Indonesia
NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Bukan Lagi Menantu Kalian

Pada hari ketiga di Vila Reksonegoro, tiga mobil Danuwijaya berhenti di depan gerbang.

Bening, petugas keamanan perempuan yang direkomendasikan Pak Djoyo, melihatnya lebih dahulu melalui kamera. "Bu Sekar, dua orang turun bersama Pak Rendra dan Bu Wida. Kemungkinan pengawal pribadi."

Sekar menutup buku saham. "Jangan buka gerbang."

"Kalau mereka memaksa?"

"Rekam semuanya. Kita panggil polisi kalau mereka merusak properti."

Bel berbunyi panjang. Kemudian suara Wida terdengar dari interkom.

"Sekar! Buka pintu sekarang!"

Sekar berjalan ke halaman depan bersama Pak Djoyo dan Bening. Gerbang besi tetap memisahkan mereka dari rombongan di luar.

Rendra tampak tidak tidur nyenyak. Namun begitu melihat Sekar, ekspresinya berubah seperti lelaki yang akhirnya menemukan barang hilang.

"Pulang," katanya. "Kita bicara di Jakarta."

"Kita bisa bicara dari sini."

Wida maju. "Kamu mempermalukan keluarga. Pergi diam-diam, membakar barang, merusak pohon, membawa dokumen yang bukan hakmu."

"Dokumen pribadi dan medis milik saya. Pohon itu berada di halaman paviliun saya dan saya tidak membawa satu pun perhiasan Danuwijaya."

"Kamu masih menantu keluarga kami."

"Saya bukan lagi menantu yang bisa Ibu perintah."

"Akadmu dengan Rendra belum putus!"

"Benar. Karena itu saya akan mengurusnya melalui Pengadilan Agama, bukan melalui teriakan di gerbang."

Rendra mendekat. "Sekar, pulang. Aku tidak ingin bertengkar."

"Kamu membawa dua pengawal ke properti keluargaku. Itu bukan cara orang yang ingin bicara baik-baik."

Salah satu pengawal mencoba memegang kisi gerbang. Bening berdiri di depannya.

"Jangan menyentuh gerbang," katanya. "Kamera merekam suara dan gambar."

Wida menunjuk vila. "Tempat ini tidak akan melindungimu. Kamu belum menandatangani pelepasan seserahan dan barang-barang keluarga. Kami berhak memeriksa apa yang kamu bawa."

Pak Djoyo mengangkat map. "Vila ini milik cabang keluarga Reksonegoro berdasarkan sertifikat yang sah. Tidak ada aset Danuwijaya di sini. Kalau Ibu merasa kehilangan barang, buat daftar dan laporan resmi. Jangan memasuki tanah orang lain tanpa izin."

"Siapa kamu berani mengajari saya?"

"Orang yang menjaga rumah ini sebelum Ibu mengenal nama Reksonegoro."

Sekar meminta Bening membuka satu kotak dokumen melalui celah kecil di pos keamanan. Ia mengangkat salinan sertifikat dan halaman wasiat agar terlihat, tetapi tidak menyerahkannya.

"Nama saya tercantum sebagai penerima hak," katanya. "Perkawinan tidak mengubah warisan pribadi menjadi milik keluarga suami."

Rendra memandang dokumen itu. "Jadi ini semua rencanamu? Kamu menunggu saat yang tepat untuk membawa aset keluar?"

"Asetnya tidak pernah berada di dalam rumahmu. Keluargamu yang mencoba masuk."

Wida tertawa sinis. "Kamu pikir orang akan percaya kepadamu setelah foto hotel itu?"

Sekar mengeluarkan ponsel cadangan dan memutar rekaman.

Suara Wida terdengar jelas dari malam mereka menyodorkan surat: `Dengan persetujuanmu, prosesnya akan lebih baik dan tidak menjadi skandal.` Disusul suara Sekar menanyakan dasar medis, lalu jawaban Eyang Sri bahwa enam tahun tanpa anak cukup bagi keluarga.

Wajah Wida memucat. "Kamu merekam pembicaraan keluarga?"

"Saya merekam pemaksaan yang ditujukan kepada saya."

"Hapus!"

"Salinannya ada di beberapa tempat."

Rendra memegang lengan ibunya sebelum Wida mendekati gerbang. "Cukup, Ma."

Ia menatap Sekar. "Apa yang kamu inginkan supaya mau pulang?"

"Tidak ada."

"Aku bisa mengembalikan kartu dan mobilmu. Aku akan meminta Mama berhenti membahas surat selama beberapa hari."

