Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Roy dan Arin
Malam itu, setelah selesai makan bersama Levin dan Jingga, Roy mengantarkan Arin pulang. Mobil melaju dengan tenang menembus jalanan kota yang mulai lengang. Di kursi penumpang, Arin tak bisa menyembunyikan senyumnya sejak tadi.
“Roy…” ucapnya pelan.
“Hm?” Roy melirik sekilas.
“Terima kasih ya… terima kasih karena kamu udah jujur sama perasaan kamu tadi. Aku masih nggak nyangka, rasanya kayak mimpi.”
Roy tersenyum tipis, satu tangannya tetap di kemudi sementara yang lain sempat meraih tangan Arin sebentar.
“Aku juga harusnya yang bilang makasih, Rin. Karena kamu berani ngomong juga tentang perasaan kamu… dan karena kamu nerima aku.”
Arin menoleh, matanya berbinar. “Aku bukan cuma nerima kamu… aku bahagia banget, Roy.”
Mobil berhenti tepat di depan rumah Arin. Lampu teras sudah menyala, menambah suasana hangat. Arin membuka seatbelt-nya dengan gerakan pelan, lalu menoleh lagi ke arah Roy. Senyumnya belum hilang, bahkan makin merekah.
“Sekali lagi, makasih banyak ya… aku bener-bener bersyukur punya kamu sekarang.” katanya tulus, hampir beribu kali ia mengulang ucapan terima kasih itu sepanjang jalan.
Roy hanya mengangguk, suaranya rendah tapi tegas. “Aku janji, Rin. Mulai sekarang aku bakal jaga kamu dan pelan pelan kita wujudkan semuanya.”
Arin terdiam sebentar, menatapnya lama. Ada debar aneh di dadanya. Lalu tanpa aba-aba, ia mencondongkan tubuh sedikit, mengecup bibir Roy singkat. Hanya sekelebat, tapi cukup membuat Roy terkejut sekaligus terdiam.
Wajah Arin memerah. Ia buru-buru turun dari mobil sambil menunduk. “Selamat malam, Roy…” ucapnya cepat, lalu berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.
Roy masih duduk di kursi pengemudi, tangannya menyentuh bibirnya sendiri. Senyum samar muncul di wajahnya.
“Arin…” gumamnya pelan, dengan tatapan penuh arti.
----
Mobil Levin melaju pelan menembus jalanan malam. Lampu-lampu kota berkelip di kaca jendela, menemani keheningan singkat di antara Levin dan Jingga.
Jingga bersandar nyaman, lalu tersenyum lembut. “Sayang, aku senang banget akhirnya sahabatku ketemu seseorang yang bisa bikin dia bahagia.”
Levin mengangguk pelan sambil melirik sebentar ke arah Jingga. “Iya, aku juga senang. Akhirnya Roy mau membuka hatinya lagi…”
Jingga menoleh cepat, penasaran. “Iya kah? Memangnya kenapa, sayang?”
Levin menarik napas panjang, seakan sedang mengingat masa lalu sahabatnya itu.
“Roy itu… kalau soal cinta, dia pernah benar-benar hancur. Dulu dia hampir menikah dengan pacarnya. Hubungannya lama, beberapa tahun. Tapi sejak dia ikut aku ke Jerman, mereka mulai renggang. Dan akhirnya… perempuan itu berselingkuh, bahkan menikah dengan orang lain.”
Jingga terdiam, matanya melebar mendengar kisah itu.
Levin melanjutkan, suaranya sedikit berat.
“Roy bener-bener jatuh, Jingga. Dua tahun ini dia hidup tanpa wanita sama sekali. Dia bikin benteng tinggi, trauma. Dan jujur, aku merasa bersalah. Karena puncak masalah mereka itu muncul gara-gara dia ikut aku ke Jerman. Kalau dipikir lagi… aku kayak udah ngerebut kebahagiaan dia.”
Jingga menggeleng cepat, menepuk pelan lengan Levin. “Jangan nyalahin diri kamu sendiri, sayang. Semua udah takdir. Justru sekarang… benteng itu runtuh, kan? Dan dia udah nemuin cintanya lagi. Aku lihat sendiri Arin itu beda banget. Dia nggak neko-neko, sederhana. Aku yakin dia nggak akan bikin Roy hancur lagi.”
