Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Putusan Cerai
Putusan itu dibacakan pada Selasa pagi.
Setelah berbulan-bulan sidang dan mediasi gagal, Pengadilan Negeri mengabulkan gugatan Karina. Pernikahan sepuluh tahun mereka berakhir dalam kalimat hukum yang singkat.
Karina menerima salinan putusan dengan tangan dingin. Tidak ada musik kemenangan. Hanya suara kertas, langkah pengacara, dan rasa kosong ketika status yang dibawanya selama sepertiga hidup resmi hilang.
Hakim telah menyebut bahwa bukti perselingkuhan, pengakuan dalam mediasi, serta perpisahan tempat tinggal menunjukkan rumah tangga tidak dapat dipertahankan. Pembagian harta mengikuti kesepakatan tertulis. Tidak ada adegan dramatis seperti di televisi. Proses hukum hanya menutup pintu yang sebenarnya sudah patah sejak Hotel Astoria.
Pengacara Karina menjelaskan langkah berikutnya: mengambil salinan berkekuatan hukum, memastikan perubahan status tercatat, dan menyimpan semua dokumen untuk administrasi sipil. Karina memasukkan putusan ke map bening di samping hasil USG.
Satu map mengakhiri pernikahan lama. Satu gambar kecil memaksanya memikirkan keluarga baru.
Nathan menunggu di luar gedung sejak pagi. Karina sempat melarangnya datang karena khawatir bertemu Andri, tetapi dia hanya membalas bahwa seseorang harus memastikan Karina tidak turun tangga sendirian. Nathan tidak masuk ruang sidang dan menghormati batas itu. Dia berdiri dekat pintu keluar dengan sebotol air dan obat di saku.
Ketika Karina pertama kali muncul, dia tidak langsung tersenyum. Dia hanya membuka kedua tangan. Karina nyaris berjalan ke pelukan itu sebelum melihat Andri di lorong.
"Selamat," bisik Josie melalui telepon. "Kamu bebas."
Karina memandang pintu ruang sidang. "Iya. Bebas."
Andri menunggunya di lorong. "Kita bicara lima menit."
"Semua sudah selesai."
"Aku mau minta maaf tanpa pengacara."
Karina berjalan melewatinya. Andri meraih lengannya dari belakang. Cengkeramannya tepat di bekas tempat infus dan membuat Karina meringis.
"Lepas."
"Dengar dulu. Aku menyesal. Tania berubah setelah tahu aku tidak punya banyak aset. Mama juga terus membuat masalah. Aku baru sadar rumah kita dulu lebih tenang."
"Kamu menyesal kehilangan kenyamanan, bukan kehilangan aku."
Andri mempererat genggaman. "Rin."
"Nggak dengar disuruh lepas?"
Suara Nathan datang dari ujung lorong.
Dia berjalan cepat, wajahnya tanpa senyum. Sebelum Andri sempat menjawab, Nathan memegang pergelangan tangannya dan memutarnya sampai cengkeraman terlepas.
"Siapa kamu?" bentak Andri.
Nathan mendorong Karina ke belakang tubuhnya. "Orang yang tahu kata tidak."
Andri mengayunkan tangan. Nathan menghindar, menyapu kakinya, dan membuat Andri jatuh di lantai. Suara tubuh menghantam ubin membuat beberapa orang menoleh. Petugas keamanan mendekat.
"Nathan, cukup." Karina memegang lengannya.
Nathan berhenti seketika.
Andri bangkit dengan wajah merah. Tatapannya jatuh pada Nathan, lalu berubah ketika ingatan muncul. "Kamu lelaki di foto itu."
Nathan menatap dingin. "Foto apa?"
"Dia mencium kamu untuk membalas aku. Kamu cuma mainan."
Rahang Nathan mengeras. Karina melangkah ke depan. "Jangan bicara seolah kamu tahu hubungan kami."
Andri melihat perut Karina yang mulai sedikit berubah di balik gaun longgar. "Kamu hamil?"
Karina refleks menutup perut dengan tangan.
Wajah Andri penuh perhitungan. "Baru cerai sudah hamil anak bocah? Rin, kamu sedang dimanfaatkan."
"Kalau mau melapor karena dipukul, silakan ke polisi," kata Karina. "Tapi jelaskan juga kenapa kamu menarik perempuan hamil di gedung pengadilan yang penuh kamera."
Andri terdiam.
Petugas keamanan meminta mereka membubarkan diri. Nathan menggandeng Karina menuju parkiran. Tangannya masih bergetar karena marah.