"Kamu menawarkan kembali kebebasan yang tidak berhak kalian ambil."

Rendra mengeluarkan selembar dokumen dari map yang dibawa pengawalnya. "Tandatangani pernyataan bahwa kamu pergi atas kemauan sendiri dan telah menerima semua hakmu. Setelah itu kita pulang tanpa keributan."

Sekar membaca judulnya dari balik gerbang. "Di bawahnya ada kuasa pengelolaan aset, bukan?"

Rendra tidak menjawab.

"Tunjukkan halaman terakhir kepada kamera."

Wida merebut map itu dari tangan putranya. "Kamu tidak perlu membaca sebelum duduk bersama pengacara keluarga."

"Justru itu alasan saya tidak akan ikut. Seserahan dan mahar yang sudah diberikan bukan alat untuk menahan seorang istri. Kalau ada sengketa barang, catat satu per satu. Jangan sembunyikan kuasa bisnis di dalam surat kepulangan."

Pak Djoyo mencatat waktu dan nama dua saksi dari staf vila yang berdiri di teras. Bening memperbesar rekaman sampai sebagian nomor dokumen terlihat.

"Kalian sudah merencanakan surat ini sebelum naik ke sini," lanjut Sekar. "Kalian tidak datang untuk membawa saya pulang. Kalian datang untuk membawa tanda tangan saya pulang."

Wida membuka mulut, tetapi tidak ada bantahan yang terdengar meyakinkan.

Rendra menatap ibunya. Keraguan hanya lewat sesaat sebelum ia kembali memusatkan perhatian kepada Sekar.

"Apa pun isi suratnya bisa dibicarakan di rumah."

"Rumah yang mengambil telepon dan mengunci rekening saya bukan tempat negosiasi."

Suara mesin berat mendekat dari tikungan. Sebuah konvoi kendaraan berpelat dinas militer melintas perlahan karena jalan sempit di depan vila terhalang mobil Danuwijaya.

Dua prajurit turun dari kendaraan pertama.

"Mohon kendaraannya dipindahkan," kata salah satu dari mereka. "Jalur ini dipakai pengiriman logistik."

Pengawal Danuwijaya yang tadi memegang gerbang langsung mundur. Bening menunjukkan rekaman kamera kepada prajurit yang bertanya apakah ada gangguan keamanan.

"Perselisihan properti," jelasnya. "Pemilik sudah meminta pihak luar meninggalkan lokasi."

Prajurit itu menatap Rendra dan Wida. "Kalau tidak ada izin masuk, silakan selesaikan melalui pihak berwenang. Jangan menghalangi jalan."

Tidak ada ancaman. Tidak ada senjata ditunjukkan. Seragam dan kamera sudah cukup membuat Wida menghitung risiko jika keributan direkam dari beberapa arah.

"Kita pergi," katanya kepada Rendra. "Biarkan dia merasa menang hari ini."

Rendra tidak bergerak. "Sekar, aku akan kembali."

"Kembalilah dengan surat resmi, bukan pengawal."

Mobil-mobil Danuwijaya akhirnya mundur memberi jalan. Konvoi melintas, lalu berhenti sebentar di bahu jalan agar prajurit memastikan gerbang tidak dirusak. Setelah rombongan Rendra turun menuju Jakarta, kendaraan militer melanjutkan perjalanan.

Sekar tetap berdiri sampai suara mesin menghilang.

Baru setelah gerbang dalam dikunci, lututnya terasa lemas. Ia berpegangan pada meja pos keamanan.

"Mbak berhasil mengusir mereka," kata Ningsih yang baru keluar dari rumah.

"Aku hampir tidak bisa bernapas."

Pak Djoyo menuangkan air untuknya. "Takut tidak berarti kalah. Mbak tetap berdiri meski takut."

Sekar meminum air perlahan. Untuk pertama kalinya, Wida pergi karena tidak mampu memaksanya, bukan karena Sekar mengalah.

Rasa itu asing. Menakutkan. Juga membuat dadanya lebih lapang.

Pak Djoyo melihat ke arah jalan, memastikan tidak ada mobil yang berbalik.

"Mereka datang karena mengira vila ini satu-satunya milik Eyang yang tersisa," katanya.

"Bukankah begitu?"

Lelaki tua itu ragu sesaat.

Jari Sekar berhenti di bibir gelas. Di balik kelegaan, sebuah pintu rahasia lain seperti baru terbuka.

"Tidak, Mbak Sekar. Harta Eyang jauh lebih besar daripada yang Mbak tahu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!