“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
“Dimana gadis itu, Vin?” Suara bariton yang teramat dingin itu memecah keheningan yang mencekik di dalam ruang kerja bergaya Eropa klasik.
Tidak ada nada tinggi, tidak ada bentakan, namun aura yang menguar dari sosok pria yang duduk di balik meja mahoni itu sukses membuat udara di ruangan terasa turun beberapa derajat.
Vincent menelan ludah dengan susah payah sebelum melangkah maju.
“Dia sedang berada di kamarnya, Tuan. Di paviliun belakang bersama para pekerja lainnya,” jawab Vincent cepat seraya kepalanya menunduk hormat.
Di balik sikap tunduknya, kedua mata Vincent diam-diam menatap tuannya itu dengan saksama. Ia meneliti setiap jengkal kulit yang terekspos. Leher bagian belakang, punggung tangan, hingga rahang tegas pria itu. Vincent sedang mencari sesuatu. Sebuah reaksi penolakan tubuh.
Setengah jam yang lalu, gadis udik itu dengan lancangnya menyentuh lengan Alessandro. Sebuah pantangan terbesar, dosa mematikan yang biasanya akan berujung pada hilangnya nyawa seseorang.
Akan tetapi, mafia arogan itu kini duduk dengan tenang seraya menuangkan wiski ke dalam gelas kristalnya. Kulitnya bersih. Napasnya teratur. Seolah sentuhan kulit ke kulit tadi sama sekali tidak menimbulkan efek apa pun padanya.
Vincent yang tak sanggup menahan rasa penasarannya akhirnya memberanikan diri membuka mulut.
“Tuan, maafkan kalau saya lancang, tapi, apakah anda baik-baik saja? Alergi anda benar-benar tidak kambuh sama sekali?" tanya Vincent dengan dahi berkerut dalam.
Gerakan tangan Alessandro yang sedang memutar gelas wiski mendadak terhenti. Pria itu perlahan mengangkat wajahnya. Sorot mata kelamnya menembus tepat ke retina mata Vincent, setajam silet yang siap mengoyak urat nadi.
“Apa aku perlu menjelaskannya padamu, Vincent?"”
Bukannya menjawab, Alessandro malah balik bertanya dengan nada super datar yang terdengar jauh lebih mengancam daripada sebuah teriakan.
Vincent sontak mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang.
“T-tidak, Tuan. Maafkan saya.”
Di dalam kepalanya, otak Vincent berteriak keheranan.
“Sungguh ajaib dan gila!” pikirnya. Selama bertahun-tahun ia mengabdi, alergi sentuhan fisik Alessandro adalah kutukan mematikan. Siapa pun yang menyentuh kulit bos mafia itu akan membuat tuannya sesak napas, kulitnya melepuh merah dan berakhir dengan tuannya yang akan menembak kepala orang tersebut tanpa ampun.
Tapi hari ini? Seorang wanita udik, kusam, dan berpenampilan kampungan bisa menyentuh lengan Alessandro dengan begitu bebas dan bosnya itu sama sekali tidak bereaksi alergi?!
Alessandro meletakkan gelas wiskinya dengan sedikit hentakan ke atas meja, membuyarkan lamunan asistennya.
“Siapkan kamar terbaik untuknya. Tepat di sebelah kamarku,” ucap Alessandro dingin, tanpa menatap Vincent. Matanya kembali fokus pada berkas-berkas di atas mejanya.
Vincent tersentak kaget. Kepalanya mendongak refleks. Rahangnya nyaris jatuh ke lantai mendengar titah yang terdengar sangat tidak masuk akal itu.
“What?!” pekik Vincent tanpa sadar, melupakan etika kesopanannya. “Kenapa harus di sebelah kamar anda, Tuan?! Dia itu cuma calon pelayan rendahan di rumah ini. Bukan calon istri Anda!” protes Vincent tak terima, suaranya naik setengah oktaf.
Keringat dingin mendadak membasahi tengkuk Vincent. Panik luar biasa mulai menjalar di dadanya.
