Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Diri
Ustadz Ahmad duduk kembali di tempatnya semula, membiarkan Raya beristirahat sejenak sambil menyandarkan tubuhnya pada bahu Dasha yang setia menemaninya. Keringat masih membasahi wajah Raya yang pucat, namun tatapannya kini lebih jernih dibanding sebelum proses ruqyah dimulai.
"Neng!" ucap Ustad Ahmad, suaranya kembali tenang meski nada seriusnya masih terasa kental, " Gangguan yang menempel di Neng Raya ini levelnya lumayan tinggi. Bukan cuma santet biasa yang bisa langsung hilang sekali ruqyah. Ini kiriman yang sengaja dijaga dan diperkuat terus-menerus dari sumbernya."
"Maksudnya gimana, Ustadz?" tanya Ara, masih mengusap punggung Raya yang sesekali bergetar menahan sisa lemas.
"Jadi begini, biasanya gangguan seperti ini punya semacam jalur, ada ikatan energi antara si pengirim dan yang dikirimi. Selama Neng Raya masih berada di lingkungan yang sama, di rumah yang sama, jalur itu akan terus aktif dan mudah diperkuat kembali oleh si pengirim," jelas Ustad Ahmad sabar, "apalagi kalau si pengirim ini juga masih tinggal di kota yang sama, jaraknya tidak terlalu jauh. Energi jahat itu jadi lebih gampang sampai."
Raya mendengarkan penjelasan itu dengan wajah yang semakin pucat, campuran antara takut dan lelah yang begitu mendalam.
"Terus saya harus gimana, Pak Ustad? Apa amalan yang tadi Pak Ustad kasih, bisa membuat pengaruh sihir itu hilang sepenuhnya?" tanya Raya lirih, suaranya masih serak bekas berteriak tadi.
" Bisa, tapi perlu proses yang panjang dan ini akan menganggu jiwa Neng Raya. Datangnya gangguan itu tidak mesti malam hari, bisa saja polanya di ubah jadi siang hari. "
" Ya Allah jahat banget sih si Tante, kalau mau rebut sih nggak usah pake nyelakain Raya. " kesal Ara.
" Emang itu udah pasti demit kiriman si tante, Ra? " tanya Dasha.
" Yaiyalah, Sha. Walaupun demit itu nggak sebutin nama majikannya, tapi tadi dia bilang kalau majikannya mau lelaki itu nggak inget sama Raya. Lelaki yang dimaksud itu pasti si Jack. "
" Iya juga ya. "
Pak Ustadz menghela napas panjang sebelum bicara lagi.
"Saya sudah lepas sebagia tadi, tapi akarnya masih ada, Neng. Ibarat pohon, saya baru bisa motong dahan-dahannya, akarnya masih tertanam kuat di tempat asal. Kalau Neng tetap di sini, dalam beberapa hari gangguan ini bisa tumbuh lagi, bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya karena si pengirim pasti akan berusaha lebih keras lagi begitu tau usahanya gagal."
Keempat sahabat itu saling berpandangan, kekhawatiran jelas terpancar di wajah masing-masing.
"Jadi solusinya apa, Ustad?" tanya Dasha akhirnya, suaranya penuh harap sekaligus cemas.
"Solusi yang paling ampuh sementara ini, Neng harus menjauh dulu. Keluar kota, kalau bisa yang jaraknya lumayan jauh dari sini. Biar jalur energinya terputus dengan sendirinya karena jarak." jelas Ustad Ahmad, "Sambil Neng di luar kota, saya akan terus bantu doakan dan kirim pagar ghaib dari jauh. InsyaAllah kalau jalur energinya sudah lemah karena terputus jarak, gangguan ini bisa hilang total dengan sendirinya, apalagi kalau dibarengi dengan ikhtiar ruqyah mandiri."
"Berapa lama saya harus di luar kota Pak Ustadz?" tanya Raya, suaranya bergetar membayangkan harus meninggalkan rumah, meninggalkan Mamah Yana, meninggalkan sahabat-sahabatnya untuk menyelamatkan diri.
"Minimal sebulan, Neng. Tapi kalau bisa lebih lama lebih baik. Sekalian buat Neng menenangkan pikiran juga, jauh dari segala hal yang bisa mengingatkan Neng sama kejadian-kejadian kemarin." jawab Ustad Ahmad bijak.
