Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Tenang
Angka penjualan lokasi kedua Meridian turun dua belas persen dalam satu minggu, dan itu bukan lagi sekadar efek awal kompetitor baru masuk pasar seperti yang diprediksi Gwen beberapa bulan lalu.
"Ini beda," katanya, menatap grafik yang baru saja dia tarik dari dashboard Proyek Sintesis, Senin pagi, wajahnya serius. "Penurunan minggu lalu masih dalam batas wajar. Tapi minggu ini turun drastis, dan pola pembeliannya juga berubah total."
Madoc berdiri di sampingnya, menatap layar yang sama, rahangnya mengeras. "Aditama naikin subsidi lagi?"
"Bukan cuma itu." Gwen membuka slide lain, menunjukkan data yang baru dia kumpulkan semalam. "Mereka mulai buka toko flagship persis di seberang lokasi kedua kita. Diskon pembukaan lima puluh persen, promosi gede-gedean di media sosial, bahkan ada kerja sama sama influencer lokal buat ngangkat awareness."
"Berapa lama mereka bisa nahan diskon segede itu?"
"Gak tau pasti," kata Gwen, jujur, sesuatu yang jarang dia akui. "Kalau perhitungan awal saya, mereka harusnya udah mulai kehabisan modal bulan depan. Tapi kalau mereka masih sanggup buka flagship store sebesar ini, kemungkinan ada suntikan dana baru yang gak saya perhitungkan sebelumnya."
Madoc menghela napas panjang, merasakan tekanan yang mulai menumpuk di dadanya—bukan cuma soal Meridian, tapi soal keseluruhan reputasi Kane Group yang dipertaruhkan di depan mata investor dan board yang sudah mulai bertanya-tanya kenapa proyek yang tadinya diproyeksikan sukses besar sekarang mulai goyah.
---
Rapat darurat berlangsung sepanjang hari itu, melibatkan hampir seluruh tim inti—Reza, Bas, tim finansial, dan tentu saja Gwen sebagai orang yang paling paham detail teknis di lapangan.
"Kita punya dua opsi," kata Gwen, di tengah rapat sore itu, suaranya mulai serak karena sudah bicara nonstop sejak pagi. "Satu, kita ikut perang harga, tapi itu bakal makan modal kita jauh lebih cepat dari yang bisa kita tanggung. Dua, kita tetap pertahankan strategi loyalti yang udah kita bangun, tapi percepat implementasinya biar dampaknya lebih cepat kerasa."
"Kalau opsi dua gak cukup cepat?" tanya salah satu anggota tim finansial, nadanya skeptis.
"Maka kita kehilangan pangsa pasar signifikan di lokasi kedua dalam waktu dekat," kata Gwen, jujur, tidak mencoba menutupi kemungkinan terburuk. "Tapi kalau kita ikut perang harga dan gagal, dampaknya bisa lebih parah—bukan cuma lokasi kedua yang kena, tapi seluruh proyek Meridian bisa collapse karena kehabisan modal."
Ruangan hening sejenak, mencerna dua kemungkinan yang sama-sama berisiko.
Madoc duduk di ujung meja, mendengarkan setiap detail, merasakan beban tanggung jawab yang berat menekan pundaknya—setiap keputusan yang dia ambil sekarang bukan cuma soal angka di laporan, tapi soal ratusan karyawan yang bergantung pada keberhasilan proyek ini, soal reputasinya sendiri sebagai CEO yang harus membuktikan diri layak memimpin perusahaan warisan keluarganya.
"Kita pilih opsi dua," katanya akhirnya, "tapi percepat semua yang bisa dipercepat. Gwen, berapa cepat implementasi loyalti bisa dipercepat?"
"Kalau semua resource difokuskan ke situ, bisa selesai dalam seminggu, bukan dua minggu kayak rencana awal."
"Lakuin," katanya, tegas. "Apa pun yang kamu perlu, saya kasih approval langsung."
---
Malam itu, rapat resmi selesai jam sembilan, tapi Gwen dan Madoc masih tinggal di ruang kaca lantai lima belas, menyusun detail teknis implementasi yang harus segera dijalankan besok pagi.
"Ini timeline barunya," kata Gwen, menunjukkan revisi jadwal di layar laptopnya, matanya sudah terlihat lelah tapi fokusnya tidak berkurang sedikit pun. "Sistem tracking referral bisa live besok siang, sosialisasi ke pelanggan lewat SMS sama email bisa mulai lusa."
"Tim IT sanggup secepat itu?"
"Udah saya koordinasi tadi sore. Mereka lembur malam ini."
Madoc menatapnya, memperhatikan cara dia terus bekerja tanpa tanda-tanda ingin berhenti, meski jam sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam dan mereka berdua sudah tidak makan sejak siang.
"Kamu udah makan?" tanyanya, sama seperti beberapa minggu lalu, tapi kali ini nadanya lebih khawatir dari sekadar perhatian formal.
"Belum sempet, Pak."
"Pesen makan dulu," katanya, mengambil ponselnya. "Kita lanjut sambil makan."
