“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Orang Yang Sangat Aku Cintai
"Ada mbak, kebetulan pak Rafa baru kembali dari makan siang tadi."
"Saya boleh naik ke ruangannya?." Tanyanya lagi merasa ragu walau Rafa sudah pernah bilang padanya ia tidak butuh buat janji kalau ingin main kesini.
"Boleh mbak. Pak Rafa sudah pesan kapan saja mbak datang boleh langsung ke ruangannya, oh iya katanya pakai lift khusus presdir juga."
Penjelasan staf tersebut membuat Aluna menahan senyumnya.
"Bisa saja si Rafa itu."
Batin Aluna.
"Terima kasih, kalau begitu saya naik dulu." Ucap Aluna kemudian berlalu dari sana.
Begitu Aluna masuk ke dalam lift khusus, kedua staf tadi langsung merasa lega.
"Gak ada yang salah kan sama ucapan ku tadi?." Tanya staf yang tadi berbicara dengan Aluna pada rekannya.
"Gak ada kok. Btw dia siapanya pak Rafa yah? Apa pacarnya yah?." Jawabnya lalu balik bertanya karena dari awal ia melihat Aluna sudah sangat penasaran.
"Aku juga penasaran tapi seingatku Pak Direktur juga pernah membawa seorang perempuan muda mungkin seusia dia tadi atau lebih tua sedikit, dan sepertinya perempuan itu sangat dekat dengan pak Direktur, makanya aku berpikir mungkin saja itu perempuan pilihan pak Direktur untuk pak Rafa."
Jelasnya yang meragukan status Aluna bagi Rafa.
"Kehidupan orang kalangan atas memang penuh drama yah, tapi aku masih yakin pak Rafa lebih menyukai perempuan tadi." Ucapnya menyakini apa yang ada dipikirannya.
"Pikiranku sama seperti kamu, selama pak Rafa masuk di perusahaan ini dia tidak pernah terlihat lembut dengan siapapun, aku saja sampai kaget melihat tingkah manjanya waktu pertama kali perempuan tadi datang, tangannya juga di gandeng terus kek mau nyebrang." Jawabnya menimpali, setuju dengan pendapat rekannya.
"Udah ah nanti ada yang datang." Tegur rekannya dan mereka kembali fokus ke pekerjaannya.
***
Lift khusus yang digunakan oleh Aluna tiba di lantai atas dimana ruang wakil direktur tempat Rafa berada, Ia langsung keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruangan Rafa.
Walau Aluna sudah diberi akses oleh Rafa, ia tetap mengetuk pintu ruangan tersebut demi menjaga kesopanan.
"Masuk." Jawab Rafa dari dalam mempersilahkan.
Gadis itu lalu membuka pintu ruangan tersebut, tapi ternyata Rafa tidak sendiri disana.
"Aluna." Sapa seorang pria paruh baya yang seumuran dengan Papanya.
"Om Dirga. Ya ampun, udah lama banget gak ketemu sama Om."
Aluna sama senangnya dan menyapa balik Om Dirga, Papa Rafa.
Aluna berjalan mendekat untuk sekedar memeluk singkat Papa Rafa yang juga sudah seperti Papa baginya, namun sebelum memeluk Papanya Rafa, tatapan Aluna tertuju pada Rafa yang tampak murung.
"Kamu apa kabar Aluna? Sejak Rafa keluar negeri kamu sudah jarang sekali menemui Om." Tanya Papanya Rafa saat pelukan mereka usai.
"Baik Om, Aluna juga sibuk kuliah waktu itu, maaf yah ketemunya malah disini." Jawab Aluna merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Aluna. Jadi, kamu mau ketemu sama Rafa?."
Aluna menangguk mengiyakan, tampak mereka memang begitu akrab sejak lama.
"Hehe iya Om, aku gak ada kesibukan lain jadi mampir sebentar buat ketemu Rafa."
Jelas Aluna tidak merasa sungkan sedikitpun.
"Ya sudah Om ke ruangan Om dulu yah." Kata Papanya Rafa berpamitan.
"Iya Om."
Aluna pun tersenyum saat Papanya Rafa melewatinya dan berjalan keluar.
Papa Rafa pun berlalu keluar meninggalkan ruangan kerja Rafa, memberi ruang pada mereka berdua.
Saat pintu tertutup, Aluna langsung berbalik dan menatap Rafa dengan tatapan menyelidik.
"Kamu kenapa? Kok mukanya murung gitu?." Tanya Aluna penasaran.
Rafa tidak langsung menjawabnya, ia berdiri dan berjalan menghampiri Aluna. Saat mereka berhadapan, Rafa menatap Aluna lama.
