Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Brak.
Pintu ruang sidang tertutup rapat dan terkunci dari luar.
Brigjen Surya dan dua jenderal lainnya masih saling berteriak di dalam sana saling menuduh satu sama lain.
Reyhan berjalan santai menyusuri lorong bawah tanah markas besar kepolisian.
Borgol di tangannya sudah dilepas oleh pengawal yang ketakutan mendengar kerusuhan di luar.
Alena berjalan cepat di sebelahnya sambil terus menatap Reyhan dengan pandangan tidak percaya.
"Kau benar-benar membuat mereka saling menjatuhkan hanya dalam sepuluh menit," ucap Alena masih terengah-engah.
"Aku hanya memanfaatkan rasa tamak mereka sendiri, Alena."
"Orang kotor akan selalu mencurigai temannya yang sama kotornya jika uang mereka diusik," jawab Reyhan dengan nada datar.
Drrtt. Drrtt.
Ponsel di saku celana Alena tiba-tiba bergetar hebat.
Alena mengambil ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk.
Wajah detektif wanita itu seketika berubah menjadi sangat pucat.
"Reyhan, kita punya masalah yang jauh lebih besar sekarang."
"Ada apa lagi?" tanya Reyhan menghentikan langkahnya.
"Ini pesan dari anggota piket di Rumah Sakit Pusat Polri."
"Gilang kabur dari ruang ICU setengah jam yang lalu."
Reyhan mengerutkan keningnya.
"Bagaimana bisa dia kabur dengan penjagaan ketat dan luka tembak separah itu?"
"Dia melumpuhkan enam anggota Brimob di depan kamarnya dalam sekejap."
"Dan dia meninggalkan pesan yang ditulis pakai darah di dinding kamarnya," jelas Alena sambil menyodorkan layar ponselnya.
Reyhan menatap foto pesan berdarah tersebut.
"Aktor utama harus mati di atas panggung terakhir."
Reyhan membacanya dengan suara pelan dan dingin.
"Dia sengaja memancingku," gumam Reyhan.
"Sistem, apa kau bisa melacak keberadaan sistem milik Gilang?" batin Reyhan memanggil asisten virtualnya.
[Sistem Sutradara Tragedi sedang memancarkan sinyal lokasi secara terbuka.]
[Lokasi target berada di Gedung Studio Film Independen nomor delapan.]
Reyhan tersenyum tipis mendengar jawaban dari sistemnya.
"Dia ada di studio film nomor delapan di kawasan industri lama," kata Reyhan pada Alena.
"Tempat apa itu?" tanya Alena bingung.
"Itu tempat pertama kali aku gagal audisi film beberapa minggu lalu dan bertemu dengan sistem ini."
"Semuanya bermula di sana, dan dia ingin mengakhirinya di sana juga."
"Ayo kita kejar dia sebelum dia membuat kerusuhan baru dan membunuh lebih banyak orang."
Alena mengangguk cepat.
"Mobilku ada di parkiran belakang, kita lewat pintu darurat agar tidak tertahan oleh massa di depan markas."
Tap. Tap. Tap.
Mereka berdua berlari menaiki tangga darurat dan keluar menuju area parkir belakang yang sepi.
Brum.
Mesin mobil sedan hitam milik Alena menyala dan langsung melesat membelah jalanan.
Suara sirene polisi terdengar di mana-mana karena massa masih mengepung Mabes Polri.
Tapi jalanan menuju kawasan industri pinggiran kota justru sangat lengang.
"Bagaimana dengan Kania?" tanya Reyhan memecah keheningan di dalam mobil.
"Dia masih di depan markas memimpin demonstrasi warga."
"Baguslah, dia lebih aman berada di tengah keramaian," jawab Reyhan.
"Gilang sudah benar-benar gila sekarang."
"Dia menghabiskan sisa poin sistemnya hanya untuk memulihkan diri secara paksa dan menyiapkan panggung ini."
Dua puluh menit kemudian, mobil Alena berhenti mendadak di depan sebuah bangunan gudang besar yang terbengkalai.
Sreek.
Ban mobil bergesekan keras dengan jalanan tanah yang berdebu tebal.
Bangunan studio film itu terlihat sangat usang dan gelap dari luar.
Reyhan turun dari mobil diikuti oleh Alena yang langsung mencabut pistol dari sarung pinggangnya.
"Tetap di belakangku, Alena."
"Ini adalah arena permainannya, kita tidak tahu jebakan gila apa lagi yang dia siapkan."
Alena mengangguk dan memegang pistolnya dengan kedua tangan bersiap menembak.
"Aku akan melindungimu dari belakang, Reyhan."
Mereka berjalan perlahan mendekati pintu besi geser studio yang sedikit terbuka.
Kriet.
Reyhan mendorong pintu itu hingga terbuka cukup lebar untuk mereka masuki.
Bau bensin yang sangat menyengat langsung menusuk hidung mereka berdua seketika.
Di tengah ruangan studio yang sangat luas dan gelap itu, berdiri sosok Gilang.
Pria itu mengenakan kemeja pasien rumah sakit yang sudah berlumuran darah segar di bagian bahunya.
Tangannya memegang sebuah mikrofon kabel tua yang terhubung ke pengeras suara usang.
Tiba-tiba, lampu-lampu sorot di langit-langit studio menyala serentak.
Tak. Tak. Tak.
Cahaya putih terang benderang langsung menyorot lurus ke arah Gilang yang berdiri di tengah ruangan.
