Indonesia
NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Nestapa Pasutri 22.

Suara ketukan sepatu di koridor lantai dua biasanya terdengar santai, diselingi tawa tentang tugas matematika atau rencana akhir pekan. Namun di hari jumat pagi ini, bagi Mona, setiap langkah kaki yang mendekat terasa seperti ketukan palu hakim.

Ia mengeratkan pegangan pada tali tas ranselnya. Buku-buku jarinya memutih.

Di sebelahnya, Affan berjalan dengan wajah datar, pandangan lurus ke depan, dan kedua tangan tenggelam di saku celana abu-abunya, Tidak ada obrolan sama sekali sejak turun dari motor yang sengaja diparkir dua blok dari sekolah.

Tepat hari ini Affan resmi tidak lagi menjadi ketua OSIS, Dewan yayasan bersama Kepala Sekolah sudah mencabut otoritasnya. Jabatan itu kini dialihkan ke wakilnya.

Beruntung, karena tuntutan dari orang tua Affan. Sekolah tidak mengeluarkan mereka, dengan syarat: prestasi tidak boleh turun dan tidak boleh pamer kemesraan.

"Affan," bisik Mona, nyaris tak terdengar. Suaranya bergetar. "Semua orang melihat ke arah kita."

Affan tidak menoleh, tetapi rahangnya sudah mengencang. "Jangan nunduk. Kalau kamu nunduk, mereka pikir semua cerita sampah itu benar."

"Tapi cerita itu memang benar," Batin Mona terasa perih.

Begitu mereka melewati pintu masuk utama, keheningan yang janggal langsung menyergap. Beberapa siswi yang sedang berkumpul di dekat mading mendadak berhenti bicara. Mata mereka beralih serentak ke arah Mona dengan Affan. Bisik-bisik langsung menjalar seperti api menyiram bensin.

Bzzzt.

Ponsel di saku rok Mona bergetar panjang. Satu notifikasi. Lalu dua. empat, delapan, Lalu puluhan.

Mona memberanikan diri mengeluarkan ponselnya. Layar benda digital itu dipenuhi oleh rentetan tagging dari akun Instagram anonim bernama @SMA_Pancasila_Siber.

Foto terlampir. Lihat, siapa yang tertangkap kamera keluar dari rumah yang sama jam 6 pagi? Mona si biang onar dan Affan si mantan ketua OSIS yang disegani. Oh, tunggu, ada dokumen kartu keluarga baru juga yang bocor. Tebak siapa yang sudah sah jadi suami-istri? #NikahMuda #SkandalSMAPancasila #GakSuciLagi

"Jangan dibaca," tangan kekar Affan tiba-tiba merebut ponsel Mona, langsung mematikan layarnya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya sendiri. "Ayo ke kelas."

Namun, pelarian mereka dihadang di depan loker.

Geng siber sekolah—yang dipimpin oleh Rendy dan dua kaki tangannya yang baru di rekrut—sudah berdiri di sana.

Rendy memegang sebuah spidol permanen merah. Di pintu loker nomor 12 milik Mona, sudah tertulis kalimat besar-besar: "BINAL MUDA BERASRAMA" dan "AFFAN'S PRIVATE WIFE".

"Wajah baru dunia pendidikan kita," Rendy bertepuk tangan pelan, memancing perhatian seluruh koridor yang kini sudah berkerumun membentuk lingkaran.

"Pantas saja belakangan ini sering absen bareng. Ternyata jadwal domestiknya padat ya? Gimana rasanya, Mon? Menyesal kan kalau gak mau nurutin keinginan saya?"

"Jaga mulutmu, Rendy," suara Affan rendah, dingin, dan penuh ancaman. Langkahnya maju satu blok, memosisikan dirinya di depan Mona, menyembunyikan gadis itu dari pandangan lapar orang-orang.

"Kenapa? Marah karena rahasia main rumah-rumahan kalian terbongkar?" Rendy tertawa remeh, menatap Mona dari balik bahu Affan. "Mona, kamu kan ikon siswi teladan ya gak sih?. Kok bisa turun kelas jadi ibu rumah tangga secepat ini? Berapa bulan mengandung skandal di kelab malam nih? Udah isi?"

Bugh!

Satu pukulan mentah dari Affan mendarat telak di pipi kiri Rendy. Rendy tersungkur menghantam deretan loker besi, menimbulkan suara dentangan yang memekikkan telinga.

Koridor langsung riuh oleh teriakan histeris para siswi.

"Affan, jangan!" Mona menjerit, menarik lengan seragam Affan yang sudah bersiap melayangkan pukulan kedua. Air mata Mona akhirnya luruh. "Tolong, stop... jangan di sini."

Rendy bangkit sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Alih-alih membalas dengan fisik, ia justru tersenyum puas. Ia tahu ia menang secara psikologis.

"Lihat? Pahlawan kesiangan," Cibir Rendy sambil meludah ke lantai. "Kalian berdua melanggar aturan mutlak yayasan. Gak boleh ada murid yang menikah selama statusnya pelajar. Geng Siber gak akan berhenti sampai kalian berdua ditendang dari sekolah ini. Nikmati hari terakhir kalian, pasangan romantis."

Rendy dan kelompoknya melenggang pergi, sengaja menabrak bahu Affan saat lewat.

Affan berbalik, menatap Mona yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat karena tangis.

Seluruh koridor masih menonton mereka, beberapa di antaranya terang-terangan merekam kejadian itu dengan kamera ponsel.

"Bubar! Apa yang kalian lihat?!" bentak Affan berang, membuat kerumunan itu perlahan mundur dan bubar, meski bisik-bisik jahat tidak benar-benar hilang.

