Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAKDIR [POV FRAGMEN KETUJUH: SHEN WUYI]

Nenek Ru mulai batuk lebih sering musim dingin ini.

Shen Wuyi memperhatikannya sejak bulan pertama salju turun—cara ia berhenti sejenak di tengah mengumpulkan kayu bakar, tangan menekan dada, napas yang butuh waktu lebih lama untuk kembali teratur. Ia tidak pernah mengeluh. Ia juga tidak pernah menjelaskan.

"Kau tua," Shen Wuyi berkata suatu pagi, bukan pertanyaan, bukan tuduhan, hanya pengamatan yang ia sampaikan seperti biasa ia menyampaikan segala sesuatu.

Nenek Ru tertawa kecil, meski tawa itu berakhir dengan batuk lagi. "Setelah dua puluh tahun tinggal denganku, kau baru menyadarinya sekarang?"

"Aku selalu tahu kau tua," Shen Wuyi berkata. "Aku baru menyadari kau semakin tua lebih cepat."

---

Ia mulai mengambil alih pekerjaan yang biasa dilakukan Nenek Ru tanpa diminta—mengumpulkan kayu bakar lebih banyak dari biasanya, mengambil air dari sumur di ujung desa dua kali sehari alih-alih sekali, memasak bubur meski hasilnya selalu terlalu encer atau terlalu kental, tidak pernah pas seperti yang biasa dibuat Nenek Ru.

"Kau tidak perlu melakukan semua ini," Nenek Ru berkata suatu malam, menatapnya mengaduk bubur yang jelas gagal lagi.

"Aku tahu," Shen Wuyi berkata, tidak berhenti mengaduk. "Aku melakukannya karena aku ingin."

Itu jawaban yang jarang keluar dari mulutnya—biasanya ia hanya menjawab apa yang ditanyakan, tanpa menambahkan penjelasan yang tidak diminta. Nenek Ru memperhatikan itu, tapi tidak berkomentar lebih jauh, hanya menerima mangkuk bubur yang terlalu encer dengan senyum yang tidak pernah ia tahan ketika berhadapan dengannya.

---

Suatu hari, tanpa memberi tahu siapa pun, Shen Wuyi membawa Nenek Ru ke tepi Reruntuhan Xuwu.

"Kenapa kita di sini?" Nenek Ru bertanya, terengah setelah perjalanan singkat yang terasa lebih melelahkan baginya daripada biasanya.

"Aku ingin mencoba sesuatu," Shen Wuyi berkata.

Ia memapahnya duduk di batu datar tepat di batas tempat panas merah pernah muncul dua tahun lalu, tempat simbol-simbol kuno masih sesekali berkedip pelan tanpa alasan yang jelas. Ia sendiri duduk di sampingnya, menggenggam tangan Nenek Ru dengan tangannya yang lain menyentuh batu berukir terdekat, seperti yang ia lakukan saat menghentikan formasi yang rusak dua tahun lalu.

Ia menunggu.

Tidak terjadi apa pun.

---

Simbol-simbol itu tetap diam, tidak bereaksi terhadap sentuhannya seperti biasanya bahkan tidak bereaksi sama sekali. Napas Nenek Ru tidak berubah. Batuknya, yang muncul beberapa menit kemudian karena udara dingin, tidak mereda sedikit pun.

"Apa yang kau coba lakukan?" Nenek Ru bertanya, suaranya lembut, seolah sudah menduga jawabannya sebelum bertanya.

"Aku tidak tahu," Shen Wuyi mengakui, tangannya masih menempel pada batu yang tetap dingin dan tidak bergerak. "Reruntuhan ini tidak pernah menyentuhku. Aku pikir mungkin—" Ia berhenti, tidak yakin bagaimana menyelesaikan kalimat yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami maksudnya.

"Kau pikir mungkin ia bisa membuatku muda lagi," Nenek Ru menyelesaikan untuknya, tidak dengan ejekan, hanya dengan pengertian yang lembut.

Shen Wuyi tidak menjawab, yang merupakan jawaban itu sendiri.

---

"Reruntuhan ini aneh terhadapmu," Nenek Ru berkata, menepuk tangannya yang masih menempel di batu. "Tapi ia tidak pernah menyembuhkan siapa pun, Nak. Ia hanya diam terhadapmu, seperti kau berbicara bahasa yang dipahaminya, sementara kepada yang lain ia berbicara bahasa yang berbeda sepenuhnya. Itu bukan berarti ia punya kekuatan untuk melawan waktu."

"Aku tidak tahu batasnya," Shen Wuyi berkata pelan. "Aku tidak pernah tahu batas apa pun tentang diriku sendiri."