Levin tersenyum tipis, tapi matanya masih menyimpan sisa khawatir. “Aku berharap begitu. Karena aku tahu Roy benar-benar mencintai dengan dalam kalau dia sudah jatuh hati.”
Jingga menarik napas, lalu bergumam pelan. “Aku ngerti, sayang… ternyata segitunya ya cerita Roy. Tragis banget. Aku baru tahu sedalem itu.”
Levin menoleh, alisnya terangkat. “Kamu juga tahu cerita Arin?”
Jingga mengangguk mantap. “Iya. Arin juga punya masa lalu nggak kalah berat. Terakhir pacaran sekitar setahun lalu, tapi gagal karena nggak direstui orang tua cowoknya. Saat itu Arin lagi struggle banget… orang tuanya cerai, dia harus biayain adiknya kuliah. Hidupnya jungkir balik. Baru tahun ini adiknya lulus, jadi dia bisa fokus lagi ke dirinya. Dan sekarang… dia pilih Roy. Kalau Arin udah jatuh cinta, aku tahu dia pasti tulus.”
Levin tersenyum lega kali ini, lalu meraih tangan Jingga dan mengecupnya sebentar.
“Makasih ya, sayang. Kamu selalu bikin aku yakin kalau semua ini akhirnya akan baik-baik saja.”
Jingga tersipu, menatap Levin dengan penuh cinta. “Karena aku percaya, orang-orang yang tulus akhirnya akan ketemu dengan bahagianya juga.”
Mobil pun terus melaju, meninggalkan percakapan hangat yang membuat keduanya makin yakin kalau hubungan Roy dan Arin benar-benar punya harapan.
----
Malam itu Arin sudah berbaring di kasurnya dengan senyum yang tidak kunjung hilang. Pikirannya masih dipenuhi kejadian hari ini—bagaimana Roy berani mengungkapkan perasaannya, bagaimana jantungnya berdegup kencang, hingga momen kecil saat ia mencuri kecupan singkat sebelum masuk ke rumah. Semua terasa begitu nyata, tapi juga seperti mimpi indah yang sulit ia percaya.
Di sisi lain, Roy yang baru sampai di apartemennya masih terduduk di sofa. Wajahnya lelah, tapi hatinya hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa hatinya benar-benar hidup kembali. Senyum tipisnya tidak pernah lepas sejak ia mengantarkan Arin pulang. Dalam hati ia bergumam,
“Apa aku merasakan hal yang sama seperti Tuan Levin waktu malam lamaran itu? Degupnya sama, bahkan lebih.”
Tak tahan dengan perasaan rindu yang masih menempel, Arin akhirnya membuka ponselnya dan mengetik pesan.
---
[Chat WhatsApp]
Arin:
Roy, makasih ya untuk hari ini aku bener-bener bahagia banget.
Roy:
Aku juga, Rin. Rasanya kaya mimpi bisa denger kamu ngomong langsung soal perasaanmu.
Arin:
Hehe, aku deg-degan banget tadi tapi aku serius loh, aku bener-bener sayang sama kamu.
Roy:
Aku juga, Rin. Aku janji bakal jaga kamu baik-baik.
Arin:
Jangan janji doang ya, harus beneran ditepatin
Roy:
Iya, calon ratuku ❤️
Arin:
Hahaha jangan gombal mulu, aku jadi susah tidur nanti
Roy:
Kalau gitu, tidur sekarang. Istirahat yang cukup. Good night, Arin. Sweet dream ✨
Arin:
Good night, Roy. Mimpi indah juga. Jangan lupa mimpiin aku
Malam itu menjadi malam yang indah untuk Roy dan Arin.
Mereka sama-sama terhanyut dalam perasaan baru yang hangat, penuh janji dan harapan. Senyum tak kunjung hilang dari wajah keduanya meski terpisah jarak. Untuk pertama kalinya setelah lama menutup hati, Roy berani membuka dirinya kembali. Dan untuk Arin, malam ini adalah awal dari kisah cinta yang sudah lama ia nantikan.
Arin merebahkan tubuhnya di kasur dengan hati yang berbunga-bunga, masih teringat tatapan tulus Roy ketika mengucapkan perasaannya. Sementara Roy, duduk di balkon apartemennya, menatap langit malam penuh bintang, merasa hidupnya perlahan kembali berwarna indah. Malam itu, doa mereka sama: semoga kebahagiaan ini bertahan selamanya.