Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Mereka tidak satu kelas.
Tidak apa-apa, ucap Airin dalam hati. Ia bisa datang ke kelas Ophelia setiap jam istirahat, mengajaknya pulang bersama tepat ketika bel berbunyi. Itu akan membuat siapapun tidak punya waktu untuk mengganggunya.
Ya.
Tapi tentu, kenyataan tidak berjalan sesuai keinginannya.
“Oh, Ophelianya kakak pinjam dulu ya? Ada yang mau kami bicarakan,” ucap seorang kakak kelas ketika Airin akan mengajak temannya ke kantin. Dia merangkul bahu Ophelia seakan mereka ada teman akrab, tapi Lia terlihat tidak nyaman.
“Kamu duluan aja,” ucap Lia sembari tersenyum kecil. “Nanti aku menyusul.”
Itu bohong.
Airin tidak melihat Ophelia lagi sampai waktu istirahat selesai.
Esoknya, Airin beruntung bisa datang duluan sebelum kakak-kakak kelas itu dan melihat Lia yang sedang tertidur di bangkunya saat jam istirahat.
“Lia,” ucapnya pelan. “Kita ke kantin yuk? Atau kamu mau aku belikan sesuatu?”
“Aku bawa bekal,” gumam Lia.
“Kamu mau makan disini? Aku temani.”
“Tidak apa-apa,” gelengnya, masih menyembunyikan wajah. “Kamu ke kantin aja duluan.”
Airin menyipitkan mata. Dengan perlahan, ia menyibakkan sedikit rambut Ophelia yang menghalangi wajahnya kemudian langsung terdiam.
Pipinya bengkak dan membiru.
“Siang~ Ophelianya ada?”
Airin langsung berdiri di depannya. “Lia udah ada janji makan siang denganku. Urusan sama kakak mungkin bisa dilakukan nanti?”
“Eh iya kah?” kakak kelas disana tersenyum. “Tapi Ophelia udah janji sama kita lho kemarin. Ya ‘kan?”
Di belakangnya, Ophelia terlihat mengambil masker dan berdiri. Ia menepuk pundak Airin pelan sembari bicara, “Maaf ya, mungkin lain kali.”
Airin merentangkan tangan, mencoba menahan Ophelia agar tidak pergi bersama mereka namun... ia berhenti. Airin hanya terdiam sembari menggigit bibir disana.
...****************...
“Buat anak baru, berkumpul dan praktekkan dasar-dasar kemarin!”
Kaiser memastikan kalau ikat pinggangnya benar-benar kencang sebelum berloncat-loncat sedikit. Ia mencoba melakukan pemanasan kecil ketika melihat seseorang datang dari pintu.
“Kamu yang disana, kenapa telat?”
“Ada tugas dari guru dulu.”
Itu Ophelia.
“Kenapa pakai masker? Sakit?”
“Flu,” jawabnya pelan. “Tapi hampir sembuh.”
“Kalau sakit harusnya jangan memaksakan diri kesini. Kamu duduk aja, pelajari gerakannya dari yang lain.”
“Baik.”
Cara berjalan gadis itu terlihat hampir sempoyongan. Bahkan ketika duduk, dia mengusap lengannya perlahan sembari meringis kecil.
“Ophelia terus dibully!” Kaiser ingat perkataan yang dilontarkan Airin padanya. “Kita mesti gimana? Situasinya makin parah.”
Di sekolah ini, pembullyan adalah hal normal. Biasanya mereka yang bukan merupakan keturunan asli akan mendapat perlakuan yang... tidak mengenakkan. Kaiser beberapa kali melihat hal seperti itu.
Dan ia berusaha untuk tidak peduli.
Ia tidak mungkin mencoba menyelamatkan mereka semua, terutama ketika salah satunya menolak bantuan yang ia berikan.
Ya.
Kaiser hanya harus memasang wajah datar seperti biasa.
...****************...
Keberuntungan ada di pihaknya.
Hari ini cerah dan kudanya dalam kondisi prima. Aidoneus mencoba mempercepat laju Neo—nama kuda coklatnya agar Kaiser di belakang tidak menyusul.
Anak itu sekarang pasti—
Aidoneus berhenti.
Kaiser terlihat melamun, tidak peduli dengan balapan yang sedang mereka lakukan dan menjalankan kuda putihnya seakan sedang jalan-jalan di taman.
Kenapa? Biasanya dia benci kalah.
“Hei,” panggil Aiden. “Kalau melamun begitu nanti jatuh.”
“Oh? Ya.” Kaiser juga ikut berhenti.
Kenapa dengannya?
“Mau istirahat dulu? Kamu tidak fokus.”