"Mungkin itu bukan hal buruk," Nenek Ru berkata. "Mengetahui batasmu terlalu pasti kadang membuat orang berhenti mencoba sebelum mereka seharusnya berhenti."

---

Ia batuk lagi, lebih lama kali ini, dan Shen Wuyi menunggu dengan diam yang penuh kekhawatiran yang tidak tahu bagaimana ia ungkapkan dalam kata-kata.

"Aku takut," ia akhirnya berkata, setelah batuk itu reda, kata yang jarang sekali ia gunakan tentang dirinya sendiri.

"Takut apa?" Nenek Ru bertanya, meski dari nada suaranya, ia sepertinya sudah tahu jawabannya.

"Aku tidak tahu kata yang tepat," Shen Wuyi berkata, mencoba menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri baru pertama kali rasakan dengan intensitas seperti ini. "Rasanya seperti ada sesuatu yang akan hilang, dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya, meski aku sudah bisa menghentikan hal-hal yang seharusnya jauh lebih mustahil dihentikan."

---

Nenek Ru menatapnya lama, matanya yang mulai keruh karena usia tetap tajam saat menatap wajah anak yang sudah ia besarkan dua puluh tahun terakhir.

"Kau tahu, aku menemukanmu di sini, bukan?" ia berkata, mengubah arah percakapan dengan cara yang terasa disengaja. "Delapan belas tahun lalu, tepat di batas reruntuhan ini."

"Aku tahu ceritanya," Shen Wuyi berkata.

"Aku tidak pernah menceritakan seluruhnya," Nenek Ru melanjutkan. "Aku hampir tidak mengambilmu malam itu. Aku sudah tua bahkan saat itu, sendirian, tanpa keluarga sendiri yang tersisa. Aku pikir aku tidak punya cukup waktu tersisa untuk membesarkan seorang anak dengan benar."

Ini adalah bagian cerita yang belum pernah Shen Wuyi dengar.

---

"Kenapa kau tetap mengambilku?" ia bertanya.

"Karena kau tidak menangis," Nenek Ru berkata, senyum kecil muncul di wajahnya yang lelah. "Setiap bayi yang pernah kulihat menangis saat lapar, saat dingin, saat ketakutan. Kau hanya menatapku, diam, seolah menunggu untuk melihat apa yang akan kulakukan sebelum memutuskan bagaimana harus bereaksi." Ia tertawa pelan. "Aku pikir, kalau ada anak yang bisa bertahan hidup dengan seorang wanita tua yang mungkin tidak akan hidup cukup lama untuk membesarkannya sepenuhnya, itu anak sepertimu—anak yang sudah terbiasa dengan ketidakpastian sejak detik pertama hidupnya."

---

Shen Wuyi diam, mencerna cerita yang belum pernah ia dengar ini, merasakan sesuatu yang berat di dadanya yang tidak sepenuhnya bisa ia identifikasi.

"Aku tidak ingin kau pergi," ia akhirnya berkata, sederhana, jujur seperti biasa ia jujur tentang segala sesuatu.

"Aku tahu," Nenek Ru berkata, menggenggam tangannya lebih erat. "Aku juga tidak ingin pergi, kalau itu penting bagimu untuk kau ketahui. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan, Nak. Bahkan reruntuhan aneh ini, yang begitu tunduk padamu untuk alasan yang tidak dipahami siapa pun, tidak bisa menegosiasikan ulang hal itu untuk kita."

---

Mereka duduk dalam diam untuk waktu yang lama, angin dingin berhembus melewati simbol-simbol kuno yang sesekali masih berkedip pelan, tidak peduli pada percakapan kecil yang baru saja terjadi di dekatnya.

"Aku tidak tahu bagaimana menghadapi ini," Shen Wuyi akhirnya berkata. "Aku selalu tahu apa yang harus kulakukan dalam situasi lain. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang."

"Kau tidak harus tahu," Nenek Ru berkata. "Kau hanya harus tetap di sini, selama kau masih bisa. Itu sudah lebih dari cukup, Shen Wuyi. Itu selalu lebih dari cukup."

Ia berdiri perlahan, dibantu Shen Wuyi yang masih memegang tangannya, dan mereka berjalan kembali ke desa dalam diam, langkah Nenek Ru lebih lambat daripada biasanya, langkah Shen Wuyi disesuaikan dengan sabar mengikuti kecepatannya, tanpa satu pun dari mereka mengucapkan kata lagi sepanjang perjalanan pulang.

Di belakang mereka, Reruntuhan Xuwu tetap diam seperti biasa, tidak peduli pada satu-satunya hal yang, untuk pertama kalinya, benar-benar diinginkan Shen Wuyi untuk bisa ia ubah dengan sentuhannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!