Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hospital, part 2
Di ruang donor, jarum menembus lengannya. Ia menatap kantong darah yang perlahan terisi, merah—warna yang sama seperti darah Aera. Dadanya sesak.
"Maaf..." lirihnya pecah. "Maaf karena Ayah terlalu pengecut untuk mempertahankanmu."
Kenangan saat ia mengusir Aera terlintas jelas. Tangisan itu. Tatapan mata yang memohon. Tapi saat itu egonya lebih besar dari rasa sebagai seorang ayah.
Reno memang mengusir Aera. Namun itu tak pernah berarti ia benar-benar membenci anak kandungnya.
Air mata jatuh diam-diam saat darahnya mengalir pergi, berpindah untuk menyelamatkan hidup yang dulu ia abaikan.
"Kalau ini satu-satunya caraku menebus dosa," gumamnya, "ambil semua darah Ayah... asal kamu hidup, Aera."
Beberapa jam kemudian, lampu ruangan pun akhirnya padam. Dokter keluar dengan senyum tipis.
"Operasinya berhasil. Anaknya selamat."
Reno terhuyung, lalu duduk lemas. Ia tak meminta bertemu. Tak meminta dipanggil Ayah. Ia hanya ingin tahu Aera bernapas.
Karena meski ia pernah mengusirnya dari rumah, darah di tubuh Aera selalu menjadi bukti—bahwa ia tak pernah benar-benar berhenti mencintainya.
...----------------...
Lorong rumah sakit itu mendadak terasa begitu sunyi, menyisakan derap langkah suster yang membawa peralatan medis dan suara dengung AC yang monoton. Reno masih terpaku di bangku tunggu besi yang dingin. Punggungnya membungkuk, menopang tubuhnya yang terasa amat berat setelah kehilangan banyak darah. Wajahnya pucat pasi, senada dengan dinding rumah sakit di sekitarnya. Namun, di balik rasa pening yang mendera kepala, ada kelegaan luar biasa yang menyelimuti dadanya—sebuah kelegaan hangat yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan.
Aera hidup.
Dua kata itu berputar-putar di kepalanya, menghapus segala rasa sakit fisik yang ia derita akibat transfusi darurat tadi. Ia teringat kembali bagaimana tangannya yang gemetar menuliskan persetujuan tindakan medis, bagaimana ia memohon kepada Tuhan di dalam hati agar nyawa putrinya diselamatkan, meskipun ia harus membayar mahal dengan sisa tenaganya sendiri.
Pintu ruang ICU perlahan terbuka. Seorang perawat berjas putih melangkah keluar sambil membawa papan klip medis. Melihat kehadiran Reno yang terduduk lesu, perawat itu menghampirinya dengan senyuman ramah.
"Pak Reno?" panggil perawat tersebut pelan.
Reno langsung mendongak, matanya menyiratkan kekhawatiran bercampur harap. "I-iya, Suster. Bagaimana keadaan anak saya? Apa dia sudah sadar?"
"Operasinya sukses besar, Pak. Donor darah yang Bapak berikan sangat membantu kestabilan kondisinya selama masa kritis. Saat ini, Aera sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa karena keadaannya sudah stabil. Tapi, karena efek bius dan kelelahan ekstrem, ia masih beristirahat. Bapak bisa melihatnya sebentar, tapi jangan terlalu lama ya, karena pasien butuh ketenangan," jelas perawat itu panjang lebar.
Reno mengangguk cepat, rasa syukur membuncah di dalam dadanya. Dengan tertatih-tatih, ia mengikuti langkah perawat menuju kamar rawat Aera di ujung koridor.
Setibanya di depan pintu kaca kamar tersebut, langkah Reno mendadak berat. Kakinya seperti terpaku di lantai. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba mencengkeram ulu hatinya. Bayangan masa lalu kembali berkelebat, saat ia membentak Aera, saat ia menuduh gadis itu membawa sial, hingga malam kelam ketika ia mengusir anak kandungnya sendiri keluar dari rumah dalam keadaan hujan deras. Air mata hangat tanpa sadar menetes di pipi rentanya.
