Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
.
Aisyah turun dari ranjang setelah Rangga tertidur pulas. Wanita itu menarik selimut hingga batas dada Rangga dan Fatimah, memberikan kecupan di atas kening mereka berdua sebelum kemudian mengganti lampu besar dengan lampu temaram lalu melangkah keluar dari kamar itu.
Aisyah berjalan menelusuri lorong yang sepi menuju kamarnya sendiri. Wanita itu berjalan menuju ke arah lemari besar yang berada di sudut ruangan. Dengan saraf matanya yang datar tangannya membuka lemari itu kemudian membuka laci yang paling berada di dasar lemari paling bawah. Di sana lah dirinya dan Raka menyimpan berkas-berkas penting.
Aisyah mengeluarkan semua berkas yang ada lalu memeriksanya satu persatu. Buku tabungan khusus anak-anak, buku tabungan Raka, sertifikat kepemilikan toko, sertifikat kepemilikan restoran, surat-surat tanah, sertifikat rumah yang saat ini ia ditempati, dan juga BPKB mobil. Aisyah memasukkan semua berkas itu ke dalam tas.
Setelah menyimpan tas itu di tempat yang aman, Aisyah lalu berjalan ke arah meja riasnya. Seperti biasa, wanita itu duduk di depan cermin. Tangannya mengoleskan krim malam pada wajahnya.
“Kamu bilang dia mencintaimu dengan tulus kan?” tanyanya dengan mata menatap datar ke arah bayangan wajahnya sendiri. “Kamu bilang dia sama sekali tidak mengincar uangmu. Kalau begitu… ayo kita buktikan setulus apa dirinya.”
Aisyah naik ke atas ranjang setelah menyelesaikan ritual malamnya. Wanita itu menarik selimutnya hingga batas dada, kemudian memejamkan mata dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
*
Pagi datang. Seperti biasa wanita itu bangun sebelum adzan subuh kemudian membangunkan anak-anaknya untuk diajak sholat subuh berjamaah. Setelah semua selesai Aisyah pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi mereka berdua sebelum berangkat ke sekolah.
“Fatimah bantu ibu potong sayur ya?” tanya gadis kecil itu sambil bergerak cepat mengambil baskom dan pisau.
“Boleh, Sayang. Tapi hati-hati ya tidak boleh sampai kena tangan.” Aisyah memberikan seikat kangkung yang sedianya akan ia bikin tumis kepada Fatimah.
Di ruang makan yang tak jauh dari dapur, Rangga duduk dengan memegang sebuah buku paket di tangannya. Sebelumnya anak itu sudah meminta izin tidak membantu ibunya karena hari ini dia akan ada ulangan umum. Namun, buku itu hanya ia buka sementara matanya sama sekali tidak fokus dengan tulisan yang ada di dalam buku tersebut. Matanya yang jernih menatap datar ke arah ibu dan adiknya. Entah apa yang ada dalam pikiran anak itu, tapi tanpa seorang pun tahu kedua tangannya terkepal erat.
*
Beberapa jam kemudian, setelah mereka selesai sarapan, Aisyah segera bersiap..wanita itu mengambil tas berisi berkas-berkas penting yang telah ia siapkan semalam..Aisyah ingin menyimpannya di tempat yang lebih aman.
Pagi ini, ia akan mengantarkan Rangga dan Fatimah ke sekolah terlebih dahulu. Setelah itu, ia berencana pergi ke bank untuk menyimpan berkas-berkas tersebut di safe deposit box, sehingga tidak bisa diakses sembarang orang.
Bukan karena ia ingin mencuri sesuatu dari Raka. Justru sebaliknya. Aisyah hanya ingin memastikan tidak ada satu pun hak anak-anaknya yang hilang hanya karena keputusan orang dewasa.
Mereka bertiga kemudian keluar dari rumah setelah taksi yang dipesan oleh Aisyah datang..Aisyah mengunci pintu sebelum mengajak kedua anaknya berjalan menuju taksi yang telah menunggu di depan gerbang.