Bagaimana tidak panik? Sebenarnya, gadis berpenampilan lusuh yang disangka calon pelayan itu bukanlah dari agen pekerja rumah tangga. Vincent tidak sengaja membawa gadis itu dari sebuah klub malam kumuh di pinggiran kota. Itu bukan tempat perekrutan pelayan profesional!
“Tamatlah riwayatku kalau tuan Alessandro tahu aku menempatkan mantan penghuni klub malam kumuh di kamar mewah tepat di sebelah kamarnya!” batin Vincent menjerit ngeri.
Alessandro perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit kebesarannya. Suasana ruangan yang tadinya dingin kini berubah menjadi mencekam bak di ambang kematian. Pria itu menatap Vincent dalam diam selama lima detik penuh. Durasi yang cukup untuk membuat Vincent merasa nyawanya baru saja dicabut dan dikembalikan lagi.
“Kau mau membantahku?” desis Alessandro pelan, memiringkan kepalanya dengan tatapan mematikan.
Darah di wajah Vincent surut seketika. Kedua lututnya seketika terasa lemas bagai jeli.
“Ah! T-tidak, Tuan! Saya sama sekali tidak berani membantah anda!” sergah Vincent cepat, membungkukkan badannya dalam-dalam hingga nyaris membentuk sudut sembilan puluh derajat. “Saya minta maaf atas kelancangan mulut saya! Saya akan menyiapkan kamar terbaik untuknya malam ini juga, secepat mungkin!”
Alessandro mendengus sinis. “Pastikan dia tidak kekurangan apa pun. Jika terjadi sesuatu pada tubuh penawar alergiku itu, kau yang akan membayarnya dengan kepalamu, Vincent.”
“Baik, Tuan!” sahut Vincent patuh.
Merasa urusan gadis itu sudah selesai, Alessandro beranjak berdiri. Namun, sebuah ringisan tertahan nyaris tak terlihat melintas di wajah tampannya yang kaku. Darah segar tampak kembali merembes pelan, menodai kemeja hitamnya di bagian perut samping.
“Satu minggu ke depan, kita tidak akan kembali ke mansion ini,” titah Alessandro, kembali ke mode bos mafia yang kejam tak tersentuh. Ia meraih jas panjangnya yang tersampir di kursi dan memakainya dengan cepat. “Siapkan pasukan elit bayangan. Kita lakukan pengambilalihan paksa malam ini juga. Kita rebut kembali pelabuhan barat yang diklaim oleh anjing-anjing klan Carson!”
Vincent membelalakkan matanya, menatap noda darah di kemeja tuannya dengan penuh kekhawatiran.
“Tapi, Tuan! Anda masih terluka sangat parah. Tim medis baru saja menjahit luka tembak anda satu jam yang lalu. Jika nda memaksakan diri turun ke medan pertempuran malam ini, jahitannya bisa robek dan anda bisa kehabisan darah!”
Alessandro menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Pria itu menoleh ke belakang, menatap Vincent dengan kilatan mata iblis yang mendambakan kehancuran. Seringai kejam tercetak di bibirnya.
“Kau pikir aku peduli pada luka sialan ini?” desis Alessandro. “Luka di perutku ini tidak ada bandingannya dengan penghinaan yang mereka lakukan pada klan kita! Sean Carson telah berani bermain api di wilayahku, maka aku sendiri yang akan membakar seluruh klannya menjadi abu.”
Alessandro menarik sepucuk pistol Glock-19 modifikasi dari balik jasnya, mengokang senjatanya dengan bunyi klik logam yang memekakkan telinga.
“Kumpulkan anak buahmu di halaman depan dalam waktu sepuluh menit. Siapa pun yang terlambat, akan kutembak mati sebelum kita sampai di pelabuhan. Paham?!”
“Paham, Tuan!” teriak Vincent sigap, tak berani membantah sedetik pun saat melihat sisi iblis tuannya telah sepenuhnya bangkit.
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,