Di mobil, Karina memeriksa perut dan memastikan tidak ada kram. Nathan berjongkok di depan kursinya.
"Sakit di mana?"
"Lengan saja."
"Kita ke dokter."
"Nggak perlu."
"Karina."
Nada itu membuatnya menyerah. Mereka menelepon klinik, menjelaskan tidak ada benturan atau perdarahan, lalu mengikuti saran untuk beristirahat dan datang jika muncul gejala.
"Kamu nggak boleh menendang orang sembarangan," kata Karina.
"Dia menyentuhmu."
"Kita di pengadilan. Ada polisi, petugas, kamera."
"Aku berhenti saat kamu bilang."
Itu benar. Kemarahan Nathan padam hanya oleh satu sentuhan Karina.
"Aku takut kamu mendapat masalah," katanya pelan.
Nathan menatapnya. "Takut untukku?"
"Takut anak-anakku punya ayah di tahanan."
"Alasan yang romantis."
Karina memukul bahunya pelan.
Nathan mengambil salinan putusan dari tasnya dan membaca halaman terakhir. "Sekarang kamu resmi bebas."
"Aku baru saja keluar dari pernikahan. Jangan mendesak."
"Aku nggak mendesak." Dia mengeluarkan ponsel. "Aku cuma sudah menghubungi Jerry di Singapura."
"Siapa Jerry?"
"Teman yang bisa membantu pendaftaran pernikahan."
Karina menatapnya tidak percaya. "Kamu bilang tidak mendesak?"
"Aku menyiapkan pilihan. Anak-anak harus lahir dalam pernikahan yang sah. Kita bisa daftar cepat di Singapura, lalu urus pencatatan sipil dan pesta di sini setelah kondisimu aman."
"Pernikahan bukan formulir perlindungan bayi."
"Aku tahu."
"Kita belum saling mengenal."
"Kita belajar sambil menjaga mereka."
"Kalau setahun lagi kamu sadar salah?"
Nathan menatap lurus. "Kalau sepuluh tahun lagi kamu masih takut aku akan pergi, aku akan tetap menjawab hal yang sama."
Karina memalingkan wajah ke jendela. Di luar, pasangan lain keluar dari gedung pengadilan dengan mata sembap. Tempat ini mengajarkan bahwa janji saja tidak cukup.
"Aku butuh waktu," katanya.
"Ambil. Tapi bukan untuk menyangkal bahwa kita harus membuat keputusan."
Nathan menunjukkan pesan dari Jerry. Daftar dokumen tertulis rapi: paspor, akta perceraian atau putusan final, bukti domisili, dan jadwal pendaftaran. Tidak ada rencana kabur tanpa prosedur.
"Kamu sudah menyiapkan semuanya?"
"Aku mulai sejak dokter bilang tiga."
"Kamu selalu secepat ini?"
"Kalau sesuatu penting, iya."
Karina menyimpan ponsel itu kembali ke tangan Nathan. Di balik kenekatannya, pemuda ini memperhitungkan langkah yang bahkan belum berani dia pikirkan.
Mereka berhenti di sebuah kedai untuk makan siang. Nathan memesan makanan tanpa cabai sesuai catatan dokter dan mengangkat gelas jus.
"Untuk Karina Wijaya," katanya. "Bukan istri siapa pun. Bukan perempuan gagal. Dirimu sendiri."
Karina menyentuhkan gelas. Tenggorokannya terasa penuh, tetapi kali ini bukan karena sedih.
"Keluargamu tahu?"
"Belum."
"Keluargaku juga belum tahu aku cerai."
"Makanya kita bergerak pelan dan rahasia."
Karina tertawa karena logikanya terbalik. Nathan menyalakan mobil, tetapi sebelum berangkat dia menyentuh buku-buku jari Karina dengan bibir.
"Hari ini jangan pikirkan pernikahan berikutnya," katanya. "Rayakan kebebasanmu dulu."
Di seberang parkiran, Andri masih berdiri sambil memperhatikan mereka. Tatapannya turun ke perut Karina, penuh curiga dan obsesi yang belum selesai.
Nathan mengikuti arah mata Andri, lalu berdiri menutupi Karina dari pandangannya. Senyum di wajah Nathan lenyap. Untuk sesaat, Karina melihat sisi gelap yang selama ini tersembunyi di balik godaan.
"Dia akan mencoba mengganggu lagi," kata Nathan.
"Biarkan hukum yang menangani."
"Selama hukum bergerak, aku berdiri di depanmu," katanya, tanpa sedikit pun keraguan di wajah atau suaranya pada saat itu.