Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Hari minggu adalah hari libur bagi Ji-eun setelah tiga hari berturut-turut dihadapkan pada jadwal operasional hotel yang teramat padat. Pagi ini, Ji-eun terbangun tanpa suara alarm yang memekakkan telinga. Ia masih meringkuk nyaman di balik selimut tebalnya ketika layar ponsel di atas meja nakas bergetar singkat.

Satu pesan baru masuk dari Tae-jun.

Jangan buat rencana hari ini.

Ji-eun berkedip pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya sebelum mengetik balasan.

Kenapa?

Tak butuh waktu lama hingga balasan berikutnya muncul.

Aku akan menjemputmu satu jam lagi.

Kita mau ke mana? tanya Ji-eun penasaran.

Rahasia. Cukup pakai pakaian yang nyaman.

Ji-eun tertawa kecil membaca balasan singkat itu. Rasa penasaran membuncah di dadanya, membayangkan tempat istimewa apa yang akan dikunjungi oleh seorang Seo Tae-jun pada hari liburnya.

Satu jam kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan gedung apartemen Ji-eun. Ketika pintu penumpang dibuka, Ji-eun sempat terpaku sejenak melihat penampilan pria di balik kemudi. Tae-jun tidak mengenakan setelan jas tegap atau dasi sutra yang biasa melekat padanya. Pria itu memakai sweter rajut berwarna abu-abu longgar dengan celana kain santai. Rambut hitamnya yang biasa ditata rapi ke belakang kini dibiarkan jatuh bebas menutupi dahinya.

"Kau terlihat sangat... beda," gumam Ji-eun terkagum-kagum seraya memutus sabuk pengaman.

Tae-jun menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Terlihat aneh?"

"Tidak. Kau terlihat seperti mahasiswa tingkat akhir yang sedang membolos kuliah," goda Ji-eun dengan tawa renyah. "Kalau staf hotel melihatmu sekarang, mereka pasti tidak akan mengenalimu."

"Baguslah kalau begitu," sahut Tae-jun datar, namun matanya memancarkan kehangatan yang tak bisa disembunyikan. "Hari ini aku bukan Direktur Seo. Aku hanya pria yang sedang berkencan dengan pacarnya."

Kencan mereka ternyata jauh dari kesan mewah. Tidak ada pemesanan restoran berbintang lima atau area VIP yang disewa khusus. Tae-jun membawa Ji-eun ke sebuah toko buku independen yang terletak di sudut jalanan tua kota. Toko itu tenang, beraroma kertas tua dan kayu hangat.

Di sana, Ji-eun tak bisa menahan tawanya melihat tingkah Tae-jun. Pria itu berdiri di lorong buku kategori filosofi dengan raut wajah yang teramat serius. Dahinya berkerut dalam, matanya meneliti setiap judul buku dengan tingkat ketelitian yang sama seperti saat ia memeriksa laporan keuangan tahunan hotel.

"Tae-jun-a," panggil Ji-eun pelan sambil mendekat. "Kau sedang memilih buku bacaan atau sedang melakukan audit perusahaan?"

Tae-jun menoleh, mengedipkan matanya polos. "Aku hanya sedang membandingkan analisis penulis ini dengan kondisi pasar saat ini. Apa raut wajahku terlalu kaku?"

"Sangat kaku!" Ji-eun terkekeh, berjinjit sedikit untuk mengusap kerutan di dahi Tae-jun dengan jemarinya. "Santailah sedikit. Ini toko buku, bukan ruang rapat."

Tae-jun terkekeh pelan, mengikis ketegangannya sendiri. Ia merengkuh pinggang Ji-eun secara alami, menarik perempuan itu mendekat tanpa peduli pada beberapa pengunjung lain yang melintas. "Baiklah, Maafkan aku. Kebiasaan buruk."

Setelah puas mengelilingi suasana toko buku dan membeli beberapa novel pilihan Ji-eun, mereka melanjutkan perjalanan dengan makan siang di sebuah restoran pasta kecil berdinding bata. Mereka kemudian menyusuri kawasan pertokoan yang dipenuhi kedai-kedai kerajinan tangan lokal.

Saat melewati sebuah toko pernak-pernik kecil, Ji-eun menghentikan langkahnya di depan etalase kaca. Matanya tertuju pada sebuah gantungan kunci kayu berbentuk kucing kecil dengan ekspresi jahil. Ji-eun tersenyum tipis, mengamati gantungan kunci itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng pelan dan kembali berjalan menyamai langkah Tae-jun.

