Indonesia
NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Janji Enam Bulan

Setelah drama penggerebekan yang menguras sisa umur itu mereda, suasana ruang tengah villa perlahan kondusif. Bima si kurir pembawa berita bencana yang tadinya berniat kabur sekarang malah duduk paling pojok di atas karpet bulu tebal sambil mengunyah kerupuk kaleng dengan lahap. Wajahnya santai banget, seolah dia tidak baru saja hampir kena serangan jantung lima belas menit lalu.

Di atas karpet, aroma gurih nasi uduk, bumbu kacang, dan bawang goreng menyengat hidung. Kami semua duduk melingkar. Tante Maya masih duduk cemberut sambil meratapi nasib pemotongan anggaran bulanan lima puluh persen yang diketok palu oleh Om Heru.

Gue duduk berdampingan dengan Kian di sisi kiri, sementara empat pasang mata orang tua kami menatap ke arah kami.

"Jadi," Om Heru membuka percakapan sambil menyeruput teh hangatnya, "karena kalian berdua kelihatan makin lengket dan tidak ada lagi berantem-berantem ala anak kecil... Papa sama Mama sudah mulai mikirin buat nyari tanggal resepsi yang pas buat enam bulan ke depan."

UHUK!

Bima yang sedang mengunyah kerupuk langsung tersedak hebat. Gue refleks menegakkan punggung, sementara Kian yang baru mau menyuap nasi uduk sempat terhenti di udara. Otak gue yang baru reboot dari tragedi tadi langsung korsleting lagi.

"Pa," potong Kian tenang, menaruh kembali sendoknya di atas piring. "Kan perjanjian awalnya enam bulan masa percobaan dulu. Kita baru jalan tiga minggu, lho. Nanti kalau Elora kaget terus kabur gimana?"

"Loh, kabur gimana maksudmu?" Tante Maya menyela, matanya melotot jenaka ke arah Kian. "Wong tadi Mama lihat kalian berdua nempel mulu kayak perangko! Ya gak, Ra?"

Gue sama Kian langsung saling tatap selama satu detik.

Begitu sadar posisi duduk kami berdua di atas karpet ternyata masih kelewat rapat, kami tersentak dan refleks bergeser menjauh secara drastis. Kian geser ke kiri sampai hampir menabrak Bima yang lagi ngunyah kerupuk, sementara gue geser ke kanan sampai mepet ke kaki meja.

"Biasa aja gesernya, Gak usah melompat gitu juga!" celetuk Papa gue gemas melihat reaksi lebay kami berdua.

Muka gue rasanya udah mendidih. Kian buru-buru membetulkan posisi duduknya sambil berdehem canggung, mencoba bersikap normal padahal tengkuknya udah merah padam.

Mama gue yang melihat itu cuma bisa tertawa pelan. Beliau meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap kami berdua dengan raut wajah yang mendadak lembut.

"Udah, Papa jangan ikut-ikutan ngegodain," lerai Mama. Beliau lalu memajukan tubuhnya sedikit, menatap gue sama Kian bergantian. "Tapi beneran lho, Ki, Ra. Kami mau memastikan kalian berdua itu beneran saling nyaman. Dulu kan kalian pas diajak ngobrolin ini bilangnya cuma 'demi turuti kemauan orang tua'. Sekarang gimana?"

Pertanyaan Mama mendadak mengubah suasana meja makan yang tadinya penuh canda menjadi hening dan hangat.

Gue menunduk, bingung harus menjawab apa. Kalau gue bilang 'iya nyaman', gengsi yang gue pertahankan belasan tahun di depan Kian bakal hancur lebur saat itu juga. Tapi kalau gue bilang 'enggak', jelas-jelas gue bohong besar.

Di sebelah gue, Kian perlahan mengulurkan tangan kirinya ke bawah meja. Tanpa bisa dilihat oleh orang tua kami, jarinya menyusup dan menggenggam erat jemari tangan kanan gue.

Gue menoleh, menatap Kian dari samping.

Kian menatap orang tua kami. Tatapannya tegas, sama sekali tidak ada raut becanda khasnya.

