Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Pelayaran Menuju Teluk Rinjani dan Rahasia di Balik Terumbu Karang
BAB 27: Pelayaran Menuju Teluk Rinjani dan Rahasia di Balik Terumbu Karang
Fajar menyingsing di ufuk timur pesisir selatan, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus tirai tipis kamar resor terapung tempat Mayor Aris dan Mayang menghabiskan malam kedua bulan madu mereka.
Deburan ombak yang menghantam tiang-tiang kayu resor terdengar seperti alunan melodi alam yang menenangkan, jauh berbeda dari hiruk-pikuk suara apel pagi atau derap sepatu lars di Mako Batalyon.
Hari ini adalah hari kedua dari jatah cuti istimewa sang perwira, dan Aris telah merancang rangkaian agenda perjalanan yang luar biasa untuk memanjakan istri tercinta.
Di atas tempat tidur berukuran besar dengan seprai putih bersih, Mayang masih terlelap dalam posisi miring memeluk guling.
Kacamata berbingkai tipis miliknya tergeletak rapi di nakas sebelah lampu tidur. Wajahnya tampak begitu damai, tanpa garis kelelahan yang biasa membayanginya saat harus mengurus berbagai kegiatan organisasi Persit di asrama.
Aris, yang sudah terbangun sejak pukul lima pagi, duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memperhatikan wajah istrinya.
Pria berbadan tegap itu tersenyum tipis sebuah pemandangan langka yang tidak akan pernah disaksikan oleh para prajurit di bawah komandonya.
Dengan gerakan sangat pelan agar tidak membangunkan tidurnya, tangan kekar Aris terulur untuk menyelipkan beberapa helai rambut hitam Mayang yang menutupi dahi.
Namun, sentuhan lembut itu rupanya membuat Mayang terusik.
Kelopak mata gadis itu perlahan terbuka.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan penglihatan, lalu mendapati sang suami sedang menatapnya lekat-lekat dengan pandangan penuh puja.
"Pagi, Ibu Komandan," sapa Aris dengan suara baritonnya yang serak khas bangun tidur, terdengar sangat hangat dan intim.
Mayang merona merah, pipinya seketika berubah merona hangat. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Mas Aris sudah bangun dari tadi? Kenapa nggak bangunin aku?"
"Mana tega saya membangunkan malaikat yang sedang tidur nyenyak?" jawab Aris menggoda, lalu mengecup singkat puncak kepala Mayang.
"Ayo bangun. Hari ini kita punya jadwal padat. Kita mau menjelajahi pulau tersembunyi di ujung teluk, jadi mandilah yang bersih dan siapkan fisikmu."
Pukul delapan pagi, setelah menikmati sarapan berupa roti panggang alpukat dan secangkir kopi hitam pekat buatan Aris, keduanya keluar dari kamar resor.
Mengenakan pakaian santai bernuansa pantai kemeja linen putih tipis bagi Aris dan dress pantai selutut bermotif bunga tropis bagi Mayang yang dipadu kacamata andalannya mereka berjalan menuju dermaga kecil.
Di sana, sebuah perahu motor cepat (speedboat) sewaan berwarna biru tua telah menunggu bersama seorang pengemudi lokal yang ramah.
"Silakan naik, Nyonya Aris," ucap Aris sambil mengulurkan tangan kekarnya, menyambut jemari Mayang untuk membantunya melompat turun ke atas dek perahu yang sedikit bergoyang karena terempas riak air.
Perjalanan laut dimulai. Mesin perahu berderu sedang, membelah air laut yang jernih bagaikan kristal hijau kebiruan.
Angin laut berembus kencang, menerbangkan ujung rambut Mayang dan membuat tawa kecil renyah lepas dari bibirnya.
Ia memegang erat tepi perahu sambil menikmati cipratan air asin yang sesekali terbawa angin mengenai wajahnya.
Aris duduk di sampingnya, merangkul bahu Mayang dengan protektif, memastikan istrinya tidak merasa kedinginan atau goyah selama perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit melintasi gugusan tebing karang yang menjulang megah, perahu akhirnya memperlambat laju dan berhenti di sebuah teluk terpencil yang dikelilingi pasir putih bersih tanpa ada jejak manusia lain.