"Kenapa? Ada masalah?." Tanya Aluna lagi merasa khawatir.
Alih-alih menjawab, Rafa malah meraih tangan Aluna dan menariknya masuk ke dalam pelukannya. Aluna hanya membiarkan Rafa memeluknya tapi ia sama sekali tidak membalas pelukan Rafa.
"Kalau ada masalah cerita dong, jangan kayak gini."
Aluna ingin melepaskan pelukan Rafa darinya namun Rafa malah mempererat pelukannya.
"Sebentar aja, aku lagi pusing."
Pinta Rafa, Aluna yang merasa kasihan lalu membalas pelukan Rafa dan menenangkannya.
***
"Pusingnya belum reda? Ini aku yang kehabisan napas kalau kamu kekep begini terus."
Aluna mulai mengeluh karena sudah cukup lama Rafa memeluknya, mau tidak mau Rafa pun melepas pelukannya.
"Maaf, meluk kamu tuh nyaman banget."
Ucap Rafa saat selesai memeluk Aluna dan beralih menatapnya dengan tatapan yang dalam, seperti sangat menyayangkan sesuatu.
"Jadi kamu ada masalah apa? Kamu sama Om Dirga lagi debat yah tadi?." Tebak Aluna masih menunggu jawaban dari pertanyaannya sejak tadi.
Rafa sendiri tidak mau melepas tatapannya pada Aluna, rasanya mulutnya sangat berat untuk mengucapkan hal yang ingin ia sampaikan.
"Pernikahannya mau dipercepat." Jawab Rafa menghela napasnya begitu berat.
"Hah? Pernikahan siapa?." Tanya Aluna kaget.
"Aku sama Ratu."
Rafa benar-benar terdengar tidak bersemangat.
Ia lalu berjalan menuju ke sofa dan duduk disana, Aluna pun berjalan mengikutinya dan duduk disampingnya.
"Berat banget yah kalau harus nikah sama Ratu? Eh tapi beneran Ratu ya?."
Aluna merasa sedih melihat Rafa seperti ini, disisi lain ternyata tebakannya benar yang mau dijodohkan dengan Rafa adalah Ratu, dia juga salah satu anak dari kalangan bisnis Papa Aluna dan Papanya Rafa.
"Jelas iya karena aku gak cinta sama sekali sama dia." Jawab Rafa, wajahnya terlihat begitu kusut.
Aluna mendekat ke Rafa yang bersandar disandaran sofa, menutup jarak diantara mereka di sofa tersebut.
"Cinta bisa tumbuh kok Rafa seiring waktu berjalan, Ratu juga orangnya baik kan."
Ia mencoba menghibur Rafa, namun Rafa justru langsung duduk tegap dan berbalik menatap Aluna membuat gadis itu cukup gugup.
"Aku udah bilang aku punya satu orang yang sangat aku cinta Al."
Kata-kata Rafa yang penuh penekanan membuat Aluna menelan ludahnya sendiri, belum lagi jarak mereka berdua yang begitu dekat.
Aluna langsung memundurkan badannya menciptakan sedikit jarak dan balik menatap Rafa.
"Tapi kamu gak ada pergerakan juga kan? Udah confess belum? Belum kan?. Terus apa bedanya kalau kamu udah confess terus Papa kamu gak setuju?."
Rafa dihujani pertanyaan dari Aluna yang menurutnya begitu menusuk.
Tatapan Rafa yang sedari tadi tidak pernah lepas dari Aluna malah ia perdalam saat mendengar runtutan pertanyaan dari Aluna.
"Aku gak bergerak karena gak mau merusak hubungan kita Al. Tapi aku bisa pastikan satu hal, kalau dia mau terima aku, aku gak akan peduliin perkataan siapapun termasuk Papa. Aku bakal perjuangkan dia sepenuhnya, aku janji itu."
Wajah Rafa saat mengatakan hal tersebut benar-benar penuh keseriusan hingga membuat rasa penasaran Aluna pada gadis yang dimaksud Rafa makin bertambah.
"Siapa sih orangnya Rafa? Kamu buat aku penasaran banget, padahal diantara kita harusnya gak ada rahasia."
Tatapan Aluna dengan rasa penasarannya membuat Rafa hampir salah tingkah.
"Kamu bakal tau itu nanti." Jawab Rafa lalu memalingkan wajahnya.
Aluna hanya bisa menghela nafasnya dan menghembuskannya dengan pelan seolah membuang rasa penasarannya bersamaan dengan hembusan napasnya.
"Terus sekarang gimana?, pernikahannya udah mau dipercepat."
Aluna tentu tidak ingin melihat Rafa tidak bahagia dengan hidupnya setelah menikah nanti.