Tae-jun membiarkan Ji-eun berjalan lebih dulu. Tanpa bersuara, ia berbalik arah, melangkah masuk ke dalam toko tersebut, dan keluar kembali beberapa saat kemudian dengan tangan berada di dalam saku mantelnya.

Mereka terus melangkah hingga sampai di sebuah taman kecil di ujung area pertokoan. Ketika Ji-eun sedang merapikan rambutnya yang tertiup angin sore, Tae-jun mengulurkan telapak tangannya yang terpejam di hadapan Ji-eun.

"Apa ini?" tanya Ji-eun heran.

Tae-jun membuka jemarinya. Di atas telapak tangannya, terbaring gantungan kunci kucing kayu yang tadi sempat dilihat Ji-eun.

Mata Ji-eun membelalak kaget. "Kau membelinya?"

"Ya," jawab Tae-jun singkat.

"Kenapa? Aku kan cuma melihatnya sebentar," Ji-eun menatap benda itu lalu beralih menatap Tae-jun tidak percaya. "Memangnya Kau memperhatikanku?"

Tae-jun menatap lurus ke dalam mata Ji-eun, suaranya terdengar begitu rendah dan dalam di tengah riuh lalu lintas sore. "Aku selalu memperhatikanmu, Ji-eun-a. Setiap detik saat Kau bersamaku, tidak ada satu hal pun darimu yang terlewat oleh mataku."

Kalimat sederhana namun sarat akan ketulusan itu sukses membuat Ji-eun terdiam paku. Dadanya berdesir hebat, menghadirkan rasa hangat yang membuncah hingga membuat matanya sedikit berkaca-kaca. Ia mengambil gantungan kunci itu perlahan, menggenggamnya erat seolah benda murah itu adalah harta paling berharga di dunia.

"Terima kasih," bisik Ji-eun tulus.

Matahari mulai tertutup ketika awan mendung tebal merayapi langit kota. Tae-jun mengajak Ji-eun berlindung di sebuah kafe berkonsep kaca transparan di tepi jalan. Mereka memilih sudut paling tenang di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya.

Aroma biji kopi sangrai dan kayu manis memenuhi udara interior kafe. Di luar, tetesan air hujan mulai jatuh satu per satu, mengetuk kaca jendela dengan ritme yang menenangkan.

Ji-eun duduk merapat di samping Tae-jun, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu kokoh pria itu. Tangannya melingkar di lengan Tae-jun, sementara jemari Tae-jun yang hangat mengusap-usap punggung tangan Ji-eun secara teratur. Dari balik kaca yang mulai berembun, mereka memperhatikan orang-orang yang berlari kecil mencari tempat berteduh dan kendaraan yang merayap lambat.

Tidak ada percakapan berat di antara mereka. Keduanya hanya menikmati keheningan yang terasa begitu intim dan menentramkan.

"Aku sangat senang hari ini," gumam Ji-eun pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan di luar.

"Kenapa?" tanya Tae-jun lembut, mengecup puncak kepala Ji-eun yang bersandar di bahunya.

"Karena kita tidak perlu menjadi siapa-siapa," jawab Ji-eun, menatap pantulan bayangan mereka di kaca jendela. "Tidak perlu tempat mahal, tidak perlu bersembunyi atau takut dengan tatapan orang. Cuma ada Kau dan aku."

Tae-jun mengukir senyum tipis. Ia mempererat dekapan lengannya di pundak Ji-eun. "Kalau Kau menyukainya, kita bisa melakukan ini setiap minggunya."

Ketika hujan deras mulai mereda menjadi gerimis tipis, Tae-jun berdiri lebih dulu. Ia menggenggam erat telapak tangan Ji-eun, menariknya pelan.

"Siap untuk berlari?" tantang Tae-jun dengan kilatan jenaka di matanya.

Ji-eun tertawa renyah, mengangguk mantap. "Siap!"

Tanpa memedulikan tetesan air hujan yang mulai membasahi pakaian dan rambut mereka, Tae-jun menggenggam tangan Ji-eun dan mengajak perempuan itu berlari kecil menembus gerimis menuju mobil yang terparkir beberapa puluh meter di ujung jalan. Suara tawa Ji-eun membubung tinggi, pecah di tengah dinginnya udara sore itu.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!