Tempat itu bernama Teluk Rinjani Kecil, sebuah surga tersembunyi yang terkenal dengan ekosistem bawah lautnya yang masih sangat perawan.
"Wah... Mas, airnya bening banget! Kita bisa lihat dasar lautnya dari atas sini!" seru Mayang girang, melompat-lompat kecil di atas dek perahu seolah ia bukan lagi seorang istri perwira yang harus menjaga wibawa di depan umum.
Aris tertawa renyah melihat keluguan dan antusiasme istrinya.
"Belum apa-apa sudah takjub. Nanti kalau kamu sudah turun ke dalam air, kamu bakal lihat dunia yang jauh lebih indah lagi."
Begitu perahu menepi, pengemudi lokal membantu menyiapkan perlengkapan snorkeling lengkap berupa masker selam, selang napas, kaki katak, serta jaket pelampung.
Mayang sempat merasa ragu ketika melihat kedalaman air di sekitar teluk tersebut. Meskipun ia bisa berenang sedikit, membayangkan harus mengapung di atas laut yang cukup dalam membuatnya menelan ludah.
Melihat keraguan di wajah istrinya, Aris langsung bertindak. Ia memasangkan sabuk pelampung dengan telaten di tubuh Mayang, lalu membenarkan posisi masker selam di wajah istrinya agar pas dan tidak kemasukan air.
"Jangan takut, ada saya di sini," bisik Aris tepat di dekat telinga Mayang, memberikan ketenangan yang mutlak.
"Saya tidak akan biarkan kamu lepas dari genggaman saya sedetik pun. Percaya sama suami kamu ini."
Mayang mengangguk mantap. Dengan tarikan napas panjang, ia perlahan turun ke dalam air bersama Aris.
Begitu wajah mereka masuk ke permukaan air laut, pemandangan luar biasa langsung menyambut pandangan mereka.
Terumbu karang berwarna-warni terbentang luas bagaikan taman bawah air yang megah, diselingi oleh ratusan ikan badut, ikan kepe-kepe, dan biota laut eksotis lainnya yang berenang mondar-mandir tanpa rasa takut.
Aris memegang erat tangan kiri Mayang, menuntun langkah dan arah renang istrinya secara perlahan agar bisa menikmati keindahan karang tersebut dari dekat.
Sesekali, Aris menunjuk ke arah sekawanan ikan besar yang melintas, membuat Mayang tersenyum lebar di balik selang pernapasannya.
Mereka menghabiskan waktu lebih dari satu jam berenang berdampingan di tengah keheningan dan keajaiban dunia bawah laut, melupakan seluruh penat dunia militer di daratan.
Menjelang pukul dua belas siang, perut mulai keroncongan. Aris mengajak Mayang naik kembali ke perahu untuk berpindah lokasi ke sebuah pulau nelayan tradisional yang terletak tidak jauh dari teluk tersebut.
Di pulau itu, terdapat sebuah rumah makan panggung sederhana milik warga lokal yang terkenal menyajikan hidangan hasil laut segar tangkapan hari itu juga.
Suasana rumah makan tersebut sangat asri, beratapkan jerami rumbia dengan tiang-tiang bambu kokoh yang langsung menghadap ke arah laut lepas.
Begitu mereka duduk di meja kayu beralaskan daun pisang, aroma bakaran ikan langsung menggelitik indra penciuman.
"Silakan dipesan apa saja yang kamu mau, Mayang. Hari ini dompet Komandan aman untuk memanjakan istrinya," ujar Aris sambil menyerahkan buku menu lusuh kepada Mayang.
Mayang tertawa kecil. "Kalau gitu aku pesan yang banyak ya, Mas! Jangan menyesal kalau nanti dompetnya bolong."
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.
Di atas meja tersaji satu porsi besar ikan kakap bakar rica-rica dengan bumbu rempah melimpah yang meresap sempurna, semangkuk sup ikan asam pedas (garo rica) yang masih mengepulkan uap panas, cumi saus padang yang empuk, serta sepiring plecing kangkung khas pesisir yang disiram sambal tomat terasi segar.