Apakah aku pantas menemuinya setelah apa yang kuperbuat? batin Reno gemetar.
Dengan tangan bergetar, ia mendorong gagang pintu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara berdecit. Ruangan bernuansa putih itu terasa tenang. Di atas ranjang rumah sakit, Aera terbaring lemah. Wajahnya tampak sangat pucat, nyaris menyatu dengan warna bantal di bawah kepalanya. Selang infus menancap di punggung tangan kanannya, dan sebuah alat bantu pernapasan tipis terpasang di hidungnya.
Reno melangkah mendekat dengan sangat hati-hati, seolah takut kehadiran nya sekadar mimpi yang bisa pecah kapan saja. Ia menarik kursi kecil di samping ranjang, lalu duduk perlahan.
Ditatapnya wajah putri kecilnya—yang kini telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang kuat, jauh lebih kuat dari bayangan Reno selama ini. Jemari Reno yang kasar dan keriput terulur perlahan, ragu-ragu menyentuh jemari Aera yang terasa begitu dingin terkulai di atas selimut.
"Maafkan Ayah, Nak..." bisik Reno lirih, suaranya pecah tertahan isak tangis yang berusaha ia redam agar tidak membangunkan putrinya.
"Ayah memang pria bodoh... Ayah egois. Maafkan semua luka yang sudah Ayah torehkan di hatimu."
Reno mengecup punggung tangan Aera yang bebas dari jarum infus. Hangat air matanya jatuh membasahi kulit pucat gadis itu.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia berjanji pada dirinya sendiri dan pada Tuhan, jika Aera diberikan kesempatan kedua untuk hidup, ia akan mendedikasikan sisa umurnya untuk melindungi, mencintai, dan menebus seluruh kesalahan masa lalunya, meski ia tahu pintu maaf itu mungkin tidak akan pernah terbuka sepenuhnya untuk seorang ayah sepertinya.
Tiba-tiba, jari jemari di dalam genggaman Reno bergerak pelan.
Reno terperanjat kecil, napasnya tertahan. Ia mendongak menatap wajah Aera. Perlahan-lahan, kelopak mata Aera yang tertutup rapat itu bergerak. Bulu matanya bergetar, lalu terbuka selebar garis tipis menyesuaikan cahaya lampu ruangan.
Pandangan mata sayu Aera bergeser ke samping, menatap sosok pria paruh baya yang bersimpuh di sisi ranjangnya dengan mata sembab dan wajah basah oleh air mata. Untuk beberapa detik, tidak ada suara di antara mereka. Hanya ada keheningan malam dan detak monitor jantung yang mengiringi detik-detik waktu.
Aera menatap lekat-lekat wajah Reno—pria yang selama ini menjadi sumber ketakutan sekaligus kerinduan terbesarnya. Di mata sayu itu, Aera tidak lagi melihat kilatan amarah atau kebencian yang dulu sering ia saksikan. Yang ada hanyalah penyesalan mendalam, ketulusan yang telanjang, dan cinta seorang ayah yang sekarat ingin dimaafkan.
Bibir Aera yang kering bergerak pelan, mencoba merangkai kata di balik selang oksigen yang menempel. Reno langsung mendekatkan telinganya, menahan napas.
"A... Ayah..." bisik suara itu begitu lemah, hampir tak terdengar, namun berhasil menghujam tepat di jantung Reno.
Mata Reno melebar, air matanya semakin tumpah deras. Mendengar panggilan itu setelah bertahun-tahun lamanya bagaikan embun sejuk yang membasahi padang tandus di jiwanya. Ia tidak meminta lebih, mendengar Aera memanggilnya ayah saja sudah menjadi mukjizat terbesar dalam hidupnya.
"Iya, Nak... Ayah di sini. Ayah ada di sini," jawab Reno bergetar, menggenggam tangan Aera sedikit lebih erat namun tetap lembut.
Aera tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menatap Reno dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sisa lelah, ada kebingungan, namun perlahan-lahan, seulas senyuman tipis terukir di bibirnya yang pucat. Senyuman yang menyadarkan Reno bahwa secercah harapan baru telah lahir di antara puing-puing kehancuran keluarga mereka.