Aidoneus menyerahkan kudanya pada seseorang di pinggir lapangan dan berjalan ke arah gazebo disana. Airin terlihat menunggu mereka sembari menyulam sesuatu.
Dia juga terlihat melamun.
Apa mereka bertengkar? Tapi tadi mereka berkomunikasi seperti biasa.
“Sesuatu terjadi antara kamu sama Kaiser?” tanyanya sembari mengambil air minum. “Dia terlihat berbeda hari ini.”
Senyuman kecil yang dipasang di wajah itu terlihat dipaksakan. “Kami nggak... bertengkar? Cuma ada sesuatu.”
“Sesuatu seperti apa?”
“Bukan apa-apa.” Kaiser mendorong saudaranya sedikit agar dia yang duduk di sebelah Airin. “Itu bukan urusan kakak juga.”
Aidoneus menaruh satu tangannya di dagu dan menghela nafas. “Tapi kakakmu ini jadi penasaran. Kalau masalahnya bukan ada diantara kalian lalu kenapa kalian sama-sama murung begini?”
Mereka berdua diam.
“Jangan-jangan ada orang ketiga sekarang dan Airin lebih memilih orang itu?”
Kaiser melebarkan mata. “Hah?”
“Nggak!” jawab Airin cepat. “Kenapa tiba-tiba kesana?”
“Lalu masalahnya apa?” Aidoneus mengangkat alis. “Kalian memutuskan menikah di usia yang semuda ini, tapi tidak berani bilang?”
Airin tidak bisa berkata-kata.
“Kak.” panggil Kaiser, seakan muak.
Aidoneus tersenyum. “Aku akan terus menebak sampai ada yang cerita lho.”
Airin menghela nafas dan menyimpan sulamannya di meja. Aidoneus baru sadar kalau gadis itu membuat sulaman bunga mawar berwarna merah muda dengan beberapa kuncup yang belum terbuka.
Hm, kalau tidak salah mawar itu punya nama.
“Kalau semisal,” mulainya pelan. “Kalau semisal aku punya teman yang sedang dibully di sekolah, tapi dia selalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan tidak meminta bantuan aku harus bagaimana?”
Oh.
Aidoneus kembali menopang dagunya. “Kakak tebak anak ini tidak bisa melakukan apa-apa karena para guru juga tidak ada di pihaknya ‘kan?”
Airin mengangguk.
“Kalau begitu tidak ada yang bisa kamu lakukan.” ujarnya sembari mengambil sulaman yang dibuat Airin. Aidoneus masih menebak-nebak nama mawar itu.
Gadis itu terlihat tidak terima. “Kenapa? Aku nggak mungkin cuma diam aja waktu liat dia tersiksa, pastinya ada sesuatu—”
“Itu mustahil,” gumam Kaiser. Pemuda itu terlihat kesal. “Dia saja tidak mau dibantu.”
Wah, bahkan Kaiser sampai sebegininya?
“Kaiser benar.” angguk Aidoneus. “Kita nggak bisa membantu seseorang yang nggak mau dibantu, Airin.”
Airin terlihat akan menangis dan langsung pergi dari gazebo itu. Kaiser memilih untuk tidak mengejar dan hanya diam sembari mengepalkan tangan.
“Dia bilang kalau bantuanku cuma akan memperburuk situasi,” ujarnya. “Kenapa? Apa maksudnya?”
Aidoneus mengetuk-ngetuk sulaman bunga mawar itu sembari tersenyum. “Entahlah, kamu mesti cari tahu soal itu sendiri.”
Kaiser terlihat kesal, dia seperti ingin meninju kakaknya namun ditahan. Ah, ekspresinya lucu.
“Kenapa kakak nggak mau kasih masukan apa-apa? Harusnya disaat begini kakak kasih nasihat atau sesuatu ‘kan?”
“Kakak cuma penasaran tentang apa yang sedang terjadi,” ia tersenyum. “Aku nggak pernah bilang akan ikut membantu.”
Kaiser mendengus dan pergi kearah Airin berlari tadi. Aidoneus yang masih melihat sulaman di tangannya terlihat tidak terlalu peduli akan hal itu.
“Tuan muda, pertemuan Anda dengan kepala keluarga Maharaja akan dimulai satu jam lagi,” ujar kepala pelayan di sampingnya.
“Reinard,” panggil Aidoneus. “Ini mawar apa? Dari tadi aku mencoba menebak tapi buntu.”
Pelayan tua itu membungkuk sedikit. “Dilihat dari warna dan bentuk kuncupnya, kalau tidak salah ini adalah mawar Ophelia.”
Aidoneus langsung mengangkat alis.
...Ophelia?