"Ayo naik, Sayang," ujar Aisyah sambil membukakan pintu untuk anak-anaknya
Rangga langsung masuk disusul oleh Fatimah. Aisyah pun menyusul masuk kemudian duduk di samping mereka dengan tas berisi dokumen tetap berada di pangkuannya. Dan taksi mulai bergerak meninggalkan rumah itu.
"Bu…” Fatimah yang duduk di tengah tiba-tiba menoleh kepada ibunya.
"Iya, Sayang?" Aisyah menatap wajah putrinya.
"Kenapa sekarang kita ke sekolah tidak diantar sama Ayah lagi?" tanya Fatimah dengan wajah sedih.
Pertanyaan sederhana itu membuat dada Aisyah seketika terasa sesak..Ia menatap wajah putrinya yang polos.
Sejak dulu anak-anak terbiasa berangkat sekolah dengan diantar oleh ayahnya. Dan sebelum menikah lagi, pria itu sempat berjanji bahwa apa pun yang terjadi, Rangga dan Fatimah tetap menjadi prioritasnya..Namun, lagi dan lagi… Janji itu seolah hanya menjadi kata-kata. Bukan hanya dirinya yang mulai ditinggalkan. Anak-anak mereka pun perlahan harus belajar menerima perubahan yang sebenarnya tidak pernah mereka minta.
Aisyah mengusap kepala Fatimah. "Ayah sedang sibuk, Sayang."
"Tadi malam Ayah pergi ke rumah Tante Nabila kan?"
Aisyah terdiam. Pertanyaan itu membuatnya semakin sulit bernapas. Namun, ia tidak ingin memasukkan kebencian ke dalam hati putrinya. "Bukan begitu. Ayah punya banyak pekerjaan."
Fatimah mengangguk kecil meskipun wajahnya masih terlihat kecewa. "Padahal Fatimah lebih suka naik mobil sama Ayah
"
Aisyah tersenyum tipis meski dadanya terasa sesak. “Nanti kalau Ayah tidak sibuk pasti nganter Fatimah sama Kakak lagi.”
Sementara itu, Rangga yang duduk di sebelah jendela hanya diam. Anak itu tidak ikut bertanya. Tidak pula menyela percakapan mereka. Namun, tanpa siapapun sadar, kedua tangan bocah itu terkepal erat di atas pahanya.
Matanya menatap keluar jendela. Namun bukan untuk menikmati jalanan yang mereka lewati. Ia tidak suka semua perubahan setelah ayahnya menikah. Dulu Ayahnya selalu mengantar mereka ke sekolah. Dulu Ayahnya selalu makan malam bersama. Sekarang semua itu sudah tidak ada. Di hari Minggu saat sekolah libur, ayahnya berada di rumah lain.
Rangga mengepalkan tangannya semakin erat..Ia masih terlalu kecil untuk memahami persoalan rumah tangga orang dewasa..Namun, kini ia dipaksa dewasa oleh keadaan.
Setelah mengantarkan Rangga dan Fatimah ke sekolah, Aisyah meminta sopir taksi membawanya ke sebuah bank. Ia membawa tas berisi berkas itu masuk ke dalam bank. Setelah melalui proses yang diperlukan, Aisyah berhasil menyewa sebuah safe deposit box.
Semua dokumen yang ia bawa dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan itu kecuali buku tabungan milik Raka. Aisyah menuju teller dan melaporkan kehilangan ATM. Ia meminta cek mutasi. Masih ada sejumlah saldo di sana.
"Seenaknya saja kamu datang tinggal ikut menikmati hasil keringatku. Apa kamu sudah ijin padaku?"
Aisyah kemudian minta nomor rekening itu dibekukan. Semula, pihak bank menolak karena bukan Raka sendiri yang datang. Namun, Aisyah berhasil meyakinkan bahwa suaminya sedang sakit.
Setelah semua selesai, Aisyah keluar dari bank dengan wajah lega. Awalnya ia tidak ingin berperang melawan Raka. Namun melihat wajah sedih anak-anaknya, ia merasa bahwa dirinya harus punya pegangan jika suatu hari keadaan menjadi lebih buruk.
Sebab sekarang ia sudah belajar satu hal… Tidak semua janji bisa dipercaya hanya karena diucapkan oleh orang yang pernah ia cintai. Raka yang sudah mengkhianati janji lebih dulu.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...