Raya terdiam lama, pikirannya berkecamuk. Bagaimana mungkin ia meninggalkan Mamah Yana sendirian di rumah? Bagaimana dengan pencarian kerja yang baru saja ia mulai dengan penuh semangat? Namun di sisi lain, bayangan sosok bermata merah yang menindihnya semalam masih begitu segar dalam ingatannya, membuat tubuhnya kembali gemetar hanya dengan mengingatnya.
"Ray, denger gue," ucap Ara memegang kedua tangan Raya erat, "kesehatan lo yang paling penting sekarang. Soal Mamah Yana, kan ada tiga kakak lo yang bisa gantian jaga. Soal kerjaan itu bisa nyusul, toh sekarang juga bisa apply online dari mana aja."
"Bener kata Ara, Ray. Lagian ini demi kebaikan lo sendiri," tambah Yasmin, menggenggam tangan Raya dari sisi lainnya.
Dasha yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara dengan mata berbinar seperti teringat sesuatu.
"Eh, gue baru inget! Bukannya Bik Tati, adiknya Mamah Yana ada di Garut? Itu kan lumayan jauh dari sini, udara di sana juga adem, cocok buat menenangkan diri. " usul Dasha bersemangat.
Raya mengangguk pelan, bibinya memang tinggal di sebuah desa kecil di kaki Gunung Papandayan, jauh dari rumah tempat yang selama ini menjadi sumber teror.
" Bik Tati emang orangnya baik, dulu waktu kecil gue sering diajak liburan kesana." gumam Raya, mulai mempertimbangkan usul itu dengan lebih serius.
Ustad Ahmad tersenyum mendengar diskusi mereka.
"Kalau memang ada saudara di sana, itu bagus sekali, Neng. Lingkungan yang bersih, jauh dari sumber gangguan, Insya Allah bisa mempercepat proses penyembuhan," ucapnya menyetujui.
🌸🌸🌸🌸
Sepulang dari kediaman Ustad Ahmad, Raya langsung menceritakan semuanya kepada Mamah Yana begitu sampai di rumah. Awalnya Mamah terdiam lama, wajahnya menyimpan kekhawatiran yang begitu dalam mendengar penuturan putrinya, terlebih soal kejadian saat ruqyah tadi.
"Ya Allah, Neng," bisik Mamah Yana, matanya berkaca-kaca sambil memeluk Raya erat, "kenapa perempuan itu tega banget sampai segininya. Udah ngerebut Jack, sekarang mau nyelakain kamu juga."
"Makanya Ustad Ahmad nyaranin Neng buat ngungsi dulu ke Garut, Mah. Ke tempat Bik Tati," ucap Raya pelan, menatap wajah ibunya dengan penuh harap agar diberi izin.
Mamah Yana menghela napas panjang, ada pergulatan batin yang begitu terasa di wajahnya. Di satu sisi ia tak ingin berpisah dengan putri satu-satunya itu, namun di sisi lain, keselamatan Raya jauh lebih penting dari rasa rindu yang mungkin akan ia rasakan.
"Kalau itu emang yang terbaik buat kesehatan kamu Neng, Mamah izinin." ucap Mamah Yana akhirnya, suaranya bergetar menahan haru, "Mamah cuma minta, kamu jaga diri baik-baik di sana. Rajin sholat, rajin baca Quran, jangan lupa kabarin Mamah tiap hari."
"Iya Mah, Neng janji " jawab Raya, memeluk ibunya lebih erat lagi.
Malam itu juga, Mamah Yana segera menelepon adiknya di Garut, menjelaskan situasi yang dialami Raya secara garis besar tanpa terlalu detail agar tidak membuat panik.
Bik Tati yang mendengar keponakannya akan datang berkunjung dalam waktu lama justru menyambut dengan penuh suka cita, mengatakan bahwa rumahnya yang cukup luas di pedesaan itu akan selalu terbuka untuk keluarga.
Persiapan keberangkatan pun dilakukan dengan cukup terburu-buru namun penuh kehati-hatian. Raya mengemas pakaian secukupnya, beberapa buku dan laptop untuk tetap bisa melanjutkan pencarian kerja dari jauh, serta perlengkapan ibadah yang menjadi prioritas utama.
