Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pukul 09:00 WIB, Ruang Rapat Direksi di lantai lima puluh.
Ruangan itu berlapis karpet tebal kedap suara, dikelilingi jendela kaca panorama yang memperlihatkan hiruk-pikuk kota Jakarta dari ketinggian. Di tengah ruangan, sebuah meja oval dari kayu eboni menjadi arena pertempuran. Jajaran Direksi, termasuk Chief Executive Officer (CEO) Pak Haris, duduk dengan wajah tegang. Di depan mereka, Sarah berdiri tegak dengan setelan blazer abu-abu gelap, rambut disanggul rapi tanpa sehelai pun yang berantakan, dan pointer laser di tangannya.
"Berdasarkan analisis Root Cause yang telah tim HRD lakukan selama tiga bulan terakhir, kebocoran anggaran terbesar berada di divisi operasional lapangan dan divisi pemasaran strategis," suara Sarah menggema dengan otoritas penuh. Di layar proyektor, grafik batang berwarna merah menunjukkan kerugian miliaran rupiah.
Ia menekan tombol pointer-nya, berpindah ke slide berikutnya.
"Rekomendasi saya tegas: likuidasi divisi pemasaran strategis, alihkan fungsinya ke vendor pihak ketiga (outsourcing), dan lakukan perampingan (rightsizing) sebesar 40% pada staf lapangan. Proses ini akan memakan biaya pesangon sebesar 15 miliar di awal, namun akan menghemat burn rate perusahaan hingga 45 miliar di kuartal ketiga tahun depan."
Keheningan menyelimuti ruangan. Direktur Pemasaran, seorang pria paruh baya yang divisinya baru saja diusulkan untuk dimusnahkan, menggebrak meja.
"Ini gila! Anda tidak bisa serta-merta menghapus divisi yang sudah berdiri selama sepuluh tahun! Anda menganggap karyawan saya ini apa? Benda mati?!" bentaknya dengan wajah merah padam.
Sarah tidak berkedip. Ia menatap tajam langsung ke mata pria itu dengan ekspresi sedingin es batu. "Saya menganggap mereka sebagai beban operasional (overhead cost) yang tidak menghasilkan Return on Investment yang memadai. Selama tiga kuartal berturut-turut, divisi Anda gagal memenuhi target penjualan, namun biaya entertainment dan dinas luar kota Anda membengkak 200%. Jika Bapak ingin berbicara tentang perasaan, silakan buka panti asuhan. Ini adalah entitas komersial, Pak Direktur."
Beberapa direktur lain menahan napas. Skakmat. Tidak ada yang berani mendebat data empiris.
Pak Haris, sang CEO, berdehem, memecah ketegangan. Ia menatap map hitam yang ada di mejanya, lalu menatap Sarah. "Presentasi yang sangat komprehensif, tajam, dan brutal, Sarah. Persis seperti yang saya harapkan dari Anda. Saya setuju dengan rencana restrukturisasi ini. Mari kita bawa ke tahap pemungutan suara."
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, mayoritas jajaran direksi mengangkat tangan. Approved. Disetujui.
"Dengan ini, rencana restrukturisasi SDM resmi disetujui. Implementasi dimulai hari Senin minggu depan, dipimpin langsung oleh Ibu Sarah. Rapat selesai." Ketukan palu Pak Haris menutup sesi yang menegangkan tersebut.
Saat Sarah berjalan keluar dari ruang rapat, ia merasakan euforia kemenangan yang luar biasa. Hormon dopamin membanjiri otaknya. Target tercapai. KPI terpenuhi. Posisi CHRO kini sudah berada dalam genggamannya. Ia adalah "Iron Lady" dari PT Adidaya, sang malaikat pencabut nyawa bagi karyawan tidak produktif.
Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif, euforia itu tiba-tiba tergantikan oleh sensasi mengerikan.
Deg.
Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Rasa sakitnya begitu luar biasa hingga pandangannya memutih. Sarah terhuyung ke depan, bahunya membentur dinding lift yang terbuat dari logam dingin. Map hitam mahakaryanya terlepas dari pelukannya, jatuh berserakan di lantai lift.
"Ukh..." Sarah tersedak, mencoba meraup oksigen, tetapi paru-parunya seolah menolak bekerja. Lengan kirinya mati rasa sepenuhnya. Ia menyadari apa yang sedang terjadi. Ini bukan asam lambung. Ini adalah infark miokard akut. Serangan jantung masif.
Tubuhnya merosot ke lantai lift. Ia mencoba mengangkat tangannya untuk menekan tombol darurat, namun tubuhnya lumpuh. Pandangannya mulai menyempit, membentuk terowongan gelap. Sayup-sayup ia mendengar suara pintu lift terbuka di lantai 45, dan teriakan histeris dari Rina.
"Ibu Sarah!! Ya Tuhan, tolong!! Panggil ambulans!!" teriakan Rina terdengar seperti berasal dari bawah air, menggema, semakin lama semakin menjauh.
Dalam detik-detik terakhir kesadarannya, apakah Sarah menyesali hidupnya yang tanpa cinta? Apakah ia memikirkan keluarga, teman, atau Tuhan? Tidak. Pikiran terakhir yang terlintas di otak gila kerja sang Head of HRD itu adalah: Sialan. Surat PHK massal itu belum kutandatangani. Siapa yang akan mengeksekusi audit bulan depan? Rina terlalu lembek untuk memecat manajer operasional.
Dan kemudian, dunia Sarah Paramitha benar-benar tenggelam dalam kegelapan absolut. Garis detak jantungnya berhenti. Audit hidupnya telah mencapai batas waktu.