Tidak ketinggalan, dua buah kelapa muda utuh dengan daging buah yang tebal disajikan sebagai pelepas dahaga.
Mayang melahap makanan tersebut dengan penuh lahap dan kenikmatan yang tiada tara.
Setiap suapan ikan bakar yang berpadu dengan pedasnya sambal membuat matanya terpejam menikmati rasa.
Aris yang duduk di depannya tak henti-hentinya tersenyum, merasa jauh lebih bahagia melihat istrinya makan dengan lahap daripada menyantap hidangan mewah di ruang makan perwira markas.
"Enak banget, Mas! Sumpah, ini bumbu ikannya juara banget," puji Mayang sambil menyeka bibirnya dengan tisu.
"Makanya, lain kali kalau saya ajak jalan-jalan seperti ini jangan banyak mikir urusan asrama dulu," balas Aris lembut sambil menuangkan air kelapa muda ke dalam gelas Mayang.
"Nikmati hidup, nikmati waktu kita."
Sore harinya, setelah beristirahat sejenak di beranda rumah makan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan santai menyusuri perkampungan nelayan setempat.
Mayang tampak menikmati interaksinya dengan anak-anak desa yang berlarian di sepanjang pantai, sementara Aris dengan ramah menyapa beberapa sesepuh desa yang sedang memperbaiki jaring ikan di bawah pohon ketapang rindang.
Matahari mulai condong ke barat, perlahan mengubah warna langit sore menjadi gradasi jingga, merah jambu, dan keunguan yang dramatis.
Saat perjalanan pulang menaiki perahu menuju resor utama, angin laut berembus semakin syahdu, membawa serta rasa lelah fisik yang seketika menguap tergantikan oleh kehangatan di dalam dada.
Setibanya kembali di resor menjelang magrib, mereka membersihkan diri dan mengenakan pakaian malam yang lebih santai.
Aris telah memesan meja khusus di restoran terbuka tepi pantai milik resor, yang diterangi oleh puluhan lampu gantung kecil temaram dan lilin-lilin aromaterapi di setiap sudut meja.
Malam itu, di bawah langit malam yang bertabur bintang gemilang tanpa polusi cahaya kota, mereka menikmati makan malam romantis yang tenang.
Sambil memotong hidangan daging panggang empuk, Aris menatap Mayang lekat-lekat di balik meja makan kecil tersebut.
"Mayang..." panggil Aris dengan nada suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius namun penuh kelembutan.
Mayang mengangkat wajahnya, meletakkan garpunya di atas piring. "Iya, Mas? Ada apa?"
Aris meraih tangan kanan Mayang di atas meja, mengusap jemari istrinya dengan penuh kehati-hatian.
"Selama kita menikah dan hidup dalam ritme militer yang keras, saya tahu tidak mudah bagimu untuk beradaptasi. Tapi hari-hari ini di sini... melihat kamu tersenyum lepas, tertawa tanpa beban, membuat saya sadar bahwa kehadiranmu adalah anugerah terbesar dalam hidup saya."
Mata Mayang mendadak menghangat. Bulir air mata kebahagiaan menggenang di balik lensa kacamatanya.
Ia meremas jemari suaminya erat-erat.
"Mayang juga bersyukur punya suami sehebat Mas Aris. Terima kasih sudah memberikan waktu dan cinta sebesar ini."
Aris berdiri dari kursinya, berjalan mendekati sisi kursi Mayang, lalu mengulurkan tangan kanannya mengajak sang istri berdiri.
Diiringi alunan musik akustik gitar dari musisi lokal yang memainkan lagu romantis di sudut restoran, Aris mendekap pinggang Mayang erat-erat.
Mereka berdansa pelan di atas pasir pantai yang beralaskan papan kayu, merayakan cinta mereka dalam keheningan malam yang magis, menutup hari kedua cuti bulan madu dengan kenangan yang takkan pernah pudar selamanya.