘kan? Kita melanggar aturan adat, melanggar norma sosial aturan mereka.”
“Terus mau diam gitu aja? Saya akan lawan, pak.”
“Lawan gimana? Sudah bagus kita tidak diarak keliling kampung. Kamu jangan buat masalah makin pelik, tetap tenang dan ….”
“Gimana saya bisa tenang, kita mau dinikahkan pak? Niat saya mau bimbingan malah dapat akad, gimana ceritanya sih,” keluh Ruby. “Saya nggak mau dianggap pelakor, menikah sama laki orang.”
“Ck, saya duda dan kamu bukan pelakor.”
Ruby terkejut, dia tidak tahu kalau dosen dingin nan kejam yang juga dipuja para mahasiswi karena tampan, ternyata duda.
“Tapi saya nggak ada niat menikah sama laki-laki kematengan kayak bapak juga, sahut Ruby lirih.
“Sama, saya juga nggak ada niat nikah sama gadis labil dan tidak disiplin seperti kamu. Sudah mentok mau di DO baru grasak grusuk menyusahkan orang lain.”
Ruby berdiri sambil berkacak pinggang. “Eh, ….”
“Bagaimana Pak Bara, mbak Ruby, sudah bisa dihubungi keluarganya?”
Mereka diberi waktu untuk Ruby menghubungi keluarganya. Karena masih ada orangtua dan ayahnya yang harus menikahkan. Alih-alih menghubungi orang tuanya, malah berdebat dengan Bara.
“Saya nggak bisa pak Kades, belum waktunya saya menikah. Harapan saya menikah dengan pria yang lebih dewasa dari saya, tapi nggak ketuaan juga.” Ruby bicara sambil melirik ke arah Bara.
“Maksud kamu, saya sudah tua?”
“Pikir aja, sendiri.”
“Pak Bara, tolong dibantu hubungi keluarga Mbak Ruby. Ijab qabul kita adakan segera. Ah iya, sambil menunggu, Mbak Ruby boleh menempati kamar sebelah sana, Pak Bara boleh kembali ke kamar kontrakan.”
***
Esoknya, hampir jam 9 pagi. Orangtua Ruby sudah tiba. Bertempat di ruang tamu rumah pak Kades, Ruby menunduk dalam tatapan sang papa.
“Sekalinya kita berkumpul, karena kamu buat masalah. Begini hasil didikan kamu sebagai ibu,” ujar papa pada Ruby pada mamanya.
“Mas, Ruby bukan tanggung jawab aku saja. Dia sudah dewasa, umurnya 25 tahun. Bukan balita yang masih harus diawasi 24 jam. Bicara tanggung jawab, mana porsimu? Masalah nafkah, dia sudah mandiri. Apa pernah Ruby menuntut biaya hidup dari kamu atau aku, tidak pernah mas.”
Sudah lama orangtua Ruby berpisah, bukan pemandangan asing kalau mereka bertemu akan berdebat seperti ini.
“Buktinya ….”
“Pah, bisa diam nggak? Kepalaku rasanya mau pecah, udah nggak sanggup dengar perdebatan kalian. Harusnya aku hubungi Mang Ujang security komplek aja biar gantikan papa.”
“Ngaco kamu,” ucap Papa Ruby.
“Aku belum mau nikah apalagi sama Pak Bara. Kesini untuk bimbingan bukan jadi mempelai.”
“Kalian melanggar adat, sanksinya menikah. Tidak boleh banding apalagi balik menggugat, ini bukan pengadilan negara.”
Bara menarik nafasnya mendengar penolakan Ruby. Padahal bukan hanya gadis itu yang menolak, ia pun sama. Sempat berbalas pesan dengan anak-anaknya, semakin menambah pelik isi pikiran. Entah bagaimana nasib pernikahannya nanti.
Pak Kades memanggil Bara dan Papa Ruby, penghulu dan tokoh masyarakat sekitar sudah hadir.
“Mah,” rengek Ruby masih meributkan penolakan untuk menikah. Mama tidak bisa berbuat apapun. Memakaikan pashmina di kepala Ruby yang sudah berganti dengan kaftan warna senada milik Mama dan memoles tipis bedak serta lipstick di wajah putrinya itu. “Kabur. Ayo, mah, bantu aku kabur dari sini.”
“Jangan ngaco. Terima Bara, dia jodoh dan takdir yang harus kamu jalani.”
“Ogah mah, aku nggak mau berjodoh sama dia. Nikah sama Duda, udah punya anak mah. Ketuaan pula, aku gak suka.”
“Heh, mulutnya.” Mama menepuk bahu Ruby. “Mama lihat sikap Bara baik dan dia belum tua, tapi dewasa. Hati-hati sayang, mana tahu nanti kamu malah bucin sama Bara. Ih, ngebayanginnya kok sweet banget.” Mama terkekeh sedangkan Ruby masih dengan wajah cemberutnya.
Tidak mau, ia tidak mau menjadi istri Barata Airlangga. Apalagi pernikahannya diadakan sederhana karena sanksi sosial. Sama saja seperti pasangan mesum ketangkap warga. Meski tidak ada kerja sama dengan pihak yang mengharuskan statusnya tetap single, tapi geraknya pasti terbatas setelah menikah nanti.
Terbesit ide di otak cerdas Ruby, jalan keluar untuk semua hal. Yang terbaik untuk dirinya juga Bara. Antara lega dan senang, senyum pun terbit di wajahnya.
“Kamu kenapa? Tadi ngambek sekarang senyum-senyum.”
“Aku sudah punya solusi, Mah. Solusi akan pernikahan ini.”
Mama menegakkan tubuh lalu bersedekap, kedua alisnya terangkat tinggi karena heran dengan putrinya. Solusi apa yang terlintas. Matanya memicing, menatap wajah sumringah Ruby. “Apa?”
“Sekarang nikah, nanti sore minta talak. Beres ‘kan?”
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