Indonesia
NovelToon NovelToon
Permata Tak Terduga Sang Mafia

Permata Tak Terduga Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Penikahan Kontrak / Dark Romance / Tamat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: franericá

Angel Martinez dibesarkan untuk satu tujuan: menjadi istri yang sempurna dan penurut bagi pria pilihan ayahnya—seorang bos mafia Spanyol yang menganggap kekuasaan adalah segalanya. Yang ia impikan hanyalah kebebasan: sebuah perpustakaan, kuas dan kertas, dan satu perjalanan ke Italia sebelum hidupnya benar-benar bukan lagi miliknya.

Namun perjalanan itu ternyata sebuah jebakan manis. Di Roma, Angel mendapati dirinya telah dijanjikan kepada Dante Moretti—Don muda paling ditakuti di seluruh Italia. Dingin, arogan, dan terbiasa memiliki apa pun yang ia mau, Dante sama sekali tak berniat mengikat hidupnya pada seorang "putri manja". Sampai gadis bermata biru dan berambut merah api itu menatapnya tanpa gentar… dan meruntuhkan setiap tembok yang ia bangun.

Di dunia penuh darah, aliansi, dan senyum palsu, cinta adalah kelemahan paling berbahaya. Karena di balik pesta megah dan janji-janji setia, ada seseorang yang sudah lama menunggu—seseorang yang tahu persis bahwa cara termudah menghancurkan seorang Don adalah dengan merebut satu-satunya hal yang benar-benar ia cintai.

Ketika pria yang tak pernah takut pada apa pun akhirnya menemukan sesuatu yang tak sanggup ia kehilangan, ia siap membakar seluruh dunia demi mempertahankannya.

"Tak ada yang boleh menyentuh hartaku dan pergi tanpa terluka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon franericá, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

POV Angel

Kukira aku sudah siap.

Kukira gaun bermotif bunga, riasan lembut, dan parfum yang kupilih dengan penuh perhatian akan cukup untuk membuatku tetap tenang.

Tapi cukup melihat Dante menungguku untuk menyadari bahwa tak ada apa pun di dunia ini yang bisa menyiapkanku untuk itu.

Ia punya kehadiran… yang mustahil diabaikan.

Aura yang sempurna, penuh kuasa, elegan, tapi ada lebih dari itu. Jauh lebih banyak.

Kemeja gelapnya menonjolkan tubuhnya yang kokoh, lengan yang tergulung memperlihatkan urat-urat yang membayang di lengan bawahnya, dan rambut itu… rambut yang selalu kubayangkan ingin kusentuh.

Ketika pandangan kami bertemu, perutku serasa terbalik, seolah tanah menghilang di bawah kakiku.

Itu bukan tatapan biasa. Tajam. Dalam.

Nyaris berbahaya.

Namun begitu… menenteramkan.

Seolah aku sesuatu yang langka. Sesuatu yang berharga.

Ya Tuhan.

Kami keluar dari mansion dan masuk ke mobilnya, mobil mewah yang senyap dan nyaman. Kuperhatikan para pengawal mengikuti kami dari kejauhan, selalu waspada.

Begitu kami mulai menyusuri jalanan Italia, jantungku sudah berdegup cepat. Dante menyetir dengan serius, tapi sesekali melempar salah satu tatapan yang membuatku kehabisan napas.

Ia membawaku mengunjungi beberapa tempat wisata, dan masing-masing tampak lebih sempurna dari yang lain, persis seperti yang selalu kubayangkan.

Saat kami berhenti di depan Fontana di Trevi, dadaku terasa sesak oleh keindahan yang begitu memukau.

"Tempat ini sempurna," ucap Dante dengan suara pelan.

"Ya… aku senang sekali bisa di sini," jawabku, tulus.

Ia menatapku beberapa detik, seolah sedang membaca jiwaku.

"Kau mau sesuatu?" tanyanya.

Kupandangi sekeliling dan kulihat sebuah toko alat tulis kecil. Hatiku pun berbinar.

"Kalau tidak merepotkan… aku ingin buku gambar itu dan kuas itu," pintaku.

Dante mengangkat sebelah alis, terkejut.

Tapi ia tak bertanya-tanya. Ia hanya mengangguk kecil.

Ia membayar tanpa ragu, lalu kami kembali ke dekat air mancur. Kulihat beberapa bangku dan kutarik tangannya.

"Aku mau menunjukkan sesuatu padamu. Aku janji tidak akan lama," kataku sambil tersenyum.

POV Dante

Aku masih mencoba memahami permintaan tak terduga ini… tapi ada sesuatu yang mengatakan bahwa layak untuk melihat sejauh mana ia akan pergi.

