Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. LIBURAN
Sabtu pagi berganti dengan suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada dering alarm sekolah, tidak ada tumpukan berkas laporan Mahendra Group, dan tidak ada hiruk-pikuk kemacetan Jakarta.
Sebuah vila pribadi bergaya modern minimalis yang terletak di atas perbukitan kawasan Puncak, Bogor, berdiri megah di tengah hamparan kebun teh yang hijau dan udara pagi yang dingin menyejukkan. Vila berarsitektur kaca tebal itu adalah salah satu properti peristirahatan pribadi milik Abiyasa yang jarang tersentuh—hingga akhir pekan ini.
Di balkon kamar lantai dua yang menghadap langsung ke arah pegunungan berlapis kabut tipis, Nadira berdiri seraya memeluk tubuhnya sendiri. Ia mengenakan sweter rajut berwarna putih kebesaran yang menutupi separuh paha mulusnya dan celana santai pendek. Hawa dingin Puncak menerpa kulitnya, namun senyum ceria tak berhenti mekar di wajah mewahnya.
Dari arah belakang, sebuah lengan tegap yang terbalut kaos lengan panjang abu-abu menyusup lembut melingkari perut Nadira.
Abiyasa merapatkan tubuhnya dari belakang, menyandarkan dagunya di atas bahu mungil Nadira seraya menghirup aroma manis sampo buah-buahan dari rambut istrinya.
"Masih dingin?" bisik Abiyasa dengan suara baritonnya yang serak khas bangun tidur, mengencangkan dekapannya untuk membagi kehangatan tubuhnya.
Nadira terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Abiyasa. "Sedikit, Mas. Tapi udaranya segar banget! Beda banget sama Jakarta yang penuh polusi."
Abiyasa mengecup singkat pelipis Nadira. "Makanya saya membawa kamu ke sini. Kamu sudah belajar keras selama seminggu ini, jadi akhir pekan ini sepenuhnya milik kita untuk beristirahat."
Nadira memutar tubuhnya di dalam pelukan Abiyasa, menatap iris mata cokelat gelap suaminya yang begitu teduh. Jemari kecilnya terangkat, merapikan helai rambut Abiyasa yang sedikit berantakan.
"Makasih ya, Mas Abi... Mas Abi bela-belain luangin waktu libur padahal aku tahu pekerjaan kantor Mas Abi numpuk banget," tutur Nadira tulus.
Abiyasa menatap mata bening istrinya seraya menyunggingkan senyum tipis—senyuman hangat yang kini begitu alami terukir di bibirnya.
"Urusan pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya, Nadira. Tapi momen liburan bersama istri saya adalah hal yang tidak bisa dinilai dengan uang."
Pipi Nadira seketika merona merah mendengar penegasan manis itu. "Gombalnya makin pinter ya sekarang!"
"Saya bicara fakta, Nyonya Mahendra," balas Abiyasa datar, lalu menundukkan kepala untuk mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir manis Nadira yang sedikit dingin akibat hawa pagi.
"M-Mas Abi... masih pagi ih!" cicit Nadira salah tingkah seraya mendorong pelan dada Abiyasa.
"Tidak ada batasan waktu untuk mencium istri sendiri," sahut Abiyasa santai dengan kerlingan mata nakal yang membuat jantung Nadira makin berpacu kencang. "Ayo turun, Pak Suma sudah menyiapkan sarapan di tepi kolam."
Area kolam renang infinity yang menghadap langsung ke lembah hijau menyajikan pemandangan yang amat memukau. Di atas meja kayu jati di samping kolam, tersaji menu sarapan hangat: waffle dengan lumuran sirup maple, potongan buah segar, teko teh jahe hangat, dan tentu saja secangkir kopi hitam tanpa gula milik Abiyasa.
Nadira menyantap waffle-nya dengan penuh antusias, membuat sudut bibirnya ternoda oleh sedikit krim putih.
Abiyasa yang duduk di seberangnya memperhatikan tingkah polos istrinya seraya menyunggingkan senyum geli. Pria itu meraih selembar tisu dapur, lalu memajukan tubuhnya untuk mengusap lembut sudut bibir Nadira.
"Makanlah perlahan-lahan, Nadira. Tidak ada yang akan merebut makanannya darimu," goda Abiyasa pelan.
Nadira menyeringai tanpa rasa bersalah. "Habisnya enak banget, Mas! Udara dingin gini bikin perut gampang lapar."
"Setelah sarapan, kamu mau melakukan apa?" tanya Abiyasa seraya menyesap kopi hitamnya.
"Di belakang vila ada kebun teh pribadi. Kita bisa jalan-jalan ke sana, atau kamu mau berenang?"
