Indonesia
NovelToon NovelToon
Sekte Puncak Keabadian

Sekte Puncak Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
​Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Persiapan Menjelang Badai

​Cahaya perak dari pusaran Gerbang Teleportasi Ruang-Waktu berpendar lembut di pelataran Gunung Bintang Jatuh. Satu per satu, empat puluh dua remaja berpakaian kotor dan penuh luka melangkah keluar dari portal tersebut.

​Begitu kaki mereka menyentuh lantai batu giok putih di pelataran sekte, napas mereka serentak tertahan.

​Hujan Roh Cair turun dengan lembut, membasahi kulit mereka dan seketika menyembuhkan luka lecet serta kelelahan fisik yang mereka derita selama menaiki tangga ujian. Di hadapan mereka, bangunan-bangunan megah yang memancarkan aura kuno menjulang menembus awan: Paviliun Kitab Suci yang dikelilingi gulungan bercahaya, Paviliun Alkimia yang mengeluarkan aroma obat penenang jiwa, serta Aula Utama yang memancarkan paksaan mutlak.

​"I-ini... apakah kita telah mati dan masuk ke taman para Dewa?" gumam seorang remaja, berlutut dan mencium lantai batu giok yang terasa lebih berharga daripada emas murni.

​Di antara kelompok itu, Mu Bai berdiri dengan tubuh gemetar. Mata hitamnya yang tajam menyapu sekeliling. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, berharap energi spiritual yang sangat pekat ini bisa menembus urat nadinya yang layu.

​Namun, seperti yang sudah-sudah, Hawa Murni itu hanya melewati tubuhnya seperti angin yang melewati jaring kosong. Tidak ada setetes pun yang tersimpan di dalam Dantian-nya.

​Bahu Mu Bai merosot. Kekecewaan yang amat pahit mencekik lehernya. "Bahkan di Tanah Suci ini... aku tetaplah sebuah tong sampah yang bocor," batinnya pedih.

​"Kalian telah memasuki wilayah Gunung Bintang Jatuh," suara yang sangat jernih dan tenang tiba-tiba bergema dari atas, seolah turun langsung dari langit.

​Keempat puluh dua murid luar itu serentak mendongak. Di atas undakan tangga Aula Utama, sesosok pemuda berjubah putih berdiri dengan tangan di belakang punggung. Meskipun pemuda itu tampak tidak jauh lebih tua dari Ye Chen, aura yang ia pancarkan membuat puluhan remaja itu secara naluriah berlutut dan bersujud.

​"Memberi salam kepada Ketua Sekte Agung!" teriak mereka serempak, mengikuti arahan yang sebelumnya diajarkan oleh Ye Chen.

​Lin Xuan menatap mereka dengan senyum tipis. Matanya yang kini menyimpan kedalaman hukum alam menyapu satu per satu murid barunya. Saat pandangannya jatuh pada Mu Bai yang berlutut di barisan paling belakang, cahaya keemasan redup melintas di pupil matanya.

​"Sistem, gunakan Mata Penilai pada anak itu."

​[Memindai target: Mu Bai...]

[Nama: Mu Bai]

[Usia: 14 Tahun]

[Kultivasi: Fana (Belum berkultivasi)]

[Tulang Akar: Cacat (Fisik luar menolak Qi atribut elemen pertempuran).]

[Garis Keturunan Tersembunyi: Fisik Tungku Alam Semesta (Mitos). Fisik ini terlalu kuat untuk menyerap energi spiritual mentah. Tubuh target menganggap Qi biasa sebagai racun yang tidak murni. Untuk membuka kunci fisik ini, target harus menelan esensi tanaman spiritual tingkat tinggi atau dibaptis menggunakan Api Sejati.]

[Potensi Dao: Alkimia Tingkat Dewa Pencipta.]

​Mata Lin Xuan 살 sedikit melebar sebelum ia kembali tersenyum penuh arti. "Fisik Tungku Alam Semesta? Mampu menolak Qi biasa karena dianggap kotor? Anak ini bukan sampah, dia adalah panci emas yang tertutup debu batu! Jika dia dibimbing dengan benar, sekte ini tidak akan pernah kekurangan pil suci."

​"Bangunlah," ucap Lin Xuan lembut, mengangkat tangannya perlahan. Sebuah angin spiritual mengangkat tubuh keempat puluh dua anak itu hingga mereka berdiri kembali.

​"Ye Chen, Su Yue'er," panggil Lin Xuan.

​Kedua murid inti itu segera maju dan menundukkan kepala.

​"Bawa empat puluh satu murid ini ke Asrama Luar. Berikan mereka seragam sekte dan teknik Pembangunan Yayasan dasar. Biarkan mereka beradaptasi," perintah Lin Xuan, lalu ia menunjuk lurus ke arah remaja compang-camping di barisan belakang. "Dan kau, anak bernama Mu Bai. Tetaplah di sini."