Sebelum berangkat, mereka kembali mampir ke kediamannya untuk mengambil air yang sudah didoakan serta beberapa amalan tertulis yang harus Raya baca setiap hari selama berada di Garut.
"Ini Neng, air ini diminum sedikit tiap pagi, sisanya buat basuh muka. Amalan ini dibaca abis sholat subuh dan sholat isya." jelas Ustad Ahmad sambil menyerahkan 5 botol air mineral dan selembar kertas berisi tulisan Arab, "InsyaAllah dengan jarak yang jauh ditambah amalan rutin, gangguannya bakal melemah sendiri."
"Makasih banyak, Pak Ustad. Saya nggak tau harus bales gimana," ucap Raya penuh haru, matanya berkaca-kaca.
"Ini kewajiban sesama muslim buat saling bantu. Yang penting Neng sehat dan gangguannya bener-bener hilang," jawab Ustad Ahmad tulus, kemudian mendoakan keselamatan perjalanan Raya sebelum akhirnya mereka berpamitan.
🌸🌸🌸🌸
Hari keberangkatan tiba lebih cepat dari yang Raya kira. Pagi itu, Dasha, Ara, dan Yasmin datang ke rumah untuk mengantar sampai ke terminal bus, wajah mereka menyimpan campuran haru dan cemas yang begitu kentara.
"Inget Ray, jangan lupa kabarin kita tiap hari. Kalau ada apa-apa langsung telepon, jam berapa pun pasti kita standby." pesan Ara sambil membantu memasukkan koper kecil Raya ke bagasi bus.
"Jaga kesehatan yang bener, jangan begadang mikirin yang aneh-aneh lagi," tambah Yasmin, matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis perpisahan.
Dasha memeluk Raya paling lama di antara semuanya, suaranya bergetar menahan haru.
"Lo pasti sembuh, Ray. Gue yakin banget. Dan begitu lo balik nanti, kita rayain sama-sama, anggap aja ini liburan panjang buat nenangin pikiran."
Mamah Yana yang ikut mengantar hingga terminal, memeluk Raya dengan begitu erat, air matanya sudah tak terbendung lagi meski ia berusaha keras menahannya di depan putrinya.
"Jaga diri baik-baik, Neng. Mamah bakal terus doain dari sini," bisik Mamah Yana di telinga Raya, suaranya bergetar hebat, "kalau kangen Mamah, telepon aja kapan pun."
"Iya Mah, Neng janji akan sering-sering telepon," jawab Raya, air matanya sendiri mengalir deras membasahi pundak ibunya.
Bus jurusan Garut itu akhirnya berangkat, membawa Raya menjauh dari kota yang selama ini menjadi saksi bisu segala kebahagiaan dan luka mendalam yang pernah ia rasakan. Dari balik jendela bus, Raya melambaikan tangan kepada Mamah Yana dan ketiga sahabatnya yang masih berdiri di pinggir jalan, hingga sosok mereka perlahan mengecil dan akhirnya hilang ditelan tikungan jalan.
Sepanjang perjalanan, Raya menyandarkan kepalanya ke jendela bus, menyaksikan pemandangan kota yang perlahan berganti menjadi hamparan sawah hijau dan perbukitan yang mulai terlihat begitu perjalanan memasuki wilayah Garut. Angin sejuk yang masuk dari celah jendela membawa aroma tanah basah dan udara pegunungan yang begitu berbeda dari udara kota yang selama ini ia hirup.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu penuh teror, Raya merasakan sedikit ketenangan menyusup ke dalam dadanya. Meski ia tahu betul, perjalanan menuju kesembuhan yang sesungguhnya masih panjang, dan entah bahaya apa lagi yang mungkin menantinya, baik dari jalur gaib yang coba ia tinggalkan, maupun dari babak baru kehidupan yang akan ia jalani di tanah asing yang belum pernah benar-benar ia kenal sebelumnya.
Sementara itu, jauh di Sukabungah, Manda yang baru saja mendapat kabar dari salah satu "mata-mata" kecilnya bahwa Raya telah meninggalkan kota, hanya bisa mendecih kesal sambil meremas ponselnya erat-erat.
"Kabur kemana pun kamu, cepat atau lambat, saya akan tetap temukan!" desisnya penuh dendam, matanya berkilat tajam menatap kotak kayu kecil berisi jimat pengikat yang tergeletak di atas meja riasnya.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target