Nadira menimbang-nimbang sejenak, matanya berbinar riang. "Jalan-jalan ke kebun teh dulu yuk! Aku mau foto-foto! Nanti Mas Abi yang jadi fotografer aku ya!"
Abiyasa menaikan sebelah alisnya. "CEO Mahendra Group diminta jadi fotografer?"
"Kenapa? Nggak mau ya?" ancam Nadira seraya mengerucutkan bibirnya pura-pura merajuk. "Ya udah kalau gitu aku minta tolong Pak Suma aja—"
"Siapa bilang saya tidak mau?" potong Abiyasa cepat, menatap istrinya tajam. "Saya adalah fotografer pribadimu mulai hari ini. Tidak ada orang lain yang boleh memfoto kamu."
Nadira tak mampu menahan tawa renyahnya melihat sikap posesif Abiyasa yang muncul bahkan untuk urusan sepele seperti mengambil foto. "Iya deh, Pak Bos Posesif!"
Sekitar pukul sepuluh pagi, matahari mulai memancarkan kehangatan yang pas. Hamparan kebun teh yang hijau membentang luas di belakang vila.
Nadira berlari-lari kecil di antara deretan tanaman teh seraya tertawa lepas. Gadis itu mengenakan gaun santai berbahan katun tipis berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil, membuat penampilannya tampak sangat anggun, segar, dan memesona di tengah alam terbuka.
Abiyasa melangkah tenang di belakangnya, memegang ponsel pintar milik Nadira. Beberapa kali jemari pria itu menekan tombol rana, mengabadikan setiap momen tawa, kibasan rambut, dan binar bahagia dari wajah istri kecilnya.
"Mas Abi! Coba fotoin aku di sebelah pohon yang ini!" seru Nadira seraya melambaikan tangannya gembira.
Abiyasa mengarahkan kamera ponselnya, menatap layar yang menampilkan figur Nadira. Di dalam benaknya, Abiyasa menyadari betapa hidupnya telah berubah drastis. Dulu, pandangannya hanya diisi oleh angka, grafik saham, dan ruangan rapat yang kaku. Namun kini, kebahagiaannya bermuara pada kesederhanaan tawa seorang gadis yang berdiri di tengah kebun teh ini.
"Sudah?" tanya Nadira seraya berlari kecil menghampiri Abiyasa.
Abiyasa menunjukkan layar ponselnya. Foto-foto yang diambil Abiyasa ternyata sangat bagus dengan pencahayaan dan sudut pengambilan gambar yang presisi—khas seorang perfeksionis.
"Wah! Mas Abi pinter banget ngambil fotonya!" puji Nadira berdecak takjub. "Hasilnya kayak model majalah!"
"Tentu saja," sahut Abiyasa percaya diri seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. "Objek fotonya sudah sangat cantik, jadi
fotografernya tidak perlu bekerja keras."
Wajah Nadira seketika memerah panas mendengarkan pujian yang meluncur begitu lancar dari mulut suaminya. "Mas Abi sekarang makin jago ya bikin aku salah tingkah..."
Abiyasa meraih jemari kecil Nadira, menggenggamnya erat seraya menyatukan sela-sela jari mereka. "Saya hanya mengatakan kenyataan, Nadira."
Pria itu membawa Nadira melangkah menuju sebuah gazebo kayu yang berada di puncak bukit kecil kebun teh. Di sana, mereka duduk berdua menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup lembut.
Nadira menyandarkan kepalanya di bahu tegap Abiyasa, sementara tangan Abiyasa melingkar protektif di pinggangnya.
"Mas Abi..." panggil Nadira pelan dalam keheningan yang damai.
"Ya, Sayang?"
"Dulu... pas pertama kali kita nikah, aku takut banget sama Mas Abi," aku Nadira tulus, memandangi pemandangan bukit di depan mereka. "Aku pikir Mas Abi itu jahat, dingin, dan bakalan memperlakukan aku kayak orang asing. Aku sempat mikir kalau hidupku bakalan hancur gara-gara pernikahan perjodohan ini."
Abiyasa menghentikan jemarinya yang sedang mengelus bahu Nadira. Pria itu menoleh, menatap samping wajah istrinya dengan rasa bersalah yang melintas tipis.
"Maafkan saya untuk sikap kaku saya di awal pernikahan kita, Nadira," tutur Abiyasa pelan dan penuh kejujuran. "Dulu saya terlalu dibutakan oleh ambisi dan pemikiran bahwa pernikahan hanyalah transaksi beban. Saya tidak tahu bagaimana cara membuka diri."
