Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 34 Malam Ketika Arunika Menghilang

Raka menatap Adrian beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Ia segera mengambil alat komunikasinya.

"Tim Charlie, dengarkan. Bergerak menuju rumah utama sekarang. Ambil senjata yang disimpan di ruang bawah tanah. Prioritas utama: jangan sampai terlambat."

Suara dari alat komunikasi langsung menjawab.

"Dimengerti."

Raka menekan tombol lain.

"Tim Delta, siapkan kendaraan cadangan. Kita mungkin membutuhkan jalur alternatif."

"Siap."

Adrian tetap diam. Tatapannya tertuju pada jalan di depan Namun tiba-tiba—

BIP!

Alat komunikasi Raka berbunyi Satu pesan masuk, Raka membukanya lalu wajahnya perlahan berubah.

"Tuan..."

"Apa?"

Raka menatap layar beberapa detik.

"Tim di rumah utama akhirnya memberikan respons."

Adrian langsung menoleh.

"Berapa orang yang menjawab?"

Raka terdiam.

"Hanya satu."

"Siapa?"

"Penjaga gerbang."

Adrian menyipitkan mata.

"Yang lain?"

"Tidak ada jawaban."

Suasana di dalam mobil mendadak hening.

Adrian menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras.

"Hubungi penjaga itu."

Raka segera menekan tombol komunikasi.

"Penjaga gerbang, laporkan kondisi rumah utama."

Tidak ada jawaban Raka mencoba lagi.

"Jawab!"

Beberapa detik kemudian suara yang sangat pelan terdengar.

"Tu... Tuan Raka..."

Raka langsung mendekatkan alat komunikasi ke telinganya.

"Apa yang terjadi?"

Suara di seberang terdengar seperti sedang menahan napas.

"Mereka..."

"Siapa?"

"Kami tidak tahu."

Adrian langsung mengambil alat komunikasi

dari tangan Raka.

"Laporkan."

Suara di seberang terdiam.

"Tuan Adrian?"

"Jawab pertanyaanku."

Nada Adrian tetap tenang.

"Tidak ada waktu untuk takut."

Penjaga itu menarik napas panjang.

"Beberapa menit lalu listrik rumah utama mati."

Adrian tidak bereaksi.

"Lalu?"

"Kami mengira hanya gangguan biasa. Tapi setelah itu..."

Penjaga tersebut berhenti.

"Ada suara dari dalam rumah."

"Suara apa?"

"Seperti seseorang sedang berjalan."

Adrian menatap Raka.

"Berapa orang yang berada di rumah?"

"Setahu kami, keluarga dan beberapa penjaga."

"Setahu kalian?"

Penjaga itu kembali diam.

"Karena kamera pengawas juga mati, Tuan."

Mata Adrian menjadi semakin dingin.

"Dan Arunika?"

Tidak ada jawaban.

"Di mana Arunika?"

Suara di seberang terdengar bergetar.

"Kami... tidak menemukannya tuan."

Hening.

Untuk beberapa detik, Adrian tidak mengatakan apa pun. Namun justru keheningan itulah yang membuat Raka merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada teriakan.

Jari Adrian mencengkeram alat komunikasi itu hingga buku-buku jarinya memutih.

"Ulangi."

Suara penjaga itu bergetar.

"Nona Arunika tidak ada di kamar, Tuan. Kami sudah memeriksa beberapa ruangan, tetapi—"

"Berhenti."

Suara Adrian rendah.

"Di mana Richard?"

Penjaga itu terdiam.

"Jawab."

"Beliau masih berada di dalam rumah ketika listrik padam, Tuan."

Mata Adrian perlahan berubah dingin.

"Dan kalian membiarkannya?"

"Tuan, kami—"

"Seorang ayah seharusnya menjadi orang pertama yang memastikan anaknya aman."

Adrian menarik napas panjang, tetapi amarah yang tertahan jelas terdengar dalam suaranya.

"Aku mempercayakan Arunika pada nya."

Ia menatap Raka.

"Dan dia bahkan tidak mampu menjaganya."

Raka menelan ludah.

"Tuan..."

"Hubungi Richard"

"Baik."

Raka segera mengambil alat komunikasi lain dan mencoba menghubungi nomor pribadi pria itu.

Satu kali.

Tidak ada jawaban.

Dua kali.

Tetap sunyi.

Tiga kali.

Tidak ada respons.

Adrian tertawa pendek Bukan tawa bahagia, Melainkan tawa dingin yang membuat seluruh suasana di dalam mobil terasa semakin berat.

"Jadi begini caranya dia menjaga putrinya?"

Raka tidak berani menjawab Adrian menatap layar ponsel yang menunjukkan panggilan tak terjawab.

"Ketika Arunika membutuhkan perlindungan, dia tidak ada."

