Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Adu Domba
Hari Minggu. Seharusnya menjadi hari yang paling tenang. Aku libur, Mas Viyan juga libur. Pagi-pagi sekali aku sudah memasak soto ayam kesukaan suamiku. Aroma kaldu memenuhi dapur.
"Harum sekali." Aku tersenyum sendiri sambil mengaduk kuah.
Hari ini aku ingin membuat suasana rumah sedikit lebih hangat.
Semoga saja...
Tidak ada keributan.
"Fitri!" Suara Bu Mirna terdengar dari ruang tengah.
"Iya, Ma." Aku segera menghampiri.
Bu Mirna sedang duduk sambil melipat pakaian. "Setelah masak, kamu bersihkan gudang belakang."
Aku sedikit terkejut. "Gudang lagi, Ma?"
"Iya.Sudah lama enggak dibersihkan."
"Maaf, Ma. Setelah sarapan saya masih mau menyelesaikan laporan yang kemarin belum selesai."
Bu Mirna langsung menghela napas. "Kamu itu...Rumah sendiri saja enggak diurus."
Aku menahan diri. "Baik, Ma.Nanti setelah laporan selesai saya bersihkan."
"Tidak. Sekarang."
Aku menatap jam dinding. Masih pukul tujuh pagi.
Kalau membersihkan gudang sekarang, laporanku pasti terlambat selesai.
Namun sebelum sempat menjawab, Mas Viyan keluar dari kamar.
"Ada apa, Ma?"
"Istrimu ini. Disuruh bersihkan gudang saja banyak alasan."
"Aku cuma minta waktu sebentar buat menyelesaikan laporan. Setelah itu langsung aku kerjakan."
Mas Viyan mengangguk.
"Ya sudah, Ma. Biar Fitri selesaikan dulu. Gudangnya nanti kami kerjakan berdua."
Wajah Bu Mirna langsung berubah.
"Kamu ini. Selalu saja membela istrimu."
"Bukan membela.Cuma mencari jalan tengah."
Bu Mirna tidak menjawab.
Beliau bangkit lalu masuk ke kamarnya.
---
Menjelang siang. Aku sedang mengetik laporan di ruang makan.
Mas Viyan duduk di sebelahku sambil membaca berita di ponselnya.
Tiba-tiba ponsel suamiku berbunyi. Nama yang muncul di layar adalah Bu Mirna.
Padahal... Beliau sedang berada di dalam kamar.
Mas Viyan terlihat heran.
"Ma?"
"Iya, Yan."
"Ke kamar Mama sebentar."
"Kenapa telepon, Ma? Tinggal keluar saja."
"Sudah, sini."
Sambungan langsung terputus.
Mas Viyan mengernyit, lalu berjalan menuju kamar ibunya.
Aku kembali fokus pada laptop.
Beberapa menit kemudian, samar-samar kudengar suara Bu Mirna dari dalam kamar.
"Mama enggak enak ngomongnya. Tapi Mama harus jujur."
Suara itu pelan. Aku tidak bisa mendengar jelas.
Lalu terdengar suara Mas Viyan.
"Maksud Mama apa?"
Hening.
Kemudian suara Bu Mirna kembali terdengar.
"Fitri tadi pagi membentak Mama."
Tanganku langsung berhenti mengetik. Apa? Aku bahkan tidak meninggikan suara sedikit pun.Jantungku mulai berdegup.
---
Sekitar lima menit kemudian, Mas Viyan keluar dari kamar. Wajahnya terlihat datar. Ia duduk kembali di ruang makan.
Aku menatapnya.
"Mas."
"Hm?"
"Ada apa?"
"Enggak."
"Kok Mama telepon?"
"Cuma ngobrol." Jawabannya singkat.
Aku merasa ada yang berubah. Biasanya ia akan langsung bercerita. Namun kali ini tidak.
---
Siang harinya kami membersihkan gudang bersama. Saat sedang mengangkat kardus, aku melihat Mas Viyan lebih banyak diam.
"Mas."
"Iya?"
"Kamu kenapa?"
"Enggak kenapa-kenapa."
"Kamu bohong."
Mas Viyan berhenti bekerja. Lalu menatapku.
"Sayang."
"Iya?"
"Tadi pagi....kamu benar enggak membentak Mama?"
Aku membeku.
"Apa?"
"Mama bilang kamu bicara keras."
Aku menggeleng cepat.
"Mas. Aku sama sekali enggak membentak. Aku cuma bilang setelah laporan selesai aku akan bersihkan gudang."
Mas Viyan mengusap tengkuknya.
"Mas juga bingung. Karena Mama bilang kamu menjawab dengan nada tinggi."
Aku menarik napas panjang. "Mas.Kamu lebih percaya siapa?"
Pertanyaan itu membuat Mas Viyan terdiam.
Beberapa detik berlalu. "Mas percaya kamu. Tapi...Mama juga enggak mungkin bohong." Jawabnya pelan.
Dadaku seperti diremas. Kalimat itu... Sangat menyakitkan.
Bukan karena ia tidak membelaku. Melainkan karena ia masih percaya bahwa ibunya tidak mungkin berbohong. Aku tersenyum tipis.
Senyum yang ku paksakan.
"Sudahlah.Ayo lanjut bersih-bersih."
Aku kembali mengangkat kardus. Namun sejak percakapan itu...
Ada sesuatu yang berubah dalam hatiku.Retakan kecil mulai muncul. Bukan karena pertengkaran. Melainkan karena aku sadar...
Di mata suamiku...Kata-kata ibunya masih memiliki bobot yang sama denganku bahkan walaupun semua kejadian kebohongan tidak masuk akal kemarin-kemarin nya.
---
Malam harinya, Bu Mirna duduk di ruang keluarga sambil tersenyum puas. Dinda menghampiri.
"Berhasil, Ma?"
Bu Mirna mengangguk pelan.
"Belum sepenuhnya.Tapi benihnya sudah ditanam."
"Maksud Mama?"
"Kalau setiap hari Viyan mendengar cerita buruk tentang istrinya...lama-lama dia akan ragu sendiri."
Dinda ikut tersenyum.
"Terus setelah itu?"
Bu Mirna menatap foto keluarga yang terpajang di dinding.
"Setelah kepercayaan mereka retak...Mama tidak perlu lagi menyuruh Viyan memilih. Dia akan menjauh dari Fitri dengan sendirinya."
Tanpa mereka sadari... Di balik pintu ruang tengah, Pak Haris baru saja pulang dari musala.
Dan untuk ketiga kalinya...Beliau mendengar rencana istrinya sendiri yang sengaja ingin menghancurkan rumah tangga anaknya.
Bersambung...