Nadira mengangkat kepalanya, menatap mata cokelat gelap Abiyasa dengan pendar cinta yang melimpah. "Nggak apa-apa, Mas. Karena sekarang... aku justru bersyukur banget Kakek jodohin kita. Aku nggak bisa ngebayangin kalau suamiku bukan Mas Abi."
Abiyasa menatap dalam mata bening istrinya. Kata-kata polos namun sarat akan ketulusan itu menghantam hatinya dengan begitu indah. Pria itu menyentuh rahang lembut Nadira, merapatkan jarak di antara wajah mereka.
"Saya yang paling beruntung di dunia ini, Nadira," bisik Abiyasa sangat dalam di depan bibir Nadira. "Kamu adalah takdir terbaik yang pernah datang dalam hidup saya."
Abiyasa menyapu bibir manis Nadira dalam sebuah ciuman yang lambat, hangat, dan penuh dengan kepemilikan di bawah naungan angin perbukitan. Nadira memejamkan matanya, membalas kecupan suaminya dengan kepolosan cintanya yang murni, melingkarkan lengan kecilnya di leher Abiyasa.
Malam harinya, Puncak diguyur gerimis tipis yang membawa udara dingin makin menusuk.
Di dalam kamar utama vila, perapian kayu modern menyala hangat, memancarkan cahaya keemasan yang menari-nari di dinding ruangan.
Nadira duduk di karpet bulu tebal di depan perapian seraya memeluk lututnya, mengenakan piyama kaos longgar berwarna merah muda. Di sampingnya, Abiyasa duduk bersandar pada tepi kasur, memperhatikan istrinya seraya menyesap teh hangat.
"Dingin?" tanya Abiyasa pelan.
"Lumayan, Mas," sahut Nadira seraya tersenyum tipis.
Abiyasa meletakkan cangkir tehnya di meja nakas, lalu bergeser turun duduk di karpet di belakang Nadira. Pria itu merengkuh tubuh mungil Nadira masuk ke dalam dekapannya, melingkarkan selimut tebal berbahan bulu domba yang menutupi mereka berdua.
Nadira menyandarkan dadanya yang hangat pada dada tegap Abiyasa, mendengarkan detak jantung suaminya yang konstan dan menenangkan.
"Mas Abi..." bisik Nadira seraya memainkan jemari Abiyasa yang menggenggam tangannya di atas pangkuan.
"Kenapa, Nadira?"
"Setelah lulus sekolah nanti... aku beneran boleh kuliah di jurusan Seni Rupa, kan?" tanya Nadira pelan, ingin memastikan impian masa depannya.
Abiyasa mengecup puncak kepala Nadira dengan lembut. "Tentu saja boleh. Impianmu adalah tanggung jawab saya untuk diwujudkan. Saya akan mendukung penuh apa pun jalur yang ingin kamu tempuh."
"Tapi nanti kalau aku sibuk kuliah... Mas Abi merasa terganggu nggak?"
Abiyasa terkekeh rendah, suara bass-nya menggetarkan dada bidang tempat Nadira bersandar. "Saya yang akan menyesuaikan jadwal saya untukmu, Nadira. Lagipula, tugas saya adalah mengantarmu ke kampus dan memastikan tidak ada mahasiswa lain yang berani mendekatimu."
Nadira memutar matanya seraya tertawa geli. "Posesifnya mulai lagi!"
"Harus," pangkas Abiyasa tegas namun dihiasi senyuman menawan. "Istri cantik saya harus selalu dijaga ketat."
Abiyasa memutar tubuh Nadira hingga kini gadis itu berbaring telentang di atas karpet bulu di bawah terkungkung tubuh tegapnya. Cahaya keemasan dari perapian memantul indah di wajah polos Nadira, menciptakan pemandangan yang amat menyihir bagi sang CEO.
Abiyasa menatap mata istrinya dengan pendar gairah dan kehangatan cinta yang membakar. Tangannya terangkat, merapikan helai rambut Nadira yang tersebar di karpet.
"Nadira..." panggil Abiyasa dengan suara yang sangat dalam dan serak.
"Ya, Mas Abi?" bisik Nadira, jantungnya berdetak kencang menatap intensitas tatapan suaminya.
"Terima kasih untuk akhir pekan yang indah ini," bisik Abiyasa tepat di depan bibir Nadira, lalu menundukkan kepalanya untuk menyapu bibir manis istrinya dalam kecupan yang intim, hangat, dan penuh cinta.
Di depan kehangatan perapian dan di tengah dinginnya malam Puncak, dua hati yang semula terpisah oleh jurang usia dan status kini telah melebur menjadi satu ikatan tak terpisahkan—sebuah kisah cinta sejati yang siap berlayar mengarungi masa depan.