Rahangnya mengeras.

"Kalau sesuatu terjadi padanya..."

Adrian berhenti sejenak Tatapannya berubah tajam.

"Orang pertama yang akan bertanggung jawab adalah Richard sendiri."

Raka terdiam Adrian kembali mengangkat alat komunikasi.

"Tim Charlie."

"Siap, Tuan."

"Percepat."

"Dimengerti."

"Dan satu hal lagi."

"Ya, Tuan?"

"Jangan tunggu perintah kedua."

Nada Adrian berubah tegas.

"Temukan Arunika."

"Jika ada yang menghalangi, singkirkan dari jalur kalian."

Raka menatap Adrian dengan wajah tegang, Ia tahu kemarahan Adrian kali ini bukan hanya karena rumah utama diserang. Adrian marah karena seseorang telah gagal menjaga orang yang dipercayakan kepadanya.

Dan yang paling mengerikan....amarah itu kini memiliki tujuan, Adrian menatap gelapnya jalan di depan.

"Kalau Arunika terluka karena kelalaian kalian..."

Ia mengepalkan tangannya.

"Jangan harap aku akan memaafkan siapa pun."

Mobil melaju semakin cepat menuju rumah utama, Sementara di kejauhan, sebuah pesan baru tiba di alat komunikasi Raka.

"Tuan... kami menemukan sesuatu."

Raka membukanya Wajahnya langsung berubah.

"Apa?" tanya Adrian.

Raka mengangkat wajah perlahan.

"Jejak Arunika ditemukan di sisi belakang rumah."

Adrian menatapnya.

"Dan?"

Raka terdiam sesaat.

"Jejak itu mengarah keluar dari area rumah."

Tatapan Adrian langsung berubah gelap.

"Ke mana?"

Raka membaca laporan berikutnya.

"Ke arah hutan."

Raka membaca laporan itu sekali lagi, memastikan tidak ada kesalahan.

"Ke arah hutan."

Beberapa detik berlalu tanpa suara Adrian tetap menatap jalan di depan. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan, tetapi sorot matanya berubah semakin gelap.

"Hutan yang mana?"

"Jalur hutan di belakang rumah utama, Tuan. Tim luar sedang mengikuti jejaknya."

Adrian langsung mengangkat alat komunikasinya.

"Tim Charlie, dengarkan baik-baik. Bagi tim menjadi dua."

"Siap, Tuan."

"Tim pertama ikuti jejak Arunika menuju hutan. Jangan kehilangan jejak sekecil apa pun."

"Dimengerti."

"Tim kedua tetap di rumah utama. Periksa setiap ruangan dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Siap."

Raka menatap Adrian.

"Tuan, bukankah sebaiknya Anda ikut mencari Nona Arunika?"

Adrian terdiam beberapa detik Kemudian ia menggeleng pelan.

"Tidak."

Raka tampak terkejut, Adrian menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan panggilan Richard tanpa jawaban.

"Kalau Arunika memang dibawa seseorang, tim akan menemukannya."

Tatapannya semakin tajam.

"Tapi ada satu orang yang harus kutemui sekarang."

Raka langsung memahami maksudnya.

"ayah nona Arunika tuan?"

Adrian mengangguk.

"Ya."

Ia menyerahkan alat komunikasi kepada Raka, kemudian berkata dengan suara rendah dan tegas,

"Cari, saya harus menemui Richard terlebih dahulu."

Raka segera mengangguk.

"Baik, Tuan."

Adrian kembali menatap jalan di depan.

"Hubungi saya begitu menemukan Arunika."

"Bagaimana jika kami menemukan pelaku?"

Adrian terdiam sesaat.

"Tahan, saya yang akan mengeksekusi nya"

Raka mengangguk.

"Dimengerti."

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tetapi ketenangan di wajahnya justru terasa mengancam.

"Prioritas kalian Arunika."

Ia berhenti sejenak.

"Pelaku bisa menunggu."

Raka menatap Adrian dengan hati-hati.

"Dan Richard?"

Tatapan Adrian berubah dingin.

"Dia tidak bisa."

Mobil terus melaju membelah jalan malam Sementara itu, di sisi lain kota,

"Jadi kalian ingin bermain seperti ini..."

"Setelah menemui Richard, kita pergi mencari Arunika."

1
Kiara Maulida Aizaaa
kak kita saling support yuk
Winna Yun: iya ka💪🤗
total 1 replies
the virtuso
semangat kak bikin novelnya kalau mau boleh mampir buat baca sama like novel aku GK kak
the virtuso: ok kak
total 2 replies
nischa
hai,kak aku mampir ceritanya bagus semangat kak😍mampir juga ya ke ceritaku
Winna Yun: siap kakak terimakasih kunjungan nya🤗
total 1 replies
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!