​Jantung Mu Bai seolah berhenti berdetak. Keringat dingin membasahi punggungnya. Teman-temannya menatapnya dengan pandangan kasihan bercampur lega, mengira bahwa anak cacat itu akan langsung diusir oleh Ketua Sekte yang maha tahu.

​Setelah pelataran kosong dan hanya menyisakan Lin Xuan serta Mu Bai, keheningan terasa sangat berat. Mu Bai memberanikan diri menatap mata Lin Xuan, giginya mengatup rapat.

​"Ketua Sekte... saya tahu Dantian saya cacat. Tapi saya mohon, jangan usir saya. Saya bersedia menjadi penyapu halaman seumur hidup, asalkan saya bisa tinggal di sini!" suara Mu Bai bergetar, namun matanya memancarkan tekad pantang menyerah.

​Lin Xuan berjalan menuruni tangga dan berhenti tepat di depan Mu Bai. Ia merentangkan tangannya, mengeluarkan sebuah gulungan kulit kayu yang memancarkan aroma herbal yang sangat kental dari dalam cincin penyimpanannya.

​"Siapa yang mengatakan kau cacat?" ucap Lin Xuan santai.

​Mu Bai tertegun. "Tapi... saya tidak bisa menyerap energi langit dan bumi..."

​"Itu karena tubuhmu terlalu angkuh untuk memakan makanan murahan," Lin Xuan menyodorkan gulungan itu ke dada Mu Bai. "Ada banyak jalan menuju puncak keabadian, Bocah. Kakak seperguruanmu, Ye Chen, menggunakan pedang untuk membakar musuh. Namun kau... jalanmu adalah menggunakan tungku untuk menciptakan kehidupan dan merenggut kematian."

​Mata Mu Bai melebar saat ia membaca judul yang terukir di gulungan tersebut: [Sutra Alkimia Tangan Dewa Pencipta].

​"Di gunung belakang, terdapat kebun herbal yang telah tumbuh dengan subur berkat Vena Spiritual baru kita," lanjut Lin Xuan. "Tugasmu mulai hari ini adalah merawat kebun itu. Pelajari setiap serat, setiap racun, dan setiap sari kehidupan dari tanaman di sana. Jika kau bisa mengubah rumput liar menjadi pil yang bisa memperpanjang usia, maka tidak akan ada ahli pedang mana pun di dunia ini yang berani meremehkanmu."

​Air mata menggenang di mata Mu Bai. Sepanjang hidupnya, ia dipanggil sampah, namun di hadapan pemuda berjubah putih ini, ia diperlakukan bagaikan harta karun yang belum diasah.

​Bruk!

​Mu Bai bersujud dengan kening menghantam lantai batu giok hingga berdarah. "Murid tidak akan pernah melupakan kebaikan Guru! Murid akan mengabdikan nyawa murid untuk Sekte Bintang Jatuh!"

​Lin Xuan mengangguk pelan. Ia menjentikkan sedikit hawa murni emasnya, menyembuhkan dahi Mu Bai, lalu menyuruhnya pergi ke kebun belakang.

​Begitu Mu Bai pergi, suasana santai di wajah Lin Xuan memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang dingin. Ia menoleh ke arah timur. Angin yang berhembus dari arah laut tidak lagi membawa kesejukan, melainkan bau garam yang busuk dan niat membunuh yang luar biasa masif.

​"Penatua Li. Chen'er. Yue'er. Datang ke Aula Utama sekarang." Suara Lin Xuan tidak dikirimkan lewat udara, melainkan langsung bergema di dalam lautan kesadaran ketiga petingginya itu.

​Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, ketiga sosok itu melesat masuk ke dalam aula. Li Canggong masih membawa labu araknya, namun wajahnya tampak jauh lebih muram dari biasanya.

​"Ketua," Li Canggong berbicara lebih dulu. "Pedangku bergetar sejak tadi malam. Ada perubahan anomali di perbatasan laut timur. Air laut mulai surut dengan kecepatan tidak wajar... ini adalah pertanda badai yang belum pernah kulihat selama ratusan tahun."

​Lin Xuan duduk di atas takhtanya, mengetukkan jari telunjuknya di sandaran kursi.

​"Bulan purnama akan mencapai puncaknya tiga hari lagi," ucap Lin Xuan tenang, memandang kedua muridnya yang berdiri tegap. "Pada malam itu, segel pembatas antara lautan dan daratan yang ditinggalkan oleh leluhur kuno benua ini akan berada pada titik terlemahnya."

​Ye Chen mengerutkan kening. "Guru, apakah ini ulah sekte dari laut timur yang utusannya Anda hancurkan beberapa waktu lalu?"

​"Tepat," Lin Xuan mengangguk. "Leluhur Naga Laut sedang mengumpulkan sepuluh juta pasukan siluman laut, berniat meratakan seluruh benua ini hanya untuk menghancurkan gunung kita."