"Semuanya..." kata Kian pelan. "Awalnya Kian emang terima perjodohan ini karena gak mau ngecewain kalian. Tapi dalam tiga minggu ini, Kian sadar... keputusan kalian itu hal terbaik yang pernah terjadi di hidup Kian."

Gue menahan napas. Genggaman tangan Kian di bawah meja makin mengerat.

"Soal tanggal resepsi atau apa pun nanti setelah enam bulan," sambung Kian sambil melirik ke arah gue dengan senyum paling tulus yang pernah dia miliki, "biarkan Kian yang berjuang buat bikin Elora bener-bener yakin. Kian gak mau Elora nikah sama Kian cuma karena terpaksa atau ikut kemauan orang tua. Kian mau Elora milih Kian karena dia emang mau."

Suasana ruangan mendadak hening total. Cecak di langit-langit yang tadi sempat jantungan pun kayaknya ikut terharu.

Tante Maya sampai mengusap sudut matanya yang agak berair (kali ini beneran ada air matanya), Om Heru tersenyum bangga sambil mengangguk-angguk, sementara Mama menatap Kian dengan raut lega yang luar biasa. Bahkan Bima yang biasanya hobi ceplas-ceplos cuma bisa diam sambil mengacungkan jempol dari pojokan.

Gue? Gue cuma bisa terpaku. Kata-kata Kian barusan meruntuhkan sisa-sisa keraguan di dalam hati gue. Cowok yang dulu gue kira cuma sahabat menyebalkan yang hobi tebar pesona, ternyata sebegitu menghargai perasaan gue.

Sore harinya, orang tua kami dan Bima sudah pamit pulang lebih dulu karena ada urusan di Jakarta. Kami berdua dipesan untuk pulang esok pagi saja agar tidak terjebak macet arus balik Puncak.

Setelah mobil sedan hitam itu menghilang di balik belokan jalan, keheningan Puncak kembali menyelimuti villa. Udara sore yang mulai dingin membawa kabut tipis merayap turun dari kebun teh.

Gue dan Kian berdiri berdua di balkon lantai dua, menyandarkan siku di pembatas kayu sambil menikmati cangkir teh masing-masing.

"Ki," panggil gue pelan, memecah keheningan.

"Hm?" Kian menoleh, menatap profil samping wajah gue.

"Soal omongan lu di meja makan tadi..." Gue menggigit bibir bawah, ragu-ragu untuk melanjutkan. "...lu beneran serius?"

Kian terkekeh pelan. Dia menaruh cangkir tehnya di atas meja kecil, lalu memutar tubuh menyandarkan punggung di pembatas balkon, menatap tepat di manik mata gue.

"Elora, Elora," gumamnya pelan. Tangannya terangkat, mengusap lembut pipi gue yang diterpa angin dingin. "Gue harus ngomong pakai bahasa planet mana lagi sih biar lu percaya kalau gue gak pernah semain-main itu soal lu?"

Gue menatap matanya yang jernih. "Gue cuma takut, Ki... kita sahabat dari kecil. Kalau misalnya ini gak berhasil..."

"Bakal berhasil," potong Kian cepat. Dia memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara kami. "Karena gue gak akan membiarkan ini gagal."

Kian menundukkan kepalanya sedikit, menempelkan dahi hangatnya ke dahi gue. Suara napasnya terdengar teratur di depan wajah gue.

"Lupakan soal sisa masa percobaan lima bulan lebih itu, Ra," bisik Kian pelan. "Mulai hari ini, lu bukan lagi cuma calon istri di atas kertas perjodohan. Lu cewek yang lagi gue perjuangkan."

Gue memejamkan mata, merasakan kehangatan yang mengalir dari sentuhan tangannya. Rasa takut dan gengsi yang selama ini membelenggu gue perlahan menguap bersama kabut Puncak sore itu.

"Oke," bisik gue pasrah diiringi senyuman tipis. "Awas aja kalau lu gagal ngebuktiinnya."

Kian tertawa pelan, tawa renyah yang selalu bikin dada gue berdesir, dia lalu mengecup ujung hidung gue dengan gemas. "Siap, Calon Istri."

1
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!