Affan menghela napas panjang, meredam amarah yang membakar dadanya. Ia mendekat, lalu dengan ragu namun pasti, ia menarik tangan Mona dari wajahnya.

Untuk pertama kalinya di koridor sekolah ini, di depan sisa-sisa pasang mata yang mengintip, Affan menggenggam jemari Mona dengan erat.

"Kita hadapi ini sama-sama," ucap Affan berbisik, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Mona yang basah. "Di rumah atau di sekolah, saya gak akan biarkan mereka menyentuhmu lagi."

Mona menatap tangan mereka yang bertautan. Hangat, di tengah dinginnya badai gosip yang siap menghancurkan masa depan mereka berdua.

**

Mona yang sedang mencatat rangkuman materi Biologi tersentak.

Bayangan tubuh Selly menghalangi cahaya lampu kelas. Selly masih sekretaris OSIS yang terkenal perfeksionis, berkuku tajam, dan sudah rahasia umum sangat memuja Affan—mantan Ketua OSIS sekolah ini.

"Bisa bicara sebentar, Mona? Atau kita perlu bicara di depan umum supaya semua orang tahu siapa diri kamu sebenarnya?" Suara Selly dingin, memotong keheningan kelas yang mencekam.

Beberapa murid yang masih berada di dalam kelas mulai berbisik. Selly merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"Ada apa Selly?. Saya gak bisa. Saya sibuk" jawab Mona berusaha menenangkan nada suaranya, meski jemarinya gemetar meremas pulpen.

Brakk!

Selly menggebrak meja Mona. Sebuah map cokelat dilemparkan ke atas tumpukan buku Mona yang belum dimasukkan ke dalam tas. Isi nya sedikit terbuka, memperlihatkan lembaran kertas putih dengan kop resmi catatan sipil dan foto dua orang berlatar belakang biru. Foto Mona dan Affan.

"Kamu nanya ada apa?!" pekik Selly, matanya merah menahan amarah sekaligus rasa tidak percaya. "Ini apa, Mona?! Kamu sengaja, ya? Kamu jebak Affan supaya bisa nikah sama dia? Kamu tahu kan Affan itu punya masa depan cerah, dia mau kuliah ke luar negeri, dan kamu... kamu cuma benalu yang ngerusak hidup dia!"

Seantero kelas Sembilan A langsung riuh. Bisikan-bisikan miring mulai merayap. Tapi itu tidak berlaku untuk kedua sahabat Mona yang sedari tadi memperhatikan menahan diri agar amukan nya tidak lepas. Kedua sahabat Mona terlihat marah jika Mona terus-terusan dihakimi seantero sekolah.

"Murahan banget sih sampai ngejebak."

Mona berdiri, wajahnya pucat pasi. "Selly, tolong jangan teriak-teriak. Kita bisa bicarain ini baik-baik di ruang OSIS—"

"Nggak perlu ada yang dibicarain baik-baik!" Selly maju satu langkah, mencengkeram kerah seragam Mona. "Saya yang bertahun-tahun dampingi Affan di OSIS! Saya yang tahu gimana perjuangan dia! Dan kamu ngerebut posisi di samping dia dengan cara sekotor ini? Kamu nggak pantas buat Affan! Kamu cuma pembawa sial!"

"Lepasin tangan kamu dari istri saya, SELLY."

Suara bariton yang berat dan penuh penekanan itu terdengar dari ambang pintu kelas.

Affan berdiri di sana. Tatapannya yang biasanya tenang dan berwibawa kini berubah menjadi setajam silet, menembus langsung ke arah Selly.

Selly tertegun, perlahan melepaskan cengkeramannya dari seragam Mona. "Affan... kamu... kamu bela dia? Dia udah merusak reputasi kamu! Dia yang buat kamu dikeluarkan dari OSIS, Foto-foto ini—"

Affan berjalan masuk, mengabaikan puluhan pasang mata yang menatapnya syok. Ia melewati Selly begitu saja, lalu berdiri tepat di depan Mona. Tangan Affan terulur, merapikan kerah seragam Mona yang sempat kusut karena cengkeraman Selly.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Affan lembut, sangat kontras dengan suaranya saat masuk tadi. Mona hanya bisa mengangguk kecil, menahan air mata yang hampir tumpah karena malu dan takut.

Affan berbalik menghadap Selly, lalu mengambil map cokelat di atas meja. Tanpa ragu, Affan merangkul pundak Mona di depan semua orang, mendekapnya posesif.

"Semua yang ada di kertas ini benar. Mona adalah istri saya. Sah secara hukum dan agama," ucapan Affan membuat seisi kelas riuh, beberapa siswi bahkan memekik menutup mulut.

Affan menatap Selly dengan dingin. "Dan satu hal yang perlu kamu tahu, Selly. Tidak ada yang dijebak di sini. Kalaupun ada yang harus disalahkan karena pernikahan ini terjadi, itu adalah saya. Saya yang minta dia tetap di samping saya. Jadi, jangan pernah kamu, atau siapa pun di sekolah ini, berani menyentuh atau merendahkan istri saya lagi."

Affan menarik pelan jemari Mona, menggenggamnya erat. "Ayo istirahat, maaf tadi habis dari toilet" bisiknya pada Mona.

Mereka berjalan keluar kelas, meninggalkan Selly yang mematung dengan air mata kemarahan, serta seluruh sekolah yang kini memiliki rumor terbesar tahun ini untuk dibicarakan. Topeng rahasia itu kini telah pecah sepenuhnya.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!