​Mendengar angka sepuluh juta, wajah Ye Chen dan Su Yue'er berubah drastis. Sepuluh juta siluman?! Bahkan jika siluman itu hanya setingkat semut, jumlah sebanyak itu bisa meratakan gunung menjadi debu dengan tumpukan mayat mereka!

​"Ketua Sekte," Li Canggong memegang gagang pedangnya, aura Transformasi Dewa Tingkat 3-nya memancar. "Jika kita harus bertarung, aku akan menjaga garis depan di batas seratus lima puluh mil. Pasukan sebanyak itu tidak boleh dibiarkan mendekati kota, atau jutaan nyawa fana akan lenyap."

​Lin Xuan mengangkat tangannya, menghentikan ketegangan sang Penatua.

​"Kita tidak akan mencegat mereka di pantai," ucap Lin Xuan, sebuah senyum penuh perhitungan muncul di bibirnya. "Jika aku menghancurkan mereka di lautan, kita tidak akan mendapatkan bangkainya."

​"Bangkai?" Su Yue'er menatap gurunya dengan kebingungan.

​"Kulit siluman laut untuk membuat jubah pertahanan bagi murid luar. Tulang naga untuk memperkuat pilar-pilar sekte. Dan inti siluman mereka untuk bahan alkimia Mu Bai," jelas Lin Xuan santai, seolah ia tidak sedang membahas ancaman kiamat, melainkan sedang merencanakan daftar belanja bahan makanan di pasar.

​Ia memiringkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke arah Ye Chen dan Su Yue'er.

​"Misi kalian bukan untuk membunuh Leluhur Naga Laut. Makhluk kadal tua itu adalah bagianku. Ujian kalian adalah bertahan dari gelombang pasukan baris depannya. Lindungi murid-murid luar, dan gunakan kesempatan ini untuk membiasakan diri menghadapi perang skala besar."

​Darah Ye Chen mendidih. Rasa takut yang sempat muncul seketika menguap, digantikan oleh kebanggaan yang membakar. Di mata Gurunya, invasi sepuluh juta siluman tingkat dewa dan iblis laut ini hanyalah sekadar "acara panen massal" bagi sekte mereka!

​"Murid mengerti! Pedangku sudah haus akan darah musuh!" seru Ye Chen.

​Su Yue'er memancarkan hawa es dari tubuhnya, membekukan uap air di sekitar gaunnya. "Udara malam sangat cocok untuk mengubah siluman-siluman kotor itu menjadi patung es abadi."

​Lin Xuan mengangguk puas. "Bersiaplah. Biarkan anjing tua lautan itu datang mengantarkan hartanya ke depan pintu kita."

​Tiga Hari Kemudian. Perbatasan Pantai Timur Benua Langit Surgawi.

​Langit malam yang seharusnya gelap kini diwarnai oleh cahaya merah redup dari bulan purnama raksasa yang menggantung rendah di cakrawala.

​Air laut di perbatasan benua telah surut sejauh belasan kilometer, meninggalkan dasar laut yang dipenuhi lumpur dan karang yang mati. Keheningan malam dipenuhi oleh suara mendesis yang sangat menakutkan, datang dari kedalaman kegelapan samudra.

​Tiba-tiba, permukaan laut yang jauh membengkak. Bukan gelombang ombak biasa, melainkan dinding air setinggi ribuan meter yang menghitam, memanjang melintasi seluruh garis pantai timur.

​Di atas puncak tsunami hitam itu, berdiri jutaan siluman laut bersenjatakan trisula karang, dipimpin oleh seratus leviathan raksasa—monster laut berbentuk perpaduan paus dan naga yang mengeluarkan auman memekakkan telinga.

​Dan di tengah-tengah formasi mengerikan itu, sebuah takhta karang melayang, diduduki oleh bayangan raksasa bersisik biru tua yang memancarkan paksaan mematikan dari Puncak Transformasi Dewa.

​"Maju," suara Leluhur Naga Laut bergema, membekukan lautan. "Ratakan daratan ini. Jangan sisakan satu pun makhluk bernapas hingga kita mencapai Gunung Bintang Jatuh."

1
Hadi Hadi
bantai😄😄
Hadi Hadi
lanjut😄😄
Hadi Hadi
is good
Hadi Hadi
bantai😍😍😍
Fajar Fathur rizky
cepat bikin mcnya bantai pria tua itu masak dia
Arinto Ario Triharyanto
yoiii lanjutken 👍
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
mantap💪💪
Hadi Hadi
bantai🤭
Hadi Hadi
up up💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
is good💪💪💪
Hadi Hadi
lanjut💪💪
Hadi Hadi
mantap💪
Hadi Hadi
mantap🤭🤭🤭😄
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
up up up💪
Hadi Hadi
lanjut💪💪
Hadi Hadi
sikat💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!