---
Mereka lanjut bekerja sambil makan nasi kotak yang dipesan lewat aplikasi, laptop tetap terbuka di antara mereka, tapi suasananya sedikit lebih santai dari intensitas rapat formal tadi siang.
"Saya khawatir," kata Madoc, tiba-tiba, di sela suapan nasi gorengnya, "kalau strategi ini gagal, dampaknya bakal parah banget buat perusahaan."
Gwen menoleh, menatapnya serius. "Emang ada risiko, Pak. Tapi berdasarkan data yang saya punya, ini opsi paling masuk akal dibanding ikut perang harga yang jelas-jelas gak bisa kita menangin."
"Kalau saya salah ambil keputusan?"
Pertanyaan itu keluar lebih jujur dari yang biasa Madoc tunjukkan di depan siapa pun, termasuk timnya sendiri—kerentanan kecil yang jarang dia perlihatkan, terutama soal keraguan pada keputusan bisnisnya sendiri.
Gwen berpikir sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Gak ada keputusan yang seratus persen bebas risiko, Pak. Tapi keputusan yang Bapak ambil tadi didasarkan sama data yang solid, bukan cuma dorongan emosi sesaat. Itu udah cukup buat jadi dasar yang kuat."
"Kalau data-nya ternyata salah?"
"Kalau salah," katanya, tenang, "kita adaptasi lagi. Sama kayak yang selalu kita lakuin. Bapak gak sendirian ngambil keputusan ini, Pak. Ada tim yang siap bantu apa pun hasilnya nanti."
Kalimat itu, sederhana tapi tulus, membuat sesuatu di dada Madoc terasa lebih ringan—bukan karena bebannya hilang, tapi karena untuk pertama kalinya sejak berita penurunan penjualan itu masuk pagi tadi, dia merasa tidak sendirian menanggung semua ketidakpastian ini.
---
Ada sesuatu tentang duduk berdua di ruangan yang sepi, larut malam, dikelilingi angka-angka dan strategi yang menentukan nasib proyek besar mereka, yang membuat Madoc menyadari betapa jauh berbedanya perasaannya sekarang dibanding tekanan kerja biasa yang dia hadapi sepanjang kariernya.
Biasanya, tekanan seperti ini membuatnya merasa terisolasi—CEO yang harus menanggung semua keputusan sendirian, dengan setiap orang di sekitarnya menunggu instruksi tanpa benar-benar bisa memahami beban yang dia rasakan.
Tapi dengan Gwen duduk di seberangnya, membahas setiap detail dengan ketenangan yang menular, dia merasakan sesuatu yang jarang dia rasakan—rasa aman, rasa bahwa dia bisa mempertanyakan dirinya sendiri tanpa terlihat lemah, bahwa ada seseorang yang tidak menghakiminya karena ragu, tapi justru membantunya berpikir lebih jernih di tengah kekacauan.
Dia tempat tenang saya, pikirnya, mengamati Gwen yang kembali fokus ke layar laptopnya, menyusun detail teknis berikutnya dengan konsentrasi penuh. Di tengah semua kekacauan ini, dia satu-satunya yang bikin saya bisa napas.
Pikiran itu membuatnya semakin yakin dengan perasaannya sendiri, tapi juga semakin sadar betapa rumitnya situasi yang dia hadapi—perasaan yang tumbuh semakin dalam justru di tengah krisis yang seharusnya jadi prioritas utamanya, bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal-hal personal semacam ini.
---
Jam sebelas malam, mereka akhirnya menyelesaikan revisi timeline dan strategi implementasi, siap dijalankan mulai besok pagi.
"Ini udah solid," kata Gwen, menutup laptopnya, menyandarkan punggung ke kursi dengan lelah yang jujur. "Semoga cukup buat nahan serangan mereka."
"Pasti cukup," kata Madoc, mencoba terdengar yakin, meski dalam hati masih menyimpan kekhawatiran yang sama seperti sebelumnya. "Kamu udah kerja maksimal buat ini."
"Kita kerja bareng, Pak," koreksinya, tersenyum lelah. "Bukan cuma saya."
Mereka berkemas bersama, keluar ruangan yang sudah kosong sejak jam sembilan tadi, berjalan menuju lift dengan langkah yang sama-sama lelah tapi puas karena sudah menyusun rencana yang solid untuk menghadapi krisis besok.
Di dalam lift, keheningan yang tercipta terasa berbeda dari keheningan canggung yang biasa muncul di antara mereka—kali ini lebih ke arah kelelahan bersama yang nyaman, dua orang yang baru saja melewati hari panjang bersama-sama, saling mendukung tanpa perlu banyak kata untuk menjelaskannya.
Madoc menatap pantulan mereka berdua di kaca lift, memikirkan betapa krisis yang seharusnya jadi beban paling berat dalam kariernya sebagai CEO, justru menjadi katalis yang membawanya lebih dekat dengan orang yang, tanpa dia sadari sepenuhnya, sudah menjadi jangkar emosionalnya di tengah badai yang terus datang silih berganti.
Dia tidak tahu bagaimana krisis Aditama ini akan berakhir, tapi untuk malam ini, dengan Gwen berdiri di sampingnya, dia merasa cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang akan datang besok.