Kami duduk di bangku. Ia membuka buku gambarnya, mengamati sekitar sejenak, lalu… mulai menggambar.

Goresannya ringan, cermat, halus.

Angel seolah masuk ke dunia lain saat menggambar.

Dan aku… tak sanggup mengalihkan mata darinya.

Ia menggigit bibir bawahnya, berkonsentrasi.

Itu… berbahaya bagiku. Undangan yang tak disengaja. Ujian bagi kewarasanku.

Dan aku gagal total, aku harus mengalihkan pandangan sebelum berbuat sesuatu yang bodoh.

Aku tersadar dari lamunanku saat ia berkata,

"Selesai!"

Wajahnya berseri-seri, dan sesuatu dalam diriku seketika meleleh.

Kuambil buku gambarnya dan aku kehilangan kata-kata.

"Angel… ini indah. Kau menggambar dengan sangat bagus," ucapku, dan itu murni kebenaran.

Ia jauh lebih dari sekadar wajah cantik. Jauh lebih dari itu.

Ia menatapku dengan sedikit keraguan di matanya.

"Aku tahu semua ini cuma sebuah kesepakatan, dan aku tahu bahwa… aku harus tunduk padamu. Aku dibesarkan untuk itu."

"Tapi aku mau meminta satu hal… bolehkah aku menggambar dan membaca kapan pun aku mau?"

Aku tak percaya. Mungkinkah selama ini ia tak pernah bisa melakukan hal yang ia cintai?

"Aku takkan pernah melarangmu, Angel," kataku, membiarkan lebih banyak terucap dari yang kuniatkan. "Aku ingin ini berhasil di antara kita. Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau, apa pun yang membuatmu bahagia."

"Aku sang Don, aku seorang mafia yang kejam… tapi denganmu, aku tak ingin menjadi itu. Aku ingin hanya menjadi Dante."

Ia terkejut.

Dan, sebelum aku sempat mengatakan apa pun lagi, ia mencondongkan tubuh dan menciumku.

Lalu terjadilah. Satu langkah. Satu tarikan napas. Satu tatapan.

Tapi begitu kurasakan sentuhan lembut bibirnya,

kutarik ia lewat pinggangnya, secara naluriah, seolah itu sesuatu yang dicari tubuhku sejak bertahun-tahun.

Ciuman itu bermula ringan, lembut… Tapi kuperdalam.

Kurasakan rasa dirinya, manis, hangat, polos, dan pada saat yang sama, berbahaya bagiku.

Karena aku tahu, pada detik itu juga, bahwa takkan ada jalan kembali.

Ia adalah kehancuranku. Dan, pada saat yang sama… tempatku beristirahat.

Kuusap tengkuknya, perlahan, menariknya lebih dekat.

Dan ia membalas. Dengan penyerahan.

Dengan kasih sayang. Dengan sesuatu yang tak pernah kulihat di mana pun.

Si rambut merah ini… benar-benar menaklukkanku.

Dan kubuat sebuah janji diam-diam pada diriku sendiri:

Akan kujaga dia. Selamanya. Apa pun taruhannya.

POV Angel

Setelah ciuman itu, kami melanjutkan jalan-jalan… tapi semuanya terasa berbeda.

Bahkan udara pun terasa lebih ringan.

Dante membawaku ke sebuah restoran memikat, dengan pemandangan kota yang bermandikan cahaya.

Tempat yang seperti diciptakan untuk adegan-adegan film romantis.

Meja-mejanya kecil, dengan lilin yang menyala, bunga-bunga lembut, dan musik pelan yang mengalun di latar. Ia menarikkan kursi untukku, gestur sederhana, tapi membuat jantungku berdegup cepat.

Kami mengobrol.

Kami tertawa.

Dan, untuk pertama kalinya, aku merasa ada dua pria di dalam dirinya:

Sang Don.

Dan Dante.

Dan di makan malam itu, aku hanya bersama yang kedua.

Ia menceritakan hal-hal yang tak pernah kubayangkan akan diceritakan oleh pria seperti dirinya.

Saat-saat sulit, ketakutan masa kecil… hal-hal yang nyata.

Sejati.

Dan aku pun mendapati diriku berbicara terlalu banyak juga, membuka jendela-jendela jiwaku yang kukira telah terkunci.

Makanannya sempurna.

Anggurnya lezat.

Tapi tak ada yang melampaui cara ia memandangku, seolah setiap kataku begitu berharga.

Saat kami selesai, ia menyentuh tanganku di atas meja.

"Terima kasih untuk hari ini," ucapnya pelan. "Untukmu."

Dan aku merasakannya.

Kencan pertama kami lebih dari sekadar jalan-jalan.

Itu adalah sebuah awal.

Awal yang berbahaya, memikat, manis…

Dan tak terelakkan!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!