Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Terlambat Mengetahui Kebenaran
Mellisa menatap Handoko dengan wajah penuh keterkejutan. Penjelasan laki-laki itu benar-benar di luar dugaannya. Namun, meskipun hatinya mulai goyah, dia masih belum bisa begitu saja mempercayainya.
"Lalu, kenapa Mas tidak mencariku dan menjelaskan semuanya padaku?" tanyanya. Suaranya terdengar bergetar, tetapi masih menyimpan keraguan. "Kan setelah pulang mengantar lamaran itu, Mas cek ponsel. Di sana ada puluhan notifikasi dan chat aku. Ini kan tidak? Mas nggak sekalipun mencariku."
Handoko terdiam. Dia bisa memahami mengapa Mellisa berpikir seperti itu. Jika berada di posisi perempuan itu, mungkin dirinya pun akan memiliki pikiran yang sama.
Namun ada sesuatu yang baru disadari Handoko saat mendengar pertanyaan Mellisa. Ternyata, selama ini mereka bukan hanya terpisah oleh keadaan. Mereka juga sama-sama salah memahami apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu.
"Masalahnya, sepulang dari lamaran itu, mobil keluarga kami mengalami kecelakaan," jawab Handoko pelan.
Mellisa langsung terdiam.
"Ayah dan Mas Haryanto meninggal di tempat. Aku dan ibu mengalami luka berat. Bahkan aku sempat koma selama sebulan."
Wajah Mellisa seketika berubah. Matanya membesar, seolah-olah tidak pernah membayangkan bahwa di balik diamnya Handoko selama ini ternyata tersimpan sebuah tragedi besar.
"Sadar dari koma, aku mencari-cari ponsel itu. Nggak ada. Mungkin ikut rusak saat terjadi kecelakaan itu."
Mellisa menundukkan pandangan. Perlahan, keyakinan yang selama bertahun-tahun dia pegang mulai runtuh. Puluhan pesan yang dia kirimkan.
Panggilan yang berkali-kali dia lakukan. Tidak pernah dibalas.
Selama ini dia mengira Handoko sudah melihat semuanya, tetapi memilih tidak menjawab. Ternyata, laki-laki itu bahkan tidak pernah memiliki ponselnya lagi.
"Setelah sadar, aku perlu waktu selama dua minggu untuk menyusulmu ke Bandung," lanjut Handoko. "Namun, apa yang aku dapatkan?"
Handoko tersenyum getir. "Saat masuk ke gerbang komplek rumahmu, aku ketemu tetanggamu. Dia menjelaskan kalau kamu baru saja menikah kemarin."
Mellisa membeku. "Dan saat itu..." Handoko menarik napas panjang. "Kamu sedang honeymoon ke Paris."
"Apa?"
Keterkejutan Mellisa begitu jelas. Wajahnya memucat, matanya berkaca-kaca. Dia menatap Handoko seolah baru saja mendengar sesuatu yang mengubah seluruh cerita masa lalunya.
Handoko memandang perempuan di hadapannya itu dalam-dalam. Kini dia mengerti. Mellisa pasti selama ini mengira dirinya tidak pernah datang mencarinya. Padahal dia datang. Hanya saja, dia datang setelah semuanya terlambat.
Dan tiba-tiba Handoko pun menyadari sesuatu yang lain. Bukan hanya Mellisa yang salah memahami keadaan. Dirinya juga. Selama ini Handoko mengira Mellisa menikah karena laki-laki lain telah datang melamarnya. Dia tidak pernah tahu bahwa Mellisa sebenarnya datang mencarinya sebelum pernikahan itu terjadi. Dia juga tidak tahu bahwa ketika Mellisa mendengar kabar tentang sebuah lamaran yang dibawa keluarganya, perempuan itu mengira dirinyalah yang datang untuk melamar kekasihnya.
Padahal bukan dia. Yang datang membawa lamaran itu adalah Haryanto. Kakaknya. Handoko hanya ikut mengantar keluarganya. Dia sama sekali tidak datang untuk melamar perempuan lain.
Namun dari sudut pandang Mellisa, semuanya terlihat berbeda. Dia melihat keluarga Handoko datang membawa lamaran. Dia mengetahui bahwa Handokolah yang melamar, karena penjelasa ART mereka.
Lalu, ketika mencoba mencari penjelasan, Handoko tidak pernah bisa dihubungi. Tidak ada pesan yang dibalas. Tidak ada telepon yang diangkat. Tidak ada penjelasan. Maka wajar jika Mellisa menyimpulkan bahwa Handoko telah memilih perempuan lain.
Dan di sisi Handoko, semuanya pun tampak sama menyakitkannya. Ketika akhirnya dia tiba di rumah Mellisa, tetangganya justru mengatakan bahwa Mellisa baru saja menikah dan sedang pergi honeymoon ke Paris.
Handoko tidak pernah tahu bahwa pernikahan itu terjadi setelah Mellisa menunggu dirinya. Dia tidak tahu bahwa perempuan itu menikah dalam keadaan patah hati karena mengira dirinya telah memilih orang lain.
