Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Kamar Tawanan
Elena masih berlutut di lantai. Tubuhnya gemetar hebat. Di depannya, Lorenzo De Luca berdiri dengan kemeja hitamnya yang sedikit berantakan. Tato naga hitam di leher sampingnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu chandelier.
Wajah Lorenzo yang tadi di cover itu persis seperti yang ada di depan Elena sekarang. Ganteng, tapi tatapannya dingin dan berbahaya.
"Kamu sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak kamu lihat, Elena," kata Lorenzo dengan suara rendah.
Elena menangis. "Maaf Tuan, saya benar-benar tidak sengaja! Saya cuma haus, saya salah jalan! Saya janji tidak akan bilang ke siapa-siapa!"
Lorenzo berjongkok. Dia mengangkat dagu Elena dengan satu jari. Jarak wajah mereka sangat dekat, seperti di sampul novel. Elena bisa melihat jelas mata hitam Lorenzo yang tajam.
"Di New York, rahasia Mafia itu harganya adalah nyawa," bisik Lorenzo.
Elena memejamkan matanya. Dia pikir dia akan mati malam ini.
Tapi Lorenzo malah menarik tangan Elena dengan kasar. Dia menyeret Elena keluar dari ruangan lantai tiga yang penuh darah itu.
"Ikut saya!"
Lorenzo menyeret Elena ke lorong sebelah. Dia membuka sebuah pintu besar. Ternyata itu adalah sebuah kamar tidur yang sangat mewah. Jauh lebih mewah dari kamar pelayan.
Kamar itu didominasi warna hitam dan gold. Ada tempat tidur king size. Ada jendela besar yang langsung melihat pemandangan kota New York yang indah dengan lampu-lampu gedung di malam hari. Persis seperti background di sampul novel.
"Mulai malam ini kamu tidur di sini," kata Lorenzo.
Elena bingung. "Di sini? Tapi ini kamar mewah Tuan, saya kan pembantu..."
"Kamu bukan pembantu lagi," potong Lorenzo. "Kamu tawanan saya. Kamu akan tinggal di kamar sebelah kamar saya, supaya saya bisa mengawasi kamu 24 jam. Kamu tidak boleh keluar dari mansion ini tanpa izin saya. Mengerti?"
Elena mengangguk sambil menangis. "Mengerti, Tuan."
Lorenzo mendekat. Dia menyeka air mata Elena dengan ibu jarinya. Sentuhannya kasar tapi entah kenapa membuat jantung Elena berdebar.
"Jangan menangis. Kamu masih beruntung saya tidak membunuhmu di lantai tiga tadi. Banyak gadis lain yang ingin berada di posisi kamu sekarang, Elena," kata Lorenzo.
"Kenapa saya, Tuan? Kenapa harus saya?" tanya Elena dengan suara pelan.
Lorenzo tersenyum miring. Senyum yang membuat wajah gantengnya semakin mempesona. "Karena kamu berbeda. Matamu... kamu tidak menatap saya dengan takut seperti pelayan lain. Kamu menatap saya dengan benci dan berani. Saya suka itu."
Lorenzo berbalik mau pergi, tapi Elena memberanikan diri memegang ujung kemeja hitamnya.
"Tuan... darah di kemeja Tuan..." kata Elena.
Lorenzo melihat kemejanya yang ada bercak darah. Itu adalah darah dari dua pria yang dia habisi tadi. Mereka adalah pengkhianat Mafia.
Lorenzo melepas kemeja hitamnya di depan Elena. Elena langsung memalingkan wajah dengan wajah merah. Di balik kemeja itu, tubuh Lorenzo sangat atletis dan berotot. Dan di punggungnya ada tato naga yang lebih besar lagi.
"Ganti baju saya," perintah Lorenzo. Dia melemparkan kemeja putih bersih ke Elena. "Saya mau mandi."
Elena dengan tangan gemetar mengambil kemeja itu. Dia masih berlutut di lantai.
Lorenzo masuk ke kamar mandi. Suara air terdengar. Elena masih duduk lemas di lantai kamar mewah itu. Dia melihat sekeliling. Di luar jendela, kota New York terlihat sangat indah. Tapi dia merasa seperti burung dalam sangkar emas.
Beberapa menit kemudian Lorenzo keluar hanya dengan handuk melilit pinggang. Rambut hitamnya masih basah. Tetesan air mengalir dari lehernya yang bertato naga itu turun ke dadanya.
Elena langsung menutup matanya. "Tuan!"
Lorenzo tertawa kecil. Tawa pertamanya malam itu. "Kamu ini lucu sekali, Elena. Pembantu kecil yang pemalu."
Dia mengambil kemeja hitam baru dan memakainya. Kancingnya tidak dia kancing semua, jadi tato naga di lehernya masih terlihat jelas.
"Dengar, Elena. Mulai besok tugas kamu bukan lagi membersihkan rumah. Tugas kamu hanya satu: berada di dekat saya. Ikuti saya ke mana pun saya pergi. Jadilah milik saya. Dan hutang ayahmu 500 ribu dollar akan saya anggap lunas setelah dua tahun," kata Lorenzo.
Elena mengangkat kepalanya. "Menjadi milik Tuan? Maksudnya?"
Lorenzo mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Elena. Hidung mereka hampir bersentuhan. Seperti pose di sampul.
"Maksudnya, kamu adalah Pembantu Tawanan Tuan Muda Mafia. Kamu hanya boleh melihat saya, hanya boleh melayani saya. Tidak boleh ada pria lain yang menyentuhmu. Paham?"
Jantung Elena berdegup sangat kencang. Ada rasa takut, tapi ada juga rasa aneh yang dia tidak mengerti. Pria di depannya ini sangat berbahaya, tapi juga sangat ganteng seperti di sampul novel yang dia impikan.
"Paham, Tuan Lorenzo," jawab Elena pelan.
"Bagus. Sekarang tidur. Besok jam 6 pagi kamu sudah harus rapi. Kamu akan ikut saya meeting," kata Lorenzo.
Lorenzo pergi keluar dan mengunci pintu dari luar.
_KLEK._
Elena terkunci di dalam kamar mewah itu. Dia adalah tawanan.
Elena berjalan ke jendela besar. Dia melihat lampu kota New York. Air matanya jatuh lagi.
"Ayah... kenapa kamu menjual aku pada Mafia seganteng tapi seseram ini..." bisik Elena.
Di kamar sebelah, Lorenzo berdiri di depan jendela yang sama. Dia menatap ke arah kamar Elena. Di tangannya ada foto Elena yang sedang tersenyum. Foto yang diambil diam-diam oleh anak buahnya.
"Akhirnya kamu di sini juga, Elena Rossi. Sudah lama saya menunggu kamu," bisik Lorenzo sambil tersenyum. Senyum yang berbeda, senyum yang terlihat seperti sudah lama mengenal Elena.