"Kau datang tepat waktu, Reyhan," sapa Gilang melalui mikrofon di tangannya.
Suaranya menggema ke seluruh penjuru studio kosong tersebut dengan nada menyeramkan.
Reyhan berjalan maju dengan langkah tenang, meninggalkan Alena beberapa meter di belakang dekat pintu.
"Tentu saja aku datang, Gilang."
"Kau kan sudah susah payah menyiapkan panggung ini hanya untukku."
Gilang tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat menyakitkan dan dipaksakan karena luka di tubuhnya.
"Kau menghancurkan naskah terbaikku di ruang sidang tadi pagi, Reyhan."
"Aku sudah menanam bukti forensik palsu yang sangat sempurna dan tidak bisa dibantah secara hukum."
"Tapi kau malah memanipulasi pikiran para jenderal bodoh itu untuk saling menghancurkan."
Reyhan menghentikan langkahnya tepat sepuluh meter di depan Gilang.
"Bukti fisik memang bisa direkayasa oleh sistemmu dengan mudah."
"Tapi rasa takut dan tamak manusia adalah hal yang tidak bisa kau atur dari balik layar komputermu."
Gilang melempar mikrofonnya ke lantai dengan kasar.
Klak.
Ia merogoh saku celana rumah sakitnya dan mengeluarkan sebuah pemantik api logam.
"Kau benar, Reyhan."
"Aku terlalu mengandalkan naskah cerita fiksi dan lupa pada sifat asli manusia yang serakah."
"Jadi aku memutuskan untuk tidak lagi memakai naskah apa pun malam ini."
Gilang memutar roda pemantik api logam tersebut.
Ctek.
Api kecil menyala menerangi wajah Gilang yang sangat pucat dan dipenuhi keringat dingin.
"Apa yang mau kau lakukan, Gilang?!" teriak Alena sambil menodongkan pistolnya dari kejauhan.
"Jangan bergerak atau aku tembak kakimu sekarang juga!"
Gilang sama sekali tidak mempedulikan ancaman pistol Alena.
Ia justru menatap lantai studio di sekelilingnya yang ternyata sudah disiram genangan bensin dalam jumlah besar.
"Aku akan mengakhiri semuanya dengan caraku sendiri."
"Jika aku tidak bisa menjadi sutradara dari keadilan di kota ini."
"Maka aku akan menjadi sutradara dari kematian kita bertiga di tempat ini."
Gilang menjatuhkan pemantik api yang menyala itu ke lantai.
Wush!
Api langsung menyambar genangan bensin dengan sangat cepat dan buas.
Dalam hitungan detik, kobaran api besar membentuk lingkaran raksasa yang mengurung Reyhan dan Gilang di tengah ruangan.
Alena yang berada di luar lingkaran api terpaksa mundur karena hawa panas yang luar biasa menyengat kulitnya.
"Reyhan!" teriak Alena panik melihat temannya terkurung di dalam dinding api yang terus meninggi.
Asap hitam tebal mulai mengepul memenuhi atap studio film tersebut.
"Dunia ini terlalu busuk, Reyhan!" teriak Gilang di tengah suara gemuruh kobaran api yang membakar oksigen.
"Satu-satunya cara untuk membersihkannya adalah dengan membakar semuanya menjadi abu!"
Reyhan menutupi hidung dan mulutnya dengan lengan jaketnya agar tidak menghirup asap beracun.
Matanya menatap Gilang dengan tatapan dingin dan tanpa ampun.
"Kau tidak sedang membersihkan dunia, Gilang."
"Kau hanya sedang melarikan diri dari kenyataan bahwa kau sudah kalah dalam permainanmu sendiri."
Tiba-tiba, layar biru transparan muncul tepat di depan wajah Reyhan mengabaikan asap tebal di sekitarnya.
[Ding! Misi Puncak Arc 1 terpicu.]
[Misi: Hentikan Gilang dan hancurkan inti Sistem Sutradara Tragedi.]
[Batas Waktu: 15 Menit sebelum struktur atap studio runtuh akibat panas.]
[Hadiah: Evolusi Penuh Sistem Pemeran Penjahat Profesional.]
[Kegagalan: Kematian mutlak bagi Host dan rekan Host.]
Reyhan membaca misi itu dengan sangat cepat.
Ini adalah pertarungan terakhirnya melawan dalang dari semua kekacauan hidupnya sebulan terakhir.
"Alena! Cari jalan keluar atau cari alat pemadam api di luar sana!" teriak Reyhan menembus suara gemuruh api.
"Jangan pedulikan aku, aku akan mengurus orang gila ini!"
Reyhan kembali menatap Gilang yang mulai berjalan mendekatinya dengan langkah tertatih-tatih.
Di tangan kanan Gilang kini terdapat sebilah pisau properti film yang ternyata bilahnya sudah diganti dengan baja sungguhan.
"Mari kita lihat, Reyhan."
"Siapa aktor yang akan tetap berdiri saat tirai panggung ini diturunkan untuk selamanya."
Reyhan mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk bertarung jarak dekat.
Kemampuan Ketahanan Fisik tingkat menengahnya langsung diaktifkan secara maksimal untuk menahan hawa panas.
"Tirainya sudah turun sejak ayahmu meninggal di teater itu sepuluh tahun lalu, Gilang."
"Kau hanya hantu masa lalu yang menolak untuk pergi."