Dan Mellisa tidak pernah tahu bahwa laki-laki yang dia kira telah melamarnya ternyata sama sekali tidak melamar siapa pun.
Handoko mengusap wajahnya perlahan.
"Jadi..." suaranya terdengar berat, "selama ini kamu mengira aku yang datang melamar perempuan itu?"
Mellisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Ya." Dia menggangguku perlahan.
"Yang melamar waktu itu Mas Haryanto. Bukan aku."
Mellisa seperti kehilangan kata-kata. Handoko menatapnya, dan dia kini benar-benar memahami betapa tragisnya kesalahpahaman mereka.
"Kamu mengira aku menikah dengan orang lain karena aku memilih dia," katanya lirih. "Sementara aku datang ke Bandung karena ingin mencarimu. Tapi ketika aku sampai, aku justru mendengar kamu sudah menikah."
Air mata Mellisa akhirnya jatuh. Handoko pun menundukkan wajahnya. Kini dia tidak bisa lagi menyalahkan Mellisa. Perempuan itu memang salah memahami keadaan, karena penjelasan ART-nya, tetapi dia pun melakukan hal yang sama.
Mereka sama-sama tidak tahu. Sama-sama menunggu. Sama-sama mencari.Sama-sama terluka.
Dan yang paling menyakitkan, mereka ternyata masih saling mencintai ketika semuanya terjadi.
Hanya saja, sebuah lamaran yang bukan miliknya, sebuah kecelakaan yang merenggut keluarganya, sebuah ponsel yang hilang, serta kabar yang datang terlambat telah membuat mereka percaya bahwa orang yang mereka cintai telah memilih untuk pergi.
Padahal tidak. Tidak pernah ada yang benar-benar pergi. Mereka hanya kehilangan jalan untuk saling menemukan. Mellisa menatap Handoko dengan wajah penuh keterkejutan. Penjelasan laki-laki itu benar-benar di luar dugaannya.
Handoko terdiam cukup lama. Kenangan hari itu kembali memenuhi kepalanya. Hari ketika setelah berjuang untuk pulih, dia justru mendapatkan kabar yang paling tidak ingin didengarnya.
Tatapannya menerawang, seolah-olah sedang kembali berdiri di depan rumah Mellisa, bertahun-tahun lalu. Saat itu dia datang dengan satu harapan sederhana—bertemu dengan perempuan yang selama ini dicintainya, menjelaskan semuanya, lalu membawa pulang kembali hubungan mereka yang sempat terputus.
Namun, yang dia dapatkan justru kabar bahwa Mellisa telah menikah. Bahkan sedang pergi honeymoon ke Paris. Handoko mengembuskan napas panjang. Suaranya terdengar berat ketika akhirnya kembali berbicara.
"Kamu tahu, Mel..." katanya pelan. "Setelah mengetahui kamu sudah menikah dan sedang honeymoon ke Paris, duniaku hancur."
Mellisa menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Bayangkan!" Handoko tersenyum getir. "Aku kembali ke Yogyakarta dalam keadaan hancur lebur."
Dia menundukkan wajahnya sesaat, seolah masih bisa merasakan kembali perasaan yang memenuhi dadanya pada hari itu. "Wanita yang aku cintai. Wanita yang selama ini selalu aku angankan untuk menjadi pendampingku..." Suaranya mulai bergetar. "Malah memilih laki-laki lain."
Mellisa menahan napas.
"Dan yang lebih menyakitkan..." Handoko berhenti sebentar, "...mereka sedang bersenang-senang di kota yang terkenal romantis. Paris."
Kata terakhir itu keluar begitu pelan, tetapi justru terasa paling menyakitkan. Handoko masih mengingat bagaimana perjalanan pulangnya ke Yogyakarta terasa begitu panjang. Dia duduk di dalam mobil dengan tubuh yang sebenarnya belum sepenuhnya pulih, tetapi rasa sakit yang paling berat justru bukan berasal dari luka akibat kecelakaan.
Luka itu ada di dadanya. Dia baru saja kehilangan ayah dan kakaknya. Dan pada hari yang sama, dia merasa kehilangan perempuan yang paling dicintainya. Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bertanya. Tidak punya kesempatan untuk menjelaskan. Tidak tahu bahwa Mellisa sebenarnya juga menunggunya.
Yang dia tahu hanyalah satu: perempuan yang selama ini dia bayangkan akan berdiri di sampingnya sebagai istrinya kini telah menjadi istri laki-laki lain. Sementara dirinya harus kembali ke Yogyakarta dengan membawa kenyataan itu seorang diri.
Mellisa menatap Handoko dengan air mata yang semakin menggenang. Kini dia bisa membayangkan betapa hancurnya laki-laki itu saat kembali ke Yogyakarta.
Kini, Mellisa menyadari sesuatu yang membuat hatinya semakin sakit. Saat Handoko pulang dengan hati yang hancur karena mengira dirinya telah memilih laki-laki lain, Mellisa pun menjalani hari-harinya dengan luka yang sama karena mengira Handoko telah memilih perempuan lain.
Mereka sama-sama patah hati. Mereka sama-sama merasa ditinggalkan. Padahal, tidak seorang pun dari mereka benar-benar berniat meninggalkan.